
Miss Merry tidak menghentikannya, tepatnya di tahu Miss Ann tidak akan berbuat jahat. Benar saja, peri yang sering dikuncir ekor kuda ini tidak menyerang. Namun, dia hanya memegang daguku—agak mengangkatnya ke atas. Lama-lama aku mencoba melihat ke atas, bertatapan dengan mata peri tersebut. Tidak aku mengerti kenapa tatapan Miss Ann begitu terlihat seperti orang yang membenci sampai ke akar-akarnya.
“Kamu tidak tahu? Tentu saja! Kamu bukan Hana, jadi kamu tidak akan memiliki ingatannya. Biar aku perjelas. Hana mengambil segalanya dariku. Keluarga, teman dan bahkan cintaku. Aku benar-benar membencinya. Sekarang aku yang akan merampas segala miliknya ... melalui kamu, Dira. Melalui kamu!” ucapnya seraya berteriak. Aku tetap berusaha untuk tenang. Meski aku bisa memahami rasa sakitnya.
“Aku tidak mengerti,” ucapku pelan, “tetapi aku tahu rasanya kehilangan, Miss Ann. Miss bahkan tidak boleh menutup mata atas kematian kedua orangtuaku. Bagaimana Demina divonis tidak akan kembali dan ... aku bahkan sudah tidak bisa mengenali mana yang baik dan benar. Tidakkah itu sudah cukup untuk membalaskan dendammu?”
“Kamu tidak akan mengerti karena kamu tidak tahu seberapa kejamnya Ratu Alam Twins yang selalu dipuja-puja itu. Kamu tidak akan pernah tahu. Jadi ... rasakan ini!”
Aku segera membanting tubuh ke samping ketika Miss Ann menarik tangan dan siap menyerang. Miss Merry mencoba menahan, tetapi kecepatan sihir lawan lebih cepat dibandingkan dengannya. Perasaanku benar-benar tidak tenang dan kepalaku kembali sakit. Apa lagi-lagi penglihatan akan muncul?
Kali ini aku melihat bayangan hitam dan Tiara bersama-sama. Bayangan hitam itu menulis sesuatu dalam buku jurnal yang sering aku lihat. Itu jurnal Ratih! Aku yakin itu jurnal miliknya. Setelah bayangan hitam itu menulis, sebuah sinar muncul dari sana dan berubah bentuk menjadi seekor monster lainnya. Jumlahnya tidak hanya satu, bahkan bisa terbilang sangat banyak.
“Tempat ini sangat aman. Nadira juga akan mati di tempat ini, seperti yang sudah kamu tulis,” ucap Tiara. Aku akan menjitak gadis itu juga dia sudah kembali sadarkan diri, bisa-bisanya dia dengan santai menyebutkan temannya sendiri akan mati.
“Semoga saja, Tiara. Sejauh ini semuanya sudah sesuai dengan naskah yang aku tulis,” balas bayangan hitam tersebut.
Aku lalu kembali ditarik ke dalam perang yang nyata ketika sadar ada serangan yang di arahkan kepadaku. Miss Ann pelakunya. Aku pun kembali mengangkat panah dan menarik tali busurnya. Tidak aku bayangkan anak panah yang aneh-aneh. Apa pun yang bisa menghentikan Miss Ann itu panah yang akan aku gunakan. Sementara itu, Miss Merry terus menahannya dari atas. Melemparkan sihir yang hampir serupa. Mereka benar-benar terlihat seperti guru dan murid. Namun, muridnya sudah melampaui batas daripada yang diharapkan.
__ADS_1
“Nadira, apa kamu baik-baik saja? Mungkin kamu sudah mencapai batas,” ujar Miss Merry sambil melindungiku. Dia tidak segan-segan mengambil posisi dengan membelakangiku, sehingga Miss Ann tidak dapat menyerangku untuk sementara waktu.
“Tidak, Miss. Aku baik-baik saja. Tadi aku mendapatkan penglihatan jika si pengendali monster itu ada di sini,” jelasku.
Miss Ann tampak tidak senang mendengarkan apa yang kuucapkan. Peri itu segera melancarkan serangannya, tetapi Miss Merry kembali menghadang dengan sihir perisai. Memang kekuatan kedua peri itu seimbang, tetapi pertahanan Miss Merry masih lebih kuat. Peri itu pun segera menoleh ke arahku.
“Pergilah kalau begitu, Dira. Exquioem. Tembok itu terhubung ke luar ruangan. Cepatlah. Biar aku yang menahan Ann. Lagi pula, dia tanggung jawabku,” ujar Miss Merry. Tangan kanannya sibuk mempertahankan perisai, sementara tangan kirinya sibuk menahan sihir yang baru dikeluarkannya.
“Tidak. Jika kamu pergi aku akan membunuh Merry! Kalau kamu berani melangkah keluar sana, aku akan membunuhnya! Membunuhnya! Ke mari dan serahkan jiwamu, Dira!” bentak Miss Ann kepadaku. Aku menelan ludah.
Aku sudah berusaha untuk menolak, tetapi Miss Merry bersikeras menyuruhku keluar. Aku bimbang, memang ini urusan mereka. Namun, aku takut jika Miss Merry akan lebih banyak terluka lagi. Sungguh, rasanya air mataku memanas. Peri itu berteriak, menyuruhku untuk segera keluar. Pikiranku benar-benar kacau dan akhirnya aku pun mengangguk. Segera aku berlari ke arah tembok yang Miss Merry suruh. Sebelum masuk, aku kembali melihat ke arahnya. Berdoa agar peri tersebut bisa bertahan.
Dengan menghentikan satu masalah yang sedang kami hadapi, aku yakin Miss Ann juga akan ikut kalah. Aku memang berada di luar, sesuai yang Miss Merry katakan. Langsung saja jamku berbunyi terus-menerus. Aku pun membuka notifikasi apa yang membuatnya begitu banyak dan seakan tidak terkendali. Sebagian besar notifikasi pesan dari Bizar dan Radja, beberapa dari teman-teman yang lain. Mereka sepertinya mencari keberadaanku.
Segera aku pun membuka fitur panggilan video bersama mereka semua. Tempat ini sangat penting untuk mereka lacak. Selain Miss Ann dan Miss Merry yang bertarung, Ratih dan Tiara pun berada di tempat ini. Dalam sekejap, video itu langsung terhubung dengan banyak orang. Semua langsung menanyakan hal yang berbeda. Semua itu membuatku bingung harus menjawab yang mana.
“Teman-teman, aku baik-baik saja. Dibandingkan itu, ada yang harus kalian ketahui terlebih dahulu. Miss Ann dan Miss Merry sedang bertarung di gudang gedung ini. Sedangkan Tiara dan Ratih bersembunyi antara lantai gedung,” jelasku panjang lebar.
__ADS_1
“Sungguh? Kamu dapat penglihatan lagi, Dira? Kerja bagus, ayo kita akhiri semua ini,” ucap Bizar.
“Kamu benar, Bizar. Tunggu aku di sana, Nadira. Aku kehilangan jejakmu tadi. Teman-teman, sebaiknya kalian cari Miss Merry dan bantu dia melawan Miss Ann. Sebagian lagi tetaplah berada di sini. Bagaimana pun kalian harus tetap berjaga-jaga terhadap musuh. Mereka bisa menyerang warga sipil kapan saja,” instruksi Radja.
Sesuai kesepakatan, aku menunggu Radja datang. Laki-laki itu datang dengan Naga Putihnya. Dia lalu turun dan memegang dahi hewan fantasi tersebut. Entah bagaimana, tetapi itu mampu menghilangkan Naga putih dalam sekejap mata.
“Kamu baik-baik saja? Tidak, kenapa ada luka bakar di bahumu?” tukas Radja.
“Ini karena aku berhadapan dengan Miss Ann. Sudahlah, ini bukan hal penting, Ja. Terima kasih untuk kekhawatiranmu, tetapi tugas melindungi bumi sudah memanggil,” balasku dan laki-laki itu mengembuskan napas. Mungkin kesal atas jawabanku.
Radja segera mengajakku masuk ke dalam gedung. Dia tidak mau berlama-lama, terlebih menghentikan Ratih artinya menghentikan monster yang bermunculan. Tidak ada lagi ledakan monster buatan. Manusia yang menjadi monster pun bisa kami atasi dengan vaksin. Aku dan Radja mencoba menelusuri satu persatu ruangan. Agak melelahkan ketika kami harus naik tangga ke lantai selanjutnya. Tempat ini sangat berantakan, pasti setelah mendengar kabar, manusia yang sedang bekerja pun panik dan segera keluar dari gedung.
Sampai akhirnya kami berhenti di lantai empat. Salah satu ruangan terlihat mencurigakan karena tempatnya yang terkunci. Aku dan Radja saling beradu pandang. Menyiapkan diri masing-masing. “Nadira, kamu harus hati-hati, bagaimana pun kekuatannya tidak kita ketahui.”
“Enggak Ja, kekuatan Ratih itu berpusat pada buku. Jadi yang harus kita lakukan adalah mengambil bukunya.” Aku melihat ke arah Radja dengan seksama. Ingatan akan bayangan hitam masih sering bermunculan dan memusatkan jurnal.
“Oh, jadi kalian ini mengincar jurnal milik Ratih?”
__ADS_1