
Aku ... tidak lagi bisa bernapas. Mata ini begitu perih ketika bertemu air. Mencoba memberontak, tetapi justru aku ditarik semakin dalam. Tidak kuasa aku berteriak dalam hamparan air yang begitu dangkal.
Radja tengah sibuk melawan dua dedemit di atas sana. Jam yang aku kenakan pun tidak dapat menyala. Bizar tidak bisa melacakku. Ya ampun, inikah akhir dari segalanya? Akar-akar, entah tanaman apa namanya, semakin menarikku ke dasar danau.
Dari berbagai arah monster air yang menyerupai belut listrik menghampiri. Aku tidak mau jadi santapan mereka. Beberapa, tidak puluhan, oh kenapa semakin banyak? Namun, mereka semua bergabung jadi satu membentuk monster yang sangat besar. Ini mengerikan, karena mereka seolah menyerap air danau hingga tubuhnya membengkak.
Kali ini aku memang harus berserah diri. Jikalau inilah akhir dari apa yang aku perjuangkan. Kepalaku sudah sangat pusing. Bahkan saat ini aku berhalusinasi jika ada seorang gadis yang datang dari belahan tubuh monster air.
Dia semakin dekat padaku. Hanya dengan membusungkan dada, dia semakin cepat tanpa peduli arusnya danau. Lalu, halusinasiku bertambah gila. Gadis itu memegang pipi dan mencium keningku. Tidak hangat, tidak juga dingin, ini memang khayalan.
"Bernapaslah," ujarnya padaku.
Apa dia gila? Mana mungkin manusia sepertiku bisa bernafas tanpa bantuan oksigen. Aku yakin ini hanya khayalanku, tetapi kenapa begitu nyata? Pasokan oksigenku semakin berkurang. Aku refleks membuka mulut, menggerakkan kaki sebisa mungkin.
"Tidak aku sangka Hana memberi bibit kekuatanku juga padamu," bisik gadis itu.
Aku melipat dahi ku ke dalam. Tidak mengerti apa yang dia katakan saat ini. Namun, gadis itu benar, aku bisa bernafas. Ini aneh.
"Sepertinya kamu sudah mulai percaya padaku," ucap gadis itu.
Setelah dirasa aku bisa bernapas aku melihat padanya. Kulitnya sangat putih seperti mayat. Matanya berwarna cokelat, sementara baju yang dia kenakan layaknya bangsawan-bangsawan Eropa. Rambut cokelatnya juga dia gerai sehingga di dalam air uraiannya ke mana-mana.
Rasa penasaranku memuncak, kebiasaan yang pasti dimiliki oleh anak remaja. Mkaa ku berbicara, memastikan apakah aku juga bisa bicara di dalam air atau tidak.
"Sebenarnya kamu siapa? Apa maumu?" tanyaku.
Gadis itu memainkan tangannya. Pusaran air di bawah sana ikut terbentuk, memutar-mutar di antara tanaman yang mengikat tubuh. Tidak lama aku bisa merasakan pusaran itu membuat tanaman yang mengikat semakin melonggar dan berakhir meninggalkanku.
Aku bisa menggerakkan badanku kembali, tetapi belum berani naik ke atas permukaan. Tepatnya tatapan gadis ini membuat aku kaku. Rasanya wajah yang kulihat begitu mirip dengan sosok Hana. Namun, siapa dia?
"Aku tahu kamu penasaran sekali. Aku akan mengenalkan diriku sebagai Mizuki, penguasa laut," balasnya padaku.
Ini tidak cukup, tepatnya aku tidak bisa percaya dengan yang dia katakan. Sepertinya keberuntungan memang sedang memihak kepadaku lagi. Baru mengetahui soal pedangnya dan sekarang aku menemui pemiliknya. Kenapa semua kebetulan ini tidak pernah berhenti berputar di sekelilingku?
"Kalau begitu ...." Ucapanku terhenti ketika dia kembali melihat padaku.
"Aku tahu kamu menyimpan kekuatanku," tuduhnya dan aku kembali melihat dahi ke dalam. Tentu saja! Aku hanya punya kekuatan Hana, kecuali tanaman-tanaman itu yang Mizuki maksud dengan kekuatannya.
"Aku tidak paham, kamu penguasa laut. Apa hubungannya dengan elemental tanah yang Hana miliki?" sanggahku padanya.
Mizuki tampaknya begitu tidak terima, aku lihat dari kedua tangannya yang memunculkan buih-buih. Namun, dia tetap menanggapiku dengan senyum yang sangat mencurigakan. Aku meneguk ludah.
"Sepertinya aku paham, kamu bukan reinkarnasi Hana, bukan juga aku. Namun di dalam tubuhmu terdapat kekuatan elemental kami. Menarik," ucapnya pelan. Dia juga gunakan tangan itu untuk mengarahkan buih-buih padaku. Mereka membuat pipiku sangat geli. Terlebih saat sampai merek meletus seperti balon.
"Aku memang bukan reinkarnasi siapa-siapa. Hana menyerahkan bibit kekuatannya padaku, hanya elemental tanah, tidak lebih," jelasku pada gadis itu. "Jadi bisakah aku pergi dari sini?"
"Tidak," tolak Mizuki mentah-mentah. Dia semakin mendekat. Memegang keningku dan memejamkan mata. Sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa dia melakukannya.
"Akh!" seruku ketika menyadari sesuatu sangat menyengat di dalam kepala. Ini bukan pusing yang biasa aku rasakan, tetapi itu mampu membuat aku bergerak tidak semestisnya.
Mizuki semakin menekankan telapak tangannya pada keningku. Tentu itu membuat rasa sakit ini semakin menjadi. Terlebih aku merasa sesuatu berusaha keluar dari tubuhku. Namun, dia menolak. Justru ...
Mizuki tiba-tiba terpental karena cahaya yang keluar dari tubuhku. Rumput laut yang tidak ada pun malah bermunculan dan seolah-olah melindungi. Aku ingat, Hana mengatakan jika Mizuki menjadi gila setelah bertemu dengan pedangnya, berbeda dengan Bara dan Aflly yang berubah sikap ketika pedangnya diambil.
"Tidak aku sangka Hana membuat proteksi dalam dirimu," ucap Mizuki, "kalau aku tidak bisa mengendalikan kamu, maka kamulah yang harus meneruskan misiku."
Mizuki membusungkan dadanya dan segera menghampiriku. Telapak kananya bersinar kuning dan nyaris mengenaiku. Namun, rumput laut berusaha untuk menahannya. Tidak berselang lama dia tertahan, tetapi sinar kuning itu bergerak dengan sendirinya.
Aku berusaha menghindar tetapi tidak bisa. "Dengan begitu semua kekuatan yang ada di dalammu aktif."
Bisikan Mizuki yang lirih pun menghilang bersamaan dengan tubuhnya. Aku terbatuk-batuk. Sesuatu menekan di ulu hatiku. Begitu sakit dan mataku berkunang-kunang.
__ADS_1
Byur!
Samar aku mendengar sesuatu terjatuh ke dalam air. Seseorang tengah berenang ke arahku. Dia mengulurkan tangannya padaku. Perlahan tapi pasti dia lalu menarikku dalam rangkulan. Lalu dia berenang ke atas secepatnya.
oOo
"Nadira! Tetaplah sadar!" teriak Radja di sampingku.
Aku memerhatikan raut wajah yang biasanya sangat menyebalkan. Laki-laki ini terlihat sangat khawatir. Tubuhnya begitu basah dan kedua matanya nyaris tertutup oleh rambut sendiri.
Aku berusaha bangkit, dengan pusing di kepala dan perih pada hidung. Radja bernapas lega setelahnya. Dia lalu berdiri dan kembali menarik pedangnya. Ternyata Azumi tengah tertawa begitu puas di sana.
"Selemah apakah orang yang Hana pilih? Bahkan aku belum sempat menyerang dan dia sudah jatuh lebih dulu," sindir perempuan itu menyebalkan.
Aku tidak perlu jengah di hadapannya, justru seharusnya aku muak. Tanganku sudah mengepal dan gigiku bergemertak.
"Jaga mulutmu Azumi!" balas Radja, "aku sendiri bisa menghabisi kamu sekarang juga!"
Bara menyangkal, dia tertawa remeh pada ucapan Radja. "Bahkan kamu lebih memilih menyelamatkan dia ketimbang menghabisiku tadi. Sudah aku duga ikatan antar manusia itu menyedihkan."
Aku bangkit, mataku menajam. Tidak kuasa lagi aku menahan amarah dalam otakku. Aku berjalan mendampingi Radja yang tidak menggunakan sayapnya.
"Lebih baik kamu jaga mulutmu," desisku pada Bara. Aku bisa merasa Radja yang di sebelahku langsung membelalakkan matanya.
Aku tidak memikirkan apa pun. Tanganku bergerak dengan sendirinya. Air-air turut ikut serta bergerak sesuai kehendakku. Mereka menarik tubuhku dan menenggelamkan bagian kaki hingga pinggangku. Aku dan para air sudah siap menyerang Azumi.
"Tidak mungkin! Kekuatan air?!"
Semua berteriak serupa, aku mendengarnya. Namun, pikiranku hanya berpusat pada Azumi dan Bara. Dengan satu helaan napas saja, ombak besar menghatam mereka.
Bara segera mungkin menarik tangan Azumi dan terbang. Dia menatap padaku, tetapi beralih kembali ke permukaan untuk membawa ratunya turun. Aku kembali menggunakan kekuatan air yang entah kenapa ada padaku.
Genangan air mulai terangkat mereka membentuk bola yang sangat banyak. Aku tidak peduli jika bola-bola itu cukup kecil. Namun, aku tahu sekecil apa pun jika bekerja sama tetap akan sakit dirasa.
"Kalian telah mengganggu air yang begitu, tenang. Jangan salahkan aku jika sekarang kalian sedang diincar oleh mereka," ucapku pada lawan.
Aku mengarahkan satu persatu bola untuk menyerang Azumi dan Bara. Radja turrut membantu dengan menyibukkan diri melawan Azumi. Sayangnya, Bara lebih tangkas dari yang aku kira. Dia menebas semua bola airku dan berdiri di depan Azumi.
"Dira, jangan gunakan kekuatan airmu!" titah Radja tetapi aku tidak mau mendengarkannya.
Aku memunculkan panah berwarna biru yang menyatu dengan air. Saat menarik tali busurnya, dapat dirasa jika anak panah yang terbuat dari es pun muncul. Aku membidik pertu Bara. Radja pernah bilang jika itu bisa memperlambat gerakan musuh.
Bara mengaduh ketika anak panahku tepat sasaran. Radja seolah tidak bisa percaya dengan yang dilihatnya sekarang, tetapi ini memang kenyataannya. Aku menyilangkan tangan dan merentangkan tangan. Air berubah menyerupai jarum-jarum dan tertuju pada Azumi. Saat ini, aku yakin kami bisa berhasil.
Radja berbalik, dia segera mengaktifkan kekuatannya. Memunculkan sayap dan segera berdiri di hadapanku. "Nadira, hentikan ini!"
"Kenapa? Bukankah kita memang ingin menghentikan kegilaan ini?" ucapku pada Radja.
"Kita gak bakal berhasil dan ... kamu juga udah dibawas maksmial, cukup," jelas Radja singkat.
Aku membiarkan Radja menarik tangan dan melepaskan aku dari air. Di sisi lain, kulihat Bara membompong Azumi dan terbang menggunakan sayapnya. Mereka melarikan diri dan tidak ada yang dapat aku lakukan.
oOo
Miss Merry menghampiriku dengan terburu-buru. Radja langsung membaringkan aku di sofa, dia sendiri berdiri sambil menunggu kedua peri datang. Aku melihat gerakan tangannya ayng menyapu poni-poni di depan mata.
Wajahnya juga pucat, mungkin dingin telah mengusiknya. Bahkan dia mencoba menggunakan api dari tangannya sendiri untuk menghangatkan tubuh.
"Radja! Dira! Kalian baik-baik saja?" tanya Miss Ann panik. Miss Merry sudah lebih dahulu meraih tangan dan mengecek nadiku.
"Aku tidak apa, hanya dingin. Dira lebih butuh perhatian," ucap Radja membalas pertanyaan Miss Ann.
__ADS_1
Miss Merry mengangguk. Selagi dia menggumpulkan energi, dia bicara pada Radja. "Pergilah ke kamar dan ganti bajumu."
"Baiklah Miss Merry."
Aku melihat Radja menggenggam kosong tangannya dan memadamkan api dari sana. Dia melihatku sekilas, di antara bola matanya ada keraguan untuk melangkah pergi. Aku bahkan belum berterima kasih padanya.
"Tunggu apa lagi, Radja? Gantilah pakaianmu, Nadira ada pada tangan yang tepat," ucap Miss Ann berusaha meyakinkan laki-laki itu. Radja pada akhirnya mengembuskan napas dan berjalan menaiki anak tangga.
Aku merasakan kehangatan yang Miss Merry berikan mulai merasuki ke seluruh tubuhku. Perlahan bisa aku rasakan ketegangan di tubuh mulai melemas. Miss Ann turut membantu dengan membuat otakku rileks.
Entahlah, meski dalam pengobatan seperti sekarang ... aku merasa tidak tenang. Gambaran bagaimana Mizuki membuat kepalaku sangat sakit bermunculan terus-menerus. Aku tidak bisa tenang.
"Kamu yang akan meneruskan misiku."
Misi? Misi apa, aku tidak tahu. Haruskah aku menanyakannya pada para peri?
"Ya ampun, Dira! Bisakah kamu tenang, biarkan kami berdua mengobatimu," ucap Miss Ann.
Miss Merry menimpali, "Dibanding dengan ketenangannya ... Dira apa yang terjadi padamu?"
Aku menggeleng. Antara takut dan tidak mengerti bercampur aduk dalam pikiranku. Miss Merry memandangi Miss Ann, tetapi tidak lama dia kembali melihatku dan kembali mengobati memar yang ada di tubuhku.
oOo
Aku memandang jenuh pada kaca. Duduk di tepi dipan sambil memegang buku, tetapi tidak ada yang menarik untuk dibaca. Sejak hari di mana pertemuan Mizuki dan ketidaknormalan kekuatanku terjadi, aku menutup diri. Aku benar-benar tidak mau berkomunikasi.
Tok Tok Tok.
Entahlah siapa yang mengetuk pintu, tetapi benda mati itu sudah aku tutup sejak kemarin. Tidak ada satu pun yang mengusik, hanya ketukan saja dan tidak lebih dari tiga kali. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun untuk sekarang.
Tok Tok Tok.
Keetukan kedua dan aku masih enggan meninggalkan dipan. Mataku terpejam, tidak dapat aku berpikir dengan jernih. Ada sesuatu yang lain di dalam relung hatiku. Sungguh menyakitkan jika aku mengusik.
Tok Tok Took.
Ketukan ketiga dan air mataku mulai jatuh. Membasahi sampul buku novel yang aku pegang. Siapa Mizuki dan apa maunya. Aku ingin berteriak. Kekuatan air yang tiba-tiba aku miliki ini begitu mengusik. Sejak dulu aku mengibaratkan air adalah ketenangan, tetapi kini air seperti bom waktu. Tidak dapat aku kendalikan dengan benar dan malah mengendalikanku.
Kriet.
Aku menoleh mendapati suara pintu yang dibuka. Dua orang laki-laki yang jadi partnerku itu berjalan ke dalam. Salah satunya melipat tangan di depan dada dan menatapku curiga.
"Apa yang kamu pikirkan sampe gak keluar kamar sih, Dira," omel laki-laki tersebut.
"Semua itu masih mengguncang hatiku."
Radja terdiam, tetapi dia ikut duduk di tepi dipan bersamaku. Bizar, laki-laki itu tengah membnarkan letak kacamatanya. Aku tahu Bizar tidak punya kata-kata selain mengomel, tetapi aku bisa lihat raut wajahnya yang begitu khawatir.
"Tapi kamu gak bisa ngurung diri lama-lama," tegas Radja. Aku hanya mengangguk, meski yang dia ucap tidak sama sekali aku dengarkan dengan baik.
"Aku datang dari Eropa bawa oleh-oleh buat bikin kalian kaget. Tapi malah aku yang dibikin kalian ... tahulah," celetuk Bizar kikuk. Tangan kanannya tengah memijat bagian beakang lehernya sendiri.
Aku memaksa tersenyum. "Maaf. Ini karena kecerobohanku."
"Bukan kamu yang salah di sini, Dira," jelas Radja, "dan bukan kamu juga yang terkejut di saat ini."
Bizar mengangguk. Dia lalu duduk di dekat kamu dan mengaktifkan kekuatannya. Scanner dia lakukan pada tubuhku hingga data-data kekuatan yang Hana miliki tertampil di sana.
"Kamu pernah bilang Hana memberi kamu bibit kekuatannya. Mungkin benar jika Hana hanya memberi kekuatan tanah dan menyegel lainnya. Namun, entah karena apa segel itu hancur dan elemental air pun muncul," ucap Bizar.
Aku ingin menceritaka semuanya, tetapi bibir ini begitu kelu. Kepalaku semakin pusing. Bisakah aku mencari titik tengah dari semua ini? Tolong jangan buat aku menyerah setelah semua yang mereka perjuangkan.
__ADS_1