
Bizar, Picture from Pinterest.
Berat rasanya bagiku untuk melangkah lebih lanjut ke ke ruang kebangsawanan milik Azumi. Bara berulang kali menepuk pundak, menyemangati secara tidak langsung. Namun, aku tetap tidak yakin jika Radja akan baik-baik saja dalam waktu dekat.
Monkshoot bisa saja melumpuhkan syaraf-syaraf Radja. Meski dia kembali dengan keadaan lumpuh, jiwanya hidup tanpa raga yang dapat mengikuti. Sampai tahap itu saja sudah lebih dari cukup. Karena manusia biasa tidak akan bertahan lebih dari sehari.
"Radja pasti sembuh," ujar Bara lagi dengan ucapan yang intinya sama saja. Tidak masuk ke dalam hati. Kata 'andai' dan 'jika' justru semakin memenuhi kepalaku.
"Aku enggak baik jadi penipu ya. Kayaknya bakal sulit menipu seorang penjahat ulung lebih dari ini, Bara," ucapku meracau.
"Memang sulit, tapi di sisi kegelapan ini masih ada aku. Kita akan mengatasi semua ini secepatnya!"
Aku mengangguk. "Kamu benar, masalah ini harus kita atasi secepatnya."
Bara lalu menepuk pundakku sekali lagi hingga kami sadar sudah berada di depan pintu kebangsawanan milik Azumi. Ruangan yang dipenuhi oleh penjagaan para tengkorak berjubahkan baju baja. Masing-masing menggenggamkan sebuah senjata tajam yang dibentuk melalui tulang. Tidakkah mereka jijik dengan senjata yang dibuat dari bagian mereka sendiri? Oh ya, aku lupa mereka hanyalah monster.
"Bagus kalian sudah kembali. Jika saja terlambat, pasukan tengkorakku siap menjemput," sindir Azumi.
Aku menggigit bibir dan mengepalkan erat tangan-tanganku. Terlihat jelas bagaiamana Azumi belum percaya. "Kami cukup lama, karena aku harus memastikannya dengan benar, 'kan?"
Azumi menatap aku dengan intens, dia lalu memejamkan matanya sesaat. Kaki kanannya berpangku di kaki kiri, sementara tangan kiri menopangkan dagu. Aku cukup terganggu dengan jari-jemarinya yang berketukan dengan ritme serupa di atas sanggahan tangan lengan pada kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Jadi, bagaimana hasilnya?"
Jelas Bara tidak mengetahui kejadian di sana. Sudah terlihat pula jika Azumi ingin aku yang mengatakannya. Melalui penghakiman melalui mata tajamnya aku berusaha mengucapkan dengan benar tanpa kesalahan sedikit pun, "Radja masih tidak sadarkan diri. Aku yakin dia tidak akan bertahan untuk waktu yang lama."
"HAHAHA!"
Gelegar tawa itu meremas hatiku. Jangan menangis, Dira. Radja akan baik-baik saja. Aku ucapkan terus berulang dan menjadikannya mantra bagi hati. Azumi bukan Bizar, dia tidak akan bisa membaca pikiranku, hanya bagaimana caraku bersikap.
Satu jentikan dan para monster pun menguar seperti uap air. Azumi beranjak dari tempatnya. Salah satu tangan pun memunculkan ramuan yang pernah aku lihat. Bahkan setelah semua ini aku tetap tidak dia percaya?
"Nadira, istirahatlah. Aku ingin kamu masuk ke sekolah besok, mari kita lihat reaksi teman-teman yang telah kamu tinggalkan. Oh ya, jangan seperti kakakmu yang berkhianat."
Aku membelalak. Tidakkah cukup dengan membuat mereka terhenti sesaat? Apa perlu aku harus menyiksa batin teman-temanku yang lain. Bagaimana dengan Demina dan Afly? Keduanya baru saja tergabung. Tidak lucu jika aku yang menyatukan kini justru menjatuhkan.
Bara terdiam tetapi dia seperti sudah diprogram. Tangannya bergerak mengambil obat, tetapi matanya tidak menunjukkan jawaban apa pun. Setelahnya, Bara menuntunku untuk ikut serta berlutut pada Azumi.
Hanya sebentar, tetapi rasanya waktuku terhenti sangat lama. Ketika kami beranjak, aku tahu punggung kami tidak luput dari pengawasannya. Sampai pintu ditutup rapat oleh Bara, aku bisa lebih tenang.
"Aku harus ke sel tahanan. Pergilah ke sayap barat dan masuki saja satu dari ruangan itu. Kamar itu brhak kamu tempati," ujar Bara dalam mode gelapnya.
"Enggak, aku tidur di sel aja, Bara," balasku.
Dia dalam mode seperti ini tidak akan menjawab apa-apa. Bara berjalan lebih dahulu, membiarkan kepalaku berkecamuk. Aku merogoh sesuatu dari balik saku. Jam tangan. Sepertinya aku harus mengembalikan ini. Terlalu beresiko jika Azumi mengetahuinya.
__ADS_1
Jalan ke sel tahanan lebih berliku, satu cara agar tidak ada tahanan yang kabur. Meskipun lebih dikekang, Azumi jarang ke sana. Namun, tempat tanpa pengawasan di dalam itu lebih aman.
"Langsung istirahat. Semua perlengkapan sekolah bakal Azumi siapkan, jadi kamu tidak perlu khawatir," ucap Bara pelan.
Setelah berucap, laki-laki itu berlalu. Dia memasuki satu dari berbagai sel di sini. Paling redup dan suram. Aku tidak tahu siapa saja yang ada di sana. Bertahanlah, semua ini akan segera berakhir.
Tidak ingin aku membiarkan manusia-manusia tidak bersalah itu turut menjadi bidak Azumi. Mereka seharusnya bisa menjalankan hidup mereka masing-masing, bukan seperti itu. Mataku beralih ketika suara isak tangis dari sel tahanan tersebut terdengar, raungan dan juga teriakan. Mereka tersiksa dan Azumi benar-benar tidak memiliki jiwa kemanusiaan!
Aku mengusap mata, bukan hanya karena sedih. Tubuhku lelah, tenaga yang aku gunakan terlalu banyak. Tidak, tidak. Masih ada satu hal lagi yang harus aku kerjakan.
Buru-buru membuka akses kamar di sel penjara. Segera setelah jeruji naik, aku langsung masuk dan kembali menutup akses. Pandangankudiedar ke segala penjuru. Mencari tempat yang tidak akan terlihat oleh siapa pun di balik jeruji.
"Tempat ini terlalu sempit, tapi aku harus bisa melakukannya." Aku mengambil jam tangan dari saku. Jam yang jarumnya tidak bergerak. Bagian kaca pelindungnya lebih dingin, didukung oleh keadaan sekitar. Jelas saja jam ini tidak agi berfungsi.
Sebelum mengembalikan benda ini, aku harus segera memberi petunjuk. Ya, si ilmuwan kelewat gila itu harus bisa memecahkannya. Hanya saja dia harus bagaimana aku membuatnya. Ini tidak semudah memberikan sandi morse. Titik dan strip. Tidak akan muat.
"Memang mustahil," ucapku pasrah. Tanpa ragu melempar jam tangan itu ke permukaan kasur yang kasar dan lanjut menjatuhkan tubuh.
Seandainya aku bisa mengatarkan telepati pada laki-laki itu. Andai saja aku bisa melakukan teleportasi, atau aku bisa meretas program pada jam. Di antara semua anggota, hanya Bizar.
Baru saja mataku ingin terpejam, tetapi sinar berkilauan di samping cukup mengganggu. Aku segera memiringkan tubuh menghadap pada cahaya tersebut. Mataku terbelalak hingga mengaktifkan otak untuk membangunkan tubuhku.
"Jamnya menyala?!"
__ADS_1