
"Azumi menitipkan bekal buat kamu," ujar Bara padaku sekali lagi.
Aku menoleh ke atas sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Apa dia memang sepeduli itu?"
"Justru ini aneh," balas Bara sambil geleng-geleng. "Aku menyarankan agar kamu tidak makan ini."
"Aku juga enggak mau, tapi bakal gawat kalau Azumi enggak percaya sama aku," kelasku sambil menerima bekal darinya.
"Entah apa yang merasukinya. Padahal jika aku ingat-ingat ke belakang, dia lebih aeirng menyibukkan diri dengan bahan percobaanya."
Aku makin meragukan apa yang ada di dalam makanan ini. Apa pun yang direncanakan perempuan jahat itu pasti buruk. Bahkan, ketika aku kembali menengadah dan melihat wajah Bara sangat pucat.
"Aku bakalan nimbang-nimbang lagi, Bara. Mungkin makan satu suap aja udah cukup," cicitku.
Jari-jemari laki-laki itu tidak bisa diam saja. Bara sesekali mengarahkan tangan pada bekal yang aku pegang, tetapi urung lalu kembali. Jika bukan melakukan itu, dia akan melipat kain yang membaluti kakinya.
"Apa pun yang terjadi nanti, cepat kabari aku. Bekal itu enggak bisa dipercaya," balas Bara.
Aku menyanggupinya. Bara tidak mengambil waktu yang lama. Wajar karena semakin banyak pula anak murid kelas 12 berjalan ke arah mereka. Ibu kantin mungkin sedang kerepotan dengan jumlah murid yang datang bersamaan.
Jujur aku sendiri sulit untuk menerawang apa yang Azumi berikan. Ternyata tidak hanya indera penciumanku yang terusik dengan keanehannya. Kotak nasi ini memberikan sugesti negatif. Wajar bila aku maupun Bara agak takut untuk memakannya.
Sudahlah, aku enggak bisa ambil resiko lebih dari ini! bisi hati kecilku memberontak.
"Afly!" teriak para gadis di depan sana membuyarkan fokus. Ternyata anak laki-laki yang sekelas denganku itu mulai dikerumuni oleh siswi-siswi sebaya dan adik kelasnya. Kelihatannya sudah seperti selebritis saja.
"Mari kita pergi," bisikku pada angin berlalu. Sebelum benar-benar anak perempuan melihatku. Terlalu malas untuk jadi bahan cemoohan, terutama Brittany ada di sana.
"Baiklah kita berpisah di sini," jawab Bara.
Aku membalikkan badan dan berjalan secepat mungkin ke naungan pohon. Terhindar dari teriknya matahari. Hanya perlu sepuluh langkah, tetapi nyatanya tidak. Tubuhku limbung, berkat dorongan seseorang.
Tidak hanya hampir jatuh, aku juga kehilangan bekal dari Azumi. Nasi dan lauk pauk pun berserakan. Anehnya aku justru bahagia dengan hal tersebut.
__ADS_1
"Maaf!" ujar cepat seorang laki-laki di belakangku.
Aku tidak merespons cepat, justru berjongkok untuk memilah makanan. Setidaknya ini harus segera dirapikan. Memasukkan satu per satu lauk besar berserta gumpalan nasi. Lalu membawanya ke tempat sampah tanpa menyangka laki-laki yang menyenggolku pun turut mendatangi.
"Aku gantiin ya, Dira?" ucap laki-laki itu. Aku mengamati sosoknya baik-baik, ternyata Afly. Segera aku menghindar, tetapi dia menahan lenganku.
"Tidak perlu, aku enggak begitu laper," balasku, "tolong lepaskan tangan kamu dari aku."
"Eh?" Afly bergumam, tetapi tidak melepaskan pegangannya.
Aku tidak suka perhatian berlebih dari anak-anak perempuan. Terlalu banyak mata yang memandangi hingga rasanya energiku dikuras perlahan-lahan.
"Aku enggak nerima penolakan! Ayo makan bakso di kantin!"
Tanpa aba-aba Afly segera menarikku. Dia mungkin melakukannya untuk pencintraan dan aku akan menjadi bahan cemoohannya sebentar lagi. Ya sudahlah. Aku hanya bisa memasrahkan diriku saja.
---------
Bakso komplit ditambah es teh manis, pesanan Afly untukku. Semuanya terlihat menggoda, terutama kuah bening bakso yang di atasnya bisa aku tambahkan sambal hijau. Es pada gelas itu mengapung untuk menyapa, meminta untuk segera diminum. Berkat Afly, aku bisa makan tanpa harus menunggu kakak-kakak kelas beranjak dari bangkunya.
Karena sudah dibelikan, aku memilih untuk membagi baso paling besar menjadi empat bagian. Menggunakan sendok sebagai pisau dan garpu untuk menahannya. Lalu memakannya perlahan.
"Duh, ini anak cewek satu ... ikut ngobrol dong," ujar salah satu perempuan.
Aku hanya melirik padanya lalu melanjutkan makanan. Bukan tidak menyimak, tetapi malas sekali jika aku harus ikut-ikutan membahas tentang laki-laki, pacaran, putus dan kawan-kawannya.
Afly sebagai pendengar hanya bisa memberi saran, menggoda lalu tertawa. Semua yang dia lakukan membuat anak perempuan tergoda, kecuali aku. Sesuap bakso potong kembali mendominasi di dalam mulutku.
"Lain kali, kamu enggak usah bawa makanan kampungan deh," sindir perempuan di hadapanku.
"Bawa bekal itu lebih baik ketimbang kita jajan sembarangan," tegurku.
"Kalau kamu bawa, Afly bisa bangkrut tau!" omel perempuan yang duduk paling ujung dekat dengan Afly.
__ADS_1
"Aku bahkan baru kali ini dijajanin sama Afly. Enggak seberapa kayaknya kalau dibandingin sama kalian," sanggahku mantap dan tepat.
Afly bingung melihat ke sisi mana. Berulang-ulang dia lirik padaku lalu pada perempuan lain yang menatap penuh deksriminasi. Dia lalu mengembuskan napasnya sebentar.
"Udah, udah, malu diliat orang. Yuk makan lagi," ajak Afly.
"Iih, Afly, kan si Nadira yang ngeyel," rengek perempuan di bangku kami.
Aku melanjutkan makan bakso, minum teh sesekali akibat sambal pedas menyerbu. Makin pedas dan itu es teh manis. Aku tidak peduli selama itu bisa menghilangkan fokus dari perdebatan mereka semua.
"Dira, kamu suka atau laper?" celetuk Afly.
Aku menengok padanya. "Daripada gak dimakan kan percuma ... mending aku habiskan."
Di sela-sela kami bicara, anak-anak perempuan saling lempar pandang. Melihat padaku lalu berbisik ke sebelahnya. Tidak bisa ya rasa iri itu disingkirkan dulu?
"Mau nambah?"
Aku refleks menggeleng. "Enggak perlu. Makasih, ini juga cukup."
"Hah? Tadi kamu ngomong apa? Aku enggak salah denger?"
"Makasih," ulangku yang lalu beranjak dari tempat duduk.
Afly tidak menanggapi lebih lanjut. Anak perempuan memaksa mereka, tetapi laki-laki itu hanya diam saja. Mengalihkan topik ke tempat lain. Walaupun dia laki-laki, kejadian pagi tadi pasti melukai hatinya juga.
Aku benar-benar tidak bisa diam di sini lebih lama lagi. Cukup. Seandainya aku bisa menyamarkan diri, menanyakan keadaan Radja. Ingin aku ketahui keadaan terbarunya.
"Ngomong-ngomong, maaf aku tadi enggak sengaja dorong kamu," ucap Afly tiba-tiba.
Tepat langkahku berhenti dan malah memutar arah untuk melihatnya. Justru aku bersyukur kamu dorong aku dan gak jadi makan bekal itu. Embusan napas keluar dari mulutku dan aku hanya berucap 'terima kasih' dengan lirih.
Anak perempuan lain melirikku. Tatapan diskriminasi itu kembali terlihat. Buru-buru aku menunduk, melihat pada ubin yang lebih menarik. Menyamakan langkah dengan panggilan anak-anak perempuan. Aku memang lemah, tidak bisa melawan ucapan mereka.
__ADS_1
Aku memang lemah, jika bukan untuk melindungi bumi.