Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 37. Serangan


__ADS_3

Bara segera menghindar dari ujung tombak panjang yang ditujukan padanya. Di antara ilalang panjang sekitar pertempuran api dan kegelapan pun mulai merontok jatuh, terbakar hangus di bawah. Lagi-lagi ujung tombak itu berhasil mengiris lengan Bara hingga darah merembes keluar dari sana.


Aku terengah-engah menghadapi kemarahannya. Keringat mulai bercucuran dari pelipisku. Ini agak sulit kami hadapi berdua. Anggota Twins lainnya sudah tumbang untuk menghentikan kemarahan Nadia. Siapa sangka kami akan bertemu dengannya.


"Kamu pengkhianat sejati, Dira!" teriak Nadia menggelegarkan tempat ini.


"Nadia, kamu hanya membuang-buang tenaga dan waktu," balasku selagi menyeka keringat.


Arah mataku tidak luput mengawasinya, dia bisa bergerak dan mengatur kecepatannya. Dia bisa saja tiba-tiba di hadapanku dengan tarian tombaknya yang indah tetapi sangat mematikan. Nadia dan amarah tidak boleh disatukan, aku harus menghentikannya.


"Kamu harus mati, Dira. Pengkhianat harus mati!" Keras suara itu terdengar bersamaan dengan tebasan tombak padaku.


Api menyelimuti di ujung-ujungnya. Warna oranye kemerahan itu menyalang, siap untuk membakarku hidup-hidup. Segera aku mendorong badan ke belakang untuk menghindari ujung tersebut. Tanpa aku sadari, Nadia mengubah akselerasi tusukannya dari lambat untuk menusukku. Meski agak terlambat, bagian ujung tombak hanya melukai bahu kanan.


"Kita harus melarikan diri," ucap Bara mengingatkan.


"Aku enggak setuju," ucapku, "kemarahan Nadia itu membahayakan orang sekitar aku enggak mau ambil resiko!"


"Terserahlah," balas Bara sambil mengepakkan sayapnya.


Aku merasakan awan-awan hitam yang bergerak mendekat adalah pertanda buruk. Namun, sulit untuk berpikir jika tekanan dari Nadia sangat mengganggu pikiranku. Gadis di hadapanku ini sukses menyudutkanku. Aku melebarkan tangan mengumpulkan air di sana, lalu kulontarkan air tersebut untuk menghentikanya.


"Frozen!" ucapku lantang hingga air yang mengalir di bawah Nadia menjadi es.


Sayang sekali, meski api dia tekankan pada ujung lancip dari tombaknya, tubuh Nadia turut memanas. Melelehkan es yang aku buat. Hanya bisa aku lawan dengan air. Pelan, aku menarik pedang di samping.


Tiba-tiba mulai terlintas dalam benak ketika pedang ini aku pakai untuk menyerangnya. Nadia mengambil kesempatan untuk menusukku, tetapi tidak berhasil karena Bara dan kekuatan gelapnya menurunkan tulang-tulang tajam dari bawah sana. Tidak bisa aku biarkan!

__ADS_1


Aku mengurungkan niat mengambil pedang. Segera melakukan tendangan memutar hingga Nadia yang lengah pun tersungkur. Mengangkatnya tinggi dengan airnya. Tepat saat itu pula aku mendengar Bara mengucapkan, "Boncliff!"


Tulang-tulang dengan ukuan sedang itu nyaris mengenari tubuh Nadia. Aku semakin membawa tubuh gadis tersebut semakin ke atas sebelum melemparkannya jauh-jauh ke ladang. Dekat dengan teman-teman lainnya pun turut terjatuh. Miris melihat mereka semua, tetapi ini semua demi keselamatan Nadia sendiri.


"Kekuatan kamu bahaya loh," ucapku pelan ketika Bara mengepakkan sayapnya makin lemah ke bawah.


"Kita harus segera pergi sebelum Ratu Azumi mencurigai kita," tegur Bara lagi.


Aku mengembuskan napas, "Laporan apa yang bisa kita ucapkan?"


"Kamu tenang aja," ucapnya, "kita lakukan misi ini dengan berpencar, cari orang yang diminta Azumi. Masih inget?"


"Yang mana?"


"Cari anak laki-laki sebaya dengan kita. Dia biasanya berantakan, ya kamu tahulah layaknya berandalan. Baju dikeluarkan. Aku tahu kamu bingung, Dira. Sebagai pembeda, kalau kamu lihat aura hitam menguar dari tubuhnya ... dia laki-laki yang kita cari."


Perlahan tetapi pasti, aku mendekati Faizal dan Demina yang terbaring tidak terlalu jauh. Ada darah di pelipis mereka. Jika seperti ini terus, Twins dan Bumi sama-sama akan dikuasai Azumi. Bahkan sebelum aku berhasil mengalahkannya. Satu tangan kanannku memunculkan air jernih, sedangkan tangan kiri memunculkan cocor bebek.


Tidak sampai di sana, aku mengepalkan tangan, membayangkan daun-daun cocor bebek ini seperti ditumbuk. Merasa yakin, aku pun membuka tangan dan menarik beberapa tetes air pada tumbukan daun cocor bebek. Ini tidak sesempurna menumbuk manual, tetapi cukup untuk mengatasi luka mereka.


Segera air jernih yang tersisa aku pakai untuk membersihkan daerah luka. Termasuk darah yang keluar atau pun yang mulai mengurangi. Setelahnya, tumbukan daun itu aku layakngkan di atas keduanya lalu berjongkong. Aku ambil sedikit demi sedikit bagian tumbukan cocor bebek. Meletakkannya di atas luka.


"Kalian harus sembuh, harus kuat," bisikku pelan.


"Nadira?!"


Sontak aku berbalik menemukan laki-laki berkacama itu baru saja keluar dari lingkaran hitam. Mataku menajam melihatnya. Segera aku menarik pedang dan aku arahkan ke dekat dua orang yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Kesiangan, eh?" ucapku pura-pura kesal dengan mendengus.


"Setelah kamu membuat Radja ada di antara hidup dan mati, sekarang kamu membuat teman-teman lainnya tidak sadarkan diri?!" balasnya dengan nada yang begitu tinggi.


Aku meneguk ludah, meski Demina dan Faizal tidak sadarkan diri bukan karena aku yang menyerang mereka. Namun, aku akan mewajari jika orang lainnya yang salah paham. Nyatanya saat ini Bizar tidak memahami. Melalui benakku, aku merasa jika pesanku tidak tersampaikan.


Bisa dilihat dari sepasang mata yang kosong itu, dia tidak peduli. Dia hanya mengepalkan kedua tangannya tidak memedulikan jika aku tengah bicara dengannya. Diamnya justru membuat aku menarik pedang menjauh dari Faizal dan Demina.


"Bersyukurlah kamu karena aku belum membunuh mereka," ucapku. Ada nada yang bergetar, tidak kuat ingin menangis. Bizar tidak menanggapi, dia justru melewatiku dan menyentuh orang-orang yang tidak sadarkan diri.


"Ada pengkhianat." Singkat tetapi dua kata itu menunjuk padaku.


Rasanya sulit untuk bernapas. Ucapan Bizar menikam hati hingga memaksa aku menengadah ke langit-langit. Membuang napas perlahan-lahan. Hawa panas dari Bizar di belakangku perlahan menghilang. Aku tidak bisa menjelaskannya, tidak bisa memaksanya.


Satu harapan yang tersisa hanyalah Kak Ron. Sedikit lagi ... penderitaan ini akan aku akhiri.


Janjiku pada Vivian, pada Hana. Semua ini harus berakhir. Aku tidak ingin melihat pengorbanan nyawa, bagaikan nyawa itu murah. Semua berhak bahagia. Ya, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun terluka lebih dari ini.


Air mataku mulai jatuh. Tidak akan ada yang menyekanya kecuali diriku sendiri. Di tengah semua pergelutan mata yang memanas, samar-samar aku melihatnya sesuatu. Hal yang membuat mataku terbelalak.


Sosok bayangan yang selalu aku lihat dalam mimpi. Bukan Azumi. Entah siapalah dia.


"Jangan menangis dan terimalah kekuatan yang ada dalam dirimu."


Aku tidak mengenalnya, benar-benar gelap meski saat ini matahari ada di tengah-tengah. Semakin dia mendekat, kakiku menjadi lemah karenanya. Saat dia akan menyentuhku, aku segera menutup mata.


Ini bukan mimpi, apa dia akan membunuhku? Tolong aku!

__ADS_1


__ADS_2