Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 32. Bersiap-siap


__ADS_3

Kami tengah bersiap-siap untuk tes masing-masing. Berhubung kepala sekolah sudah dalam perjalanan. Mungkin sekitar tengah hari kepala sekolah akan sampai. Untunglah aku sudah membuat setengah cerita jadi. Jadi sekarang tinggal melanjutkan setengahnya lagi. Andai saja tidak terpikirkan ucapan Miss Sharron, aku pasti sudah menyelesaikannya.


Aku membuat sebuah cerita persahabatan teringat dengan bantuan yang Radja berikan tadi. Pagi hari membawa ide untuk karya tulisku. Aku jadi lebih mudah menulisnya setelah selesai berlatih dan mandi. Namun, sekarang aku mulai bingung lagi untuk melanjutkan ceritanya.


“AKU!” Teriakan kencang itu mendorong rasa penasaranku mendekat. Ruang tamu sedang dipakai oleh tim cerdas cermat untuk berlatih. Sementara ruang keluarga dipakai oleh tim debat. Aku coba mendekat dan mencari tahu dari mana asalnya.


“Kamu emang jawab bener depannya, tapi kan aku bantu sebut angka di belakang koma sebelum kita gagal!” ujar suara yang aku percaya dari Irish.


Ternyata dari tim cerdas cermat, sepertinya aku tidak perlu khawatir. Mereka memang seperti itu. Namun, tidak ada salahnya jika aku memperhatikan teman-teman terlebih dahulu. Jadi aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruang tamu dan duduk di samping Candra yang dengan tenangnya mengerjakan soal-soal.


Candra kembali memeriksa jawaban milik Irish dan Demina, aku lihat soal matematika yang menyebalkan itu. Sementara di depan sana ada TV dan sedang memutar video soal matematika. Tiba-tiba video itu kembali berputar dan memberikan jawaban yang benar.


“Tunggu apa?! Kok jawabannya 15,91? Bukan 14,77?” ucap Irish dan Demina bersamaan.


“Kalian lebih cepat mengerjakan dibanding aku, tapi jawaban kalian malah salah. Ayolah kita ini sedang bekerja sama bukan berlomba,” balas Candra sambil memperlihathkan jawaban miliknya.


Irish langsung merampas kertas tersebut lalu dia menggulungkannya menjadi sebuah bola. Setelahnya dia membidik pada tempat sampah di belakang drinya. Aku menelan ludah, mungkin ini tidak baik-baik saja. Sekarang rasa khawatirku meningkat drastis. Apa Miss Merry tidak salah menempatkan mereka bertiga di dalam satu tim.


Urusan kekuatan jangan ditanya, Candra akan menang. Soal membidik, Irish yang akan menang, tetapi urusan sihir Demina yang juara. Mereka ini sama-sama hebat dan melengkapi jika persoalannya adalah bertarung. Namun, jika matematika, mereka bertiga sama kuatnya. Sampai-sampai aku tidak bisa melihat kerjasama dalam tim ini.

__ADS_1


Aku mengembuskan napas karena perdebatan mereka berlanjut hingga ke nilai-nilai kelas dan peringkat di sekolah. Kalau begini aku lebih baik mundur. Jika membandingkan nilai dengan mereka, aku bakal terlihat seperti remahan kue.


Beranjak dari ruang tamu, aku pergi ke ruang keluarga. Namun, Bara dan Radja tidak berlatih argumen. Mereka berdua sangat fokus dalam membaca artikel. Serius? Tidak ada satu pun percakapan sejak aku berdiri di depan pintu. Maka aku putuskan untuk mengambil salah satu artikel yang ada di meja dan membacanya dengan seksama.


“Dira, kamu mending lanjutin kerjaan kamu, cerpen belum beres kan? Jadi jangan kelayapan,” ucap Radja yang sama sekali tidak melepaskan pandangan dari kertas tersebut.


Rasanya aku tertohok. Memang benar jika aku belum mengerjakan tugas sendiri. Namun, itu karena aku tidak tahu harus menulisnya dengan bagaimana lagi! Aku mengembungkan pipi dan tetap membaca artikel. Apa mereka tidak bisa memulai percakapan?


Aku lalu mengembuskan napas dan melihat ke arah mereka berdua. Setelahnya menyimpan kembali artikel tersebut. Dibandingkan dengan tim cerdas cermat yang berisik dan saling berbeda pendapat terus, tim debat justru sangat tenang. Apa Miss Merry salah menempatkan mereka ya?


Terbesit dalam pikiranku untuk memicu mereka memperdebatkan sesuatu. Meski itu bukan tentang artikel ataupun pembahasan tentang lomba. Setidaknya mereka saling beradu argumen. Aku lalu tersenyum dan menyilangkan tangan di depan mereka.


Radja segera melipat artikel tersebut, sementara Bara melihat padaku. Aku menelan ludah, apa aku salah menentukan topik ya? Tanpa sadar aku sudah memijat pelan bahu kanan dengan tangan kiriku. Sebaiknya aku mengganti topik ini atau akan tercipta perang dunia kedua kalau begini caranya. Membahas pasukan Azumi itu beresiko tinggi. Terlebih mereka memang tidak bisa akur satu sama lain.


“Jika ada yang mengendalikannya pasti itu sisa dari pasukan Azumi dan seharusnya kamu mengetahuinya, Bara,” ucap Radja yang lalu menatap tajam laki-laki tersebut.


“Maaf, aku tidak tahu apa pun soal itu. Setahuku hanya aku yang tidak dijadikan boneka sepenuhnya, orang-orang lain sudah menjadi boneka sejak meminum ataupun memakan sesuatu darinya. Mungkin karena kekuatan ini juga berusha untuk melindungiku,” balas Bara.


“Teman-teman ... mari kita sudahi bahas pasukan Azumi. Bagaimana kalau kalian memperdebatkan soal artikel ini?” ucapku seraya menunjuk artikel yang mereka pegang. Namun, mereka tidak menurunkan pandangan dan malah saling menatap tajam satu sama lain.

__ADS_1


“Kalau begitu Azumi menyembunyikan sesuatu darimu, Bara. Siapa pun yang mengendalikan monster itu, aku  yakin jika dia lebih hebat darimu,” sindir Radja. Aku rasa arah pembicaraan ini akan berantakan.


“Aku rasa dia tidak lebih kuat dariku, konyol sekali menggunakan klon untuk melawan kita. Dibandingkan dengan kuat, dia hanya cerdik dan ingin mengelabui kita semua,” balas Bara.


“Benar juga, penggunanya mungkin cerdik. Dia memanfaatkan celah di antara kita. Pasti ada cara untuk mengelabui Miss Ann atau mereka menghilangkan hawa keberadaan untuk masuk ke laboratorium milik Bizar,” ucapku ikut terbawa suasana.


“Ya, kita tidak akan pernah tahu jika tidak menyelidikinya langsung. Tapi, keamanan milik Bizar kan sangat kuat, bagaimana mungkin ada yang masuk ke labnya?” balas Bara.


“Tunggu, itu mungkin saja. Sebaiknya setelah kepala sekolah datang, kita pergi ke Twins dan memeriksa keadaan. Bisa saja ada jalan rahasia. Pikiran Bizar itu seperti paradoks, sekali kita membukanya kita tidak dapat menemukan jawaban tepat. Mereka mungkin lewat jalan rahasia yang Bizar buat,” ucap Radja dan langsung membuat mata kami berdua terbelalak.


Tidak lama kami mendapatkan notifikasi dari Bizar. Entah untuk apa laki-laki itu mengirim pesan, tetapi aku tetap membuka pesannya. Di sana Bizar marah-marah karena kami membicarakannya. Oh ayolah, apa dia menyimpan penyadap di seluruh ruangan ini? Atau dia memiliki radar tertentu? Namun, di balik itu semua ada pesan tambahan dan itu membuat aku berdebar.


Kepala sekolah dalam perjalanan dan beliau dihadang oleh segerombal monster di perjalanan. Jika kalian terlambat, mungkin beliau akan mati. Aku tidak yakin ini bisa membantu kalian menutupi identitas atau tidak.


Aku melihat pada Bara dan Radja. Kami bertiga sama-sama menekan tombol untuk bertempur. Tidak akan kami biarkan monster itu mengacau di sini.


 


 

__ADS_1


__ADS_2