Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 81. Dunia Kai (2)


__ADS_3

“Kamu baik-baik saja? Tidak, kenapa ada luka bakar di bahumu?” tukas Radja.


“Ini karena aku berhadapan dengan Miss Ann. Sudahlah, ini bukan hal penting, Ja. Terima kasih untuk kekhawatiranmu, tetapi tugas melindungi bumi sudah memanggil,” balasku dan laki-laki itu mengembuskan napas. Mungkin kesal atas jawabanku.


Radja segera mengajakku masuk ke dalam gedung. Dia tidak mau berlama-lama, terlebih menghentikan Ratih artinya menghentikan monster yang bermunculan. Tidak ada lagi ledakan monster buatan. Manusia yang menjadi monster pun bisa kami atasi dengan vaksin. Aku dan Radja mencoba menelusuri satu persatu ruangan. Agak melelahkan ketika kami harus naik tangga ke lantai selanjutnya. Tempat ini sangat berantakan, pasti setelah mendengar kabar, manusia yang sedang bekerja pun panik dan segera keluar dari gedung.


Sampai akhirnya kami berhenti di lantai empat. Salah satu ruangan terlihat mencurigakan karena tempatnya yang terkunci. Aku dan Radja saling beradu pandang. Menyiapkan diri masing-masing. “Nadira, kamu harus hati-hati, bagaimana pun kekuatannya tidak kita ketahui.”


“Enggak Ja, kekuatan Ratih itu berpusat pada buku. Jadi yang harus kita lakukan adalah mengambil bukunya.” Aku melihat ke arah Radja dengan seksama. Ingatan akan bayangan hitam masih sering bermunculan dan memusatkan jurnal.


“Oh, jadi kalian ini mengincar jurnal milik Ratih?”


Aku dan Radja buru-buru menengok ke belakang, melihat siapa orang yang baru saja berbicara. Aku menelan ludah saat tahu siapa yang ada di hadapanku dan Radja. Dia bukan orang sembarangan, bahkan kami mengenalnya dengan baik. Gadis yang selalu menutupi wajahnya dengan masker dan bergerak lebih lincah dibandingkan yang lainnya. Tiara. Gadis itu berdiri di hadapanku dengan mata tajam setara dengan sebilah katana—sebilah pedang panjang khas Jepang.


“Tiara,” gumamku pelan.


Gadis itu segera saja melayangkan pedangnya ke arahku. Refleks, Radja menarik tubuhku hingga kami pun terbanting ke lantai. Laki-laki itu kembali berdiri. Tiara bukanlah orang lemah. Meski tubuhnya lebih pendek dan kurus, gadis ini memiliki kekuatan yang sangat mengerikan. Baik dengan kekuatan ataupun tidak, Tiara memang memiliki nafsu bagai seorang pembunuh bayaran.

__ADS_1


Aku pun ikut berdiri dan menyiapkan diri sebaik mungkin. Gadis itu bisa memisahkan anggota badan kami kapan pun dia mau. Tentu saja aku tidak dapat membiarkannya. Tiara tidak boleh menjadi penjahat. Aku yakin di hati kecilnya pun, dia masih memiliki kebaikan hati yang begitu tulus. Sambil menghindar dari serangannya, aku menyempatkan diri untuk bertukar pandangan dengan Radja. Laki-laki itu memercayaiku untuk menghentikan Tiara.


Mungkin aku harus menggunakan hope lagi, mengambil tanda—tidak membuang tanda itu. Sehingga Tiara terbebas dari perintah Miss Ann. Namun masalahnya, gadis yang tengah berhadapan denganku ini terlalu hebat dalam membunuh. Dia bahkan sulit untuk aku kalahkan. Seperti monster. Tiara tidak terkendali tetapi pikirannya tetap tenang. Sehingga dia lebih mudah dalam mencari titik kelemahan lawan. Aku dan Radja mengenalnya baik, terlebih aku memang sering bertugas bersamanya.


Aku gunakan ropes untuk menahan Tiara. Dengan menggunakan akar pohon yang lebih kuat dan melilit di tubuhnya. Gadis itu mengaduh sakit, tetapi dia tidak segan-segan dalam menggunakan pedangnya. Secepat dia melaju, secepat itu pula dirinya memotong akar-akar tumbuhan. Benar-benar kuat dan sangat cepat. Aku tidak ada rencana yang lebih baik untuk menghentikan gadis yang satu ini.


Tiara semakin lama semakin mendekat. Namun, Radja tidak membiarkannya. Laki-laki itu mengeluarkan napas dingin untuk membekukan kaki Tiara. Aku turut membantunya dengan menggunakan kekuatan air dan menyelimuti ujung kaki hingga pinggul gadis tersebut. Namun, sekali lagi kami gagal. Entah dari mana Tiara mendapatkan elemental api, yang jelas itu membuat es kami mencari.


Sungguh luar biasa. Aku benar-benar tidak habis pikir karena Tiara menjadi lebih hebat dari terakhir kali kami berhadapan. Padahal ini baru beberapa jam saja, kenapa dia bisa menjadi hebat? Aku jadi ingat jurnal milik Ratih. Itukah penyebabnya? Jika benar, buku itu harus dilenyapkan. Selain membuat monster, dia juga membahayakan teman kami, Tiara. Aku tidak akan membiarkan Ratih tertawa di atas penderitaan sahabatku.


“Aku mohon hentikan ini, Tiara. Apa ini yang kamu inginkan? Aku dan Radja mati di tangan kamu? Tiara ... aku dan Radja itu temanmu,” ucapku seraya menghindar dari serangannya.


“Tenangkan dirimu, Nadira. Anggap dia seperti Faizal. Kamu bisa melawan Tiara. Kita tahu ... gadis di hadapan kita ini bukanlah sosok Tiara yang pernah kita temui. Anggap dia lawan dan lumpuhkan dia,” ucap Radja. “Cuma kamu yang bisa menyelamatkannya.”


Aku menarik napas dalam-dalam. Radja memang benar. Aku tidak boleh selemah ini. Apalagi yang bisa menyelamatkan Tiara hanyalah aku dengan kekuatan hope. Aku segera melihat ke tanganku sendiri. Sebentar lalu mengeluarkan sinar, aku mengarahkannya ke arah Tiara. Kembali gadis itu terperangkap dari akar-akar tumbuhan. Kali ini aku menggunakan kekuatan secara berlapis-lapis.


Tiara memang lebih cepat. Aku tidak tahu kapan dia akan kelelahan atau aku yang akan kelelahan lebih dahulu. Radja juga turut membantu dengan napas dinginnya yang lalu melapisi akar tanaman milikku. Tiara terlihat lebih sulit dalam membuka pertahanan kami. Aku tidak bisa berdiam diri lebih lama. Tepatnya aku tidak ingin semuanya berantakan lagi.

__ADS_1


Aku tidak tahu apakah dengan menahannya seperti ini saja cukup. Meski Radja memercayaiku, bagaimana dengan Tiara sendiri? Aku tidak yakin. Terlebih tatapan membunuhnya mengarah ke arahku. Mengikuti terus ke mana aku akan pergi. Aku mencoba meletakkan tangan di atas leher, tepat pada tanda miliknya.


Kekuatanku mulai bereaksi, tetapi tidak lama es milik Radja retak dan Tiara terbebas. Aku segera mundur dan Radja menarikku menjauh dari gadis tersebut. Sebilah pedang tajam itu nyaris mengenaiku, bahkan membelah bagian perut dan pinggulku jika Radja tidak buru-buru mendorongku menjauh. Sudah aku duga, ini tidak akan cukup.


“Jika kalian berpikir kekuatan selemah itu bisa menahanku, kalian salah besar. Jika kalian mau, bagaimana jika aku menunjukkan arti kekuatan yang sesungguhnya? Ah ... bahkan dalam tiga serangan, aku bisa mematahkan lenganmu, Radja,” ujar Tiara yang mengangkat pedang hingga menutupi wajahnya sendiri.


“Tiara, kamu yakin mau melakukan ini? Aku tahu kamu kuat kuat dengan ataupun tanpa kekuatanmu. Namun, sejak kamu menyepakati diri untuk bergabung dengan kami, bukankah kamu berjanji tidak akan memakainya untuk kejahatan?” ucap Radja dengan tenang. Namun, laki-laki itu juga menyiapkan diri dengan mengganti tangan kanannya dengan cakar naga.


“Radja, jangan sakiti Tiara. Aku mohon, dia tidak bersalah,” ucapku pelan.


“Aku heran padamu Nadira. Untuk apa kamu memohon sementara aku akan membunuhmu?”


Aku membelalak mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Tiara. Matanya tidak menyiratkan keraguan sedikit pun sampai aku berpikir jika dia memang berniat untuk melakukannya. Berniat untuk membunuhku dengan tangannya sendiri. Kami tidak bisa berlama-lama di sini. Aku juga harus menyadarkan Tiara.


Radja bukan tipikal yang langsung menyerang perempuan. Demi melindungiku, dia berdiri di hadapanku dan mengembalikan sayap naganya. Dia tidak akan terbang kali ini, lagi pula sangat tidak menguntungkan melawan Tiara dengan terbang. Aku tetap merasa ini bukanlah rencana yang bagus. Terlebih aku tidak mampu menyakiti Tiara.


Tiba-tiba, sekepulan asap menguar dari lantai. Kami tidak bisa melihat. Tidak. Mungkin laki-laki di hadapanku bisa melihat dengan mata naganya. Aku mencoba meraih lengan baju Radja. Asap ini begitu tebal, sampai aku bisa merasakan sesuatu menarik pundakku. Awalnya aku mengira ini Radja, tetapi kenapa aku merasa ada bahaya mengancam dari belakang?

__ADS_1


“Apa kamu siap untuk mati, Nadira?”


__ADS_2