
“Esnya banyak sekali, ini bisa memakan waktu sehari penuh,” ucap Nadia, “tangan dan kaki kamu masih biru. Sebaiknya aku minta Bizar untuk membukakan portal untukmu. Kak Ron akan segera datang dan mengobati kamu, Dira.”
Aku menggeleng, sambil tertatih aku mencoba untuk berdiri. “Tidak perlu, Nadia. Aku harus menghadapi Rima. Alasan dia menjadi monster adalah aku, jadi biarkan aku ikut mengakhiri ini bersama kalian semua.”
“Tapi Dira, kamu enggak dalam kondisi baik. Jika kamu saja tadi hampir mati karena membeku, artinya kekuatanmu ini tidak stabil kan?” Ucapan Nadia memang ada benarnya. Kekuatanku tidak stabil, masuk ke garis depan hanya mencari gara-gara.
“Aku enggak bakal berdiri di garis depan. Saat ini Rima masih setengah sadar dalam menggunakan kekuatannya. Mungkin sebentar lagi kekuatan itu yang akan menguasai dirinya,” balasku yang membuat Nadia mengembuskan napasnya lalu ikut berdiri. Dia pun segera menyusul ke teman-teman yang sudah berdiri di garis depan.
Tubuhku memang masih dingin, tetapi tidak berarti aku harus berdiam diri begitu saja. Aku tidak ingin seperti itu. Sedikit memaksa kekuatan tanaman keluar dan memunculkan pedang atau panah. Kedua senjata itu bisa membantuku untuk sementara waktu meski aku ada di garis belakang. Lambat laun tanaman mulai muncul dari bawah lantai.
Sangat sulit. Aku tidak mau menyerah dan terus memaksakan tenaga. Sampai-sampai tanaman itu pun muncul ke atas dengan melindungi senjataku. Segera saja aku mengambilnya dan tanaman itu pun kembali menghilang dari pandanganku. Kekuatan yang tidak stabil ini sangat menyebalkan, terutama aku jadi lebih kelelahan dari biasanya.
“Aku tidak ada urusan dengan kalian semua! MINGGIR!” ucap Rima.
Lagi-lagi Rima menggunakan kekuatannya untuk menyerangku semua teman-temanku. Aku tidak dapat memercayai dia bisa membuat banyak sekali jarum es dari bawah. Untungnya Nadia segera menggunakan kekuatan apinya untuk membabat habis es tersebut. Radja turut membantu karena dia memiliki api dari kemampuan naganya. Sementara Irish mengambil panah sedang ujung api, dia menembakkannya di sekitar Rima.
Aku lalu menarik tali busur dan mengarahkannya pada Rima. Mencari-cari letak kristal yang menyimpan kekuatan gelap milik gadis itu. Namun tidak ada. Ataukah ada di belakang punggungnya? Radja lebih dulu menyadari dan segera terbang menghampiri. Dia tidak takut dengan dingin menusuk karena hawanya sebagai naga bisa beradaptasi dengan keadaan.
__ADS_1
Satu keuntungan karena kekuatan itu berasal dari seluruh naga di Twins yang percaya keturunan Kazuhiro akan membawa kedamaian. Jadi dengan otomatis dia bisa beradaptasi dengan keadaan. Bahkan meski Radja bukanlah penerus asli pemilik kekuatan ini, dia tetap sangat kuat dalam menggunakan kekuatannya.
“Tidak mungkin,” ucap Radja di sana. “Tidak ada kristal di dalam tubuhnya. Kekuatanku tidak dapat mendeteksi kekuatan gelap apa pun.”
Kulihat Bara turut mendekat, tetapi dia tetap menjaga dirinya dari tiap serangan Rima. Laki-laki itu mencoba mencari tahu apakah ucapan Radja benar atau tidak dengan kekuatannya. Namun, lagi-lagi kami mendapatkan sebuah gelengan.
Tiba-tiba Rima pun tertawa dengan kencang. “Tentu saja kalian tidak akan menemukan kristal itu dariku. Aku sudah memindahkannya pada Nadira. Namun, jika kalian memaksakan kristal itu keluar dari tubuhnya, dia akan mati.”
“Rima ... apa maksudmu?!”
Baik aku maupun yang lainnya hanya bisa membelalak karena ucapan gadis tersebut. Refleks aku memegang dada kiriku. Benarkan apa yang Rima bilang tadi? Semua secara bergantian melirik ke arahku dan tetap saja aku merasa ada yang salah. Tidak mungkin jika kristal yang terbentuk itu milik Rima.
“Sebentar, Rima. Seingatku kamu tidak ingin mengikuti lomba ini dan siapa pun yang maju kamu akan mendukungnya,” ujar Afly yang lalu melangkah. Dia gunakan kekuatan pelindung cahayanya agar serangan gadis itu tidak dapat melukainya.
“Siapa kamu? Kamu hanya orang yang telah membunuh teman-temanku. Sekarang aku akan membalas karena kalian tidak bisa menolong Nadira, gadis yang ada bersama kalian saat ini!” ucap Rima semakin kacau. Sungguh itu sangat aneh, apa dia tidak sadar dengan senjata yang sedang aku pegang?
“Maaf jika ini mengecewakan kamu, Nona. Tapi kami bisa menyelamatkan Nadira tanpa harus memaksa kristal itu keluar,” ujar seseorang entah dari mana. Perlahan portal terbentuk di hadapan kami dan memunculkan dua orang laki-laki. Bizar dan Kak Ron keluar dari sana, lengkap dengan pakaian tempur mereka.
__ADS_1
Rima mundur beberapa langkah, dia seolah pernah bertemu dengan keduanya dan takut untuk melihat, seperti saat aku mengetahui kekuatannya. Dibandingkan itu, Kak Ron menghampiriku dan segera memegang pundak. Dia mengaliri kekuatannya padaku, menyalurkan kehangatan yang mengangkat rasa sakit di hati. Perlahan warna biru di tanganku pun berubah menjadi normal. Serangkaian ikatan kekuatan gelap pun mulai menyingkir.
Rima lalu berteriak, “Apa maksudmu?!”
“Begini Rima, dengan kamu memindahkannya pada Nadira, justru kekuatanmu akan semakin melemah. Hanya dua puluh menit lagi kamu akan mengamuk lalu meledak. Katakan padaku sekarang, apa kamu mau mati dengan cara yang sangat menggenaskan begini? Bahkan seekor kucing pun bisa memilih kematian yang tepat untuk dirinya sendiri,” jelas Bizar yang lalu membenarkan letak kacamantanya.
“Aku ... aku tidak mau mati,” ujar Rima dengan lirih. Aku tahu kematian itu sangat menakutkan dan menyebalkan di satu sisi. Aku segera mendekati gadis itu, melawan es miliknya dengan es milikku.
“Rima, tenangkan dirimu. Biar mereka semua mengobati kita. Aku tahu kamu adalah perempuan yang baik. Afly pernah bercerita padaku, kalau kamu adalah penulis terkenal. Sejujurnya jika aku bisa ... aku ingin meminta saranmu tentang cerita yang aku buat, sekaligus berterimakasih karena kamu sudah memberikan aku satu kesempatan untuk ikut berkompetisi,” ujarku pada Rima.
Gadis itu langsung menangis. Aku pun mengulurkan tangan dan dia membalasnya. Perlahan rasa dingin di gadis itu pun meluntur sampai tubuhnya terhuyung ke depan. Untungnya aku bisa menahannya. Bizar pun segera membantu dengan mengirim Rima entah ke mana. Namun, karena dia belum diobati, aku yakin dia akan dikirim ke Twins.
“Kamu membuat kami khawatir, Dira. Harusnya Radja berada di sekitarmu, meski itu di perpustakaan sekali pun. Memangnya Miss Ann ke mana? Kenapa Miss Ann tidak terlihat di manapun?” gerutu Bizar panjang lebar.
“Miss Ann pergi untuk memeriksa keadaan Azumi. Jadi aku berjaga di perpustakaan, lalu bertemu Rima dan ... seperti yang kalian tahu. Dia berubah menjadi monster, tetapi aku tidak menyangka jika kristal kegelapan itu mampu dia pindahkan padaku,” balasku.
“Tidak masalah, Dira. Kristal itu akan jadi bahan penelitian kita. Siapa tahu ada cara untuk membuat kristal tanpa kita ikut campur terlalu banyak. Sekarang kita semua harus kembali ke Twins. Aku juga harus mengambil kristal itu dari tubuhmu,” ucap Kak Ron seraya mengelus puncak rambutku.
__ADS_1
Aku tersenyum. Semoga saja ... semoga saja kami terus menemukan cara yang terbaik untuk