Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 31. Akhir Bunga Hitam


__ADS_3

Aku memandang langit-langit melalui jendela yang terbuat dari batu. Siapa peduli ini hari keberapa aku tidak melihat rumput yang melambaikan padaku. Tidak juga melihat cahaya matahari menyinari tempat dan ruang.


Tempat ini layaknya penjara, begitu hening tanpa ada obrolan apa pun. Aku menarik diri menjauh dari jendela. Merapatkan mantel yang membungkus tubuh lebih kencang. Tanpa matahari, kehangatan di sini pun menghilang.


"Kita harus pergi," seru seorang laki-laki dengan sayap kelelawar dan wajah pucat yang dia perlihatkan padaku.


Aku menatapnya dalam, tanpa tersenyum maupun berdiam diri saja. "Tentu, berikan aku lima menit."


Senyumanku mengembang menatap ubin di bawah sana ulah ucapannya, "Kita harus turun ke bumi."


Hanya perlu lima menit bagiku untuk menyiapkan kekuatan, memakai sarung tangan dan membiarkan rambut panjang sepunggung tergerai bebas. Laki-laki di hadapanku menggunakan kekuatan gelap untuk membuat sebuah portal penghubung.


Dia masuk lebih dahulu dan meninggalkan aku sendirian. Tidak masalah, karena aku ingin menyambut tanah indah itu dengan sebuah kematian yang indah. Jangan terburu-buru karena Azumi sangat membencinya.


Tidak butuh waktu yang lama menembus portal ke bumi. Suara baku hantam dan tembakan terdengar tidak jauh. Segera saja aku berlari dan melihat bagaimana para kesatria pilihan Kerajaan Hati tengah bergelut dengan partnerku. Tidak akan aku biarkan sebuah pedang atau pistol berhasil melukainya.


"Beschützer!" seruku dengan menggunakan kedua tangan yang dihadapkan ke depan.


Perlahan munculah sebuah teratai yang besar menjadi sebuah tameng di hadapan partnerku. Tidak ada satu pun serangan yang berhasil menembusnya. Justru mereka bergeming di sana dan menatap herap pada tanaman teratai yang aku buat.


Tanpa ragu aku berlari mendekat. Mempersiapkan beberapa kunai bermata pisau empat yang terbuat dari tanaman Poison Ivy. Tanaman beracum berakibat gatal-gatal pada orang yang menyentuhnya. Setelah tangan kiriku siap, aku segera menghilangkan teratai dan berhadapan dengan orang-orang yang menyandang nama sebagai pahlawan.

__ADS_1


Mereka tampak membelalak, tetapi apa peduliku? Segera saja aku layangka kunai tersebut pada dua orang terdepan. Seorang laki-laki dengan kuas dan laki-laki yang menggunakan syal. Mereka tidak sempat menghindar atau mungkin belum sadar.


"Apa yang kamu lakukan?" seru salah satu perempuan dengan api yang berkobar di tangannya.


"Bukankah kita memang sedang berkelahi?" jawabku singkat.


Aku gunakan sebuah panah yang terbuat dari akar-akar pohon melengkung. Menarik tali busur hingga muncul sebuah kayu dengan Monkshood dikenal juga dengan rambut singa. Sangat beracun jika bersentuhan dengan bagian mana pun pada tanaman tersebut. Aku mengarahkannya pada laki-laki berkacamata yang sibuk dengan ketikannya.


Jujur saja aku ragu.


Perasaan kuat ini membuatku agak sulit untuk melayangkan panah padanya. Aku menarik napas dalam membiarkan angin mengajak anak-anak rambut terbang lain arah. Agak mendongak lalu aku melontarkan panah padanya. Meski memelesat dengan cepat, satu di antara mereka berhasil menangkis.


Mataku membelalak karena tindakannya. Dia melihat padaku sebelum akhirnya melepas anak panah. Darah merembes keluar dan napasnya sudah terengah-engah. Kenapa ada orang yang rela berkorban seperti itu?


"Radja!!!" Bersamaan mereka berseru memanggil rekan yang sudah aku tembak.


"Na ... Nad ... Nadira," ucapnya parau.


Aku bergeming, menjatuhkan panah dan anak panahnya. Di ujung sana mereka menangis. Ketika mata laki-laki itu semakin lama menutup sempurna. Partnerku kembali terbang ke langit-langit membuat badai yang besar. Aku menariknya ke bawah dengan sulur.


Hingga dia kembali turun, aku kembali melihat pada lawan. Terlalu sibuk mereka menyelamatkan rekan yang berada di antara hidup dan mati. Partnerku memutar mata menatapku tajam.

__ADS_1


"Aku cukup lelah. Lagi pula ancaman utama sudah kita kalahkan bukan?" ucapku padanya.


"Kamu enggak bisa ninggalin Radja kayak gini! Nadira Putri Haniah!!!" seru laki-laki yang menggunakan syal. Tatapannya sangat fokus padaku.


"Memangnya sepenting apa hidup Radja untukku? Bahkan saat ini aku bisa melakukan hal yang sama pada kalian," ujarku.


Mereka menatapku tidak percaya. Mulut terbuka dan air mata bergelimang di pelupuk masing-masing. Aku mengepalkan tangan begitu erat lalu mengambil napas dalam-dalam dan kembali melirik pada mereka.


"Nadira, aku mendapat kabar dari Azumi. Kita harus segera kembali," ucap partnerku.


Aku mengangguk padanya. "Kamu benar, Bara. Mereka bisa dihadapkan oleh orang-orang itu."


Ucapku penuh penekanan pada mereka di akhir kata yang baru saja terucap. Semua bungkam, kecuali satu. Dia memelesat padaku dengan kacamata biru dan tangannya dia memegang pundakku.


"Kami mencarimu dan beginikah caramu kembali, Nadira?" teriaknya padaku, "kamu berubah drastis?"


"Aku tidak mengerti maksudmu. Enyahlah!" ucapku mendorongnya diikuti dengan sulur yang mengikat laki-laki tersebut.


Tidak peduli seberapa banyak mereka memanggilku, aku tetap berbalik. Berjalan ke arah  yang berlainan. Sekilas aku menengok, tetapi partnerku menahan.


"Portalnya sudah aku buat."

__ADS_1


Aku mengangguk dan memunculkan sulur yang merambat, mencegah orang lainnya yang berniat mengejar kami. Ini jalan yang aku tempuh, tidak peduli apa yang pernah terjadi pada hubunganku dengan semuanya.


__ADS_2