
ANEH!
Sepertinya mataku begitu berat ketika terbuka. Remang-remang yang dapat aku lihat dari atas sana. Dari celah, kecil juga pengap yang aku rasa.
Aku berusaha bangkit, tetapi semua tubuhku terasa sakit. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali mengedipkan mata. Apa tubuhku lumpuh?
Dengan ingatan yang tersisa dalam benak, aku coba menimbang-nimbang mana kenyataan dan alam mimpi. Apa yang telah terjadi di waktu lalu? Mempertanyakan pula tujuan yang membuatku berada di tempat ini.
Aku sadar, bahwa aku terlalu terhenyak dalam pikiran. Hingga suara langkah kaki memaksa untuk kembali pada kenyataan. Suara besi ditarik ke atas terdengar dan bisa aku lihat sosok yang berdiri di sana.
"Kamu sadar, Nadira?" ucap laki-laki bersayap kelelawar itu padaku.
"Um ... mmm," gumamku. Terlalu sulit untuk mengucap sepatah kata saja. Ini menyebalkan.
Hanya saja, melihat mata tajam itu aku sadar ini bukanlah tempat seharusnya aku berada. Dia bukan laki-laki super menyebalkan. Bukan juga para peri yang rela mengorbankan kekuatannya untuk kesembuhanku.
"Ini Kerajaan Mimpi, tempat Ratu Azumi memulihkan kekuatannya," ujarnya.
"Baaa ... Bara?"
"Jangan takut, Dira. Ratu Azumi belum mengambil kekuatanmu," jelas Bara, "tepatnya tidak akan pernah bisa."
Bara semakin mendekatiku. Banyak hal yang ingin aku tanyakan. Namun, tidak bisa. Dia bukan Bizar yang bisa membaca pikiranku. Bukan juga Radja yang paham keadaan fisikku.
__ADS_1
Dia berhenti di sebelah kasur. Menarik perlahan pedang yang ada di sampingnya. Aku membelalak, menyadari pedang itu seharusnya dipegang penuh oleh para peri. Bahkan jika diberikan, seharusnya para peri meminta izin Radja.
"Kamu pasti sadar keanehan yang aku miliki, Nadira. Dengan pedang ini, aku murni mengingat semuanya termasuk apa yang Hana ucapkan pada orang-orang sebelum aku.
"Di antara semuanya, Michio yang paling normal. Namun, aku ... aku malah terjun pada kegelapan. Membabi buta hanya untuk melawan kalian semua.
"Jujur saja, aku tidak pernah ingin jahat. Dan aku minta maaf karena membawamu ke sini tanpa izin," jelasnya panjang lebar.
Bara tidak lama beranjak. Suara melengking memanggil namanya. Kupastikan suara Azumi. Mungkin mereka kembali bersiap menyerang bumi. Andai saja aku bisa menghubungi mereka.
Mataku kembali terpejam. Sekejap gelap lalu jadi terang. Aku melihat ruangan kosong ini lagi, dengan jaring-jaring emas yang lebih banyak dan mengarah pada satu orang.
"Vivian!" panggilku panik.
Vivian begitu pucat, dia menatapku dengan lemah. "Syukurlah aku berhasil membawa kamu ke mari, Dira."
"Vivian!" ucapku yang lalu memangku tubuh kecil tersebut.
"Dira, tubuh kamu enggak bakal bertahan lebih lama. Kekuatan jahat hampir menembus hatimu," bisik Vivian.
Aku melipat dahi ke dalam. "Kekuatan jahat?"
Vivian mengangguk dan melanjutkan ucapannya, "kekuatan Azumi yang menyerang kamu hinggap ke hati. Aku berhasil menghentikannya, tetapi itu memakan banyak energi kehidupanku."
__ADS_1
"Tunggu, aku ngerasa ini bukan kabar yang baik, Vivi."
"Benar. Aku akan menghilang. Ini pertemuan terakhir kita," ucapnya dengan senyum, "Dira ... kamu enggak perlu khawatir soal fisikmu. Sekarang kamu benar-benar normal."
"Enggak ... Vivian, kamu enggak boleh pergi," ujarku. Tidak aku sangka air mata keluar panas membasahi pipi. Seperti begitu nyata.
Ini tempat aku berpisah dengan Hana, menyambut kedatangan Vivian. Sekarang peri itu juga mau meninggalkanku? Tidak ... aku tidak bisa membiarkannya!
"Aku gak peduli kalau aku harus lumpuh sekali pun! Vivian, aku mohon, jangan tinggalkan aku."
Vivian menggeleng lemah. Kulihat sayapnya memudar, lalu berubah menjadi serpihan cahaya. "Hana percaya kamu akan mengubah dunia ini lebih baik.
"Ini permintaanku sebelum kamu membuka mata. Dira, buat Azumi yakin jika kamu jahat. Sampai dia percaya ... kamu bisa mengambil peluang sebanyak-banyaknya."
Gelengan kuat aku lakukan pada ucapan Vivian. Namun peri kecil itu hanya tersenyum. Memegang telapak tangan dan kembali melihat padaku.
"Aku tidak bisa ...."
"Aku percaya padamu," seru Vivian sebelum tubuhnya hancur berkeping-keping menjadi butiran cahaya.
Aku tidak kuasa melihatnya. Berteriak sekencang-kencangnya meski tahu tidak akan ada yang menenangkan diri ini. Hanya mimpi, ini mimpi. Vivian tidak menghilang. Aku percaya itu kebohongan.
Teriakan, isak tangis dan tawa yang terkadang muncul melelahkan raga. Aku diam memeluk lutut sendiri dan membenamkan muka di sana. Aku tidak ingin kembali.
__ADS_1
Tidak ingin kembali, setidaknya untuk beberapa saat.