
Kami pun mendekat ke layar komputer. Tanpa perasaan, Bizar mendorong lawan ke belakang, sehingga orang yang serupa dengannya itu pun berguling. Aku memilih untuk mendekati orang yang mirip dengan Bizar.
Jika dilihat dengan seksama, rambutnya lebih ikal. Padahal selama ini rambut Bizar itu lurus dan selalu rapi. Dia mulai sering merawat tubuhnya semenjak kenal dengan semua teman-teman. Bahkan jas labnya pun kini ada lima. Satu hal yang aku lupakan ketika Bizar berada di lab. Ya, laki-laki itu selalu memakai jas lab putihnya. Jika tidak memakai pun, dia pasti akan meletakkan baju dinas di sekitarnya.
Seperti itulah yang sedang dilakukan laki-laki di tengah kepanikannya. Dia mengambil jas lab yang sudah digantung sejak dulu, lalu memakainya. Bizar benar-benar tidak ingin bisa lepas dari kebiasaanya yang satu itu. Kembali dengan Bizar gadungan, aku memaaksa agar jam tangan milik Bizar terlepas dari tangan lawan. Tidak lupa aku pun mengambil kacamata.
“Kamu mengalami banyak perubahan ya?” ucapku.
Laki-laki itu menatapku tajam. “Bukankah seharusnya kamu sedang menyelamatkan orang-orang?”
“Bizar lebih awal menyadarinya. Kamu hanya seseorang yang kehilangan jati diri, kenapa tidak kamu hentikan sekarang dan biarkan kami membebaskanmu dari lingkar kegelapan?” tawarku, tetapi laki-laki itu terlihat tidak tertarik dengan apa yang aku ucapkan.
Karena wujud monsternya menyerupai Bizar, aku jadi ragu intisarinya akan mudah ditemukan. Namun, aku tetap menarik tali busur dan mengarahkannya ke salah satu anggota badan. Mungkin ada di dada kiri laki-laki itu. Ini beresiko sangat tinggi, karena di sana pun ada jantung.
“Tunggu, Dira. Jangan bunuh dia!” ucap Bizar. Saat aku menoleh, laki-laki itu masih sibuk mengetikkan proggram. Entah apa yang dipikirkan laki-laki tersebut.
“Ada apa?” Bizar masih setia mengetik sebelum akhirnya dia menekan enter. Layar pun menampilkan sebuah bar dengan persentase. Laki-laki itu berbalik dan menagih benda-benda yang sedang aku pegang.
“Intisarinya tidak akan terlihat dengan mudah. Dia ...,” ucap Bizar terhenti.
Tiba-tiba saja suara kericuhan dapat aku dengar. Segera saja aku mencari tahu di mana asalnya. Sepertinya Bizar sudah menduga ini. Karena kekuatannya sudah kembali, dia pun berganti pakaian dan mulai memunculkan layar transparan. Dia mengetik sebuah program dan mengubahnya menjadi dua pistol.
Sesuatu di atas sana terpental dan jatuh ke bawah. Aku tidak bisa melihat dengan jelas karena ruangan Bizar agar redup saat ini. Mungkin efek dari program yang sedang berjalan di komputernya. Perlahan dari sana aku melihat laki-laki lain. Dia terbang tanpa sayap atau alat bantu lainnya. Seperti Afly, tetapi rambut laki-laki itu berwarna pirang.
__ADS_1
Dengan kecepatannya, dia terbang ke arahku. Mataku membelalak karena di tangannya ada tiga buah cakar besi. Segera saja aku menukar panah dengan pedang, lalu menangkis serangan dari laki-laki tersebut. Tidak aku sangka jika aku akan bertemu dengan salah satu dari mereka lagi.
“Jika dia ada di sini, apa yang lain juga ada?” gerutuku pelan. Meski sudah berlatih, tidak menutup kemungkinan jika kami pun akan kalah lagi seperti sebelumnya.
Bizar menggeleng. “Orang yang dilawan oleh Bara itu adalah monster yang kamu tangkap sebelumnya, Dira. Dalam kata lain, orang itu berhasil membuat klon yang sempurna.”
Aku bergeming mendengar apa yang Bizar ucapkan. Jadi yang aku tahan itu hanyalah sebuah klon? Segera aku melirik pada orang di bawah sana. Jika dia klon, alasan kenapa wajahnya mirip dengan Bizar pun dapat tercerahkan. Aku tidak percaya jika sebuah duplikasi bisa lebih hebat dari yang aku bayangkan. Semua hal itu justru membuat aku semakin kesal.
“Hahahaha! Ternyata kamu sudah mengetahuinya ya. Memang, yang asli tidak dapat dikelabui begitu saja. Hei, Bizar, bukankah menyerang seorang diri dan mengorbakan seseorang membuat kamu lebih kuat? Korbankan Nadira dan kekuatanmu akan setara ... ah tidak, bahkan lebih dariku bukan?” ucap lawan kami yang lalu tertawa lagi.
“Apa maksud ucapannya, Bizar?” tanyaku.
Bizar tidak menjawab, dia justru berdiri di hadapanku. Aku tidak mengerti dengan kekuatan yang bahkan melampaui. Selama ini Bizar sudah melampaui manusia pada umumnya, terlebih diusianya yang masih remaja. Aku hanya tau jika ilmuwan satu ini sangat ingin menghargai dirinya sendiri sebagai seorang remaja biasa.
“Nadira menyadarkanku, jika aku tidak harus berdiri di garis depan untuk mengalahkanmu. Aku tetap bisa menjadi menara bagi mereka semua, terlepas aku ini kuat atau tidak. Asal kamu tahu saja, kekuatanku yang sekarang pun lebih kuat dibandingkan denganmu,” ucap Bizar dengan begitu percaya dirinya.
“Kalau begitu buktikan padaku,” ucap lawan pada kami.
Secepat kilat dia berpindah dan menyerangku dari arah belakang. Aku tidak sempat melakukan perlindungan, sehingga aku pun terdorong dan jatuh. Tubuhku rasanya mati rasa karena membentur meja. Sulit untuk berdiri lagi. Jadi aku memutuskan untuk menggunakan kekuatan air. Itu bisa mengikat kaki dan membantu Bizar untuk menemukan intisarinya.
Tidak aku sangka dia tidak menyerang Bizar dan justru kembali menyerang ke arahku. Namun, tiba-tiba sebuah dinding pelapis muncul di hadapanku dan membuat laki-laki itu berpindah tempat. Bizar saat ini benar-benar serius.
Bizar lalu menggunakan kedua pistolnya untuk menyerang. Dia menembak ke arah kaki dari laki-laki tersebut. Aku tidak tahu sepintar apa ilmuwan yang satu itu. Dalam tekanan seperti ini saja, dia masih bisa menghitung kecepatan dengan akurat. Sampai lawan pun jatuh.
__ADS_1
Laki-laki itu menyerang Bizar dengan kekuatan serupa menggunakan program, tetapi entah bagaimana itu tidak berhasil. Tiap serangannya tiba-tiba menghilang seperti baru saja dihapus.
“Kamu terlalu besar kepala hingga tidak mengetahui celahmu sendiri. Tembok tadi tidak hanya memindahkanmu dari satu tempat, tetapi aku pun membuat virus. Kini kekuatanmu tidak bisa digunakan selama virus itu masih bersemayam di dalam tubuhmu. Aku tidak sangka jika virusku pun membuat intisari kekuatanmu muncul,” jelas Bizar.
Jika aku bisa, aku akan bertepuk tangan dan mengaggumi apa yang laki-laki itu ucapkan. Bizar memang hebat, dia bahkan bisa memprediksi tujuan lawannya. Namun, aku kira dia akan menghabisi lawannya. Mengambil intisari dan membuatnya hancur.
“Kenapa kamu tidak membunuhku?!” Pertanyaan dari lawan pun merupakan hal yang ingin aku tanyakan pada Bizar.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Dia lalu berbalik dan tersenyum. “Sudah aku katakan, aku bukanlah orang yang berdiri di garis depan. Tolong ralat ucapanmu, kami tidak akan membunuh tetapi menyembuhkan kamu.”
“BODOH!” teriak laki-laki itu, “aku tidak dapat memahami orang sepertimu. Kalau begitu, sebelum kamu melakukannya ... katakan padaku, kekuatan apa yang membuatmu lebih kuat daripada mengorbankan orang-orang terdekat?”
“Sebuah kekuatan yang didasari atas persahabatan dan kepercayaan,” ucap Bizar santai.
Tiba-tiba saja sayap kelelawar membentang di atas dan segera menyerang laki-laki itu. Tepat di intisarinya. Kembali aku melihat kristal hitam itu hancur berkeping-keping. Laki-laki itu berteriak keras, mengaduh sakit, tetapi aku tidak bisa menolongnya.
“Bizar bukankah kamu tidak memercayainya? Lalu sejak kapan kamu menghubungi Bara?” tanyaku.
“Aku sudah bilang, jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja,” balas Bizar tetapi tidak menjawab pertanyaanku. Tiba-tiba saja tubuhnya ambruk, untunglah Bara datang dan dia membantuku untuk menopang tubuh Bizar.
Kekuatan yang didasari atas persahabatan dan kepercayaan?
__ADS_1