Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 97. Cara Mengalahkan Penjaga


__ADS_3

Radja segera mengeluarkan napas api pada monster tersebut. Itu tidak memiliki efek banyak, bahkan monster itu tidak terluka sama sekali. Aku yakin jika Radja tengah berdecak sebal. Di saat sepeti ini, mendapatkan informasi dari Bizar memang sangat diperlukan. Kami bahkan tidak tahu makhluk apa ini.


Perlahan aku pun memunculkan pedang bermata biru—caladbolg. Di saat terdesak, kekuatan pedang ini bisa meningkatkan kekuatan airku. Sebelum monster itu menyerang Radja dengan cakarnya, aku segera memunculkan ombak besar yang lalu di arahkan padanya. Sayangnya, burung itu lebih cepat dari dugaanku.


Namun, bisakah kami mengalahkan seekor burung besar satu ini?


“Hewan ini cukup besar, tapi aku yakin dia punya titik buta, Dira. Untung saja tiap monster tidak bisa memahami apa yang kita ucapkan,” ujar Radja yang entah sejak kapan berada di sampingku. Matanya tetap mengawasi pergerakan burung raksasa di atas sana. Kapan pun monster itu bisa datang mengoyak tubuh kami atau bahkan menjadi camilan siang harinya.


“Lalu, bagaimana? Aku enggak bisa terbang kayak kamu, Ja. Aku harus tembak panah secara terus menerus?” balasku agak tidak suka.


Serangan fisik seperti yang Radja lakukan saja tidak bisa membuat monster tersebut terluka sedikit pun. Aku jadi ragu panah kecil milikku bisa melukai monster itu. Radja lalu tersenyum, dia menatapku dengan aneh. Seketika tubuhku meremang; laki-laki itu pasti punya ide yang cukup gila. Namun, sedetik kemudian wajah Radja berubah seolah mengatakan tidak. Aku yakin ide itu memang melibatkan diriku.


“Tempat ini cukup tidak memungkinkan untuk kita. Enggak ada tempat untuk berlindung, ini halaman kosong. Enggak ada pula tempat untuk dia bersembunyi—mungkin jika dia tidak bisa menembus halaman kosong ini,” ujar Radja padaku. Aku menyetujui ucapannya.


Ini tempat yang sama sekali tidak mendukung kami untuk beraksi. Bahkan tidak akan ada istirahat sampai monster itu benar-benar dikalahkan. Pertanyaannya, bagaimana cara kami melawan dia? Aku mengingat ucapan Radja, monster ini pasti punya titik buta. Terlebih dia begitu besar dan kuat. Kulitnya seperti baja dan tidak bisa ditembus oleh apa pun.


Mataku menerawang tubuhnya. Sebesar dan sekuat apa pun dia, pasti monster ini punya kelemahan. Namun, memang sulit mencarinya terlebih monster itu berada di atas sana. Di sampingku Radja sudah mengembalikan bentuk tubuhnya lalu dia mengeluarkan sebuah duplikasi Naga Hitam yang di mana naga itu lebih kecil dibandingkan dengan yang asli.

__ADS_1


Radja menyuruhku naik. Sepertinya dia tahu jika aku memang membutuhkan fasilitas itu untuk mengetahui kelemahan musuh. Selain itu, dia juga bisa menggunakan naganya untuk  menyerang. Naga Hitam lebih kuat dalam penyerangan dan aku pernah melihatnya bertarung bersama dengan Radja. Jika memang yang Naga Hitam ramalkan itu benar, aku tidak boleh menyerah sekarang. Anggap ini ujian untuk lulus dan aku harus mencari tahu jawabannya.


“Radja, bawa aku ke dekat monster itu. Kira-kira ... sampai aku bisa melompat dan berada di badannya. Akan aku coba mencari kelemahannya, jika tidak ada, aku akan menggunakan Hope,” jelasku dan hal itu sukses membuat kedua mata laki-laki itu menajam.


“Sebenarnya itu sempat aku pikirkan, tetapi terlalu beresiko. Sekarang kita coba saja menyerangnya dari jarak dekat. Kamu gunakan panahmu dan bidik matanya. Jika dia buta, mungkin lebih mudah bagi kita untuk mencincangnya,”  timpal Radja. Laki-laki itu lalu berdiri mengambil pedang yang berada di samping pinggangnya.


Aku tidak ingin membantah, tetapi ini satu-satunya kesempatan kami untuk menang. Tidak ada gunanya untuk berlama-lama di tempat ini. “Baiklah. Aku akan menembak.”


Segera saja aku mengganti pedang yang kupegang menjadi busur. Aku tarik tali busur itu hingga memunculkan sebuah bambu kuning dengan ujung yang dilumuri getah. Ini akan membuat matanya sakit. Burung itu terus bergerak dan Naga Hitam juga terus menghindar. Aku bukan Irish yang bisa menembakkan anak panah meski sambil bergerak. Namun, di sini hanya ada aku yang kemampuan memanahnya biasa-biasa saja.


Dalam penyerangan ini, aku pun menembakkan satu anak panah. Benda itu memelesat dengan cepat dan mengenai kornea mata milik monster. Aku bersyukur karena mata monster itu juga besar di saat bersamaan. Monster itu mulai kehilangan satu penglihatannya dan menyerang secara membabi buta Naga Hitam. Untungnya Radja segera mengarahkan naga itu untuk naik ke atas. Jauh dari jangkauan monsternya.


“Entahlah, Ja. Aku enggak tahu, tapi aku bakal coba,” balasku yang lalu kembali menyiapkan anak panah ketika menarik busur. Pandanganku menyipit, mencari celah yang tepat.


Pergerakkan monster yang tidak beraturan membuat aku cukup sulit mengarahkan anak panahnya. Pada percobaan pertama, anak panahku meleset dan mengenai pipi burung tersebut. Tidak lama jatuh ke bawah. Percobaan kedua, anak panahku ditangkis oleh sayapnya. Sungguh menyebalkan. Di percobaan ketiga aku berharap ini akan lebih baik dan bisa mengenai mata satu lagi. Dan, pengharapanku pun berhasil.


Monster itu semakin ganas dan menyerang kami dengan bruntal. Aku menelan ludah. Ternyata monster ini lebih ganas dari yang sebelumnya diperkirakan. Radja mulai menumbuhkan sayapnya. Dia berpesan agar aku diam saja di atas Naga Hitam. Namun, melihat Radja kesulitan membuatku tidak bisa diam saja.

__ADS_1


Perlahan aku mencoba mengarahkan Naga Hitam mendekati monster tersebut. Diam di belakang lalu berpikir sejenak. Mungkin jika aku tusuk bagian lehernya akan lebih mudah. Namun, ini terlalu tinggi dan aku takut jatuh. Ini bukan bumi dan hanya ada kami berdua saja. Lalu terlintas di pikiranku untuk menembakkan anak panah yang bisa mengikatnya.


Tidak perlu melompat dan jatuh. Aku bisa mengurung monster ini! Segera aku arahkan kembali anak panah biasa. Anak panah itu pun menancap dan segera berubah menjadi akar tanaman. Akar itu semakin menjalar dan mengikat tubuh monster. Menahan pergerakan dari sayapnya sehingga monster itu jatuh yang lalu menimbulkan suara ‘bum’.


Radja lalu menghampiriku dan menghilangkan sayapnya. Setelahnya dia pun mengarahkan Naga Hitam ke bawah. Tepat di mana burung besar itu terperangkap. Aku segera mengeratkan pegangan dengan memunculkan tanaman lain. Hal itu membuat  monsternya tidak bisa bergerak. Setelah memastikan keadaan aman, Radja pun memerintahkan Naga Hitam untuk menurunkan kami.


Laki-laki itu mulai menarik pedangnya kembali. Siap untuk membunuh monster tersebut. Namun, aku menahannya. Aku rasa ada cara lain untuk mengalahkan penjaga terakhir dan rasanya aneh jika terlalu mudah untuk kami hadapi. Jadilah aku mendekati monster tersebut.


“Monster ini tidak mungkin sangat lemah, kecuali jika dia bukan penjaga yang sebenarnya,” ucapku pada Radja dan laki-laki menyetujuinya dengan anggukan.


“Tapi monster ini tetap harus dibunuh. Kita tidak tahu kapan dia akan menyerang,” timpal Radja. Aku mengembuskan napas dengan apa yang laki-laki itu katakan.


“Jika kalian membunuhnya maka kalian tidak akan bisa menghancurkan jurnal ini, karena burung ini adalah kuncinya,” ujar seseorang entah dari mana. Baik aku dan Radja sama-sama mencari keberadaan suara lembut itu. Tiba-tiba Naga Hitam bergerak sendiri, dia terbang dan menatap ke atas langit.


Naga hitam itu tiba-tiba berubah menjadi partikel-partikel kecil. Partikel itu pun berubah menjadi sosok gadis. Aku ingat terakhir kali ketika Radja bertarung dengan Naga Hitam, sosok yang dia gunakan adalah laki-laki dewasa. Rasanya aneh jika kini yang berdiri di hadapan kami adalah seorang gadis, berambut cokelat karamel tetapi bagian wajahnya tertupi oleh sebuah jubah. Dia menggunakan pakaian serba putih—minus tudungnya yang berwarna kelabu. Baik aku dan Radja, kami yakin tidak pernah melihat gadis ini.


Gadis itu mendekatiku, dia mengulurkan tangannya dan sebuah partikel lain muncul membentuk bola kristal. Aku tidak tahu untuk apa benda itu, tetapi rasanya kekuatan hope bereaksi dengan itu. Jadi aku pun segera menengok ke arahnya. Melihat bagaimana gadis itu mengarahkannya padaku.

__ADS_1


 


 


__ADS_2