
“Tas, buku, baju, makanan, api unggun, semua siap,” ucapku sambil menutup kembali isi tas yang aku gunakan untuk pergi menyelidiki suatu tempat bersama teman-teman.
Mungkin tidak cocok dikatakan tugas penyelidikan, tepatnya pelatihan. Setelah Miss Merry dinyatakan sembuh total, dia segera menyuruh kami semua belajar lebih giat. Jam main kami dikurangi oleh Bizar, diganti oleh jam belajar untuk lomba.
Aku mulai merasakan kejenuhan, bahkan dari awal aku memang tidak semangat untuk mengikuti lomba menulis cerita. Tidak ada satu pun ide logis dalam ceritaku, terlebih kada fokusku buyar antara menulis dan memikirkan soal pasukan Azumi. Bizar menyarankan agar aku membaca cerita-cerita populer. Namun bukannya aku bersemanga, aku justru menutup wajah. Cerita populer saat ini menceritakan tentang pasukan Azumi dan kami yang tidak bisa ditutupi lagi oleh media massa. Syukurlah, mereka belum mengetahui identitas kami.
Terkadang Bizar mengingatkan kami semua. Karena kasus kemarin sudah naik ke atas publik, kami harus makin berhat-hati. Pemerintahan tidak akan diam begitu saja. Jika ada kesempatan mereka akan menahan kami, lebih buruk jika mereka membunuh kami semua. Aku bahkan tidak mengerti kenapa sekarang para wartawan justru mencari mati dengan mendekati para monster. Memang benar, ini tugas kami untuk melindungi mereka. Namun, bukan berarti mereka berhak berkeliaran begitu saja! Memangnya kami harus mengurusi mereka terua?
“Tenang, kalau urusan bicara biar aku aja yang kerjain!” Aku ingat jelas jika Afly dengan bangga bisa menghentikan para wartawan itu. Tentu saja dia menjawab pertanyaan dan sering muncul di TV. Bagus juga karena Afly yang tengah bertempur dan versi sehari-harinya berbeda. Jadi kami tidak perlu begitu khawatir dengan keadaanya.
“Semua sudah lengkap, Dira? Kamu yakin mau mengikuti misi? Kakak bisa berkoordinasi dengan Bizar, jika kamu merasa belum sembuh benar,” ucap Karak Ron yang masuk dan membawakanku sekotak bekal nasi.
Aku menerimanya dan lalu memasukkan bekal ke dalam tas. Kak Ron masih mengkhawatirkanku. Ini menyangkut kejadian beberapa hari lalu, di mana aku memaksakan diri untuk menyelamatkan Bizar. Saat itu kondisiku dinyatakan sedang tidak dalam kondisi baik. Kak Ron bahkan bilang pada Radja jika aku tidak bisa masuk sekolah dulu. Namun semua itu terbayarkan, tidak ada berita kematian dari pasukan Azumi juga Bizar kembali dalam kondisi baik.
“Kak, aku masih sehat. Jika aku sakit, di sana ada Miss Merry dan Miss Ann. Kakak tidak perlu khawatir,” ucapku sambil memegang tangan kakak.
__ADS_1
Laki-laki dewasa itu mendengus. “Aku harap semua anak laki-laki di sana bisa diandalkan. Jika tidak, aku akan membuat mereka menjadi bubur, Dira.”
“Ayolah, Kak. Mereka sudah melindungiku sejak dua tahun lalu. Masa kakak kayak gini. Oh ya, Dira titip Nadia ya? Nadia pasti kesepian, jadi Kakak ajak dia main atau latihan aja besok,” usulku. Kak Ron menopang dagunya lalu mengangguk. Aku bernapas lega. Selama aku tidak ada, kakak dan Nadia bisa mempererat kerjasama tim di antara mereka.
Aku pun segera memakai tas, tetapi kak Ron menahanku. Dia segera mnyodorkan jaket yang belum aku gunakan. Segera aku pun menepuk jidat. Bisa-bisanya aku lupa memakainya. Padahal tempat untuk melakukan pelatihan nanti berada di wilayah pegunungan. Bukan mati karena diserang monster, kayaknya aku bakal lebih dulu mati karena kedinginan.
Setelah memakai jaket, aku pun segera pergi ke sekolah. Miss Merry mengambil pelatihan ini dengan anggaran sekolah agar kami tidak terlihat mencurigakan bagi pihak sekolah. Terlebih lomba tinggal seminggu lagi, tetapi kami tidak pernah berlatih dengan guru pembimbing. Tentu saja ini menimbulkan kecurigaan yang tidak-tidak, seperti Miss Merry asal-asalan menunjuk peserta lomba.
Aku merasa aneh karena pergi lebih awal dari waktu yang ditentukan. Namun, ternyata Radja sudah duduk di sana sambil membuka sebuah dokumen. Laki-laki itu membacanya dengan serius. Dia memakai kacamata dan hal itu membuat dia menjadi lebih keren dari sebelum-sebelunya. Mungkin jika penggemar Afly tahu, laki-laki itu akan kehilangan penggemarnya.
Radja mengalihkan pandangannya padaku. Dia lalu menarik kembali kacamatanya. “Ini artikel-artikel yang bantu aku buat debat nanti. Kamu juga harus baca nanti. Buat jaga-jaga.”
“Sebanyak itu hanya untuk satu topik debat? Berapa banyak yang harus aku hapalkan?”
“Bukang menghapal, Dira. Kamu harus memahami isinya dan merangkai kata untuk berargumen di hadapan lawan. Nah, karena harus meliputi fakta agar pendapat tim kita kuat, kamu harus menambahkannya dari sini. Memang banyak, tetapi kamu bisa membagi waktu setelah lomba menulis selesai bukan? Afly benar-benar tidak bisa mengikuti kegiatan sampai babak akhir,” jelas Radja padaku.
__ADS_1
Aku mengangguk sebagai persetujuan. Padahal, aku sendiri tidak yakin dengan lomba menulis. Tidak ada inspirasi untuk membuat satu cerita utuh. Ini tidak semudah yang aku bayangkan dan aku benar-benar takut mengecewakan banyak orang. Terlebih sekolah mengharapkan kami membawa piala sebanyak-banyaknya, tetapi di satu sisi, kami mencari markas tempat pasukan Azumi berada.
Radja kembali membaca dokumen, dia tidak mengajakku bicara. Terlalu fokus dengan apa yang sedang dia baca. Tidak lama Demina, Irish dan Candra datanng secara berurutan. Aku ingin mengajak mereka berbicara, tetapi mereka semua kompak dalam membuka buku soal dan alat tulis. Ayolah, kenapa semua kelewat rajin begini? Kenapa hanya aku yang merasa tidak ingin melakukan apa pun?! Bahkan Bara yang baru datang pun tengah membaca sambil berjalan di ujung sana.
“Kalian semua, dalam radius 100 meter ke arah barat, ada monster yang menyerang. Pergi dan hentikan mereka. Kalian punya waktu empat puluh menit untuk menghentikannya berbuat onar.” Aku tersentak dan melihat ke arah jam. Bizar tiba-tiba mengirimkan pesan di saat kami harus pergi? Apa tidak salah orang?
Karena semua sedang fokus pada urusan masing-masing, aku pun mewakili mereka. “Kamu yakin kami yang menyerang? Mobil akan datang menjemput kami, Bizar. Miss Merry juga pasti sudah menunggu.”
“Aku tidak salah orang. Saat ini aku sudah membuat mobil yang akan kalian naiki kehabisan bahan bakar juga bannya menjadi bocor. Butuh waktu empat puluh menit bahkan lebih. Sebaiknya cepat selamatkan anak-anak kecil di sana!” ucap Bizar lantang.
Aku segera melihat ke arah mereka yang mengembuskan napas dan merapikan diri. Kami semua menata barang bawaan di satu tempat agar lebih mudah bagi Bizar sembunyikan. Berhubung sekolah sepi, kami pun segera berganti pakaian menjadi mode tempur. Aku melihat peta dan mencari data berapa banyak anak yang ada di sana.
“Nadira, jangan terlalu banyak maju ke depan. Kak Ron bisa-bisa memarahi kami semua. Kamu diamlah di garis belakang bersama Irish,” titah Candra. ¬¬
__ADS_1