
Kembali lagi di Lux of Valley! Latihan membosankan bersama Radja. Juga monster aneh yang entahlah apa lagi.
Sudah sebulan lewat kami berlatih, liburan semester pertama Radja gunakan untuk menyiksaku habis-habisan. Tidakkah dia kurang kerjaan? Padahal Bizar saja sedang berlibur ke Perancis saat ini.
Radja berdiri di antara rerumputan Lux of Valley. Selalu tanpa alas kaki, katanya sangat sejuk. Dia juga menyuruhku tidak menggunakan alas agar kuat.
"Habis ini kamu keliling danau dua putaran," ucap Radja.
Aku menggerutu, "dua putaran dengan hutan di mana-mana dan bahkan melebihi tes lari 2,4 km."
"Apa kamu bilang?" Aku menggeleng.
Melompat-lompat kecil sambil melakukan pemanasan. Lari lima kali lipat dari tes olahraga, berbahaya, tetapi laki-laki ini jelas tidak memedulikan hal seperti itu. Alunan nada yang menyebalkan keluar dari mulutnya. Siulannya memang sama menjengkelkan dengan si pemilik suara. Bagaimana pun aku harus mengikuti instruksinya.
Entah berapa lama waktu sudah berlalu. Napasku tersengal-sengal, rasanya dunia seakan berputar-putar. Memang tidak separah di awal latihan, aku jatuh pingsan. Baiklah aku menyadari ada perubahan sedikit di staminaku.
Radja sudah berada lebih awal di depanku. Tanpa lelah dia malah melanjutkan push up, lalu shit up. Untung saja laki-laki itu tidak memintaku menemaninya.
Akan tetapi, bisakah dengan kemampuan ini aku mengatasi pertarungan dengan Michio? Terlebih Afly tidak ingin terlibat. Laki-laki itu seakan punya dua kepribadian yang membedakan antara dirinya dan Mamoru.
"Dira jangan melamun!" ujar Radja padaku. Sontak aku menggaruk pipi. Dia hanya melipat tangannya di depan dada.
"Kita ke dermaga sekarang."
Lipatan pada dahulu begitu dalam. Mencoba menyentuh otak agar tahu apa yang Radja maksudkan. Dia kini berjalan lebih dulu ke salah satu dermaga dengan air yang mengenang dengan tenang di bawah sana.
Aku merasa tidak asing dengan tempat ini, termasuk pondok yang aku lihat tidak jauh dari Lux of Valley. Namun, tidak mungkin jika itu berasal dari mimpiku. Tentu tidak sama! Di alam mimpi, aku selalu melihat pantai, bukan danau.
"Ja, kenapa kita ke dermaga? Biasanya kita melawan monster," tanyaku padanya.
Radja membalasku, "Kekuatanmu yang sekarang udah gak mempan ke hewan kecil."
"Hah?!" Aku benar-benar heran. Bagaimana bisa dia langsung menyimpulkan begitu? Seingatku dia sendiri sering mengata-ngatai jika tebasanku kacau, panah meleset. Lalu sekarang apa maksud cowok menyebalkan ini?!
"Kita bakal latihan, kok," jelas Radja seolah tahu apa yang jadi keherananku, "di ujung dermaga sana."
"Kamu tahu kan, dermaga ada di tengah danau. Sulit bagi aku buat pakai kekuatan ini," gerutuku. Dia seolah tidak mendengar, justru berbalik dengan senyuman-yang-sangat-tidak-enak-dilihat.
"Justru kamu terlalu mengandalkan tanaman di bumi. Coba kamu pikirkan, jika Azumi tiba-tiba menyerangmu di tengah laut ... kamu mau apa?"
Aku bungkam. Benar apa yang Radja ucapkan. Tidak.mungkin kabur karena percuma. Azumi bisa mengejar, tidak, bahkan dia bisa membunuhku.
Aku mendengus lalu berjalan ke ujung dermaga. Ya ampun, danau ini luas sekali. Aku tidak punya phobia, tetapi rasa takut jika jatuh tetap menghantui. Belum lagi, di sekitar dermaga terdapat belut transparan seperti air yang biasa dipanggil monster air.
"Gak perlu takut, monster air gak bakal ganggu selama kita gak usik wilayah mereka," jelas Radja.
Aku mengembuskan napas, membuang perlahan rasa takut dan menggantinya dengan energi yang baru. "Baiklah, kita mulai dari mana?"
"Kamu ...," ucap Radja dengan jeda sebentar, "tumbuhkan rumput laut di bawah sana sampai menembus ke atas danau."
Aku mengangguk paham, kualihkan pandang pada air-air yang menggenang. Seberapa jarak antara danau dengan permukaan? Apakah aku bisa menumbuhkan tanaman yang Radja ingin? Bisakah aku berhasil.
Semua dalam kendaliku. Aku menutup mata agar lebih fokus. Memikirkan satu-satunya tanaman. Rumput laut, di benakku hanya itu yang aku pikirkan.
Seperti animasi, rumput laut itu tumbuh perlahan-lahan dari bawah. Aku menaikkan tanganku semakin tinggi, semakin pula rumput lautnya meninggi. Namun, semua itu hilang sercara tiba-tiba ketika Indra pendengaranku menangkap suara aneh.
Seolah dia memanggil namaku.
Hawa tubuhku makin merinding. Lintas ingatan lainnya pun datang. Itu tentang mereka. Bagaimana Afly memukul Bizar. Bagaimana Radja mendorong Nadia.
Aku membuka mata. Sesak. Dadaku begitu sesak setelah lintasan-lintasan itu berlalu cepat. Seakan ada yang membatasi aku untuk melakukannya.
Penglihatan. Penglihatan masa depan yang selalu muncul tiba-tiba. Apa iya?
"Kamu gak apa Dira? Perlu istirahat?" tanyanya padaku.
Aku menggeleng, kubiarkan dia lebih fokus dengan semua kekuatan yang tengah aku kerahkan. "Aku bakal coba lagi."
Aku mencoba untuk tidak takut, tetapi kenapa perasaanku tidak menentu. Radja, juga terlihat tidak baik.
__ADS_1
Saat aku menutup mata, semua kembali berubah jadi abu. Bukan tanaman rumput laut seperti yang aku pikirkan. Melainkan sebuah adegan. Aksi kecil. Bagaimana Radja melawan Azumi. Di dermaga ini.
Aku harus memberitahunya!
"Radja! Azumi ... dia bakal ke sini!" ucapku panik.
Radja melihatku dengan alis yang terangkat. "Kamu bicara apa? Mana mungkin dia ke sini. Sudahlah."
"Enggak, Ja. Kamu harus percaya. Aku gak mau kita melakukan perlawanan yang sia-sia," cegahku.
Radja mengembuskan napasnya. Dia mengelus puncak rambutku. "Dengar. jika Azumi ke sini, kamu gak perlu takut. Ada aku yang bakal lindungin kamu."
Aku menunduk. Takut. Perasaan itu terlalu menghantui. Bagaimana jika pun bermunculan dalam otakku. Tidak peduli meski aku tengah ketakutan.
"Aku menemukan kalian!" Secepat kilat, laki-laki berbayang hitam itu menyerbu aku dan Radja bersamaan.
Akan tetapi, aku lihat mata Radja yang berubah menerupai tajamnya mata ular. Dia menganalisa gerakan orang yang menyerang kami. Sebelum memukul, Radja berhasil menarik tangan dan melempar laki-laki itu jauh.
"Ja!" panggilku ketika Radja tengah menyatukan diri dengan sayap naga. Dia melayang di udara dan aku tahu apa yang dia tuju. Laki-laki bersayap kelelawar. Michio. Bukan Azumi.
"Dira, kamu diem di sini. Fokus sama latihan kamu aja. Michio biar aku yang urus," titahnya padaku.
Tidak sempat aku balas seperti biasanya, dia terbang begitu cepat. Mengambil sebilah pedang yang jika dipandang mata sangat menghakimi. Seolah saat ini Radja berdiri seperti seorang raja.
Seakan Kazuhiro bangkit dari kematian dan merasuki Radja. Aku menggeleng. Menepis hal itu jauh-jauh. Namun, apa yang terjadi sekarang tidak bisa aku abaikan.
Di tengah danau, aku tidak bisa mengandalkan kekuatan tanamanku. Memunculkan rumput laut dan mengikat Michio adalah hal yang bagus. Aku bisa melakukannya. Harus bisa dan berhasil.
Samar-samar kudengar perseteruan mereka. Keduanya sedang baku hantam. Kala satu orang terjatuh dan menghantam tanah, aku tidak bisa mencegah fokusku untuk diam.
"Radja." Aku berucap begitu lirih.
Pertarungan di antara angkasa raya. Memercikkan kekuatan masing-masing. Namun, kadang pula fisik mereka lakukan.
Azumi tidak lama datang, aku tahu dia belum senormal itu itu melakukan penyerangan. Radja sepertinya hanya memfokuskan diri dengan Michio, meski dia tahu musuh berbahaya kami tengah berjalan.
Aku merentangkan tangan kanan dan memunculkan panah. Azumi sudah mengetahui pergerakkan yang akan aku lakukan. Dia menggerakkan tangan kanan hingga ada satu bola pasir besar di atasnya.
Aku diam tanpa menanggapinya. Memilih untuk menarik tali busur. Memikirkan tanaman yang tepat untuk mencegahnya.
"Sepertinya kamu memang tidak peduli. Bahkan jika kekuatanku sudah pulih," desis Azumi.
Aku membelalakkan mata ketika dia melontarkan bola itu ke arah Radja. Tidak mungkin laki-laki itu sadar, jika sadar pun dia tidak akan sempat menghindar. Aku harus segera menembak anak panah.
Meski tidak bisa mencegah Azumi, sebilah bambu dapat menghancurkan bola kekuatannya. Aku tidak bisa percaya ketika bola tersebut menghindar dan menyerang tubuh Radja.
"Tidak!" amukku dengan segera menembak kembali anak panah lainnya.
Pikiranku terlalu acak, entah tanaman apa saja yang menjadi senjataku. Tidak satu pun dari mereka yang berhasil menghancurkan, hanya bisa menghentikannya saja. Ini melelahkan.
"Cukup lihat dan perhatikan," balas Azumi.
"Apa maksudmu?" Aku berteriak pada Azumi yang tengah tertawa menang ke arahku.
Dia mengepalkan tangan dan membuat segitiga dengan kedua tangannya. Seketika bola di atas sana meledak dan menjadi partikel-partikel kecil.
"Figawaz," ucap Azumi selanjutnya.
Partikel itu berubah menjadi jarum yang tajam. Dari pasir pun berubah jadi logam. Aku tidak bisa memercayainya.
"Fokus saja pada latihanmu!" Teriakan Radja di atas sana terdengar olehku. Apa aku harus benar-benar menurutinya?
Aku berbalik menghadap danau yang luas. Dentuman dan baku hantam terus terjadi. Radja tidak akan mampu melawan mereka sendirian, tetapi sekarang aku harus bagaimana?
Para monster air tiba-tiba berkumpul di tengah-tengah kami. Aku tidak yakin jika mereka terusik. Namun pertempuran di belakang sana terlalu memperkuat asumsi jika monster itu terusik.
Jika aku menumbuhkan tanaman sekarang, bisakah aku mengikat Azumi?
Aku tidak bisa membuat Radja berjuang sendiri. Kedua tanganku mulai terangkat seraya mata terpejam. Udara di Lux of Valley semakin berat dan menyakitkan.
__ADS_1
Dari bawah sana, aku bisa merasakan pergerakkan tanaman melalui telapak tangan. Rumput laut itu begitu besar dan tumbuh dengan cepat. Aku berhasil!
Aku segera membuka mataku dengan sumringah. Namun, bukannya bahagaia ... aku justru membelalak. Tanaman itu tubuh sangat besar dan panjang melebihi tinggiku.
"I ... ini?"
Tanaman itu di luar kendali, dia mengarah padaku. Mengikat kedua kakiku. Hingga aku menjerit, "TIDAK!"
Tanaman-tanaman itu menarikku. Tidak ya ampun! Monster apa yang kubuat? Semakin memberontak mereka menarikku ke dalam air.
Blurb!
Mataku perih. Semua yang kulihat berubah. Tidak, di mana ini?
oOo
"Nadira!"
Radja berteriak menyadari partnernya ditarik oleh tanaman liar di bawah sana. Dia menggerutu, harus segera menyelamatkan gadis itu sebelum semuanya terlambat.
"Tidak semudah itu!" balas Bara padanya. Laki-laki itu menyemburkan bayangan dari mulut. Segera Radja menghindar.
Dia tetap berusaha untuk menyelam ke danau, tetapi lagi-lagi Radja ditahan oleh kedua lawannya. Azumi tertawa begitu senang seakan kali ini dia memenangi pertempuran. Namun, Radja bukanlah orang yang akan mengalah.
Dia memberontak, menghancurkan pasir yang mengikat kakinya. Matanya berkilat marah dan dia yakin bisa melawan Azumi.
"Akan aku akhiri kalian dengan cepat," ucap Radja pada mereka.
"Benarkah? Kamu tidak akan punya kesempatan untuk menyelematkannya," balas Azumi dengan seringainya.
Radja tidak peduli. Dia memegang kuat gagang pedangnya. Melihat arah pergerakan Michio yang terbang di atas. Karena percuma melawan Azumi jika pengawalnya belum dia kalahkan.
"Dunia kegelapan!" seru Michio hingga ruang lingkup mereka menjadi gelap dan dipenuhi bayang-bayang yang seakan siap untuk menyentuh tangannya.
Radja mengembuskan napas. Dia melirik pada gagang pedangnya. "Naga hitam, pinjamkan aku kekuatanmu."
Seketika kekuatan gelap pun menyelimuti Radja. Matanya menjadi hitam sempurna dan sebuah simbol meliuk-liuk terdapat di sekitar wajah bagian kanan.
"Bagaimana kalau aku akhiri dengan satu serangan saja?" tawar Radja, dia benar-benar tidak punya waktu yang banyak.
Bara menyeringai padanya. "Cobalah."
Radja menggenggam kuat-kuat, hingga sinar gelap menyelimuti pedangnya. Bara tidak mau kelewatan, dia segera terbang padanya dan melayangkan tinju pada laki-laki tersebut. Radja tidak semudah itu diserang, seakan refleksnya meningkat drastis.
Ketika tinju Bara meleset, Radja sudah ada di sampingnya. Dia gunakan gagang pedang untuk memukul punggung lawan, tidak sekejam itu dia harus membelah tubuh lawannya. Bara terjatuh dengan cepat nyaris membentur tanah. Dia tidak peduli bagaimana kelanjutannya.
"Nadira!" panggil Radja kembali. Dia mencoba melihat ke dalam danau menggunakan kekuatannya, tetapi tidak berfungsi.
Radja tidak tenang. Dia harus menyelamatkan anak perempuan itu. Dengan satu embusan napas, dia melepas diri dengan kekuatan naganya.
"Aku akan menyelamatkanmu," bisik Radja pada angin yang berlalu.
Radja mundur beberapa langkah sebelum melompat ke dalam danau. Dia merasakan aliran Lux of Valley yang benar-benar aneh. Para monster air pun ikut mendatanginya.
Ya, Radja sadar dia sudah mengganggu ketenangan air. Namun, demi seorang teman, dia akan mengabaikan monster-monster ini. Dia celingak-celinguk ke dalam air yang begitu luas.
Di mana Nadira? Jika dia membiarkan gadis itu terlalu lama, entah apa yang akan terjadi padanya. Nadira tidak lain hanyalah manusia biasa dan napasnya belum tentu kuat jika berlama-lama di dasar danau.
Radja menoleh ke bawah, tepat di mana dia melihat segerombolan buih yang ada di sana. Namun jarak untuknya berenang terlalu jauh dengannya. Maka Radja kembali naik ke atas permukaan.
"Nadira, apa yang terjadi padanya?" tanya Radja pada dirinya sendiri.
Dia melompat layaknya lumba-lumba, menerjang danau itu hingga dasar. Nadira akan selamat, dia yakin. Sangat yakin.
Radja melihat di dalam buih itu, Nadira yang kesulitan di dasar dan nyaris tidak sadarkan diri. Memandangi proses kematian, laki-laki tersebut tidak bisa tenang saja. Radja dengan cepat berenang ke dasar. Menangkap tangan Nadira.
Dia coba dengan menepuk pelan gadis tersebut, tetapi tidak ada respons. Radja semakin takut. Lalu dia menarik tubuh Nadira ke dalam rengkuhan.
Bertahanlah Dira, kita akan kembali ke permukaan.
__ADS_1
Sayangnya dia bukanlah Bizar yang dapat mengirimkan telepati pada lawan bicaranya. Radja melihat lengan Nadira yang penuh memar dan perlahan membiru.