
Setelah pertempuran tadi, aku tidak berselera untuk membaca artikel-artikel debat. Padahal aku sudah janji pada Radja. Namun, ruangan ini membosankan dan belajar sendiri itu sangat menyebalkan. Ingin rasanya aku kembali ke sekolah dan melihat-lihat pelatihan teman-temanku. Sayangnya para panitia tidak mengizinkanku masuk ke dalam walau hanya sekedar melihat-lihat. Jadi aku terpaksa kembali ke kamar hotel.
Aku melipat pelan artikel itu di atas nakas. Ratih belum juga kembali dan aku tidak tahu ke mana dia pergi. Bizar juga belum bisa aku hubungi lagi. Sesibuk apa sih mereka ini? Entah mengapa aku merasa semakin jauh semenjak perlombaan di mulai, padahal kami sangat dekat.
Sambil berjalan ke satu-satunya jendela yang ada di kamar, aku memegang jam tanganku. Teman-teman di luar lomba pun sedang kesulitan mengatasi para monster yang bermunculan. Terlebih Bizar tidak bisa mengirim pesan kilat seperti biasanya. Ingin mengandalkan Io pun sangat berbahaya. Teringat terakhir kali aku menitipkan semua data pada Io, lawan justru keluar dan ingin mengambil alih.
Bizar pasti memperketat keamanan, tetapi dia belum tahu soal dugaan Miss Merry tentang Miss Ann. Dengan meningkatkan pertahanan lokal pun tidak akan berguna. Mereka yang sekarang cukup pintar dalam menangani kami semua. Jadi Bizar harus bekerja ekstra kecuali dia mengaktifkan benda itu ke dalam mode pertahanan.
Aku sudah beberapa kali mengirimi pesan agar dia mengetahui soal dugaan itu. Bagaimana pun Bizar sudah mencurigai hal ini lebih awal dibandingkan yang lain. Namun, sekarang dia berada dalam pengawasan musuh. Kanan, kiri ataupun depan dan belakang. Tidak adanya ilmuwan super percaya diri itu malah membuat aku semakin khawatir akan keadaannya.
Aku jadi teringat untuk memeriksa kembali apa yang ada di penglihatanku. Bayangan hitam. Kira-kira ada di ruangan yang mana dan apa bentuknya? Dengan begitu aku bisa tahu apa hubungan penglihatanku dengan para monster-monster tersebut. Aku ingin tahu apa yang mereka rencanakan sekarang. Lagi pula, ada satu lawan yang harus aku hadapi.
“Radja oh Radja, kamu jangan ngambek ya. Aku mau belajar artikel-artikel ini nanti aja, sekarang aku mau penuhi rasa kekepoan dulu,” ucapku pada diri sendiri.
Segera aku membuka tas dan mengambil jaket. Bukan untuk menyamar, udara kamar terlalu dingin dan aku tidak paham cara menonaktifkan AC. Lebih baik menggunakan jaket sampai teman-teman pulang.
__ADS_1
Jika musuh tidak berada di dalam hotel, dia pasti ada di ruangan lomba. Untuk sekarang, aku harus mencari jejak musuh di sini. Sekecil apa pun pasti ada petunjuk yang dapat ditemukan. Setidaknya itu yang diajarkan Faizal dan Ratna. Meski mereka berdua menjadi boneka lawan.
Baru mau melangkah keluar, notifikasi dari jamku pun berbunyi. Ada pesan masuk dari Bizar. Laki-laki itu menyatakan jika dirinya sudah membaca pesanku dan sedang sibuk mempertahankan diri. Ada kepingan ingatan yang hilang, dia tahu apa penyebabnya. Namun, aku tetap tidak bisa menahan keterkejutan akan ucapan laki-laki tersebut.
“Enggak usah panik. Twins masih aman. Aku sudah meningkatkan keamanan sampai 80%. Masih kuberikan akses buat kamu. Jaga-jaga kalau ada sesuatu yang terjadi padaku. Ngomong-ngomong, keadaan lomba gimana?” ucap Bizar.
“Baik-baik saja. Aku rasa tim matematika akan menang dengan mudah, Bizar. Mereka sangat kompak saat menjawab. Maksudku, mereka bergilir menjawab, untungnya dari beberapa soal hanya ada satu atau dua saja yang salah,” balasku.
“Mereka tidak akan menang dengan mudah karena sekolahku masuk babak final. Aku akan turun tangan di sana.”
Aku mendengus. “Mau pamer kecerdasan?”
Aku mencoba untuk tertawa, menanggapi ucapannya yang benar-benar tidak masuk akal. Setelahnya kembali berucap, “Belakangan kamu bicara seolah akan pergi jauh. Kenapa Bizar yang aku kenal jadi kehilangan kepercayaan dirinya?”
Bizar tidak menjawab pertanyaanku. Itu cukup menyakitkan. Aku tidak ingin kehilangan Bizar, tidak ingin kehilangan siapa pun. Sebelum musuh bertindak, aku akan menyelesaikan permainan ini secepat mungkin. Bukan karena Bizar adalah tonggak kami, bukan pula karena otak jeniusnya. Ilmuwan itu tetap teman kami dan dia sudah banyak membantu kami. Akan tetapi dia selalu canggung untuk meminta tolong dan lebih sering memerintah.
__ADS_1
Tiba-tiba Bizar berpamitan. Dia bilang dirinya harus menyelidiki beberapa hal lagi. Jika sudah beres, dia akan kirim semuanya padaku. Seketika aku tahu, Twins berbahaya untuk siapa pun. Termasuk Bizar. Namun, kami terlalu sulit untuk pergi dan kembali apabila tidak tepat waktu.
Aku mencengkeram pelan ujung-ujung jaket yang kupakai. Rasa dingin yang seharusnya menghilang, kini justru semakin menikam. Aku tidak kuat lagi. Bisakah aku berharap jika kami semua akan baik-baik saja hingga fajar tersenyum kepada kami dengan cerahnya? Buru-buru aku memukul rasa sesak itu menjauh. Tidak boleh pesimis! Selagi aku bisa bergerak, maka aku akan segera berlari mencari akar masalahnya.
Satu-satunya yang kubis hanyalah membantu mereka sedikit demi sedikit. Mungkin aku selalu membawa kesialan karena membawa mereka pada musuh terus-menerus, tetapi semakin lama kami pun menemukan cara dan petunjuk. Setelah ini, tidak akan ada lagi yang dapat menghentikan niatku.
Perlahan mataku tertutup. Aku segera mencari bayangan hitam melalui penglihatanku. Di mana letak mereka berada. Setidaknya satu petunjuk. Rasanya aku bisa melihatnya semakin berat di pundak. Entah apalah yang menahan. Namun, aku tahu satu hal, ada jejak bayangan hitam di sini. Maka mataku pun terbuka dan segera menoleh pada buku novel di atas nakas milik Ratih.
“Buku? Gimana mungkin ada jejak bayangan hitam di sini? Tidak ... tidak. Ini pasti pengecoh. Sebaiknya aku pergi keluar ruangan dan menemukan apa yang aku butuhkan,” gumamku seraya mengambil novel. Mengeceknya perlahan lalu menutupnya kembali. Ingin segera pergi, tetapi aku memang sangat penasaran dengan hal yang satu ini.
Jika melihat sekilas itu sama seperti buku biasanya. Ratih membawa satu buku novel dan ada tulisan yang dia tulis sebagai penanda. Aku tidak banyak membacanya. Takut-takut itu cukup pribadi bagi Ratih. Bisa saja itu hanyalah pengecoh. Jadi dia tidak bisa aku lacak keberadaannya. Sayangnya aku tidak mudah menyerah dari kejadian ini.
Lagi pula aku hanya perlu mencari bukti hubungan dari bayangan hitam dengan para musuh. Apa yang sebenarnya tujuan mereka. Tidak. Aku lebih penasaran dengan tujuan dari Miss Ann. Kenapa peri yang sangat dipercayai oleh kami justru menusuk dari belakang? Lalu rasa kecewa ini benar-benar muncul dan menghantui diriku sepenuhnya.
Apa hubunganmu, Bayangan Hitam?
__ADS_1