
Ini tidak masuk akal!
Aku berlari kembali ke atas gedung sebelum laki-laki itu berhasil menangkapku. Dengan cakarnya yang panjang dan bisa mengoyak hingga tulang-tulang pun terbagi menjadi dua. Terlalu mengerikan. Melewati akar-akar yang mengait antar gedung, aku semakin ketakutan.
Aku menarik tangan dan melihat jam. Menekan asal, berharap dari ketiganya mendapat pesan dariku. Namun, di tengah-tengah akar yang aku langkahi menjadi gentar. Laki-laki itu berusaha memangkasnya. Tidak. Aku harus mencari jalan.
Mencoba melompat, sebelah tanganku berhasil menggapai ujung tembok pencakar langit. Dengan brtahan, kugunakan tangan kiri untuk ikut memegang meski pedang harus terjatuh. Aku harus bisa.
Dengan tertatih aku mengangkat tubuh ke atas. Bisa aku rasakan hawa panas di belakang tubuh sangat menyiksa. Keringat di pelipisku semakin mengucur, embusan napas tidak beraturan dari mulut dan hidungku.
"Aku akan menghabisimu!" teriak laki-laki itu.
Tubuhku sedikit demi sedikit terangkat. Tepat ketika kuku panjangnya itu menyentuh sedikit bagian kaki. Mengoyak bagian celana bawahku hingga sobek dan menimbulkan darah di sana. Perih. Beruntungnya aku berhasil naik ke atas gedung.
"Dira!" panggil seseorang padaku. Aku terbelalak melihat laki-laki yang menggunakan jaket tengah tesenyum padaku. Dia mengulurkan tangannya. "Kakak kembali."
Di hadapanku Kak Ron tersenyum. Tanpa ragu memegang tangan dan menetralkan kekuatan yang ada di dalam tubuhku. Tidak sampai di sana, aku merasakan kekuatan Kak Ron mengalir untuk menahan sakit yang timbul akibat luka. Meski tidak menutupi, aku bisa menggerakkan kakiku lebih leluasa.
"Kakak pulang?" Aku melihat dia mengangguk, dengan satu tarikan napas dia mengumpulkan tenaga di kedua tangannya.
"Aku tau kamu rindu. Kita lepaskan rindu setelah kita menghentikan dia," balas Kak Ron padaku.
Aku mengangguk. Tanpa pedang dan panah, aku tidak tahu harus memakai apa. Percuma jika menggunakan panah dan tanaman. Monster itu akan menyerap tanamanku. Satu yang tersisa, elemental air di dalam tubuh.
Kak Ron mulai menembak ke arah monster hingga dia tidak bisa melompat mendekati kami. Kekuatannya sedikit demi sedikit menetralkan laki-laki tersebut, bisa terlihat dari kuku-kukunya yang semakin pendek. Sayangnya itu tidak berlangsung lama, karena tembakan-tembakan selanjutnya berhasil dia hindari.
"Ini enggak baik," gumamku yang lalu mencoba membuat bola air dari tangan kanan. Agak sulit mengeluarkan kekuatan setelah dinetralkan oleh Kak Ron, meski aku rasa dosisnya berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Menjeling pada Kak Ron, laki-laki yang lebih tua dariku ini masih menembak. Dengan ketepatan, dia masih bisa menunda musuh unruk melompat. Serangan dekat dengan pedang tidak akan mempan, tidak sebaiknya aku sarankan. Harus ada yang mengikat atau membuat musuh diam di tempat. Bukan tanaman, karena dia bisa menyerap energi kehidupan para tanaman dan menurunkan angin topan di saat itu juga.
"Kak Ron," panggilku. Dia tetap fokus pada musuhnya, tetapi dia mngangguk sebagai balasan. Tanpa ragu, aku pun melanjutkan pembicaraan, "bisakah kekuatan penetral kakak menyatu dengan kekuatan airku?"
Satu alisnya terangkat. Aku mewajari hal itu, selain Bizar dan Radja, belum ada yang mengetahui kekuatan ini. Jika saja aku berhasil membuat bola air yang besar mungkin berhasil menetralkan musuh kami.
Sayangnya berapa kali aku mencoba, hanya bola sebesar kelereng saja yang muncul di atas permukaan telapak tanganku. Jika sekecil itu mana mungkin memiliki efek samping. Gigiku begemeletuk dengan rahang yang turut mengeras. Semakin mencoba, aku malah tidak bisa memunculkan apa-apa dari tanganku.
"Kamu enggak bakal bisa mengendalikan air yang mengalir jika pikiran kamu kacau," ucap Kak Ron padaku.
Dia berhenti menembak. Keringat bercucuran dari pelipis, sigap tangan kanannya pun menyeka. Aku mencoba kembali untuk tenang. Dengan menutup mata dan mengosongkan pikiran yang tidak penting. Memikirkan suara laut, ombak yang memanggil. Mengingat kembali semua kehangatan.
Keluarga, pengorbanan, teman dan semua yang sedang aku perjuangkan. Tidak kusangka air mata jatuh dari pelupuk mata. Aku kembali membuka mata dan menyadari kedua tangan, tidak, di sekeliling tubuhku terdapat banyak sekali air yang melayang.
"Kak Ron, aku sudah siap," ucapku padanya. Kak Ron balas dengan anggukan.
Musuh kami melompat, memberi getaran pada permukaan yang kami tempati. Dia dengan cakar yang mulai pendek mendekati kami. Kak Ron terlihat tenang, malah dia mengumpulkan tenaga sebesar mungkin. Begitu pun aku yang memainkan air untuk melancarkan kekuatan baru ini.
__ADS_1
Sampai laki-laki itu melaju dengan menebas tangan, aku langsung menghentikan gerakannya dengan menyembur air. Tidak lama, Kak Ron menembak cahaya biru padaku dan menyebar di dalam air. Dengan hitungan detik air bening yang menyerang laki-laki itu pun menjadi penetral. Air menyelimuti tubuhnya, seakan menelan dan mengambil racun yang ada.
Ketika air yang menyelimui perlahan melepaskan, aku bisa melihat laki-laki itu terkulai lemas tidak sadarkan diri. Tato di wajahnya sudah tidak tampak dan dia terlihat layaknya manusia biasa. Tanpa ragu aku mendekati laki-laki tersebut dan memegang nadinya. Sementara Kak Ron kembali mengeluarkan kemampuannya untuk berjaga-jaga.
"Dia manusia biasa, untungnya dia udah dinetralkan sebelum kekuatannya menghancurkan tubuhnya," jelas Kak Ron padaku.
"Ini gila, Azumi benar-benar kelewatan," balasku. Kak Ron tidak lagi menjawab dia justru mengacak-acak pucuk rambutku. "Kakak, nanti rambut aku berantakan."
"Nanti kakak yang sisir rambut kamu kayak kamu masih kecil dulu," balasnya. Aku mengkerucutkan bibir. Meski kakakku menyebalkan, aku tanpa segan memelukya. Dia semakin mengeratkan pelukan dan mengelus kepala dengan pelan.
Duar!
Kami berdua sontak menoleh ke atas tempat Radja melawan Bara. Kobaran api begitu nyalang di atas sana diselimuti oleh kabut hitam yang membuat kami tidak tahu apa-apa. Sayangnya suara itu tidak muncul lagi, tepatnya aku meragukan jika ledakan berasal dari atas kami.
"Aku rasa ini belum selesai," gumam Kak Ron.
Aku mengangguk. "Radja masih berusaha melumpuhkan Bara. Kak Ron, bisakah kita ke tempat Bizar?"
"Kenapa, Dira?" tanya kakakku.
Aku memunculkan layar yang terdapat pointer-pointer keberadaan kami. Di sanalah aku melihat Bizar dan Nadia dengan warna merah yang berkedip dalam lima detik secara berulang-ulang. "Mereka dalam bahaya."
Kak Ron mengangguk paham. Dia celingak-celinguk mencari jalan keluar. Namun gedung yang kami tapaki terlalu tinggi, terlebih semua bangunan memiliki ukuran yang besar dan tinggi. Langit perlahan kembali biru, turut memberi kecerahan agar kami bisa melangkah.
Aku memunculkan akar-akar tinggi yang menyambungkan gedung dengan seberang. Jalan tercepat untuk sampai. Setelah tumbuh, Kak Ron lebih dulu melangkah. Aku menatap ke atas, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk membantu Radja. Satu embusan napas keluar aku pun mengikuti Kak Ron.
Sesuai dugaan, Kak Ron memelototi. Tentu dia tahu siapa gadis itu. Aku menelan ludah karena salahku belum menjelaskan apa pun. Nadanya lebih tegas ketika aku melihat ke arahnya. "Kenapa pembunuh itu ada di sini?"
"Aku akan menjelaskan pada kakak nanti. Sekarang yang lebih penting adalah menahan kekuatan apinya keluar berlebihan," jelasku.
"Oke, aku akan menanti penjelasan kamu, Dira. Sekarang kita susul mereka." Aku mengangguk paham. Mematikan data yang terlihat, lalu menyiapkan kekuatan untuk kembali pindah ke gedung lainnya.
oOo
Kami sampai di tempat yang begitu ramai. Orang-orang tengah berpelukan, air mata keluar dari pelupuk. Tubuh gemetar, ketakutan yang berlebih. Saat kami menghampiri mereka, beberapa memperhatikan cukup lama. Mata-mata orang dewasa yang menghakimi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Menilai apakah kami cukup pantas dipanggil pahlawan.
"Maaf, apa yang terjadi di sini?" tanya Ron pada orang-orang sekitar.
Salah satu pria dewasa melihat pada Ron dan aku. "Ada ledakan jalan sana. Itu membuat tim medis tidak bisa datang untuk mengobati kami."
Aku menutup mulut, sesegera mungkin melihat ke arah yang dituju pria tersebut. Kobaran api ada di sana, mungkin itu yang kami dengar sebelumnya. Tidak sampai di sana, aku baru menyadari Bizar dan Nadia tidak di sini. Apa keduanya terlibat masalah lebih besar?
Membuka kembali data, aku mencoba menghubungi Bizar dan Nadia bergantian. Selain ilmuwan itu, aku belum bisa menemukan cara untuk menghubungi keduanya secara langsung. Hanya ada tiga lingkaran berwarna biru dongker yang berjalan garis lurus. Bahkan sekembalinnya Kak Ron di sisiku, tidak ada satu pun yang menjawab.
"Aku tidak bisa tenang, Kak," ucapku sambil memperhatikan data pada layar transparan ke Kak Ron.
__ADS_1
Kak Ron menyibukkan diri melihat semua tempat. Pusat pemberhentian dia hanya melihat pada api yang masih berkobar. "Jika benar apa yang mereka katakan. Nadia dan Bizar penyebab semua ini."
"Tidak mungkin," gumamku dengan lirih. Secepat mungkin tanpa dikomando siapa-siapa, kakiku bergerak lebih cepat ke jalan dengan kobaran api. Kak Ron pun turut ikut menghampiri denganku.
Kami berdua melihat Bizar tanpa peralatan canggihnya tengah mengatur napas. Dia mengusap keringat yang turun di sekitar dagu. Sementara mata tetap mengawasi lawannya. Ketakutaku terjadi, Nadia dengan kemampuan tidak terkendalinya mulai menyerang apa pun. Tidak peduli di hadapannya lawan atau kawan.
Tanpa segan aku mengeluarkan tanamnan rambat untuk mencegah semburan api dan jarum-jarum itu mengenai Bizar. Setidaknya itu bisa memperlambat penyerangan. Menjeling, Kak Ron tengah membuat bola sinar biru untuk menetralkan api. Tidak akan sempat, karena Nadia mengambil tombak ketika dia sadar tanamanku tumbuh melindungi Bizar.
"Aku tidak menghubungimu untuk datang." Balasan Bizar ketika aku sampai di sana.
Aku berkacak pinggang padainya. "Halo, Ilmuwan Gila. Kamu enggak bakal menang kalau mengatasi emosi Nadia sendirian tanpa kemampuanmu."
"Aku hanya perlu tenaga untuk kembali merekayasa, Dira," kilahnya.
Aku tidak peduli! Segera mataku kembali melirik pada Nadia yang sudah siap dengan tombaknya. Tidak mungkin aku melawan hanya dengan tangan kosong. Mengambil alih senjata atau membuangnya, hanya pilihan itu yang kupunya.
"Kak Ron, aku akan menghadapi Nadia. Kakak bantu Bizar dulu," balasku pada Kak Ron.
Kakak laki-laki itu berdiri di sampingku. Dia mengacak-acak rambut. "Kakak akan segera kembali."
Aku menyelipkan rambut ke belakang telinga, kala kakak baru selesai mengacak rambut. Mataku menatap lurus pada wajah Nadia yang memerah. Api keluar dari tubuh, melontarkan pada tombak. Aku masih tidak tahu cara menarik tombak tersebut.
Menggunakan kekuatan air, aku mengayunkan tangan dengan air yang mulai muncul sedikit demi sedikit. Nadia tidak ingin memberiku kelonggaran, hingga dia menebas dengan menggunakan tombaknya. Dengan cepat aku melompat ke belakang dan menggunakan air untuk memadamkan api pada tombaknya. Aku menembak dengan lambat sehingga hanya setetes air saja yang mengenai ujung tombak.
"Nadia, ingatlah! Ini aku, Nadira." Aku berteriak, berulang sampai Nadia menggelengkan kepalanya.
Panggilan saja tidak cukup, aku benar-benar harus melawannya. Aku mengumpulkan air di kedua tangan hingga menyelimuti di sekitaran lengan. Nadia tanpa ampun kmbali memutar tombak, menusuk dengan cepat dan melayangkannya padaku. Tidak banyak yang aku lakukan selain menghindar dan memperhatikan gerak-geriknya.
Nadia bukanlah pemula. Dia pernah berlatih menggunakan tombak, mengingat kekesalannya di hari itu. Aku menemukan celah, Nadia hanya berhenti untuk mengambil napas ketika serangan teraturnya berhenti. Tepat ketika tombak itu menyentuh tanah. Aku melihat ke sekitar di mana api sudah menyebar di mana-mana. Tidak banyak pergerakkan yang bisa aku lakukan selain mundur dan maju. Di tambah keadaanku semakin terpojok oleh gedung lain di belakang. Aku hanya bisa melompat dan membalikkan keadaan. Namun, lompatanku tidak setinggi itu.
"Aku terluka!" teriak Nadia menggelegar. Aku membelalakkan mata ketika serangan serupanya semakin cepat. Segera aku melontarkan bola-bola air untuk mencegah api di sekitar tombak mengenaiku.
Aku menarik bagian tombak yang tidak tajam dan memutar arah kami berdua. Nadia di posisiku dan aku diposisinya. Lagi, gadis itu memberontak dan bagian tajamnya membuat pergelangan tanganku tergores. Aku tidak menyiakan kesempatan dan lalu menyembur Nadia dengan kekuatan air yang tersisa.
Sebelum dia memberontak, aku membuat bagian kakinya terikat oleh air dan membekukan gadis itu. Tidak lupa dengan akar-akar yang muncul, aku menarik tombak dan membuangnya ke belakang. Tidak peduli jika itu menancap di gedung yang terbakar.
Dari kejauhan, Kak Ron dan Bizar tengah berlari. Aku bersyukur karena ilmuwan itu sudah memakai pakaian lengkapnya. Tidak lama dia mengirimkan telepatinya.
"Tahan Nadia! Dari belakang kakak kamu bakal menetralkan. Usahakan jangan sampai ada api yang keluar. Aku akan memadamkan api di sekitar sini."
Aku mengangguk paham, dengan cengkeram kuat air perlahan naik dan menyelimuti Nadia. Dia masih tidak stabil dan berusaha untuk menghancurkan air milikku. Tidak akan aku biarkan. Sampai Kak Ron muncul di belakangnya, menempelkan telapak tangan pada bagian belakang kepala Nadia. Cahaya biru keluar dari sana.
Nadia berteriak sekencang-kencangnya. Tidak lama, matanya mulai menutup. Air yang menyelimuti pun mulai tercecer di bawah sana. Tubuh Nadia lunglai. Kak Ron segesit mungkin menahan tubuh gadis di hadapannya sebelum jatuh membentur tanah. Aku mengelus dada dan mengembuskan napas.
Di sisi lain, aku masih mengkhawatirkan Radja. Pergulatan di atas sana semakin terlihat. Laki-laki itu memukul Bara hingga dia terjatuh. Namun, tidak berlangsung lama kami melihat Radja yang juga terjatuh.
__ADS_1
"Tidak! Radja!!!"