
"Ja, kamu jadi ke tempat Candra?" tanya Bizar dengan laptop yang masih didekap oleh laki-laki tersebut.
Bizar baru saja menguap untuk ketiga kalinya jika aku menghitung. Sejak semalam penuh dia sibuk memecahkan kode dari pesan yang dikirimkan melalui Nadira. Entah apa, tetapi Bizar bersikeras untuk menyelesaikannya. Dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Aku sebenarnya tidak terlalu peduli. Karena pengecekan pertama sudah kami lakukan. Orang yang mengirim hanya iseng, bahkan pesan berkode itu tidak perlu kuartikan. Meski Bizar lebih paham dengan bahasa mesin di sana.
Semalam suntuk mengerjakan dia sudah mendapat hasil, tetapi ada yang harus dia lakukan untuk memastikan. Sekarang Bizar ketiduran. Terlalu lelah setelah beberapa hari begadang.
"Bizar, mending kamu tidur ke kamar. Enggak liat itu laptop sampai melorot?" tegurku padanya. Bizar justru semakin mendekap laptop. Tidak lama kudengar dengkuran halus terdengar dari mulutnya.
"Terserah," lanjutku yang lalu menaiki anak tangga.
Sebelum pergi, aku menyempatkan diri melihat gadis yang masih berbaring lemah di sana. Lagi-lagi terlalu memaksakan diri. Begitupun semuanya. Miss Merry meminta kami jangan masuk ke sekolah terlebih dahulu. Karena Azumi bisa saja memporak-porandakan kami.
Bukan berarti aku harus berdiam diri saja tanpa memeriksa keadaan di Bumi. Termasuk menghubungi Kak Ron, kakak dari Nadira. Sementara ini aku mencoba mencari cara agar gadis itu terobati dan sadar.
"Radja," panggil Miss Ann padaku. Dia terbang membawa sebuah makanan. Aku pikir Hana tidak akan memakannya bahkan dia masih terlelap dalam alam mimpinya.
Miss Ann lalu menyodorkan piring itu ke arahku. "Tolong bawa ini ke Demina."
"Aku?"
"Aku tahu niat kamu mau ke bumi. Jangan dulu! Sekarang keadaan Hana dan Demina sangat parah!" jelas Miss Ann padaku.
"Aku tahu, tetapi enggak mungkin meninggalkan bumi tanpa penjagaan. Miss Ann, kekuatan Azumi mendekati pulih," argumenku pada peri yang satu ini.
Miss Ann mengembuskan napas, dia lalu celingak-celinguk mencari seseorang di kamar Nadira. Turut aku mengikutinya dan tidak melihat siapa-siapa. Peri tersebut lalu memberi sihir pada makanan agar melayang di udara sementara dia mengeluarkan ponselnya.
Di samping ranjang yang Nadira tiduri, Miss Ann menunjukkanku sesuatu. Seperti pesan misterius yang pernah dikirim melalui Nadira. Hanya saja berbentuk teks yang bisa aku terka tulisannya.
Caaan
ukangolot
Aku diam sejenak ketika mendapat nama orang yang mengirimnya padaku. Sepertinya ada yang kurang di sana. Namun, dibandingkan data dari Miss Ann aku lebih baik menunggu balasan dari Bizar yang sedang memastikan.
"Apa kamu khawatir pada Candra? Aku rasa dia juga mulai kembali," celetuk Miss Ann.
Aku memejamkan mata sejenak sebelum melihat wajah mungilnya sebagai peri. "Pastinya aku khawatir. Aku enggak ingin gegabah. Jadi biarkan aku ke bumi."
__ADS_1
"Jangan Radja, aku perlu kamu," ujar peri lainnya. Tentunya Miss Merry.
Aku melirik ke arahnya yang membawa seorang laki-laki tinggi. Sebaya denganku. Dia lebih pucat dari hari kemarin, tepat ketika aku dan Bizar tengah membantu terapinya.
"Hai, Ja!" tegur laki-laki itu padaku.
"Faizal? Kamu udah berani ke sini?" tanyaku pada laki-laki itu.
Faizal menggaruk pipinya dengan satu jari kanan. Tanpa ragu melangkah mendekatiku bersama Miss Merry. Pakaian putih abu dengan jas biru kebanggaan Bizar.
"Ann, harusnya kamu menangani ingatan Demina. Dia bisa gila dengan semua kenangan yang berkecamuk dalam ingatannya." Miss Ann langsung menutup mulut. Dia menggerakkan piring mendekat dan kembali terbang tanpa mengucap apa-apa.
"Miss perlu apa dariku?"
"Lux of Valley. Aku ingin kamu dan Faizal menembus dimensi mimpi. Mencari tahu apa yang ada di mimpi Nadira saat itu," titah Miss Merry.
Aku menopang dagu. Melihat Faizal dari bawah hingga ke atas. Memangnya dia sudah siap?
Miss Merry lalu mendekati Hana yang enggan juga membuka matanya. Dia juga enggan untuk bertegur sama atau menyebutku laki-laki menyebalkan. Dia hanya bisa menjadi putri tidur dengan waktu berkala.
"Miss Merry, ada baiknya kita mencoba memasuki mimpi Nadira saat ini," usulku pada peri tersebut.
Sayangnya yang kudapatkan adalah gelengan lemah. "Tubuh Nadira menolak sihir pengobatan milikku dan Ann. Ada sesuatu yang menyegel antara dia dan alam mimpinya."
"Ya, Vivian bekerja ekstra untuk itu," ucap Miss Merry, "maka dari itu, jangan hanya mereka yang bekerja keras."
Aku melirik pada Faizal. Memahami maksud Miss Merry. Namun, aku enggan meninggalkan tempat ini untuk waktu lama. Padahal di bumi aku hanya memeriksa keadaan saja.
Setelah mengembuskan napas, aku mengajak Faizal pergi. Melewati tangga dan beranjak dari Kerajaan Hati. Dia tampak masih menganggumi Twins.
Entah karena rumput-rumput masih berwarna hijau menyegarkan. Monster bermacam-macam bermunculan dan tersebar di mana-mana. Mungkin juga karena udara segar yang sudah minim didapatkan saat berada di bumi.
"Faizal, kamu tahu cara membuka alam mimpi?" tanyaku.
Sesuai dugaan Faizal menggeleng dan itu jadi satu pekerjaan rumah yang harus aku kumpulkan saat itu juga. Dahulu aku jarang memperhatikan bagaimana kekuatan orang di sebelahku bekerja. Jika tidak salah dia menggunakan tongkat yang entah apa itu namanya.
Di Lux of Valley, aku mengajaknya ke tepi dermaga. Tempat aku bertemu dengan Naga Air. Di sana pula aku mengetahui jika pedang milik Mizuki diambil. Mungkin saat menganalisa tentang mimpi Nadira, Aku bisa menyelidiki hal tersebut.
"Faizal, ini Lux of Valley. Selama menunggu kalian pulih, kami semua berlatih di sini," jelasku singkat.
__ADS_1
"Wah, tempat yang damai dan sejuk. Aku jadi ingin ikut berlatih dengan kalian," balas Faizal, "jadi bagaimana aku membantu kalian?"
"Kamu belum terlalu ingat. Jadi kita coba lewat dasarnya," ucapku pada Faizal yang tengah melihat pada air danau.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Aku segera menarik tangannya untuk tengadah. Melihat bagaimana kekuatan Faizal bekerja. Sayangnya tidak ada yang keluar dari telapak tangan tersebut. Kecuali jari-jarinya yang bercahaya.
Faizal aku minta untuk menggambar lingkaran di awan-awan dengan memikirkan kekuatannya. Bukan sebuah portal yang muncul, melainkan sebuah kuas lukis melayang di sana. Lebih besar pada umunya, mendekati ukuran fude.
"Kuas lukis? Padahal aku gak lagi mikirin buat ngegambar," seru Faizal.
Aku mengambil kuas tersebut. Memutar-mutar dan melihatnya dengan seksama. Setelah yakin, aku menyodorkan pada Faizal kembali.
"Faizal, ini senjata milikmu," ucapku pada laki-laki tersebut.
"Kuas? Bagaimana bisa kuas bisa jadi senjata?" tanyanya padaku.
"Kamu lebih tahu. Tepatnya kekuatan kamu berhubungan dengan seni. Ini salah satunya ...," balasku pada Faizal, "cobalah."
Faizal agak ragu, tidak memercayai apa yang aku katakan. Kuas itu terbang dengan sendirinya. Tepat berhenti di tangan orang yang berhadapan denganku.
Cahaya terang keluar dengan terang dan menuntun Faizal menggambar di langit-langit. Sinar tersebut mengutus ke mana kuas ditarik dan apa yang ingin laki-laki itu buat. Hingga ujung terakhir sebuah burung biru muncul dari sana.
Aku tersenyum karena Faizal berhasil menggunakan kekuatan dasar. Hanya saja, belum cukup untuk membuka alam mimpi. Matahari menengok pada kami, beranjak di atas kepala. Entahlah matahari akan ikut menunggu kami atau tidak.
----------
Faizal baru bisa menggunakan kekuatan secara utuh setelah langit diikuti warna oranye. Belum terbiasa dan masih ragu menggunakan imajinasinya. Terkadang tidak ada yang muncul atau bahkan hanya tinta yang berjatuhan.
Laki-laki itu masih membiaskan diri dengan kuas ajaib miliknya. Tetap berusaha meski aku sempat meminta istirahat. Dari situ kulihat Faizal bersungguh-sungguh untuk kembali. Seperti saat ini, dia berusaha membuat portal ke alam mimpi Nadira.
Ting!
Aku berhenti melihat Faizal yang masih berusaha. Jam tanganku tiba-tiba menunjukkan layar transparan dengan panggilan masuk dari Bizar. Bersamaan aku membuka pesan kudengar Faizal tengah berseru di sana.
"Berhasil! Portalnya terbuka!" balas Faizal.
"Radja ini tentang kode yang dikirimkan pada Nadira!" seru Bizar di sana.
__ADS_1
Aku melihat pada Faizal terlebih dahulu. Lalu kembali melihat pada panggilan pada jam tangan.
"Radja?" Keduanya berseru memanggilku.