
"Jangan nangis, Dira. Bapak tidak apa," ucap Pak Hisam lirih.
Aku tidak peduli dengan bagaimana Pak Hisam mengetahui identitasku. Namun, pria di hadapanku sudah mempertaruhkan nyawanya dan sukses membangkitkan sesuatu di dalam hatiku. Rasanya aku ingin berteriak, tetapi bibirku kelu. Tak ada satu pun badan yang bisa aku gerakkan.
Lututku lemas sampai aku pun jatuh tepat di samping tubuh Pak Hisam. Napasku terengah-engah melihat warna hitam di bagian tubuhnya. Dia guru yang selalu menegurku dan aku masih tidak percaya jika beliau menghadang serangan Azumi demi aku.
Suara tawa Azumi begitu menggelegar dan aku tidak peduli. Jika aku bisa, aku ingin meredam semua suara saat ini. Sesuatu di dalam hati kembali bergejolak dan mungkin semua merasakan itu juga.
"Dira, tolong jaga Pak Hisam," bisik Radja dengan lirih. Aku mendengarnya dengan baik.
Perlahan-lahan Radja dan Bara meletakkan tubuh Pak Hisam dengan hati-hati di atas tanah. Aku hanya sempat untuk mengangguk. Seakan tangan-tangan ini memiliki pikiran sendiri, aku tiba-tiba memegang tangan guru di hadapanku. Padahal serangan Azumi begitu panas, tetapi tangan Pak Hisam sudah dingin.
"Bagaimana bisa Bapak bilang baik-baik saja dengan mudahnya?" ucapku pelan.
Aku genggam erat tangan Pak Hisam. Rasa sakit di dadaku sulit untuk dihilangkan. Berharap guru di hadapanku kembali membuka matanya dan menjawab ... tidak, memarahiku. Pak Hisam ... maafkan murid bapak yang satu ini.
Segera setelah mentalku mulai membaik. Aku perlahan melepaskan tangan Pak Hisam, lalu membungkus pria tersebut dengan menggunakan batang pohon yang kokoh. Aku tidak ingin beliau terkena serangan apa pun.
Entah sejak kapan aura kegelapan mengitari tanganku, lalu berpindah ke tanda di mana simbol Hana berada. Bunga itu mengeluarkan cahaya ungu yang pekat. Entah apa. Aku tidak peduli. Justru tanganku terkepal begitu saja.
"Inikah yang kamu harapkan, Azumi? Membunuh satu per satu orang yang peduli dan menyayangiku," ucapku padanya.
"Apa yang ... Nadira! Sadarkan dirimu!" ucap Bara panik.
Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Namun, aku merasa lebih kuat dan bisa mengendalikan diriku sendiri. Ini mirip seperti kematian orang tuaku, tetapi aku bisa mengendalikannya.
__ADS_1
Dengan pasti aku lancarkan serangan es ke arah Azumi. Bongkahan es yang begitu tebal dan membuat siapa pun membelalak karenanya. Aku tidak peduli sebesar dan sekuat apa es tersebut.
Azumi berhasil menangkisnya tetapi dia tetap terluka oleh serpihan es. Justru semakin kecil, es tersebut makin menikam. Aku bisa melihat jika dia meludah dan kembali melancarkan serangannya padaku.
Tanpa basa basi lagi, aku pun membalasnya. Tidak peduli siapa yang ada di sekitarku. Semuanya hitam, hanya ada Azumi di hadapanku. Target yang harus aku serang. Dari melemparkan sebilah bambu, air dan es. Aku akhirnya menggunakan pedang.
Segera aku menerjang gadis tersebut, tetapi Azumi lagi-lagi bisa menahan dengan tongkatnya. Sangat menyebalkan. Dengan kecepatan cukup tinggi aku membabi-buta menyerang Azumi. Sampai pedangku berhasil membelah dua tongkat Azumi.
"NADIRA, BERANINYA KAU!" Aku tidak memedulikan teriakannya. Namun, tiba-tiba tubuhku ditarik.
Semakin lama kulihat ada sebuah sinar yang mengikat. Sinar ini milik Afly. Sepertinya laki-laki itu sedang menahanku. Sedikit lagi Azumi bisa aku kalahkan, tetapi mereka justru menahanku.
"Cukup, kita harus membawa Pak Hisam ke rumah sakit," ujar Radja di sampingku.
Azumi yang marah segera menghentakkan kakinya. Asap hitam mengelilingi gadis itu dan lalu menghilang secara tiba-tiba. Tanpa jejak yang tersisa.
Afly akhirnya melepaskan penahan tubuhku. Dia membiarkan aku jatuh begitu saja, ya, tubuhku menjadi lemah karenanya. Napas pun terengah-engah, kenapa baru berefek sekarang?!
Dengan kemampuan yang tersisa, aku gunakan untuk membuka kembali pertahanan untuk Pak Hisam. Namun karena tidak terlalu kuat untuk berdiri, Radja pun memapahku. Sementara Bara membawa Pak Hisam.
"Aku akan buatkan portal untuk Bara yang mengantar Pak Hisam," ucap Bizar di atas langit. Laki-laki itu lalu menurunkan ketinggiannya dan segera mengetik cepat. "Miss Merry sudah memberi kabar soal Pak Hisam. Sekuat mungkin aku coba menghentikannya tetapi sudah terlambat."
"Lalu kenapa hanya Bara yang dibuatkan portal?" balas Radja tidak terima.
"Ja, kita tidak bisa membuat ini jadi semakin rumit. Aku butuh bantuan kalian membuat semua orang berada di radius sepuluh meter.
__ADS_1
"Kecuali kalian mau mereka mengingat wajah kalian. Serang kali ini membuat kita sangat tidak beruntung," jelas Bizar lagi.
Aku memiringkan kepala. "Biasanya kamu bisa melakukan itu dalam jangkauan besar."
"Maaf mengecewakan. Aku belakangan ini sangat lelah. Jadi tidak banyak program yang dapat aku tulis."
Aku terkejut mendengar pengakuan Bizar. Baru kali ini aku mendengar ilmuwan gila itu mengakui kelemahannya. Jika dipikir-pikir Bizar memang terlalu banyak memforsir dirinya sendiri.
Kami mau tidak mau menuruti ucapan Bizar. Namun, aku sedikit memaksa untuk ikut dengan Bara. Setelah semua mengizinkan, aku pun masuk ke portal. Pak Hisam, semoga bapak masih bisa diselamatkan.
Aku terus menerus berharap jika Pak Hisam kembali membuka matanya. Tidak peduli jika sebagian tubuh pria itu sudah menjadi hitam karena terbakar. Andai masih bisa diselamatkan pun itu sudah bagus.
Bara mengganti pakaiannya di dalam portal, begitupun denganku. Kami segera membawa Pak Hisam ke dalam rumah sakit dan beliau segera ditangani oleh dokter. Air mataku terus mengucur, entah kapan berhenti. Sampai kapan pemeriksaan guru tersebut dilakukan?
Aku takut ... dan pada akhirnya semua menjadi gelap.
Aku bisa membayangkan sebuah keluarga utuh bermain-main di atas pasir kuning. Mengamati daun yang mulai melambai pada kami. Namun, daun tersebut berhenti melambai karena kedua orang tuaku tiba-tiba menghilang. Aku membelalak. Tiba-tiba muncul Hana, tetapi tidak lama gadis itu menghilang. Apa yang terjadi di sebenarnya. Aku menutup mata sebentar, mencoba untuk tetap tenang dengan keadan ini.
Warna laut sepenuhnya berubah menjadi merah dan tidak ada yang tersisa kecuali seorang gadis berambut biru di hadapanku. Matanya begitu tajam dan sangat menakutkan.
"Nadira Putri Haniah, balas dendam lah. Balas dendam pada semua orang yang pernah menyakitimu!"
Sontak aku pun terbangun setelah mendengar ucapan tersebut. Firasatku sangat buruk, apa teman-teman yang lain baik-baik saja? Di sisi lain, nyawa Pak Hisam pun sedang dipertaruhkan.
Aku tidak tahu, firasat ini mengarah pada apa. Tidak ada bayangan di masa depan. Tidak ada orang di dalan tubuh yang harus aku ajak diskusi. Dalam diam aku mencoba untuk menahan firasat tidak jelas ini.
__ADS_1