Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 49. Bayangan Aneh


__ADS_3

“Tadi itu benar-benar deh. Kenapa tidak bisa tenang sedikit pun sih, Miss Merry?” gerutu Irish di bangku seberang. Gadis itu tengah memakai kembali kacamatanya. Dia juga membuka buku besar untuk belajar kembali. Padahal dia baru saja menghadapi dua monster, tetapi Irish langsung kembali mempersiapkan diri untuk lomba. Aku jadi tidak tahu mana yang monster sekarang.


“Syukurlah kalian bisa menyelamatkan hari lagi, jadi jangan menggerutu, Irish. Mereka ini masih memiliki kekuatan gelap yang sangat sedikit. Aku tidak tahu seberapa besar kekuatan kristal kegelapan milik Azumi. Bahkan mengorek informasi dari gadis itu pun tidak ada gunanya,” ujar Miss Merry seraya memijat pelan keningnya.


Aku sangat lelah dan tidak mau banyak berpikir tentang itu. Kali ini aku ingin beristirahat, walaupun ketika sampai di hotel aku juga akan diarahkan untuk beristirahat. Namun, melawan empat monster sekaligus itu tetap saja menguras tenaga yang sangat banyak. Masih untung tidak ada yang terluka saat kami berhadapan dengan monster yang ada di bawah jalan.


Tubuhku benar-benar lelah, bahkan aku tidak bisa menentukan posisi nyaman karena sakit semua. Sepertinya saat sampai aku akan mandi dengan air hangat. Jika tidak tubuhku akan terasa tidak nyaman terus. Aku bergerak ke samping dan ternyata Radja tengah fokus mebaca artikel untuk debat. Kenapa teman-temanku itu kelewat rajin semua sih? Atau aku saja yang terlalu malas untuk belajar dan menyiapkan diri untuk perlombaan ini?


Pada akhirnya aku tetap tidak bisa tidur dan hanya bisa menatap ke luar jendela hingga kami sampai di hotel. Semua segera menarik barang bawaannya. Tentu banyak, kami di sini tidak hanya sehari atau dua hari. Satu minggu dan penuh dengan jadwal yang padat. Namun, aku tidak tahu isi kepadatannya apa saja. Miss Merry bilang jadwal akan dibagi nanti. Setelah mendapatkannya, kami harus pintar-pintar mencari waktu untuk mencari markas pasukan Azumi yang sudah banyak membuat resah manusia, termasuk kami.


Aku memakai ransel dan membawa tas jinjing berisikan pakaian untuk tujuh hari penuh lalu mengikuti teman-teman yang turun dari bus. Miss Merry membawa kami masuk ke dalam hotel setelah dia berbicara pada supir bus sekolah tentang jadwal kami selanjutnya. Kesan pertamaku pada bangunan tinggi yang bahkan tidak bisa diperkirakan ada berapa kamar di dalamnya adalah aneh. Ya, aneh.


Ada hawa negatif yang kuat dan menyesakkan di dadaku. Terlebih semakin memandang ke sana, aku malah merasa pusing. Samar-samar aku melihat sosok bayangan hitam tengah tersenyum di balik kaca. Tunggu apa?! Aku segera menutup mata dan kembali melihat ke salah satu kamar tersebut. Tidak ada apa pun di balik kaca. Oh tidak, jangan bilang hotel ini berhantu. Kami ke sini untuk lomba, bukan uji nyali kan?


“Nadira, kayaknya kamu capek banget. Wajah langsung pucet gitu,” ujar Demina padaku.


Aku refleks memegang puncak kepalaku. Meyakinkan diri jika tadi efek kelelahan. Mana mungkin ada hantu di siang bolong begini. Mungkin kalau monster akan tetap muncul sih.

__ADS_1


“Aku cuma sedikit pusing karena salah liat, Demina. Ngomong-ngomong, menurut kamu hotel ini gimana?” tanyaku pada orang di sampingku.


“Ada aura negatif, kekuatan gelap yang kuat di sini. Besok aku bakal deteksi dengan hujan. Bukan hanya kamu yang merasakannya. Sejak tadi Radja dan Bara sudah sangat gelisah.” Aku melihat Demina menunjuk pada dua anak laki-laki itu. Mereka memang terlihat tidak baik-baik saja.


“Apa yang kalian bahas? Sudah, ayo kita masuk,” ujar Miss Merry pada kami. Dia mengarahkan kami untuk masuk ke dalam hotel. Tidak mungkin jika peri satu ini tidak mengetahui kekuatan gelap yang berada di sini.


Setelah Miss Merry mengurus segalanya, dia segera memberikan kami kunci kamar. Peri itu juga mengingatkan jika kamarku terdiri dari Irish, Demina dan satu peserta dari sekolah lain. Mungkin belum datang. Sementara kamar anak laki-laki lengkap dari sekolah kami. Jarak antara kami hanya satu lantai. Tidak terlalu jauh.


Sebelum beranjak ke kamar, aku melihat para peserta dari sekolah lain pun mulai berdatangan. Entah kenapa aku ingin memperhatikan rombongan yang baru datang itu. Serius, ada sesuatu di antara mereka, tetapi tidak tahu apa itu. Meski ingin melakukannya, Demina dan Irish segera menarik tanganku. Ternyata lift sudah terbuka dan anak laki-laki sudah beranjak masuk ke dalamnya.


Tidak berlangsung lama pintu lift terbuka, kami anak perempuan segera keluar. Lalu Demina pun mewakili kami dalam berbicara pada Radja. “Ya ampun, Ja! Kita ini perempuan super. Untuk apa takut sama anak laki-laki dari sekolah lain? Yuk, kek kamar!”


“Pokoknya hati-hati!” ucap Radja sembari perlahan pintu lift pun tertutup.


Kami segera mencari nomor kamar dan berniat membukanya. Namun, setelah sampai pintu sedang dibuka. Tidak ada tanda-tanda jika kamar itu sedang dibersihkan. Segera saja kami masuk ke dalam sana dan seorang gadis tengah merapikan tas miliknya. Aku pun menatap bingung para Irish dan Demina. Meski sudah diberitahu Miss Merry, tetapi tidak aku sangka jika dia sudah sampai.


“Halo?” sapa Irish ragu-ragu. Aku dan Demina tetap masuk dan membawa barang bawaan kami.

__ADS_1


Gadis dengan rambut yang diikat ke samping itu pun menoleh. “Kalian teman satu kamarku ya? Halo, aku Ratih. Peserta lomba karya tulis sastra. Kalau kalian siapa?”


Aku tidak sangka jika gadis itu cepat sekali berbaur dengan kami. Aku pun melihat kedua temanku tidak mau memulai percakapan. Tatapan mereka justru tatapan curiga, mungkin karena pintu ini sudah dibuka.


“Namaku Nadira. Aku juga peserta lomba karya tulis sastra. Jujur aku masih awam soal ini, jadi mohon bantuannya,” balasku pada Ratih. “Ini Demina dan Irish dari tim cerdas cermat.”


“Oke. Semoga kita bisa berteman baik dalam tujuh hari ini ya,” jelas Ratih seraya dia kembali membereskan barang-barangnya.


Di tempat ini ada dua kasur, kami bisa tidur dengan saling berbagi. Sebelum aku mengajak Irish atau Demina, sepertinya mereka paling tidak mau bersama dengan Ratih. Kekhawatiran mereka terlalu berlebihan. Namun, tidak ada salahnya membiarkan mereka tidur berdua, siapa tahu itu meningkatkan performa mereka dalam bekerjasama.


Aku pun menghampiri Ratih dan meletakkan barang-barangku. Lelah kembali terasa dan aku ingin segera beristirahat. Namun, nada dering ponsel di dalam tas sangat mengganggu. Maka segera aku mengangkatnya.


“Nadira, kamu enggak bakal percaya sama yang aku lihat deh.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2