
“Bagaimana kondisi istri dan anakku, Dokter?!”
Vivian menunduk, dia berusaha tidak terbawa suasana. Tidak peduli laki-laki di
hadapannya ini tengah panik. Wajahnya begitu pucah seperti takut jika kedua
pemilik hatinya akan meninggalkan dunia.
Jujur itu tidak sepenuhnya salah, tidak juga sepenuhnya benar. Bu Haniah, istri
laki-laki tersebut dalam perawatan medis. Sementara bayi perempuan mereka
begitu tenang dalam tidurnya. Agak aneh karena bayi itu tidak menangis. Namun,
dia tidak boleh berlarut dalam perasaan tidak menentu seorang manusia. Meski,
saat ini dirinya setengah bagian dari mereka.
“Istri Anda akan baik-baik saja. Namun, bayi kalian---“
“Apa yang terjadi?!”
Pria itu memotong ucapan Vivian. Meski terkesan tidak sopan, tetapi dalam keadaan
seperti ini dia dipaksa untuk paham. Vivian bisa melihat dari kedua sorot mata
laki-laki itu, seolah menyuruhnya katakan-hal-baik-saja.
“Bayinya ... berdetak tidak normal. Sangat lemah dan masih ditangani oleh dokter yang
lebih ahli dariku,” cicit Vivian, dia memberanikan diri menatap laki-laki yang
baru saja menjadi ayah sesungguhnya.
__ADS_1
“Tuhan, jangan ambil dia. Bahkan aku belum melihatnya. Tolong ... tolong selamatkan
dia, Dokter Vivian.” Bagaimana juga Vivian tidak bisa menolak perasaanya saat
ini.
“Kami bukan Tuhan, tetapi kami akan melakukan yang terbaik atas seizinNya,” ucap
Vivian. Dia lalu berpamitan, kembali ke ruang kerjanya.
Ruangan dominan putih, hanya tersedia satu meja, dua lemari, satu ranjang dan peralatan
medis lainnya. Dia ingin melepaskan jabatannya hari ini. Selama berkarir, tidak
pernah dia mengalami kasus sekacau sekarang. Vivian sangat takut jika dia tidak
bisa menyelamatkan nyawa bayi mungil itu. Namun, kenapa?
Di antara semua pasien yang ditanganinya, tidak ada yang membuat Vivian
mereka? Tidak-tidak. Bahkan Pean dititipkan oleh suami-istri itu pada kerabat
mereka. Tentu saja tidak ada hububungannya dengan Pean.
Vivian mengembuskan napas sesekali membuka buku rekaman medis pasiennya. Berhenti
tepat di halaman ke-101 dengan nama Haniah Putri. Wajahnya tidak ada
mirip-miripnya dengan Hana, tetapi entah kenapa dia merasa jika wanita yang
baru saja menjadi ibu itu akan menuntunnya.
Kring!
__ADS_1
Vivian sontak menoleh pada telepon kerjanya. Dia mendapatkan telepon penting dan dia
hanya minta pada para suster untuk menghubungi dia jika itu berurusan dengan
pasiennya. Jantung Vivian semakin berdebar ketika dia mencoba mengangkat
telepon.
“Dokter Vivian! Bayi Bu Haniah ... tidak lagi berdetak.”
Vivian terdiam. Mendalami semua yang suster itu katakan. Bahkan ayah kandungnya pun
tidak dapat menyelamatkan. Dia benar-benar tidak tenang sekarang. Lalu apa yang
bisa dia perbuat. Tidak sadar, cerita suster tersebut telah selesai.
“Aku tidak tenang. Ya Tuhan, ini kasus teraneh dalam hidupku,” ucap Vivian frustasi.
Dia lagi-lagi teringat dengan Hana, Sang Ratu Alam yang entah ada di mana sekarang. Kira-kira apa yang akan dilakukan
oleh ratunya di saat-saat seperti ini? Vivian tidak tahu. Benar-benar tidak
tahu.
Ikuti kata hatimu, Vivian. Kita akan bertemu sebagaimana kamu secara kebetulan menyelamatkanku.
Dari sekian banyak ucapan Hana, percakapan terakhir merekalah yang tergiang. Jujur,
Vivian sempat tidak paham. Namun, ia mencoba memasangkan benang merah dengan
kejadian Pean. Apa hubungannya? Vivian juga tidak tahu. Namun, semua ini
bukanlah kebetulan biasa.
__ADS_1
“Aku harus menyelamatkan bayi itu, apa pun caranya. Dia harus hidup.”