Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 44. Hati Yang Patah (2)


__ADS_3

Aku menyeka air mata yang belum juga berhenti mengalir. Dua laki-laki di hadapanku hanya duduk sambil meminum teh dengan tenang. Tidak diacuhkan tangisanku oleh mereka.


"Teman-teman belum sepenuhnya percaya soal Nadira," ucap Radja padaku. "Aku harap Kak Ron lekas sembuh dan ingat semuanya."


"Terima kasih untuk doanya, Radja," ucap Kak Ron.


Radja lalu menatapku, tetapi tidak lama. Matanya langsung teralihkan pada jendela. Hal itu memicu air mataku menjadi tumpah lagi.


"Aku paham, Ja. Teman-teman ... sulit percaya karena aku sendiri yang memutuskan bergabung," ucapku pelan.


Kilas balik bagaimana aku mendorong Demina mulai muncul di dalam ingatanku. Tidak lupa bagaimana dulu aku mengucapkan kata-kata yang jahat pada mereka. Hingga akhirnya mengancam untuk membunuh.


Tangan besar Kak Ron berada di atas kepalaku. Dia mengusap-usap pelan disaat aku menangis lebih kencang. Refleks aku memeluk Kak Ron. Membasahi bajunya dengan air mata.


"Aku mewajari semuanya. Seperti yang Bizar katakan, ada pengkhianat ... dan itu aku," jelasku pada Radja.


"Bizar adalah orang kedua yang tahu tindakan kamu, Dira," ucap Radja.


Mataku langsung membelalak. Jelas saat itu Bizar yang menuduh jika aku adalah pengkhianat. Tidak mungkin salah dengar.


Aku menyeka air mata. Melihat pada kedua bola mata Radja dan laki-laki itu benar-benar yakin dengan ucapannya. Dia lalu kembali mengambil cangkir tehnya.


Setelah meminum tehnya, Radja mulai menjelaskan kejadian yang aku lewati selama berada ada di bawah pengawasan Azmi. Bizar memang tidak pernah menganggapku aku sebagai penghianat, justru dia sebenarnya menyampaikan pesan. Entah siapa orang yang selalu memata-matai mereka di Twins World.


"Sayangnya, Bizar belum bisa mengatakan ini langsung kepadamu," ucap Radja padaku.


Aku bergeming. Otakku mendengarkan apa yang Radja katakan. Hujan tidak kunjung juga berhenti dan aku masih setia memeluk pinggang Kak Ron.


"Bagaimanapun juga kita harus segera menyatukan kekuatan keempat ksatria. Hanya itu satu-satunya cara untuk menyegel kekuatan Azumi, sehingga bumi tidak lagi dalam ancamannya," jelas Radja padaku.


Aku mengangguk. "Bagaimana dengan Bara? Apa ... Semua akan menerima ma keberadaannya, karena akupun dianggap penghianat bukan? Maksudku ... mayoritas masih menganggap aku musuh."

__ADS_1


Radja mengetukkan jarinya di atas meja. Laki-laki itu mungkin tengah berpikir. Aku hanya diam, dan kembali memeluk Kak Ron. Sayangnya kakakku meminta melepaskan pelukan.


Setelah sekian lama, akhirnya laki-laki itu kembali menaikkan wajahnya. Sehingga aku pun bisa melihat beberapa perban mulai longgar dan seakan meminta untuk direkatkan kembali.


"Hari Senin nanti pergilah ke sekolah, kita akan mengadakan perkumpulan di sana, aku juga akan mengundang Bara. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Nadira," usul Radja. "Akan aku jelaskan semuanya pada mereka."


oOo


Sesuai instruksi Radja, aku datang ke sekolah diantar oleh Kak Ron. Aku beranjak dari gerbang menuju kelas, entah kenapa hatiku belum siap untuk bertemu dengan teman-teman lainnya. Sementara, Kak Ron akan pergi menemui Pak Hisam dan menjelaskan kondisi fisikku saat ini.


Aku mulai berjalan dan menaiki tangga. Namun, masih aku rasakan sesak di dada. Aku pikir itu yang akan mereka rasakan juga saat melihatku.


Tiba-tiba pada sebuah tangan yang menepuk bahuku. Aku segera berbalik, mencari tahu siapa pemilik tangan tersebut. Laki-laki tinggi itu tersenyum padaku, sayangnya tidak berlangsung lama.


"Bara!" panggilku pada laki-laki tersebut.


"Syukurlah kamu kembali sekolah, Dira. Aku hampir gila karena tidak bisa menemukan kamu di sini. Pada siapa aku harus bertukar pendapat?" ucap laki-laki tersebut.


"Dira, ternyata kita belum membunuh Azumi ... maafkan aku," ucapnya dengan lirih.


Aku menggelengkan kepala. Berulangkali memintanya untuk tidak meminta maaf. Semua ini di luar rencana mereka. Akibat dari terburu-buru meski sudah memiliki prosedur yang tepat.


Kami berpisah kala Bara sadar aku sudah berada di depan kelas. Tidak lupa aku mengajaknya untuk berkumpul sepulang sekolah, jaga-jaga jika Radja lupa untuk memberitahu.


"Tentu aku akan datang," ucapnya padaku.


Aku hanya bisa tersenyum dengan alis yang menurun. Ragu. Bukan karena Bara, tetapi aku sendiri yang ragu. Lagi, aku mengembuskan napas.


Kelas tidak sepi, tidak juga ramai. Semua masih berbicara dan mengerjakan tugas. Beberapa melihatku dengan tatapan jijik yang mengintimidasi. Mungkin masih teringat saat aku berlaku kasar pada Demina dan Afly.


Aku lihat Afly juga melirik padaku, tetapi dia memilih untuk menoleh. Sementara Demina yang duduk di bangku depan sangat sibuk dengan soal-soal matematika.

__ADS_1


Semua bangku nyaris penuh, aku memilih duduk di bangku paling akhir yang satu jajaran dengan Afly. Bahkan, aku duduk di belakangnya. Bel lalu berbunyi dan semua berhenti bicara.


Aku hanya mengikuti pelajaran tanpa menyimak sama sekali. Pelajaran di sana pernah Miss Merry ajarkan padaku dan aku memilih mengerjakan latihan soal di sana. Hingga laki-laki di hadapanku melemparkan sebuah kertas yang dibentuk jadi bola.


'Apa tujuanmu?'


"Afly," bisikku selagi mengerjakan soal. Guru di depan sana masih asyik menjelaskan, tidak mungkin aku bicara. Bisa-bisa dikeluarkan.


Aku turut menyimak demi membunuh waktu. Hingga akhir guru itu memberikan tugas, mengisi soal-soal. Syukurlah soal itu sudah terisi jawaban.


"Afly, aku akan menjelaskannya," bisikku tetapi Afly tidak berbalik.


Afly justru bergeming dan membuat aku menunjuk-nunjuk dirinya dengan pensil. Hal itu sukses membuat laki-laki di hadapanku menegapkan badan. Dia lalu berbalik dengan mata sipit dan bibir maju ke depan.


"Katakan."


Aku mengeratkan pegangan pada pensil. "Afly, aku tidak punya tujuan apa pun. Maksudku, kamu tahu kalau aku terpaksa melakukan ini."


"Tidak, aku tidak tahu!" ketusnya. "Kamu bisa menjelaskan semuanya padaku."


"Tentu," balasku, "setelah pulang sekolah."


Aku melihat laki-laki itu mengangguk dengan matanya yang berbinar. Tertegun, tetapi itu malah membuat takut. Bagaimana pun aku pernah membahayakan mereka.


Afly salah satu orang yang sulit untuk aku dapatkan kepercayaannya, sekarang kepercayaan itu susah menguap ke langit. Selain dia, aku melihat pada Demina. Dia tidak berucap apa-apa.


Apakah dia marah? Aku tidak tahu. Dibenci lebih baik daripada diabaikan seperti ini. Sikap tidak acuhnya mereka padaku sangat mengganggu. Seolah kami tidak saling kenal.


Ini hukuman yang lebih tepat untukku. Siksaan lebih parah ketimbang ditindas oleh para anak perempuan. Aku harus menerimanya.


"Ngomong-ngomong, Nadira," panggil Afly, aku lalu kembali melihat padanya. "Semoga kamu baik-baik saja sampai kita pulang sekolah."

__ADS_1


Ucapannya benar-benar peringatan. Ketika bel istirahat berbunyi dan aku hanya bisa menelan ludah.


__ADS_2