Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
Ron Pean : Dilatasi Zaman


__ADS_3

“Hana sudah berenkarnasi.” Itu kabar yang cukup membahagiakan, mereka bisa


menghentikan kejahatan-kejahatan yang akan terjadi di masa mendatang. Berdiri


di hadapannya seorang peri berambut pirang yang nampak seperti anak-anak tujuh


tahun. Namun, nyatanya peri tersebut adalah pemimpin dari Desa Putih.


Di sinilah Pean dibesarkan sebagai pemuda keturunan elf murni. Di sini pula Pean


diajarkan menjadi seorang yang berguna dan berjiwa besar. Memenuhi tujuan dan


tugas yang harus diemban oleh para peri selayaknya. Sebagai Peri dari Desa


Putih, dia tidak memiliki orangtua. Tidak mengenal kata ibu dan ayah. Dia hanya


tahu kasih sayang sesama makhluknya. Namun, semua berubah ketika dia mengenal


sosok ratu yang dikirim untuk Pean jaga.


“Pean, kamu sangat berjasa bagi Raja dan keturunannya. Kami bangga padamu,” ucap peri


tersebut dengan membelai bagian rambut cokelatnya yang berusaha menutupi


telinga panjang.


“Aku akan merindukan Ratu Hana. Tidak ada cerita dan tawanya lagi. Bakal sulit


bagiku untuk bertemu dengannya, Peri Merry,” ucap Pean pada peri tersebut.


“Pean, ada yang harus aku beritahukan padamu,” bisik Merry begitu lirih.


Sayap Merry yang awalnya terus mengepak dan menaburkan kerlap-kerlip kini mulai


melemah. Di antara padang rerumputan tempat Pean duduk bersantai, Merry


mendampingi. Dia bersender pada tubuh tegap Pean. Harus diakui, anak peri yang


telah dia besarkan saat ini menjadi sosok pahlawan.


Pean nyaris mengobral nyawa demi menyelamatkan anak Kazuhiro. Bergelut dengan tarian


api yang ada di sekeliling hutan belantara. Merry ingat akan kelakuan peri ini


dalam mendebatkan banyak hal dengan Hana.


“Kenapa peri?” tanya Pean sedikit kebingungan. Merry tahu, meski Pean bukanlah


keturunan peri bersayap sepertinya, Pean memiliki kepekaan melebihi manusia. Penglihatan


Pean yang tajam mampu memprediksi serangan musuh. Belum lagi, tangannya begitu


dingin tidak tersentuh, Pean memang menjaga ikatannya dengan orang-orang

__ADS_1


terdekat.


“Kamu tahu tidak semua peri bisa berenkarnasi meski ia akan mendampingi Hana. Aku pribadi menolak reinkarnasi demi mengumpulkan jiwa dan mencari semua


kesebelasan kesatria,” ucap Merry sambil terpejam menikmati semilir sore hari.


Karena esok pagi tidak akan sama lagi untuk mereka.


“Aku paham. Lalu apa hubungannya denganku?”


Merry menangkupkan wajah Pean agar bersender ke arahnya. Di sela keheningan, matanya


panas dan turun membasahi pipi. Ada hal yang memberatkan hatinya dan pada hari


ini Merry harus mengucapkannya. Mau tidak mau, suka tidak suka.


“Pean ... kamu tidak bisa berenkarnasi,” ucap Merry pada Pean.


“Apa?! Tidak, Peri Merry pasti salah sebut,” bentak orang yang ada di hadapan mereka.


Peri yang amat kecil itu menatap keduanya tidak percaya.


Sedangkan Pean yang mendengar berita tersebut hanya tertawa. “Vivian, kamu harusnya


bersiap karena besok reinkarnasimu. Kenapa malah ke sini.”


“Ih, pertanyaan kamu tidak penting, Pean. Peri Merry, tolong jelaskan padaku,” paksa


Merry menyeka air matanya, dia tengadahkan sebelah tangan agar Vivian dapat berdiri


di atasnya. Mata mereka berdua saling bertemu dan Merry hanya tersenyum kepada


Vivian.


“Pean tidak bisa berenkarnasi, dia terkena kutukan kegelapan,” jelas Merry dengan


singkat.


"Aku tahu kalau itu," balas Pean dengan senyumnya.


Kaki Vivian tidak lagi bisa menompang tubuhnya. Dia berbaring di tangan Merry dan


menangis. Tentunya pemilik telapak tangan itu turut merasakan tetesan air mata


yang dingin.


“Tapi tenanglah, Pean,” ucap Merry lagi, “Hana dan Kazuhiro menitipkan kekuatan


padaku. Hiduplah kamu di dunia manusia tanpa perlu takut wujudmu.”


Merry menjelaskan pada Pean. Bahwa raja dan ratu telah memberikan kemampuan untuk memanipulasi


ingatan seseorang. Pean juga bisa mengubah bentuk, umur dan mau jadi apa di kehidupannya.

__ADS_1


Bagi seorang Pean, dia tidak akan menggunakan semua ini untuk kejahatan. Dia


cukup tahu diri, menggunakan kekuatan untuk hal lain hanya menghancurkan


kepercayaan Hana dan Kazuhiro padanya.


“Kamu tidak perlu takut. Ke manapun kamu melangkah. Hana akan menemuimu, Pean,” bisik


Merry pada Pean melalui silir yang berlalu.


------------------------


 


“Aku tidak pernah membayangkan betapa membosankan hidup abadi tanpa teman dan pendamping.” -- Ron Pean.


Pean tidak tahu berapa umurnya sekarang, berapa kali dia melihat reinkarnasi Hana. Muak dia melihat para reinkarnasi itu menolak, stress dan berujung kematian. Tidak pernah ada yang berhasil mewadahi Hana lebih dari tiga hari.


Pean juga sudah mengubah bentuk dirinya menjadi berbagai hal di setiap reinkarnasi. Anak kecil yang tidak memiliki siapa pun dan dia harus mencari uang untuk makan. Orang dewasa yang begitu sukses dan populer tapi berujung di balik jeruji tanpa sebab. Kucing peliharaan keluarga reinkarnasi Hana. Bahkan dia pernah memilih menjadi burung yang terbang bebas.


Namun, semua itu sama saja. Menjadi anak kecil, Pean tidak dipercaya untuk bekerja meski dia mampu. Menjadi orang dewasa di dunia yang penuh fitnah, berujung dialah yang menjadi korban. Menjadi hewan, Pean selalu diburu.


Pean menghela napas. Entah harus jadi apa dua tahun mendatang. Dari matanya yang seperti hewan peliharaan dia melihat seorang wanita dewasa menghampiri dirinya. Wanita tersebut membawa piring plastik.


Pean sebagai kucing dapat menghidu tajam aroma amis yang membuat perutnya kekeroncongan. Entah bagaimana wanita itu tahu jika dirinya sangat lapar dan benar membutuhkan makanan. Wanita itu menunduk dan menyimpan piring di atas tanah.


"Makanlah, hari ini aku masak terlalu banyak," ucap wanita itu sambil mengelus puncak kepala Peann.


Pean mengendus makanan, takut-takut jika wanita itu bawahan Azumi yang ingin membunuhnya. Meski percuma, Pean hanya bisa dibunuh jika Hana kembali pada tubuhnya. Namun, ikan itu murni, masih hangat. Baru selesai digoreng.


"Miaw …." Pean membalas pada wanita itu, tidak ada makna apa pun. Dia benar-benar malas berkomunikasi dengan siapa-siapa.


"Keluarga Bu Jia punya kucing yang manis sepertimu. Enaknya bisa memelihara kucing, mungkin rumah ini tidak akan sesepi ini."


Dalam hati Pean mendengus. Mana ada rumah sepi! Wanita di hadapannya sering berdua dengan suaminya. Jadi di mana letak kesepian wanita itu maksudkan?


"Sampai kini aku belum memiliki anak. Andai Tuhan sudah percaya padaku, dia akan menitipkan anak. Ah … kenapa aku jadi bercerita padamu? Maafkan aku. Habiskan saja jangan memandangiku seperti itu.


"Aku memang sudah gila. Curhat sama kucing," guraunya.


Pean tidak pernah mempermasalahkan hati orang lain. Namun ketika kedua mata bulatnya memandangi mata itu, Pean tahu. Dia sangat mengenal pemilik mata itu. Sayangnya, sekejap mata itu berubah. Wajah yang ia impikan pun turut berganti.


Ketika wanita itu berbalik melangkah masuk ke rumahnya, Pean dengan cepat mengikuti. Dia ingin memastikan lebih lanjut jika yang dilihatnya benar. Dia ingin membuktikan Hana ada di sini.


Tidak. Tidak. Pean yakin dia hanya rindu.


Namun kehangatan itu bisa mengobati kerinduannya pada Sang Ratu. Pean tahu dia harus jadi apa dua tahun mendatang. Seorang anak kecil tersesat dan tinggal bersama wanita itu. Ya, dia akan menemani keluarga kecil yang tinggal tidak jauh dari komplek rumah reinkarnasi Hana.


Jika benar Hana kembali, ke manapun dia melangkah, ratu itu dapat menemukannya. Tidak perlu bersusah payah dia mendampingi. Karena takdir mereka terhubung oleh benang merah.


Sampai Hana kembali, dia akan menjaga orang-orang baik di sekitarnya. Tidak akan Pean lupakan kejadian hari ini. Dia bahkan berharap bisa menjadi bagian anggota keluarga mereka lebih cepat.


Ya, Ron tahu, dia harus bersabar.

__ADS_1


__ADS_2