Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 49. Nasehat Seorang Guru


__ADS_3

Aku menggenggam erat blazer yang sedang digunakan. Pak Hisam baru saja selesai operasi setelah beberapa jam. Walau aku tidak tahu berapa lama pastinya. Saat ini teman yang menemaniku silih berganti.


“Makan dulu, Dira,” tegur orang di hadapanku. Tidak tahu siapa, karena aku terus menunduk menatap ubin putih di sana.


Dadaku terlalu sesak hingga membuat bibir menjadi kelu, tidak ada suara apa  pun yang keluar. Perlahan mataku bisa melihat langkah kaki itu mendekat. Sensasi hangat dapat aku rasa ketika tangannya menyentuh pundakku.


“Kita sama-sama enggak bisa memprediksi soal ini, Dira. Kamu gak bisa terus-menerus menyalahkan diri kamu,” ucap Radja.


Aku lalu menegadah, menatap dua bola mata laki-laki itu dengan tajam. “Ini memang bukan salahku. Ini salah Azumi! Kita tidak bisa berdiam diri seperti ini, Ja!”


Segera aku menerjang tubuh itu. Menggenggam kerah baju Radja dengan kuat. Seakan dia memang orang yang tepat untuk aku melampiaskan amarah. Laki-laki itu mengembuskan napas. Setelahnya dia mengembalikanku untuk duduk.


Ini memang di luar perkiraan dan aku berharap bisa menggunakan mesin waktu untuk memutar balikkan keadaan. Pak Hisam tidak seharusnya terlibat. Jika aku yang diharuskan mati, maka aku akan menerimanya dengan lapang. Sesuatu di dalam hatiku kembali bergejolak. Balas dendam, kata-kata itu tergiang di dalam kepalaku. Apakah itu cara terbaik untuk melepaskan segala sesak di dada ini?


Sejujurnya ini sangat mengekang hati dan pikiran. Menguras tenaga untuk menghentikan perintah balas dendam yang berulang kali aku dengarkan. Terlebih menyadari Pak Hisam belum juga sadar. Sekuat mungkin aku tidak ingin kehilangan kendali. Jangan sampai aku membunuh atau bertindak gegabah lagi.


Aku pun menyandarkan badan ke belakang. Nyatanya Radja sudah duduk di sampingku. Dia sedang menengadah ke langit. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Jujur aku hanya ingin tenang sampai Pak Hisam dinyatakan baik-baik saja. Tuhan, tolong jangan ambil orang-orang yang aku sayangi lagi. Jangan, kumohon.


Air mataku lolos begitu saja dan aku berusaha untuk tidak bersuara. Nyatanya Radja tetap menyadari semua itu. Dia hanya menggenggam tanganku, tidak menghapus air mata. Meski begitu aku menjadi lebih tenang. Rasanya aku tidak sendirian saat ini. Perlahan mataku pun tertutup. Tidak ada suara yang menuntut untuk balas dendam ataupun bertindak gegabah.


Warna hitam itu perlahan tergantikan oleh birunya laut. Semerbak bunga lavender dapat kucium. Aku melihat ke sekitar, tidak ada siapa pun. Apakah ini mimpiku? Tapi kenapa ini membuatku ingat dengan Hana? Tunggu ... dia sudah tiada, apa yang aku pikirkan?


Aku tidak tahu dari mana asal wangi bunga ini. Padahal di depan sana hanyalah lautan biru terbentang luas. Siapa yang akan aku temui di dalam mimpi ini? Sudah lama aku tidak mendapatkan panggilan dari mimpi-mimpi aneh ini. Bahkan yang kuingat terakhir adalah menyelamatkan kekuatan Bara, Afly dan Nadia saat itu.

__ADS_1


“Lama tidak berjumpa, Nadira,” ujar suara yang sangat aku kenali. Aku bisa melihat Hana tersenyum ke arahku.


“Hana ... ini dunia mimpi kan?” tanyaku ragu-ragu, “atau Tuhan sudah memanggilku pulang?”


Tiba-tiba saja dia menjitak kepalaku, lalu melipat tangan di depan dadanya. “Seingatku kamu sangat ingin hidup, Dira. Kenapa sekarang kamu ingin mati lagi? Ya sudahlah ... aku tahu apa yang terjadi.


“Nadira, kamu membuat Radja dan teman-temanmu cemas. Aku tahu kamu sangat sedih ketika gurumu nyaris mati akibat serangan Azumi. Tapi, tidak bisakah kamu mencoba untuk ikhlas? Semua itu sudah terjadi.”


“Bagaimana bisa kamu mengatakannya, Hana?! Aku ... aku gak sanggup kehilangan siapa-siapa lagi. Aku ingin menghentikan semua tindakan Azumi. Cukup!” balasku pada Hana.


Hana mengelus puncak rambutku. Dia tidak mengatakan apa pun, sepertinya tahu jika suasana hatiku masih belum setenang itu. Aku menerima kehangatan tidak nyata ini, setidaknya aku tidak tersesat dalam ruang hitam dan menjadi gelap hati.


“Dengarkan aku, Dira. Setelah kembali dari tempat ini ... kamu harus mendengarkan penjelasan dari siapa pun dengan kepala dingin. Setelah itu, lawanlah Azumi dengan bantuan keempat pedang legendaris,” jelas Hana padaku.


Sampai aku sadar jika tubuhku diguncang oleh seseorang dan membuat mataku mengerjap. Samar-samar aku bisa melihat wajah Radja di hadapanku. Dia terlihat sangat khawatir. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi laki-laki itu terlihat seperti baru saja menangis.


“Dira, Pak Hisam udah sadar. Dia mau ketemu kita,” ucap Radja.


Aku membelalak, pusing di kepalaku menghilang begitu saja. Mendengar kabar Pak Hisam, rasa di hatiku pun membuncah. Takut dan bahagia bercapur aduk, sulit digambarkan seperti apa pastinya. Aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya mengangguk membalas ucapan Radja.


Kami mengikuti instruksi dokter untuk melapisi baju dengan pakaian khusus yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Aku tidak ambil pusing dan ingin menemui Pak Hisam lagi. Guru tersebut baik-baik saja kah?


Ekspresi apa yang akan Pak Hisam berikan padaku nanti? Apa beliau akan memarahiku seperti biasanya? Aku sangat mengharapkan guru tersebut bertindak seperti biasanya. Ya, beraktivitas seperti biasa. Tidak masalah jika beliau ingin mengomel padaku.

__ADS_1


Di ruangan serba putih, aku melihat Pak Hisam terbaring di atas kasur. Bagian gosong dari kekuatan Azumi tidak hilang dan itu membuat kebencianku semakin naik ke atas. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Jangan sampai amarah meledak. Saat ini yang terpenting adalah kesehatan Pak Hisam. Aku pun segera menghilangkan jauh-jauh saran dari Hana.


“Nadira ... Radja, bapak senang kalian baik-baik saja,” ucap Pak Hisam ketika kami sudah sampai di samping ranjangnya.


Aku mencoba memegang tangan Pak Hisam. Menggenggamnya dengan erat, meski tidak aku ketahui apakah beliau dapat merasakannya atau tidak. Tanpa harus bertanya langsung pada Pak Hisam, kami tahu setelah menerima serangan dari makhluk super, keadaan guru kami tidak akan baik-baik saja. Terlebih Pak Hisam adalah manusia biasa.


“Pak Hisam ... bagaimana bisa Bapak menolong kami? Padahal seharusnya Bapak diam saja di tempat,” ucapku dengan lirih.


“Nadira, Radja ... bapak tahu kalian akan bertanya soal ini. Tapi, bapak sudah mengetahui semuanya dari Merry. Dia meminta bantuan untuk membuat kamu menjadi siswa homeschooling. Selain itu, kamu adalah murid yang selalu Bapak perhatikan dengan baik.”


Aku bergeming. Tidak disangka Pak Hisam memperhatikan diriku, walau memang beliau sering menegur. Bahkan, murid-murid lain yang sering menindas murid lemah jadi diperhatikan lebih olehnya. Tidak, sebagai guru ... itu sudah tugasnya kan?


“Pak, kami berdua akan segera mengalahkan Azumi. Kami tidak akan membiarkan kejahatan seperti ini terjadi lagi. Bapak tidak perlu khawatir,” ucap Radja, “kami akan balas dendam.”


Pak Hisam menggeleng lemah. “Jangan, Radja. Kamu juga jangan melakukannya Dira.”


“Tapi, Pak!”


“Balas dendam dengan nyawa membuat kalian terlihat sama saja dengan Azumi. Pada dasarnya dia hanya anak remaja seperti kalian, dia dipenuhi kabut hitam yang begitu tebal. Tugas kalian sebagai pahlawan adalah menariknya ke jalan yang benar,” jelas Pak Hisam pada kami berdua. Matanya sayu dan kulihat ada air yang mengalir ke sisi-sisi wajah.


Aku tidak dapat menahan emosiku, sehingga aku pun menahan napas. Sementara Radja membalas ucapannya, “Pak, Azumi sudah membuat banyak kehancuran. Bahkan dia adalah dalang dari pembunuhan keluarga Nadira! Bagaimana bisa kami menariknya dari kegelapan?”


“Ingat pesan bapak ini. Cara balas dendam yang terbaik adalah memaafkan dan membuktikan diri kalau kamu baik-baik saja. Bapak percaya kalau kalian berdua bersama-sama ... kalian ... kalian akan membawa bumi ini pada kedamaian,” ucap Pak Hisam pada kami.

__ADS_1


Kami berdua saling lirik, mencari kejelasan yang tersisa. Namun, tidak ada satu pun suara yang keluar dari mulut kami. Pak Hisam hanya tersenyum dan menangis. Tanpa kami ketahui, tangisan itu soal apa. Apakah sebuah penyesalan atau sebuah tangis haru?


__ADS_2