Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 58. Sebenarnya apa


__ADS_3

Cahaya itu membuat sihir berwarna merah keluar dari tubuhku. Aku mungkin akan hilang akal jika sihir itu terus memaksa masuk. Bahkan, aku bisa merasakan sensasi yang sama dengan saat kristal hitam hinggap di dalam hati. Perlahan sihir itu pun terkumpul menjadi satu dan kalung pemberian Miss Merry pun mulai redup.


Bara dan Radja segera menghampiri. Mereka menopang tubuhku agar tidak jatuh. Tidak lupa menyiapkan diri masing-masing apabila lawan akan bertindak menyerang kami. Aku bisa lihat jika monster itu sangat marah karena rencananya berhasil kami gagalkan. Dengan bantuan mereka, aku pun berusaha untuk bangkit dan ikut berhadapan dengan lawan.


"Sebenarnya apa yang kalian inginkan?!" seru Radja dengan nada yang begitu keras.


"Menghancurkan ... kalian," ucap monster tersebut.


Aku mengangkat panah. Segera aku pun menarik tali busurnya, tidak akan aku biarkan dia menghancurkan kami. Rasanya seperti ada dorongan kuat untuk memunculkan kekuatan di dalam tubuhku yang lalu mengalir untuk membentuk anak panah baru.


Anak panah itu melesat ke dada dari monster kayu yang ada di sana. Tepat sasaran. Bersamaan dengan itu kristal kegelapan pun ikut hancur. Bara kembali memegang pundak, sepertinya dia sadar jika aku nyaris jatuh. Pertarungan ini harusnya berakhir, tetapi sebuah buku melayang di atas kami.


Buku itu menyinari para pasukan Azumi yang tidak sadarkan diri. Lalu membuat mereka menghilang begitu saja. Siapa lagi pasukan Azumi yang tersisa? Radja segera terbang ke atas dan berniat mengambil buku tersebut. Namun, buku itu sudah lenyap lebih awal. Radja pun kembali ke bawah dengan wajah kesalnya.


"Inikah trik baru mereka?" ucap Radja pelan.


"Sudahlah, biarkan saja. Saat ini kita sudah memenangkan permainan dan pertempuran mereka," balas Bara.


Benar, untuk sekarang kami sudah berhasil mengatasi ini semua. Sebaiknya kami pergi dan kembali wujud normal sebelum bertemu dengan para wartawan itu. Tepat saat itu Bizar membuka portal yang mengarah langsung pada hotel tempat kami beristirahat.


----------


Sebelum semua peserta sampai di tempat ini, kami harus kembali ke rombongan. Bagaimana pun kami bisa dicurigai. Setidaknya kami harus bersembunyi terlebih dahulu. Akan aneh jika kami sudah sampai sementara mereka masih berada di sana. Maka Radja dan Bara sudah lebih memilih tinggal di atap, sementara aku berniat untuk turun ke bawah.


"Kamu yakin akan mencari sosok bayangan dalam penglihatan kamu sekarang? Ini berbahaya, Dira," ujar Radja, "lagi pula kamu hampir kehilangan semua tenaga. Kamu ini suka banget ya bikin orang khawatir."

__ADS_1


"Tapi ini kesempatan yang bagus, aku yakin jika pengguna buku itu ada hubungannya dengan penglihatanku. Kamu tahu penglihatanku ini tidak pernah salah, Ja," balasku tidak mau kalah.


Ucapan Radja memang ada benarnya, aku terlihat seperti orang gila. Membuat banyak orang khawatir dan berakhir diselamatkan. Meski begitu, penglihatan ini tidak boleh aku sia-siakan. Sudah lama aku tidak mendapat kekuatan ini. Lagi pula, aku melihat bayangan hitam di sini bersamaan dengan analisa Demina jika hotel ini diselimuti oleh kegelapan.


Jika akar kegelapan di tempat ini sudah hilang, aku yakin jika perlombaan ini tidak akan terancam. Segera aku menutup jam tanganku. Mengubah diri menjadi normal kembali. Tidak aku pedulikan Radja yang mengaduh kesal dan Bara yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku akan baik-baik saja. Sampai nanti!" ucapku pada keduanya yang lalu berlari pada pintu.


Debaran jantungku begitu kencang, tetapi ini bukan karena aku berlari. Bayangan hitam itu masih ada di sini dan sangat dekat. Tanganku pun mengepal, berjaga-jaga jika mereka muncul dan membuat kerusuhan lagi.


Aku menutup mata perlahan, merasakan keberadaan energi gelap itu. Namun, tidak terasa di mana pun. Hingga akhirnya aku bisa melihat sihir berwarna merah tengah melayang. Buru-buru aku membuka mata dan mengikuti arah sihir itu. Ya, pasti ada alasan di balik ini semua. Kami sudah semakin dekat dengan rahasia ini.


Anehnya aku berhenti di kamarku sendiri. Bagaimana bayangan hitam itu berada di dalam kamarku? Aku yakin betul tidak ada siapa pun di dalamnya. Paling hanya Ratih saja. Lagi pula sekilas aku bisa tahu jika gadis itu hanyalah manusia biasa. Mana mungkin dia sosok bayangan hitam yang aku cari-cari? Sudahlah untuk membuktikan itu, aku harus melihat dengan mataku sendiri.


Perlahan aku memegang pintu dan melihat ruangan itu hanya ada Ratih saja. Ya, gadis itu tengah sibuk memegang buku jurnal dan pulpennya. Dia pasti sedang berlatih untuk lomba besok. Sontak gadis itu menoleh padaku, sepertinya dia mendengar suara langkah kakiku.


"Aku pulang lebih awal. Ada kerusuhan di sana. Saking takutnya, aku berlari sampai sini," ucapku berbohong pada gadis itu dan sepertinya dia percaya dengan apa yang aku katakan.


Kembali dia membuka jurnal dan menulis lagi. Entah apa isinya, itu bukan urusanku. Jika seperti ini, Radja dan Bara akan tenang-tenang saja. Mereka tidak perlu datang untuk mengecek keadaanku. Tentu saja karena aku tidak dalam situasi berbahaya. Justru aku harus meminta maaf pada mereka.


"Ratih, kamu lagi apa?" tanyaku iseng.


"Lagi nulis kerangka novel. Oh ya, kamu udah siap buat lomba besok?" balas Ratih.


Sejujurnya karena sibuk menyerang monster, aku tidak sempat memikirkan itu. Bahkan baru ingat saat masuk ke kamar dan bertemu dengan Ratih. Gawat jika aku lupa jalan cerita untuk lomba besok.

__ADS_1


Segera aku menggelengkan kepala dan mengambil buku serta kertas folio. Mungkin dengan ini aku pun bisa berpura-pura sedang berlatih, jadi jika ada panitia yang mengecek, aku bisa menggunakan alibi ini. Namun, aku tidak mau jika ini hanya pura-pura saja. Harus benar-benar menghapal dan menulis. Besok kan lombanya.


Tidak lama ponselku pun berbunyi. Segera aku merogoh beda tersebut dari saku rok. Tenyata Miss Merry yang menghubungiku. Oh ya ampun, aku baru ingat jika peri itu akan memberitahukan kami sesuatu.


Ternyata peri itu menyuruhku untuk segera naik ke atap sekarang. Radja sudah ada di sana bersama Bara. Saat ini aku tidak mungkin pergi dan membuat Ratih semakin curiga. Maka aku pun membalas pesan bahwa diriku ini akan pergi setelah semua sudah kembali ke hotel. Setelahnya, aku pun membaca kembali isi dari cerita yang sudah aku buat.


Miss Sharron pernah memperingatinya tentang kekuatan yang ada di dalam tubuh ini. Begitupun mempertanyakan pada Radja. Pantaskah dia menggunakan kekuatan yang bukan miliknya? Apa hal itu juga yang akan Miss Merry beritahu pada kami? Kenapa masalah ini semakin rumit saja?!


"Nadira, dalam lima menit, pengawas akan datang. Aku ingin kamu menjawab pertanyaanku dengan jujur atau aku beritahu jika kamu sudah sampai sejak kejadian itu berlangsung," ucap Ratih tiba-tiba.


"Aku tidak paham apa maksudmu, Ratih. Apa yang ingin kamu tanyakan?" balasku agak ragu-ragu.


"Aku sudah menyelidiki orang-orang yang selalu membantu dalam menyelamatkan bumi. Katakan padaku, apa kamu termasuk salah satunya?


"Kamu tahu jika berbohong di saat seperti ini hanya akan membuat mereka curiga. Aku bisa bantu kamu bikin alibi. Ya, selama kamu menjawab ucapanku dengan jujur," jelas Ratih.


Aku meneguk ludah. Bagaimana bisa Ratih menduga-duga soal ini? Aku hanya punya waktu sampai lima menit untuk membungkam mulut gadis itu.


Namun, haruskah aku berkata jujur pada gadis yang baru aku kenal beberapa jam lalu?


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2