
“Hentikan aku mohon,” gumamku pelan. Namun, tidak ada yang berubah.
Cakar besi itu berusaha untuk menahan kuatnya pedangku. Jujur, aku merasa seperti boneka yang sedang dikendalikan oleh seseorang. Tidak bisa bergerak sesuai kehendak sendiri. Aku mengembuskan napas, mencoba lebih tenang dalam menghadapi hal ini.
Tanganku berhenti menyerang, segera aku pun melompat mundur. Kulihat Tiara masih baik-baik saja. Aku harus mencari Radja. Laki-laki menyebalkan itu pasti mencemaskanku, tetapi kenapa sejak tadi aku tidak melihat keberadaannya? Padahal aku bisa merasakan jika Radja ada di sini.
Tiara kembali menyerangku, kali ini dia lebih ganas dari sebelumnya. Aku segera berlari, melompat dan membanting diri ke arah lain demi menghindarinya. Namun, seolah tidak kenal lelah, Tiara tetap menyerang. Aku benar-benar tidak habis pikir. Kembali aku membanting diri ke arah lain, tetapi Tiara membaca pergerakanku hingga cakar besi itu mengoyak lengan kiriku.
“Ugh.”
Darah merembes keluar dari luka tebas, ukiran menyakitkan dari cakar besi Tiara. Anehnya, gadis itu tidak menyerangku lagi. Padahal beberapa menit lalu dia sangat ingin membunuhku. Apa sesuatu membuat gadis itu sadar dan mengingat jika aku temannya? Andaikan itu benar, aku pasti akan memintanya untuk percaya padaku, lalu mengambil tanda di belakang lehernya. Selesai.
Sayangnya itu tidak sesimpel yang aku bayangkan. Jadi aku tetap berjalan mundur, berjaga-jaga jika gadis di hadapanku ini akan menyerang kembali. Meski tidak ingin bergantung dengan Radja, tetapi sekarang aku benar-benar membutuhkan laki-laki menyebalkan itu. Rasa perih dari luka ini semakin menjadi, tenagaku juga sudah hampir habis. Lantas bagaimana aku bisa bertahan dari serangan Tiara?
Aku refleks menutup mata. Mungkin ini salah satu kebodohanku untuk mengobral nyawa. Naif karena mengira Miss Ann membutuhkan aku yang hidup. Mungkin aku yang sekarat pun tidak masalah selama kekuatan itu masih ada di dalamku. Cepat atau lambat aku akan mati. Namun, tidak aku sangka kematian mengenaskan seperti ini yang aku dapatkan. Dibunuh oleh teman—tidak rekan kerja sendiri.
__ADS_1
Bahkan aku belum mengucapkan terima kasih pada Radja, Bizar, Kak Ron dan teman-teman lainnya. Alwi dan Rico juga, kami baru mengenal, tetapi aku sudah membuat repot. Bahkan, mereka turut membantu menyelesaikan masalah kami. Masih banyak yang belum aku lakukan jika sekarang aku benar-benar harus mati. Sungguh. Andai ada satu hari lagi untuk mengucapkan segalanya.
Tuhan memberikanku sebuah kekuatan yang spesial. Hope dan juga penglihatan yang muncul seenaknya. Berulang kali Tuhan selalu membantuku dalam menyelesaikan misi. Menghentikan bahaya atau mencegah sesuatu. Membantu teman-teman dengan penglihatan ini. Seperti bagaimana aku mengetahui dalang di balik pengendali para monster. Mungkin bukan Ratih, tetapi jurnalnya. Mungkin memang Ratih dan jurnal itu sebagai medianya. Sebagaimana pula kekuatan itu yang membuatku tahu jika Tiara dan Ratih berada di gedung ini. Namun, kenapa aku harus selemah ini?
Tepatnya kenapa aku tidak bisa menghentikan Tiara? Padahal gadis itu bergeming di hadapanku. Belum ada niat untuk menyerang. Tidak aku rasakan langkahnya yang semakin dekat. Tiara benar-benar diam di tempatnya. Apa dia sedang berhadapan dengan Radja? Namun tidak terdengar suara adu pedang dan lainnya. Aku jadi ragu. Harapan jika Tiara memang memilih menyerah pun kembali.
“Kai terhubung dengan dunia roh dan kamu membuatku muncul,” ujar seseorang entah dari mana, tetapi aku yakin itu tidak berasal dari pikiranku. “Biar aku beri tahu sesuatu tentang Kai kepadamu.”
Aku bahkan tidak mengenal dia. Buru-buru aku menggeleng, mungkin ini hanyalah khayalanku saja. Perlahan aku membuka mata dan melihat seseorang yang mirip Hana, tetapi wajahnya lebih tegas dan matanya lebih terang. Dia saudara kembar Hana. Mizuki.
“Kamu baru saja datang ke dunia roh dan bertemu dengan Hana. Bagaimana bisa kamu datang ke dunia roh dengan menggunakan Kai? Itu sangat berbahaya. Ya, aku tahu saudaraku juga sama bodohnya denganmu. Jadi aku bisa maklum,” ucap Mizuki sambil memilin rambutnya yang bergelombang.
“Yang mau membunuhmu itu bukan Tiara, tapi Radja,” ucap Mizuki padaku, “jangan salah paham dulu. Aku tahu dari matamu, kamu sangat kaget. Radja juga tidak bermaksud untuk membunuhmu. Di mata Radja, kamu adalah Tiara dan karena hatinya yang kebas, laki-laki itu mudah terpancing oleh ilusi. Sementara yang kamu lihat adalah Radja, bukan Tiara.”
Aku membelalak mendengarkan penuturan Mizuki. Sulit untuk percaya dengan apa yang dikatakannya. Namun, jika aku pikir-pikir mungkin itu ada benarnya. Tiara yang menyerangku sebelumnya selalu menggunakan cakar besi di sebelah kanan. Serangannya mirip seperti serangan Radja. Mungkinkah jika laki-laki itu memang menganggapku sebagai Tiara? Tunggu ... apa karena ilusi itu juga yang membuat tanganku bertindak sendiri?
__ADS_1
Mizuki memiringkan kepalanya, sehingga aku pun berhenti melamun. “Apa ada cara agar aku bisa menyadarkan Radja dari ilusi ini?”
“Ada, tentu saja. Kamu harus melukai dirimu sendiri. Gunakan darah itu dengan kekuatan hope, jika lingkaran merah muncul. Maka gunakanlah pada Radja. Dengan begitu Radja nsa melihatmu sebagai Nadira lagi. Kelebihan lainnya, kamu bisa mengetahui di mana Tiara. Namun, dunia kai tidak sesimpel dunia mimpi. Jika kalian tidak keluar dalam dua puluh menit, kalian semua akan terserap ke dalam dunia roh. Sekarang pergilah. Aku rasa informasi yang aku berikan padamu sudah cukup banyak.”
Mizuki lalu menodongkan telapak tangannya padaku. Aura kebiru-biruan pun muncul dan segera menyerap tubuhku hingga ke atas tanah lagi. Tempat yang sama di mana aku baru saja menutup mata. Tiara—Radja—masih berdiri di sana, dia benar-benar tidak berminat dalam membunuhku. Aku semakin yakin jika orang di hadapanku ini adalah Radja. Bukan Tiara.
Aku pun segera berdiri dan menggunakan pedang untuk menggores permukaan kulit jariku. Perlahan darah pun keluar dan segera aku pun menempelkannya di atas telapak tangan kanan. Perih, tetapi aku tetap melakukannya. Aku harus menyadarkan Radja dan Tiara. Setidaknya keluar dari dunia ini adalah prioritas utama. Aku tidak mau jika kami bertiga mati dan pergi ke dunia roh begitu saja.
Aku tidak tahu bagaimana caranya menggunakan Hope, tetapi aku tetap mencoba untuk memercayai diri sendiri. Meyakinkan diri jika aku bisa melakukannya sendiri. Perlahan sebuah tali merah terbentuk dan terbang. Lama-lama membentuk lingkaran. Cukup terang hingga membuat aku dan Radja pun menutup mata. Ketika aku membuka mata, semuanya menjadi terlihat lebih jelas. Tidak ada Tiara dengan cakar besinya lagi. Di hadapanku berdiri Radja dengan tangan kanannya yang lengkap dengan cakar naga.
“Radja! Syukurlah itu benar-benar kamu,” ucapku seraya menghampiri laki-laki tersebut. Beda denganku yang begitu senang, Radja justru terlihat pucat.
Tentu saja aku menanyakan padanya tentang apa yang terjadi sampai dia terlihat seperti orang yang baru melihat hantu saja. Radja meminta maaf setelah sadar apa yang dia lakukan padaku. Ah, aku jadi ingat luka serangannya. Namun, itu tidak lebih penting dari pada pergi ke dunia roh. Aku pun menjelaskannya pada Radja. Tidak lupa kami mencari keberadaan Tiara. Bagaimana pun hanya gadis itu yang bisa membawa kami keluar.
Meski aku sudah memaafkan, Radja seperti orang yang belum puas saja. Dia berulang kali meminta maaf atas kejadian yang bahkan tidak dia ketahui. Bukan salahnya karena menyerangku. Meski memiliki mata naga, dia tidak bisa menembus pertahanan Kai. Aku sangat wajar, terlebih Mizuki sendiri yang menjelaskannya kepadaku.
__ADS_1
“Lebih baik kita mencari cara untuk menemukan Tiara. Dunia buatannya lebih menyulitkan. Dia memang sangat ahli dalam bersembunyi,” ucapku. “Mizuki bilang kita bakal ketemu dengannya jika aku pakai kekuatan itu.”
“Kekuatan? Kekuatan apa lagi, Dira? Dan ... kapan pula kamu berbicara dengan Mizuki?”