Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 93. Tidak Terduga


__ADS_3

“Ratih, aku punya dua hal yang perlu kamu ketahui. Pertama, aku tidak membunuh Azumi. Gadis itu masih hidup dan menjalani rehabilitasi. Percayalah padaku. Kedua, buku jurnal ini menghancurkan segalanya dan jika pun Azumi mati, tidak akan ada cara untuk mengembalikannya,” jelasku seraya menahan gadis yang memberontak tersebut.


Ratih berhenti bergerak. Tatapannya tetap tajam. Dia memang sangat mencurigakan sejak awal tetapi aku baru menyadarinya sekarang. Bahkan aku cukup terkejut akan kedekatannya dengan Azumi. Ralat, keluarga Azumi. Ini informasi baru. Aku yakin jika Bizar tidak pernah bicara apa pun soal itu. Tidak lama aku mendengar suara notifikasi. Dengan menggenggam jurnal itu aku pun menyalakan fitur pada jam. Namun, mataku tidak lepas dari posisi Ratih.


Aku tidak tahu apa yang Ratih rencanakan sekarang, tetapi aku tidak ingin mengalihkan pandanganku pada gadis tersebut. Bukan hanya itu, jika dia kabur maka semuanya akan menjadi lebih merepotkan. Kami sudah mengorbankan begitu banyak hal demi kedamaian, bahkan banyak orang tengah berduka karena hal ini. Aku sungguh tidak bisa membiarkan hal ini terus berjalan. Miss Ann salah, motifnya salah dan aku masih tidak mengerti tujuannya.


“Kalian semua baik-baik saja? Aku baru bisa menembus pertahanannya. Lawan yang baru kalian hadapi dan memiliki kekuatan receive itu punya satu kelemahan. Namun, aku rasa ini bukan waktunya untuk menganalisa—meski aku ingin. Duplikasi yang menjadi lawan Afly adalah orang sebenarnya. Aku kesulitan terhubung dengan dia, sepertinya musuh sudah tahu dan memblokir akses. Jadi, aku ingin Tiara pergi menyelamatkan Afly.


“Radja, Nadira, kalian mendengarku? Hei, kenapa Nadira tidak membalas juga? Sudahlah. Kamu juga jangan khawatir begitu, Ja. Dia baik-baik saja dan segeralah menyusulnya. Nadira, kamu belum pulih betul jadi tolong jangan gegabah dalam bertindak. Sekarang kamu di mana biar Radja menyusul kamu,” ucap Bizar panjang lebar.


Tanpa melihat pada layar aku pun menjawabnya; aku tetap mengawasi Ratih. “Aku bersama target di ruangan sebelumnya. Sebelum itu, Bizar bisakah kamu membantuku untuk menjelaskan keadaan Azumi pada Ratih? Sepertinya dia sangat percaya bahwa aku membunuh sahabatnya.”


Aku melihat ekspresi gadis itu sangat tidak senang dengan apa yang kuucapkan. Namun, aku tetap menggeser layar tersebut ke arah Ratih. Memperlihatkannya wajah Bizar, lalu mengaktifkan mode panggilan Video agar mereka bisa bertatap muka. Sementara aku tetap memandangi Ratih. Tidak aku biarkan dia lepas dari jangkauanku meski itu hanya sedetik.


“Apa—aku tidak memahami maksudnya. Seorang Nadira membunuh? Jangan bercanda! Dengar Ratih, kami semua memang pernah berhadapan dengan Azumi, tetapi tidak ada niat untuk membunuhnya. Mungkin yang kamu maksud adalah Azumi berusaha membunuh teman kami dan orangnya ada di hadapanmu. Saat ini keadaan sahabatmu itu bisa dikatakan baik-baik saja. Jadi tidak perlu khawatir, rehabilitasinya sukses besar, sebentar,” jelas Bizar.

__ADS_1


Tidak lama layar itu membelah menjadi dua, kini ada wajah Bizar dan Radja, tetapi laki-laki dengan sayap naga itu tengah terburu-buru. Dia pasti menyusulku ke mari. Dia lalu berucap, “Aku enggak punya banyak waktu buat ngejelasin. Tolong, jangan dengarkan berita palsu. Nadira sangat lemah bahkan dia tidak bisa melawan musuh dengan tangannya sendiri. Jadi bagaimana bisa dia menghentikan Azumi lalu membunuhnya?”


“Kalian semua pembohong. Ann benar. Ann benar,” gumam gadis itu atau mungkin meracau. Entahlah, aku tidak yakin jika dia mengatakan itu karena keinginannya sendiri.


Tidak lama aku bisa melihat ada air yang mengalir di pipinya. Gadis itu terisak, lalu berjongkok dan menutupi wajah pada lututnya. Segera aku pun berpamitan pada Bizar dan Radja setelah mengatakan alasannya. Melihat Ratih kacau, aku jadi paham perasaannya.


Ini sama seperti aku kehilangan kedua orangtuaku. Mereka mati di hadapanku dengan sebuah omong kosong. Tepatnya ada orang yang mengendalikan Nadia saat itu. Tentu aku sudah memaafkan gadis itu. Meski rasa sakit akan kehilangan orang tua masih terasa jelas di dalam hatiku. Perlahan aku pun mendekati gadis tersebut.


Aku menyimpan jurnal itu pada tas pinggang. Lalu, aku pun mengulurkan tangan ke arahnya. Rasanya tidak tega jika aku membiarkan gadis itu terluka sendirian. Sayangnya, dia tidak mau menerima bantuan dan makin memeluk diri sendiri. Mungkin perlakukan ini tidak bisa membantunya, jadi aku pun mencoba untuk menyamakan posisi dengannya.


“Tapi kenapa Ann bilang ... dia bilang kamu yang membunuhnya. Sejak awal aku sudah merancang ini semua dalam buku. Dengan bantuannya, aku membuat semua kekacauan ini. Tidak hanya monster tapi ....


“Aku juga merencanakan lomba yang seharusnya diadakan lebih awal justru berantakan. Ann menggunakan panitia sebagai pion agar aku bisa bertindak leluasa. Dia juga yang membuatku menulis semuanya sampai kamu terbunuh. Namun, kenapa ... kenapa kamu tidak mengikuti akhir dari cerita yang aku buat? Padahal sebelumnya sudah sangat rapi dan berjalan lancar,” racau Ratih dan terkadang suaranya tidak dapat terdengar jelas karena tangisan.


Aku mengembuskan napas. Apa gunanya sebuah cerita tanpa kejutan? Mungkin Tuhan masih menolakku untuk kembali ke rumah-Nya. Hana dan Mizuki juga menolakku untuk datang ke dunia roh lebih dulu. Mereka ingin aku mengubah keadaan dunia. Termasuk Tuhan yang memberikanku takdir untuk terus berjuang di bumi, tidak peduli jika aku hanyalah seorang gadis lemah atau bukan. Tuhan sudah berkehendak begitu.

__ADS_1


Tiba-tiba aku dapat mendengar suara ledakan yang cukup besar. Aku segera memeluk Ratih. Melindunginya dari ledakan tersebut. Memang bisa aku rasakan jika tanah di sekitar mulai bergetar dan ada beberapa benda yang jatuh. Ini bahaya. Ratih bisa dalam bahaya. Gadis ini bukan lawan kuat seperti para duplikasi itu. Aku harus bisa mengeluarkan dia dari gedung.


Pertanyaannya, bagaimana cara kami keluar dari gedung? Ratih terlihat ketakutan. Dia memang manusia biasa, tanpa kekuatan—selama ini dia pasat mengandalkan kekuatan pada buku jurnal ini. Sempurna ketika kekuatan Faizal dan Tiara digabungkan. Dia jadi merasa lebih tenang. Namun, ketika benda itu itu hilang, dia jadi takut.


“Ratih! Jangan percaya padanya. Ingat apa ucapan Ann. Gadis itu emang pandai berbohong, begitu pula teman-temannya. Ingatlah apa yang sudah Azumi dan keluarganya membantu keluargamu. Bahkan dia juga yang membuat keluargamu aman ketika Azumi tengah meneror bumi,” ucap orang di belakangku. Segera aku pun melepaskan pelukan dan melihat siapa yang baru saja mengucapkan hal itu. Tidak aku sangka. Laki-laki si penduplikat.


Ya, si penduplikat itu berdiri di ambang pintu yang sudah hancur. Dari ujung sana aku bisa melihat sebuah sayap berwarna hitam. Tidak mungkin, itu Radja! Aku sangat berharap jika apa yang kulihat itu salah, tetapi laki-laki itu menggeret sayap dan orangnya masuk. Seketika jantungku berdetak dengan sangat kencang dan terasa kebas bersamaan.


Radja terluka di mana-mana. Lukanya begitu parah dan harus segera dirawat. Aku pun berdiri di hadapan Ratih. Tidak akan aku biarkan laki-laki ini mencuci otak Ratih lagi. Tidak selama aku masih berdiri dan mencegah hal itu. Jantungku berdebar, tetapi bukan berarti aku harus diam saja seperti ini.


“Apa yang sudah kamu lakukan pada sahabatku?”


 


 

__ADS_1


__ADS_2