
Sampai akhirnya pasir itu turun, aku pun melihat ke segala arah untuk menyimpan bongkahan ini. Aku arahkan benda tersebut ke samping dan ditopng oleh bangunan lain. Setelahnya, aku hilangkan tanaman rambat dan mulai melihat pada jam. Di sana keberadaan Azumi tidak jauh dariku, bahkan sebenarnya ada di seberang sana. Namun, aku tidak melihat apa pun.
Tunggu dulu!
Azumi mungkin berada di bawah tanah. Dia sadar pergerakan melalui getaran tanah. Aku melirik pada Radja, mengarahkannya pada tanah yang mengeluarkan pasir. Laki-laki itu pun mengeluarkan pedangnya. Memutar ujung besi dan mengumpulkan elemen kegelapan di ujungnya. Dalam satu serangan dan tanpa keraguan, Radja menyerang tanah dari atas.
Sebelum kekuatan kegelapanitu terserap ke bawah tanah, Radja segera menggantinya dengan api hitam. Itu membuat tanah menjadi panas dan lawan pun segera keluar dari tempatnya. Azumi terbang menggunakan pasirnya dan melirik ke segala arah. Aku tidak akan membiarkannya membuat kekacauan lainnya.
“Hentikan Azumi! Jangan sakiti orang-orang yang tidak bersalah,” ucapku padanya.
Aku melihat Azumi menoleh padaku. Dia arahkan pasir untuk menyerangku tetapi aku lebih dahulu untuk beranjak dari tempat. Segera aku memunculkan pandah yang terbuat dari batang pohon dililit oleh tanaman rambat. Aku segera menarik tali busur, memunculkan sebuah anak panas es. Segera aku lontarkan panah itu pada Azumi. Tidak tahu tepat atau tidak yang terpenting bisa mencegah kekuatannya. Sesuai dugaan, gadis itu pun menahan anak panahku dengan pasirnya.
Aku pun mengepalkan tangan, membuat panah itu pecah dan membekukan pasir miliknya. Itu membuat Azumi melompat tinggi dan memunculkan tongkat sihirnya. Dia segera menyerang es milikku. “Nadira, kamu hanya tahu cara untuk menghancurkan kebahagiaan seseorang. Setelah ini aku akan menghancurkan dirimu.”
“Bukankah itu yang selalu kamu lakukan padaku, Azumi? Hentikan semua ini. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari menghancurkan semua ini,” balasku padanya. Azumi tidak terlihat senang dengan apa yang aku katakan.
“NADIRA!” teriak Azumi yang lalu melontarkan kekuatan gelapnya ke arahku. Aku tidak akan sempat menghindar, maka aku pun menaikkan air dari tanah untuk ke atas.
Radja tiba-tiba sudah di hadapanku dan menangkis serangan Azumi menggunakan sayapnya. Aku tidak kuasa melihat apa yang dia lakukan, tetapi Radja tersenyum. Sikapnya seolah menunjukkan semuanya baik-baik saja. Setelahnya dia berbalik dan mengangkat kembali pedangnya. Aku segera menyusulnya dan mengganti panah dengan pedang khusus.
__ADS_1
Wajah Azumi begitu merah dan matanya melotot ke arahku. Sepertinya dia benar-benar marah besar padaku. Meski begitu, aku tidak akan goyah. Niat dan tujuanku masih sama, menyadarkan gadis itu. Akhirnya aku melirik sekilas pada Radja dan mengangguk. Hitungan ketiga, kami mulai berlari, menghindar dari serangan-serangan yang Azumi lontarkan.
Aku seger berlari dan menaiki salah satu gedung, lalu melontarkan diri untuk mencapai gadis tersebut. Sayang jaraknya masih terlalu jauh, aku pun menggunakan air dan membekukannya. Secepat air itu beku, aku segera berdiri di atasnya dan kembali melompat. Sampai akhirnya aku berada di dekat Azumi dan segera mengunci pergerakan dari gadis tersebut.
“Sudah cukup, Azumi! Hentikan, tarik kembali pasukanmu. Mereka ada orang-orang yang tidak berselah,” ucapku selagi menahan pergerakaannya. Di hadapan kami sudah ada Radja. Dia mengawasi Azumi sambil memberi kabar pada Bizar.
“Lepaskan aku sialan! Aku akan menguasai dunia ini. Akan kubunuh kalian semua!” ancam Azumi. Namun aku tetap mengunci pergerakan gadis tersebut. Sampai, tiba-tiba Azumi tidak lagi melawan. “Nadira, kamu akan tetap menahanku atau kamu akan menyelamatkan teman-temanmu?”
Dahiku berkerut, tidak mengerti apa maksud dari ucapan Azumi padaku. Tepat setelahnya suara notifikasi dapat aku lihat. Namun, tanganku sibuk menahan tubuh Azumi, tidak mungkin bagiku melepaskannya. Akhirnya aku melirik pada Radja.
“Gawat! Demina dam Kak Ron dalam bahaya dan ada dua orang yang belum dievakuasi. Candra sedang dibantu oleh Faizal. Bara dan Nadia bisa hilang kendali dan masih banyak yag harus mereka selamatkan. Afly sudah berusaha menahan dengan cahayanya, tetapi aku takut itu malah membuat dia sangat kelelahan. Nadira, Radja, mereka butuh bantuan kita! Cepatlah, aku akan ke TKP!” ucap Bizar dari jam milik Radja.
Aku tidak merasakan pergerakan Azumi, justru yang aku tahu tawanya semakin menggelegar. “Ini permainan yang cocok dengan kalian. Pasukan tengkorak akan menjadi ganda dalam dua menit. Jumlah di tiap tempat teman kalian sekitar dua ribu pasukan, belum ditambah oleh pasukan manusia milikku. Menurut kalian berapa lama mereka akan bertahan dengan kelipatan itu?”
Rasanya aku mual mendengar soal teka-teki yang dibalut dengan soal matematika deret geometri. Aku tidak bisa berpikir dalam situasi ini, tetapi melihat eskpresi Radja yang membelalak, sepertinya otakku mulai memproses.
“Lepaskan, Dira. Lepaskan Azumi,” ucap Radja lirih.
Aku perlahan mengendurkan pegangan pada Azumi. Teman-teman dalam bahaya, kami harus menyelamatkannya. Mungkin Bizar sudah sampai, tetapi mengingat pasukan Azumi yang berlipat ganda pasti dia pun akan kesulitan.
__ADS_1
“Jangan lepaskan Azumi! Kalian harus menyelesaikan semuanya bukan?” Teriakan itu membuat aku kembali mempererar pegangan.
Azumi berdecak sebal. Di ujung sana kami melihat teman-teman kami yang sebelumnya masih diterapi. Mereka berdiri dengan baju tempur mereka. Salah satu gadis mendekati kami dengan kecepatannya yang lebih cepat dibandingkan yang lainnya. “Percayakan mereka pada kami. Kalian fokuslah melawan Azumi.
“Tiara,” bisikku.
Tiara hanya tersenyum ke arahku yang lalu kembali pergi bersama yang lain. Aku dan Radja kembali fokus pada Azumi. Rasanya kami cukup lega karena kali ini bantuan datang. Radja menyingkir lebih dulu untuk mengabari Bizar. Aku tetep mengeratkan pegangan sambil meminta gadis itu untuk menghentikan semua kegilaan ini.
Setelah kepergian Radja, aku mulai merasa Azumi memberontak, maka aku pun menahan tuuhnya dengan lebih kuat lagi. Sayangnya dia tiba-tiba mengeluarkan tongkat dan membuat pasir itu jatuh ke bawah. Aku pun ikut terbawa jatuh. Hanya saja, tanpa sadar aku melepaskan pegangannya sehingga gadis itu kembali terbang menggunakan pasirnya.
“Kamu terlalu naif, Nadira. Terlalu naif. Aku Akan membuatmu sadar,” ucap Azumi selagi dia mengumpulkan kekuatan melalui tongkatnya.
Aku segera berdiri dan membuat perisai dengan menggunakan air untuk menahan serangannya. Tepat setelah itu kekuatan Azumi terarah kepadaku. Aku menelan ludah tidak percaya ketika air yang kupakai terbelah. Kekuatan gelap itu benar-benar akan menelanku habis-habisan.
Namun, di hadapanku tiba-tiba berdiri sebuah pedang. Caladbolg. Pedang itu bersinar biru dan membelah kekuatan gelap yang mengarah padaku. Aku tidak tahu dari mana pedang itu muncul. Aku bersyukur karena kali ini masih diselamatkan. Ini bukan waktunya aku menyerah.
Pak Hisam memercayaiku maka aku dan Radja harus bisa menyadarkan Azumi. Segera aku mendekati pedang tersebut dan memegangnya.
__ADS_1