Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 03. Musuh Dari Masa Lalu


__ADS_3

“Hentikan sampai di sana, Michio!”


Suara yang begitu familier didengar oleh gendang telingaku, ditangkap oleh otak dan memicu memori lama. Namun, kebekuan ini menghentikan semuanya. Mataku terlalu kabur untuk melihat wajah gadis yang membawa tongkat atau entahlah apa itu. Namun, firasatku berkata aku mengenal sosok tersebut.


Dingin dan rasa sakit beranjak pergi dari tubuhku secara perlahan-lahan. Kakiku kembali menapaki tanah, tetapi tidak mampu menopang tubuh. Akhirnya aku bertumpu melalui kedua lutut. Batuk turut keluar dari mulut sebelum aku bisa bernapas dengan lega.


“Azumi?!” seru tiga suara laki-laki yang aku kira adalah Bizar, Radja dan Michio. Memangnya siapa lagi kalau bukan mereka?


“Wah, tidak aku sangka kalian masih mampu menapaki diri di bumi setelah mengorbankan teman kalian,” sindir Azumi. Aku sontak melihatnya tajam.


Aku ingat, beberapa bulan lalu ketika kami melawannya. Dengan kekuatan penuh, dia berhasil dilumpuhkan. Namun, dari sebelas kesatria hanya tersisa tiga orang saja. Mereka tidak lain adalah aku, Bizar dan Radja. Rekan kami yang lain mengidap trauma berat hingga ingatan mereka tentang kesatria pun menghilang.


Aku mengepalkan tangan, panas di pelupuk mata ketika mengingat hal tersebut. Azumi ... musuh lama kami


kembali hadir dengan tampilan baru. Seringainya jatuh ke arahku, dia licik. Ujung jari Azumi memainkan anak-anak rambut merah ikalnya, sementara satu tangannya lagi memegang tongkat panjang.


Seandainya aku bisa menertawakan gadis itu, tetapi terlalu beresiko. Jauh dalam lubuk hati ada pengharapan agar Azumi hanya berubah penampilan. Bahkan jika bisa, sekalian saja dengan sikap menyebalkannya! Sayangnya firasatku tidak berkata begitu ketika dia menatapku dengan seringainya.


“Azumi ...,” desisku.


“Oh halo, Wadah Reinkarnasi!” sapa lembutnya yang membuat hatiku bergejolak. Dia lalu kembali melirik Michio. “Sudah kubilang kamu hanya boleh menghancurkan dua laki-laki itu.”


Michio segera berlutut. “Maafkan saya, Ratu. Namun, gadis itu bukankah incaran Anda juga?”


“Benar, dia aset berharga kita, Michio,” balas Azumi.


Aku ingin menyangkal. Namun, kekuatan yang hinggap dalam tubuhku ini sudah menyatu jadi satu. Mau tidak mau aku haru tetap mengakuinya. Roh yang menitipkannya padaku sangat memercayai kekuatan ini, maka aku tidak akan menyerah sampai di sini!


Aku bangkit dibantu oleh Bizar dan Radja. Kulihat keduanya sudah siap sedia untuk melawan, tetapi ini percuma saja. Bahkan dua anak laki-laki itu lebih tahu. Bahwa menyerang Azumi saat ini hanyalah bunuh diri. Bagaimana ini? Aku tidak tahu harus melakukan apa.


Kudengar Azumi kembali berucap, “Jika kita membunuhnya, kekuatan terbesar yang aku inginkan akan hilang selamanya.”


“Maaf karena saya tidak tahu,” ucap Michio, tidak lama Azumi menggoyangkan tongkat dan membawa tubuh laki-laki tersebut menjauh. Ralat, tepatnya dia terhempas pada tanah.


“Kita harus mencari cara membunuh makhluk yang hidup di dalamnya. Kamu paham? Tidak kamu memang harus paham. Sekarang antar aku pulang!” titah Azumi padanya.


Tunggu! Pulang? Aku memandang Bizar yang sedang menganalisa, lalu ke arah Radja yang juga sama mendekatkan alisnya. Michio tidak berucap apa pun, hanya ada kabut tebal dan suara sayap yang membentang. Namun, kabut ini terlalu kebal hingga tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan di depan sana.


Tidak menunggu lama, kabut menghilang. Aku bisa melihat Radja dan Bizar kembali. Namun, lawan kami sudah tidak ada di manapun.


“Sial,” ucap Radja kasar. Dia mengacak-acak rambutnya lalu mengembuskan napas kesalnya.


“Su dahlah, Ja. Jika ini permainan, kamu tahu sendiri. Mereka bukan musuh dengan level rendah,” hibur


Bizar, “aku sudah mendapatkan informasinya.”


Lekas aku pun bertanya meski enggan, “Lalu sekarang kita pulang?”


“Tidak, kalian harus membantuku untuk menangani warga. Hari ini energiku terlalu banyak terkuras. Jadi untuk membuat manusia lupa akan hal ini ... sepertinya tidak bisa,” jelas Bizar kepada kami.


Aku membelalak. Memang Bizar pun manusia pada umumnya, tidak selamanya dia mampu menghilangkan memori buruk tentang perlawanan Azumi. Bahkan jika dipikir-pikir kami bertiga kecolongan. Beberapa kali menyerukan nama. Bagaimana jika Michio mendengar dan bahkan menyebarkannya?


“Nadira, gak usah dipikirin gitu deh, Dir. Sekarang ayo kita selesaikan, sebelum para wartawan datang hanya untuk meliput,” tegur Radja. Ah benar! Kami harus cepat sebelum banyak yang meliputi dan mengetahui identitas kami.


“Ayo, ayo! Kita harus cepat!” Aku menarik keduanya kembali ke pemukiman warga.


--------------------------------------------------


“Aku pikir Azumi belum sesempurna itu. Dari hasil analisa, kekuatannya masih disegel,” jelas Bizar padaku dan Radja.


Bizar berdiri di depan menampilkan presentasinya tentang musuh lama kami, Azumi. Aku dan Radja memilih


duduk di ruang penuh buku-buku tua yang tidak sedikit pun dijamah. Rak cokelat berada di belakang aku dan Radja, entah isinya buku apa saja. Namun, aku yakin tidak ada buku novel apa pun untuk aku baca.


“Hmm ....” Radja mengambil sepotong kue kering di atas meja yang diapit oleh kami. Aku pun turut


mengikutinya dengan meminum teh hijau.

__ADS_1


“Kalian ...,” ucap Bizar lirih, “enak ya makannya? Aku di sini ngobrol sama siapa?”


Aku meletakkan kembali cangkir tehnya. Lalu melihat ke arahnya. “Kamu ngobrol sama otak kami aja.”


“Buang-buang tenaga kalau aku harus pakai telepati. Oke, Dira, apa pendapatmu?” ucapnya yang langsung melemparkan pertanyaan. Serasa sedang mendapatkan kuis dadakan dan sekarang aku gugup.


Radja juga baru selesai memakan kue keringnya. “Kalian ingat kalau Azumi mengumpulkan pasukan baru? Aku


rasa Michio salah satunya. Tapi yang jadi pertanyaan, dari mana dia punya kekuatan?”


“Apa dia reinkarnasi juga?” timpalku.


Bizar refleks mengetik dengan cepat mealui monitor transparannya. Mengambil data paling lama. Sebuah


balon percakapan muncul di layar presentasi. Bertuliskan ‘DATA DITEMUKAN’.


Tampilan berikutnya merupakan tulisan abstrak yang belum bisa aku baca. Bagi Bizar dan Radja membaca tulisan aneh itu perkara mudah. Ketimbang senewen melihat tulisan, aku lebih baik memerhatikan foto Michio. Wajah pucat kaku yang diambil ketika kami bertarung. Matanya yang tiba-tiba berubah dan auranya yang begitu kelam.


Kenapa? Bagaimana bisa?


“Informasi yang dump,” ucap Bizar.


Aku membalasnya, “Sampah?”


“Ya,” lanjut Radja, “dia tidak penting bagi sejarah. Aku tidak tahu jika di buku harian Hana ada atau tidak.”


Kami serempak mengembuskan napas. Benar-benar tidak ada celah untuk mengetahui informasi tentangnya. Membuka buku harian Hana terlalu lama, karena tiap halaman terbuka secara acak. Jika beruntung kami bisa menemukan tetang Michio. Namun, melakukan itu hanya membuang-buang waktu.


Radja kembali berbicara, “Saat ini, yang kita tahu hanyalah Michio. Azumi memanfaatkannya untuk melawan kita agar masa pemulihannya lebih cepat.”


“Melihat pertempuran kalian, tentu Michio bukan tandingan kita. Dia terlalu hebat,” jelas Bizar, “tim ini hanya punya Nadira, penyerang jarak jauh. Radja, penyerang jarak dekat. Sementara aku hanya support.”


“Mau tidak mau, kita semua harus keluar dari zona aman. Bizar, kamu harus belajar sedikit demi sedikit menjadi penyerang. Kita tidak tahu kapan mereka akn menyerang lagi. Sudah pasti tidak akan lama lagi.


“Dira, kekuranganmu ada di fisik. Aku akan mencoba melatihmu secara bertahan untuk meningkatkan stamina


serta mengembangkan kekuatanmu,” balas Radja yang memikirkan jalan terbaik.


Miss Merry dan Miss Ann tidak akan mengizinkan aku.”


“Oh? Ayo kita ke sana,” ajak Radja padaku.


Dan dia benar-benar melakukannya. Radja menarikku pergi ke ruangan para peri. Dari luar saja aku sudah mendengar beberapa kali namaku disebut. Ini mungkin menyangkut tentang aku yang berontak dan pergi ke bumi mengejar laki-laki menyebalkan. Tapi memang dilihat dari mana pun aku yang salah, tidak mungkin aku lontarkan kesalahan ini pada Radja.


Ayolah Dira! Kamu harus bisa mengatasi kelabilanmu ini.


Aku menahan tubuh Radja. Tidak-tidak, kami tidak boleh ke sana. Dia lalu menatapku bingung, sama


dengan diriku yang tengah mencari alasan. Untuk hari ini saja, Miss Ann dan Miss Merry jangan ada di pandanganku dulu.


“Kamu kenapa?”


“Bizar ketinggalan.” Aku berkilah pada Radja yang tetap tidak mudah percaya. Aku lupa, laki-laki


menyebalkan ini memang sulit untuk dibohongi.


“Dia sejak awal memang gak mau ikut. Aku aja cukup kok buat meyakinkan mereka,” ucapnya.


“Ugh, mengertilah, Ja!”


Radja baru saja akan membuka mulut, tetapi pintu ruangan terbuka. Tampaklah seorang peri dengan


rambut berkepang dengan warna menyerupai kuit jeruk. Tidak, tidak. Kenapa hari miss killer yang keluar? Seakan tidak cukup melihatku, dia kini berkacak pinggang.


“Nadira, kamu melanggar perintah,” ucap Miss Merry. Aku lebih suka gaya manuasianya. Menggunakan kacamata melingkar seperti Harry Potter, tetapi di dunia peri dia tidak terlihat minus.


Aku menunduk dan hanya bisa memainkan jari-jemari. Miss Merry sangat sulit aku bantah. Apa yang

__ADS_1


diucapkannya harus aku lakukan, dia terlalu tegas agak keras. Berkebalikan dengan Miss Ann.


“Bagaimana jika pingsan kamu itu kembali? Atau lebih parahnya kamu tidak dapat bergerak? Ayolah Dira,


pikirkan dirimu sendiri sebelum menolong orang banyak,” omelnya panjang lebar. Aku hanya bisa mengembungkan pipi dan meniup anak-anak rambut pada poni yang menutupi mata.


“Aku paham betul kondisi tubuhku. Tapi, Miss, tolong mengerti juga!” ucapku memberontak.


Miss Merry geleng-geleng. Kedua tangan dia lipat di atas dada. Mata semerah api itu menatapku dengan


amarah, oh bisa saja sekarang warnanya berubah jadi biru agar lebih panas. Miss Merry mengepakkan sayapnya, dia terbang ke arahku. Menghapus jarak panjang di antara kami.


Aku dapat menghidu parfum vanila dari tubuhnya. Wangi yang dia pakai tiap menjadi manusia, mungkin


terbawa juga sampai sini. Jika dilihat dekat, alis Miss Merry membentuk kurva ke bawah. Dia khawatir?


“Aku tidak melarangmu, Dira. Tapi aku hanya menunda kamu turun ke perang sampai kondisi tubuhmu


membaik,” jelas Miss Merry.


Aku melirik ke samping, Radja bergeming di tempatnya. Hei, tadi yang mau membantuku itu siapa ya?


Lama-lama aku jadi kesal sendiri.


“Miss, Dira memang salah. Namun, tanpanya aku mungkin tidak ada di sini lagi,” ucap Radja. Miss Merry sontak menoleh padanya dengan tatapan heran, “aku bertarung dengan pasukan baru Azumi, dia nyaris membunuhku.”


Aku pikir, bisa saja Bizar menyelamatkan Radja dengan cepat. Namun, aku mengunci pergerakkannya. Oke, bertambah kembali kesalahan yang aku perbuat. Diam-diam aku mengembuskan napas sepelan mungkin agar mereka tidak mendengarnya.


Radja menjelaskan detail ketika aku datang dan meyerukan namanya. Lalu menjelaskan tentang Michio, terakhir Azumi. Sayangnya, ekspresi Miss Merry tidak berubah sedikit pun. Dia hanya memandang lurus ke depan, fokus dengan apa yang laki-laki menyebalkan itu katakan.


“Lalu apa rencanamu, Radja? Kalian hanya bertiga, dua karena Nadira masih sakit,” balas Miss Merry.


“Kami akan merotasi kekuatan. Bizar akan berlatih sebagai penyerang, aku rasa Miss bisa membantunya. Sedangkan Nadira butuh meningkatkan staminanya, aku sendiri yang akan mengajari dia,” jelas Radja dengan percaya diri.


Miss Merry bergeming sejenak. Dia sibuk mencari-cari kebohongan melalui mata Radja. Aku bisa tahu ketika melihat ekspresi Miss Merry yang menegang. Barulah dia menjawab, “baiklah aku menyetujui saranmu. Tidak perlu bertanya pada Ann. Dia dan aku satu suara.”


“Sungguh Miss mengizinkan aku?” tanyaku ragu.


Seharusnya mulutku tidak mengucapkan apa-apa. Kini tatapan tajamnya mengarah padaku. Mulut dengan


sekantong penuh cabai itu menyembur ke hati. “Nadira, pergi ke kamarmu. Aku harus memeriksa keadanmu.”


---------------------------------------------------------------------------------------------


“Dira, kamu tahu aku kesal dengan argumenmu.” Aku meneguk ludah. Meski lupa apa yang aku ucapkan,


Miss Merry terlihat sangar sekarang.


“Maaf, Miss. Aku hanya tidak suka menjadi burung dalam sangkar,” balasku dengan lirih.


“Kasar sekali. Jangan pikir karena kamu dan kami dekat, norma-norma yang berlaku di duniamu


menghilang!” bentak Miss Merry. Aku menunduk, lagi-lagi salah bicara. “ Dira, kamu harus tahu kami tidak mengurungmu seperti burung. Hal yang kami lakukan sekarang itu demi kamu.”


Tiap orang memilliki cara yang berbeda untuk menggambarkan kasih sayang. Aku paham, sangat paham. Meski Miss Merry menatapku seolah musuh lamanya, tetap tersorot kasih sayang pada tiap ucapannya. Aku tidak suka dididik sekeras ini, memang siapa yang suka dimarahi tiap hari?


Miss Merry mengulurkan tangan, bersamaan cahaya hijau muncul dari tangannya. Kehangatan itu meresap ke


dalam tubuhku. Ada beberapa bagian yang sakit, terutama pada bahu, lengan dan leherku. Miss Merry sadar akan ketiga titik itu, tetapi entah mengapa tangannya menjauh.


“Luka-luka ini tidak parah. Hanya saja yang terluka itu kamu, Dira. Luka senormal apa pun akan parah selama kamu belum ada di kondisi normal. Sekarang kamu harus berbaring di tempat tidur. Aku akan mengobatimu.” Aku mengangguk.


Selagi Miss Merry merapalkan mantra. Aku berjalan ke kasur. Saksi bisu tiap kali Miss Merry mengobatiku. Aku tidak pernah tahu bagaimana proses pengobatannya, tetapi ketika bangun aku harus siap merasakan pegal yang berlalut.


Mata Miss Merry tertutupi dengan silver. Kerlap-kerlip keluar dari tangannya. Tidak sehangat sebelumnya, bahkan itu sangat dingin ketika menyentuh bagian permukaan kulitku tanpa sengaja. Kedua tanya Miss Merry mengarahkan sihir kerlap-kerlip menutupi mataku. Pandanganku kembali berkunang-kunang. Semakin lama semakin tertutup, semakin dingin pula aku rasakan.


Namun apa ini? Kenapa aku kembali menghidu aroma laut? Suara ombak riak saling beradu jadi satu.

__ADS_1


Tidak lama aku dengar Miss Merry merapalkan mantra, “Esquid.”


Mataku benar-benar terpejam dan semua indra yang kumiliki pun turut beristirahat.


__ADS_2