
"Jadi kamu mengira aku jatuh dari ketinggian lagi, Dira? Wah, aku baru tahu seberapa parnonya kamu," ejek laki-laki menyebalkan yang tengah merebahkan diri di atas kasur.
Aku sudah siap mengepalkan tangan jika saja Kak Ron tidak berada di sampingku. Dia terdiam, menunggu orang lainnya. Setelah kulihat Radja terjatuh, Bizar selesai memadamkan api dan lalu membuka portal ke Twins. Tidak aku sangka jika laki-laki menyebalkan itu sudah sampai di Twins lebih dulu dengan berbagai luka di seluruh lengan. Bahkan bajunya pun tidak lagi berbentuk.
Radja menyibak selimut menjauh dari tubuhnya. Dia duduk di tepi kasur dengan mata yang menatap pada Kak Ron. "Aku kira Kakak datang lusa."
"Aku sudah memberitahu Miss Ann, ya mungkin dia tidak membaca emailku. Tahu-tahu menginjak permukaan aku disambut dengan tidak menyenangan seperti ini," tutur Kak Ron.
"Kami sendiri terkejut. Belakangan Azumi lebih agresif dalam penyerangan," jelas Radja.
Aku mengangguk setuju padanya. "Ditambah dia menjadikan manusia-manusia sebagai pasukan. Seperti yang Kakak lihat tadi."
Kak Ron bungkam. Harusnya aku dan Radja bisa menjelaskannya lebih baik, tetapi rasa khawatirku juga jatuh pada Bizar dan Nadia. Dua orang itu tengah merebahkan diri di kamar masing-masing. Bizar mungkin dirawat oleh para robotnya, sedangkan Nadia sendirian. Meski tidak ada luka, gadis itu bisa dikuasai emosinya yang tidak stabil.
Aku harus segera menemukan pedang-pedang itu. Semakin menunda, aku hanya membuat Nadia terluka lebih dalam. Kehilangan akal sehatnya dan hidup dalam bayang-bayang ketakukan. Tidak hanya gadis berelemen api itu saja, tetapi Bara dan Afly juga. Namun, aku tidak mengetahui lokasi pedang-pedang itu berada.
"Dira, kamu melamun?" tanya Kak Ron tiba-tiba setelah aku sadar dia sedang memegang pundakku.
Aku menggeleng lemah, belum sedikit pun aku menceritakan tentang Nadia. Tidak mungkin aku menjelaskan tentang pedang-pedang itu. Berniat bodoh hanya membawaku ke posisi yang tidak menguntungkan. Bisa-bisa Kak Ron menyuruhku untuk tinggal bersama dengannya di Australia.
"Kamu melamun cukup lama. Aku paham kenapa kamu membawa Nadia ke sini sekarang," ucap Kak Ron.
Aku melirik pada Radja. Laki-laki itu berucap dengan santai, "Aku menceritakannya selama kamu melamun."
"Kakak, Nadia memang memiliki emosi yang labil dan kekuatan api bisa menguasai dirinya. Di saat seperti ini, ketika rekan kami masih dalam pemulihan dan Azumi semakin kuat ... menjadikan lawan sebagai rekan adalah yang terbaik."
Kak Ron menopang dagu, dia menutup mata. Mungkin menimbang-nimbang ucapanku. Aku ragu jika kakakku ini akan setuju, karena hari ini saja dia sudah melihat semua kebruntalan nadia saat melawanku. Saat matanya terbuka dia menatap tajam ke arahku.
"Aku beri kamu satu kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada kakak, Dira. Termasuk cara kamu menjadikan lawan sebagai teman," ucap Kak Ron tegas.
"Aku yakin Kakak juga tidak asing dengan pengawal yang Kazuhiro tunjuk langsung untuk Hana," ucapku hingga laki-laki itu mengangguk, "Nadia salah satunya, dia reinkarnasi dari Ame. Kenapa emosinya tidak stabil itu karena hal yang terjadi di masa lalu."
"Ah ... pengkhinatan para kesatria. Aku ada di sana untuk melindungi Hana," ucap Kak Ron padaku, "tapi penyebab mereka berkhianat aku tidak tahu. Vivian menyimpan kenangan itu seorang diri."
"Kak Ron, itu karena Hana mengambil ketiga pedang para kesatria pelindungnya. Hal itu yang membuat mereka sampai sekarang kehilangan jati dirinya. Seperti Nadia," balasku pada Kak Ron.
Aku lalu melirik pada Radja yang tertatih bangun mengambik P3K yang menggantung di sambing lemari pakaiannya. Dia kembali duduk di tepi kasur sambil mengganti perban yang mengikat di lengan kanan. Jika aku kembali melihat pada Kak Ron, dia masih bergeming mencerna penjelasan yang telah diutarakan.
Kilasan balik tentang mimpi itu. Bagaimana aku melihat seseorang yang terikat tidak berdaya di dalam sana. Aku menggigit bibir bawahku. Pondok yang selalu menjadi tanda tanya, tetapi tidak bisa sembarang aku sentuh.
"Aku ingin mencari pedang-pedang itu," ucapku spontan tanpa memedulikan tanggapan kedua laki-laki di kamar ni.
Radja baru selesai membalut luka. Sisa perban yang dia pakai jatuh begitu saja ketika mendengar ucapanku. Dia terbelalak sama halnya seperti Ron dengan tangan yang menopang dagu.
"Kadang-kadang kamu keras kepala, Dira," celetuk Radja padaku.
Aku menunduk, memperhatikan ubin yang memantulkan wajahku dengan buram. "Tidak ada salahnya mencoba! Waktu itu kamu bilang aku boleh menanyakan apa pun. Sekarang aku mempertanyakan pedang."
"Nadira ...." Panggilan Kak Ron tidak membuatku berhenti berkata, justru di saat seperti ini aku harus meyakinkan mereka. Debaran jantung yang tidak bisa aku tandingi lagi, berlomba dengan rasa takut yang menyelimuti akal sehatku.
"Di mana Hana meletakkan pedang-pedang kesatria itu?"
__ADS_1
Radja bungkam, dia menggeleng. Aku tetap menyorot pada mata elang tajam miliknya. Entah karena dia tidak tahu atau kemarin-kemarin hanyalah omong kosing. Saat ini aku butuh penjelasan. Aku ingin menguntai benang merah dari semua akar mimpiku. Egois memang. Namun, jika benar, mengalahkan Azumi pun bisa kami lakukan.
Ruangan kamar laki-laki sebaya denganku begitu sunyi tanpa suara kami. Hanya suara jarum jam panjang maju perlahan-lahanlah yang mengisi kehampaan ruangan ini. Bukannya Radja menjawab pertanyaanku, Kak Ron malah menggenggam tangan kananku dan mengelusnya.
"Radja mungkin tidak tahu, Dira. Bahkan aku yang dekat dengan Hana pun tidak mengetahuinya," jelas Kak Ron dengan mata sayu yang melihat ke bawah.
Aku memandangi gerakan tangannya yang lembut mengelus pelan. Helaan napas keluar begitu saja dari mulutku. Mata Kak Ron memendam rindu, hal yang tidak aku ketahui dan tidak aku mengerti. Apa pun itu, ada desiran yang menyentuh hati tiap sentuhan Kak Ron.
"Sebagai satu-satunya keluargamu, aku tidak ingin kamu membahayakan dirimu terlalu jauh, Dira. Sebagai mantan pengawal Hana, aku ... benar-benar tidak ingin kamu menyentuh masa lalunya terlalu jauh.
"Kamu harus tahu, tiga kesatria itu sangat berbahaya. Masih ada kemungkinan jika mereka menolak kekuatan pedangnya. Semakin mengincar kamu. Hanya Hana, ratu mereka yang bisa menghentikan kekacauan ini," jelas kakakku panjang lebar. Dia memasang senyum terbaiknya. Menyentuh kepalaku dan mengacaknya pelan.
Mataku memanas mendengar ucapannya. Tanpa sadar aku memeluk Kak Ron, tidak peduli jika ini di kamar Radja dan si pemilik kamar hanya sibuk menonton. Aku mulai merasakan air yang mengalir ke pipi hingga menempel di kemeja kakakku. Pelan, tetapi pasti. Kak Ron memberikan kehangatan melalui tangannya.
"Maaf jika aku membuat kakak hawatir," bisikku.
"Tidak apa," balasnya pelan, "aku berkata begitu buan berarti aku tidak menyetujuinya. Setelah semua yang kuucapkan, sekarang keputusan ada di tanganmu."
Ketika aku melepas pelukan, Radja sudah berdiri sambil berkacak pinggang. Dia juga tersenyum meski tipis. "Aku tahu kamu enggak bakal menyerah. Besok, aku akan mengantar kamu ke kerajaan milik Hana. Kita akan cari tahu."
"Padahal kedatanganku ingin mengajak adik manis ini jalan-jalan di bumi. Ya sudahlah, aku akan ikut membantu kalian," balas Kak Ron padaku.
"Sungguh?" Keduanya mengangguk. Aku menyeka air mata yag tersisa. Tersenyum pada keduanya. "Aku akan menantikan hari esok."
oOo
Kerajaan di hadapanku begitu gersang. Tanaman merambat di setiap sisinya, tidak beraturan dan berwarna kecokelatan. Ditambah tanaman-tanaman di sekitar telah kehilangan cahayanya. Kak Ron berjalan mendahului kami. Satu tangannya memegang pinggang sesekali dia tengadah.
"Kakak dan Radja baik-baik aja?" tanyaku melihat mereka bergantian.
Radja mendelik padaku. Melihat dari samping dia mau menerkamku. "Ini hanya masalah kecil. Kepalaku sedikit sakit, abaikan aja."
Mana bisa aku mengabaikan teman yang sakit? Omelku di dalam hati. Saat aku memadang pada Kak Ron, kakak laki-laki itu tengah berjongkok dan memegang salah satu ilalang di sana.
"Ilalang ini bukanlah tanaman, mereka para pengawal dan pelayan di tempat ini. Jika ratu mereka ditemukan, barulah mereka kembali ke bentuk asal," jelas Kak Ron . Tidak lama di melepaskan pegangan dari ujung ilalang.
Ada persaaan sesak di dadaku ketika Kak Ron mengatakannya. Melihat pada ilalang dan semua tanaman yang berwarna kuning kecokelatan. Mereka semua tidak lagi bereinkarnasi karena Hana tiada. Tempat ini mati ditinggal pemiliknya.
"Apa yang terjadi pada kerajaan ini, Kak?" tanyaku agak penasaran dengan akar-akar belukar yang mengelilingi pilar pada kerajaan.
Kak Ron berbalik melihat ke arahku. "Kakak enggak tahu. Dulu kakak sedang berperang dan belum dekat dengan Hana."
Aku mengangguk. Kembali kakiku melangkah ke dalam kerajaan. Tiap langkah terasa sangat berat, mungkin karena perasaan Hana begitu kuat pada rakyatnya. Aku jadi ingin menangis, entahlah apa lahi rasanya.
Radja tanpa ragu membuka pintu kerajaan yang berwarna putih kusam. Kegelapan lebih menyelimuti apa yang kami lihat. Namun, beberapa celah memeberi ruang pada cahaya untuk masuk. Kerajaan ini sangat kacau. Dengan berbagai pilar yang rubuh dan tembok yang memiliki retakan. Bagus jika kerajaan ini masih berdiri tegak.
Radja memunculkan tangan naganya, dia mengangkak pilar-pilar besar dan melemparnya ke sisi lain dengan perhitungan tepat sehingga tidak ada benturan apa pun yang terjadi. Setelah pilar-pilar tidak menghalangi jalan kami, aku bisa melihat berbagai pintu dengan warna dan motif serupa.
"Banyak sekali pintunya," gumamku.
Radja membalas ucapanku, "Wajar saja, ini kerajaan. Sebelum Hana menikah, dia memerintah wilayahnya di sini. Dia tinggal dengan adiknya."
__ADS_1
"Aku baru tahu Hana punya adik," balasku pada Radja.
"Hana itu anak kembar tiga," jelas Kak Ron, "Mizuki kakak tertua, Hana di tengah dan aku lupa yang paling bungsu siapa namanya."
Aku mengangguk paham pada penjelasan Kak Ron dan Radja. Kami melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba kalung yang pernah Miss Ann berikan pun menyala. Bersinar biru dan melayang.
"Kalung ini mengarah ke sana. Ada apa?" ucapku asal sambil melihat pada pintu berwarna cokelat yang terbuat dari pohon. Tanaman belukar mengitari pinttu tersebut. Terdapat duri-duri tajam di sekitarnya.
"Itu perpustakaan pribadi Hana, enggak ada yang penting," balas Radja padaku.
Aku tetap mendekati pintu tersebut. Mencoba membuka, tetapi tidak sedikit pun bergerak. Radja menarik pedang, membelah akar-akar belukar tersebut.
"Lihat," balas Radja, "kita tidak bisa masuk, Dira."
Aku menatap padanya. "Aku ngedeketin pintu bukan pengen masuk, Ja."
Radja memutar bola matanya. Dia langsung menyimpan kembali pedang itu ke dalam sarungnya. Kak Ron tiba-tiba mendekat, dia memegang bagan pintu yang tidak tertutupi oleh tanamanan. Cahaya biru keluar dari tangannya, sehingga menyinari tanaman dan membuat mereka mundur perlahan-lahan.
"Kita harus masuk, aku merasakan ada energi aneh di dalam sana," celetuk Kak Ron yang tidak sedikit pun beranjak dari tempatnya.
"Energi aneh? Apa hubungannya dengan kalung milik Hana?" tanya Radja seraya melipat tangan di depan dada.
"Mungkin itu membawa kita pada apa yang dicari."
Perlahan Kak Ron mendorong pintu. Mata kami membelalak melihat ruangan yang ada di hadapan kami. Pilar-pilar yang runtuh di tahan oleh tanaman belukar yang mengelilingi pilar dan menempel pada langit-langit ruangan.
"Buku berserakan dan raknya sudah tidak berbentuk, apa yang terjadi?" gumamku. Kedua laki-laki itu kompak menggeleng. Aku mengambil salah satu buku yang terinjak. Tidak ada halaman yang bisa aku baca, semuanya tidak lagi berbentuk utuh.
Lalu aku kembali melihat arah kalung yang bercahaya. Dia masih menunjuk lurus ke depan. Sekilas meliri kepada dua laki-laki di sampingku. Keduanya sama-sama mengangguk.
Aku berjalan lebih dahulu sambil memperhatika kalung sesekali. Ke mana dia akan membawaku dan apa yang diinginkannya. Kami hanya berhenti di depan rak penuh buku kumuh. Namun kalung itu masih menyala.
"Aku enggak percaya Hana punya ruangan rahasia," celetuk Radja.
"Aku lebih penasaran kapan dia ke sini, padahal sejak kejadian itu ... aku dan Vivian tidak pernah membiarkannya sendirian," jelas Kak Ron.
Di antara semua buku, aku melihat sayap burung berwarna hitam di sana. Entah milik siapa. Ketika aku ingin mengambilnya, tanganku menghilang dari pandangan. Segera aku menarik tangan dengan jantung yang masih berpesta di dalam sana.
Bukanya khawatir, Radja dan Kak Ron justru penasaran. Keduanya menyentuh hal serupa, tetapi tidak menghilang sepertiku. Aku menaikkan satu alisku. Apa-apaan ini? Kembali aku menyentuh, tetapi hal sebelumnya kembali terjadi padaku.
"Hanya Nadira yang bisa masuk?" gumam Radja.
"Kami tidak bisa mendampingi kamu, Dira. Kamu tahu, kakak sangat khawatir sekarang," balas Kak Ron. Tangan besar kakak laki-lakiku ini memegang kedua tanganku.
Aku menatapnya, kembali melihat portal tersebut. Aku pun melepaskan tangannya dariku dengan terpaksa, melihat Kak Ron kembali. "Kita udah sejauh ini. Aku gak bisa berhenti di sini, Kak Ron."
"Jangan lupa aktifkan radar pada jam. Aku dan Kak Ron akan mencoba mencari jalan lain. Selama itu, jaga dirimu baik-baik," lanjut Radja dengan wajah seriusnya.
Aku mengangguk padanya. Sambil mengembuskan napas aku mencoba untuk meyakinkan diri. Saat ini, semua bergantung pada pilihan. Apa yang kuambil itu yang kudapat. Sesegera mungkin aku berjalan ke dalam portal. Membiarkannya menarikku begitu dalam, entah ke mana. Hanya dingin yang menyelimutiku. Silir yang berlalu lalang menyentuh permukaan kulit.
Ketika aku membuka mata, aku ingin kembali sekarang juga.
__ADS_1