
Aku lalu memanggil pedangku. Tidak ada gunanya berdiri di garis belakang jika aku melihat teman-temanku kesulitan. Di saat Radja terus beradu dengan manusia duplikat, aku mencoba untuk mengimbanginya. Namun, laki-laki itu justru membelah diri menjadi empat bagian. Masing-masing dari kami memegang satu bayangan.
Bayangan itu berevolusi menjadi wujud kami. Namun bukannya melawan diri sendiri, kamu melawan teman sendiri. Aku berhadapan dengan duplikasi Tiara. Afly berhadapan dengan duplikasi Radja dan Tiara berhadapan dengan duplikasi Afly. Terakhir Radja yang melawan duplikasiku. Awalnya aku berpikir ini tidak akan mudah, terlebih mereka terlihat seperti asli. Bahkan benar-benar mirip dengan kami.
“Ini gila,” gumamku.
Aku tidak pernah membayangkan jika aku harus berhadapan dengan Tiara lagi. Sialnya tidak ada satu pun pembeda. Wajah, bentuk tubuh bahkan kemungkinan besar kekuatannya pun sama. Aku segera menyiapkan pedang. Ini tidak sesuai rencana untuk berdiri di garis belakang. Sekarang kami harus saling berhadapan. Selain itu, Radja memberikan kontak mata yang membuatku berpikir jika kami harus saling berjauhan.
Jika dipikir-pikir itu memang benar. Kami tidak mungkin berdekatan dan saling melawan. Bahkan yang paling gawat adalah ketika kami justru berhadapan dengan kawan sendiri. Jadi untuk memulai pertempuran ini, kami memilih untuk mundur lalu berpencar. Aku tidak tahu di mana mereka saling berhadapan. Namun, setidaknya kami bisa fokus satu sama lain.
Tiara palsu menyerangku dengan gesit. Aku menggunakan tanaman untuk menahan serangannya. Meski berulang kali benda tersebut terkoyak, aku kembali meningkatkan perlindungan. Kecepatannya benar-benar sama. Untung saja mereka semua tidak membuang-buang tenaga, karena sesuai dugaanku mereka sama persis dengan kami. Sepertinya yang paling mudah dikalahkan hanyalah bayanganku dan bayangan Afly—kami berdua tidak cocok dalam serangan langsung. Terlebih lawan duplikasi kami adalah Tiara dan Radja.
Di antara keduanya, aku yakin mereka akan segera menyusulku dan Afly. Untuk sejenak kami harus belajar bertahan lebih dulu. Bisa gawat jika kami hanya diam-diam saja dan lelah duluan. Sementara aku tidak bisa mengeluarkan hope untuk serangan ini—mengingat efek samping dari kekuatan itu tidak selalu berakhir baik; tidak sadarkan diri. Aku masih harus menyadarkan Ratih dan melenyapkan buku tersebut.
__ADS_1
“Padahal baru kemarin aku berhadapan dengan Tiara. Sekarang aku harus melawan duplikasinya. Andai saja aku tahu gimana caranya mengalahkan dia,” gumamku seraya terus menumbuhkan akar.
Sayangnya sekuat itulah tebasan dari duplikasi Tiara. Buru-buru aku melompat mundur dan menabrak dinding ruangan. Tidak aku sangka jika sedari tadi aku berjalan mundur. Jika begini aku tidak boleh berdiam diri terus. Aku segera melayangkan pedang ke arahnya. Namun, tiba-tiba aku merasakan bahuku sakit—tanpa duplikasi Tiara menyerangku. Sial. Apa yang terjadi?
Tubuhku benar-benar sakit. Segera aku melihat ke arah duplikasi Tiara. Entah kenapa ini mengingatkanku akan kejadian kemarin di dunia Kai. Orang yang di hadapanku bukanlah yang asli. Memang benar mereka palsu, tetapi tidak mungkin teman-temanku juga. Ada sesuatu yang aneh, tetapi aku tidak bisa menghubungi Radja atau teman-teman lainnya. Sungguh ini aneh. Lagi-lagi aku merasakan sakit, kali ini di perutku.
Duplikasi Tiara semakin mendekat dan dia berniat untuk menyerangku dengan belatinya. Mungkin dia ingin membagi tubuhku menjadi dua. Dengan tertatih aku melayangkan tendangan dan lari dari ruangan tersebut. Ini benar-benar aneh dan aku tidak tahu harus apa. Rasa sakit ini kian menggerogotiku. Ada sesuatu yang naik dari dalam tumbuhku. Tidak enak rasanya ditahan. Aku pun memuntahkannya, warna merah pekat. Seolah aku sudah kalah.
Tubuhku jadi lebih kaku. Mungkin wajahku ikut pucat karenanya. Pertarungan ini baru dimulai dan aku harus cepat berpikir sebelum duplikasi itu kembali mengejarku. Jika kecepatan dan kekuatannya sama, gadis itu pasti akan menemukanku dengan mudah. Terlintas di dalam pikiranku untuk membuat jebakan.
Suara radio yang sedang mencari sinyal dapat aku dengar. Saat mataku beralih pada jam, aku bisa melihat benda itu berkedip. Entah ada kabar apa. Segera aku membukanya dan langsung ditunjukkan semua kondisi fisik kami. Afly sama buruknya dengan keadaanku. Laki-laki itu pasti terus melakukan perlindungan tetapi lawannya duplikasi Radja. Pasti sangat sulit. Kini aku kembali merasakan sesuatu yang tengah menikam jantungku. Sakit sekali, tetapi tidak berlangsung dengan lama.
Suara radio itu kembali muncul dan membuat aku melihat layar di hadapanku. Ada sebuah titik-titik di sana. Tidak lama berubah menjadi gambar Bizar. Terkadang gambar itu menghilang atau rusak. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Sambil menahan rasa sakit aku mencoba bersembunyi dan memunculkan dua tanaman kantung semar lainnya. Tubuhku benar-benar tidak bisa bertopang lagi.
__ADS_1
“Hentikan kalian semua! Jangan menyerang satu sama lain. Aku ... ini analisa ... pembatas ini benar-benar merepotkan. Dengar, kekuatan aslinya bukan itu. Semakin kalian melawan dan menyakiti, nyawa teman kalian lebih bahaya. Seperti Radja yang berhadapan dengan duplikasi Nadira. Ya! Berhenti kamu.
“Semakin Radja melawan, itu justru membuat Nadira terluka. Jika duplikasi yang melawan, tenaga Nadira semakin berkurang. Namun, di antara empat duplikasi itu ada satu yang asli ... kalian harus mencarinya ... ya ampun perlindungannya mulai ditingkatkan lagi. Ingat pesanku! Jangan lawan sembarangan. Radja, tahan dia agar tidak bisa bergerak. Akan aku hubungi lag—” Pesan dari Bizar tiba-tiba terputus, laki-laki itu pasti sedang bertarung dengan melawan pelindung pada tempat ini.
Aku cukup bersyukur karena sekarang tahu apa yang terjadi dan harus melakukan apa. Tubuhku ini memang terluka dan lagi-lagi oleh Radja. Aku tidak bisa menyalahkan laki-laki tersebut, pasalnya dia memang tidak tahu apa-apa. Sekarang tinggal aku yang memikirkan cara untuk menghentikan duplikasi Tiara sebelum Tiara yang asli kehabisan tenaga. Ini memang tidak masuk akal, tetapi aku pun tidak tahu cara menghentikannya.
Tubuhku tidak sesakit sebelumnya. Bagian bahu yang pertama sakit pun sudah terasa lebih baik. Hanya perut dan bagian dadaku. Sambil mengobati aku mencoba untuk membersihkan darah pada bibirku. Wangi amis itu benar-benar mengganggu dan aku tidak suka apalagi untuk memandanginya lama-lama. Selain itu, ini berasal dari diriku. Jika Radja atau teman-teman lainnya melihatku, mereka pasti sudah khawatir. Aku tidak tahu bagaimana dengan Bizar, jika laki-laki itu tahu mungkin sekarang mata Kak Ron akan membelalak. Jika tidak ada tugas untuk mengurusi yang sakit, kakak sudah pasti datang menghampiriku.
Tanpa berlama-lama lagi aku pun kembali menggenggam gagang pedang. Lawan yang telah mengecoh akan kami kalahkan. Suara tebasan pedang mulai terdengar. Itu pasti duplikasi Tiara yang sebentar lagi datang. Dibandingkan mencari sesuatu yang belum bisa dipastikan kebenarannya, aku memilih untuk menahan duplikasi.
Semoga saja Bizar lebih cepat dalam bertindak dan menghancurkan pelindung ini. Degan begitu kami berempat bisa saling terhubung kembali. Kabar baiknya Bizar juga bisa mengirikan info lebih cepat dan akurat. Semakin lama suara langkah kaki itu makin terdengar. Aku mengeratkan pegangan. Jika es tidak dapat menahan duplikasi Tiara seperti aku menahan orang aslinya, maka tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan kekuatan penuhku dalam kekuatan tanaman.
__ADS_1