Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 68. Lomba Debat?


__ADS_3

“Makasih ya. Untung aja kamu lewat sini. Aku gak tahu kenapa Nadira keliatan lelah banget, sebaiknya kamu jangan membebani dia dengan banyak artikel. Kamu dan Bara bakal menang dengan mudah,” ujar suara yang aku yakini milik Irish.


“Aku memang bersalah karena membuat dia jadi kelelahan. Terlebih, dia sudah menghadapi dua monster hari ini. Meski dia dibantu, itu pasti menguras tenaganya,” ucap orang yang menggendongku. “Lain waktu, aku bakal bilang makasih. Tanpa ada yang membantu dia, aku yakin Kak Ron bakal naik pesawat dan segera menjemput Nadira.”


Aku memaksakan diri untuk tertidur. Namun, mendengar nama Kak Ron, aku jadi penasaran. Siapa laki-laki yang membantuku?


-----------------


“Nadira, ayo bangun ... kita harus sarapan,” ujar Irish yang membuat mataku terbuka secara perlahan. Rasanya seluruh tubuhku menjadi ringan. Apa karena semalaman aku pingsan?


Ngomong-ngomong, aku jadi tidak enak hati karena seharusnya aku, Irish dan Demina pergi makan. Namun, sekali lagi aku merepotkan mereka dengan pingsan di tengah acara. Di lain waktu, akan mencoba untuk menggantikan acara kemarin. Sekarang, kami masih memiliki lomba dan tugas yang sangat penting untuk diselidiki. Terlebih, setelah tahu jika sebagian orang di sini adalah pasukan Azumi. Tanpa disadari kami sebenarnya sudah terkepung dan tidak bisa bertidak leluasa.


Setelah meregangkan badan, aku melirik ke arah nakas. Jurnal milik Ratih masih di simpan dengan rapi. Namun, apa maksud dari penglihatanku sebelumnya? Selama ini apa yang aku lihat jarang sekali meleset, mungkin hanya beberapa persen saja. Namun, kenapa sosok bayangan hitam itu memegang jurnal ini?


Meski memang aku penasaran dengan sosok Ratih. Dia mengetahui kalau aku bukan manusia biasa. Awalnya aku menduga jika dia tahu karena aku mengikutinya. Namun, entah hal apa yang membuatnya berani berbohong kepada panitia. Padahal, dari tatapannya pun, aku tahu. Ratih sangat yakin dengan asumsinya. Terlebih, dia seolah tahu apa yang akan terjadi.


Sebaiknya aku mulai menyelidiki Ratih lebih dalam lagi. Tidak, aku mungkin harus menanyakan kepadanya tentang apa saja yang di ketahui tentangku atau kami semua dalam bahaya. Di tempat ini, kami kesulitan untuk menemukan mana yang benar-benar lawan dan kawan. Bahkan, dari sekian murid ... sepertinya aku hanya bisa memercayai Rico dan Alwi.

__ADS_1


Aku segera turun ke lantai bawah dan mencari di mana teman-teman makan. Saat aku lihat, mereka sudah menyiapkan tempat. Kosong dua, salah satunya aku sedangkan yang satu lagi milik Afly. Hari ini lomba pertamaku di dalam debat. Perasaanku jadi tidak karuan karena aku belum sempat membaca materi lagi. Bagaimana jika aku menjadi penyebab kekalahan mereka? Meski melihat Bara dan Radja sangat tenang, aku tetap tidak bisa seperti mereka.


“Kamu gugup, Dira? Ayolah ... jangan demam panggung dulu. Kita memang bakal sulit keluar masuk dari tempat lomba. Cuma, kamu harus nonton. Seminimalnya menangkap informasi dan tahu apa saja yang harus dilakukan saat lomba nanti,” ujar Radja.


“Itu penyiksaan,” balas Bara, “bagaimana jika Nadira ikut menonton satu putaran. Selepasnya dia mempersiapkan diri. Ketahuilah Radja, terlalu memperhatikan lawan juga bisa mengakibatkan rasa tidak percaya diri saat menghadapi mereka. Jadi, mari kita biarkan Nadira mengatasi rasa takut di dalam dirinya sendiri.”


Aku setuju dengan pendapat Bara. Terlebih dengan kondisi seperti ini. Bukannya terpikir untuk mendapatkan informasi, justru aku lebih memikirkan soal Ratih. Dia bisa saja berkeliaran dan pergi entah ke mana. Sungguh, aku takut. Bagaimana jika selama ini Ratih adalah salah satu pasukan Azumi? Walau kami tidak menemukan tanda-tanda tentang itu.


“Sebenarnya aku lebih takut soal masalah yang sedang kita hadapi. Ayo kita tulis nama dan tandai mereka. Jujur, aku tidak merasa tenang. Kita tidak tahu kapan dan di mana mereka akan mengamuk. Sebaiknya kita segera hentikan ini semua,” usulku dengan berbisik pelan. Sengaja, biar tidak  terdengar ke bangku tetangga.


“Kamu benar. Terlebih akses kita pada Bizar terbatas. Jika ada waktu senggang, mari kita lakukan. Jangan sampai ketahuan,” ucap Irish dan dia menyetujui usulku.


Satu per satu dari kelompok kami pun mulai berpamitan. Candra dan Bara belum mandi, begitu pula denganku. Sementara yang lain sudah mandi lebih awal. Wajar jika Irish membangunkanku. Lagi pula, beberapa hari lalu, aku sempat mendengarkan keluhan jika Irish sangat lama saat menggunakan kamar mandi—padahal itu hanya mandi saja. Tentunya, orang yang mengeluhkan hal itu adalah Demina. Mereka seperti air dengan minyak, tidak bisa bercampur menjadi satu.


Hanya tersisa aku dan Radja. Laki-laki itu tengah menikmati sereal yang sedang dia makan. Sementara aku agak kekenyangan, jadi memilih untuk duduk dulu sampai makanannya turun semua. Tiba-tiba, aku jadi teringat sesuatu. Ada yang harus aku tanyakan pada Demina dan Irish. Siapa orang yang menggendongku? Aku tidak tahu itu mimpi atau bukan, tetapi tetap akan aku tanya.


“Setelah aku pikirkan dengan baik, kamu emang perlu menenangkan diri, Dira. Nanti kamu tonton satu pertandingan aja. Ngomong-ngomong, kamu baik-baik aja, kan?” tanya Radja tiba-tiba.

__ADS_1


“Aneh sekali mendengar kamu langsung setuju untuk mengistirahatkanku, Ja. Tapi, aku baik-baik aja,” balasku.


“Syukurlah. Aku kaget karena kemarin kamu pingsan. Coba pikirkan, jika Irish dan Demina tidak ada di sana ... mereka bakal kesulitan membawa kamu ke hotel. Jika tidak ada lomba, aku lebih baik meminta kamu izin. Namun, lomba ini penting untuk rahasia kita,” ujar Radja. “Jadi aku harap kamu lebih memperhatikan dirimu lagi, Dira.”


Aku berdecak kagum. Meski sudah mendengar beberapa kali ketika dia mengkhawatirkanku, tetapi itu semua tetap membuat mata terbelalak. Selain itu, entah kenapa hatiku jadi diselimuti oleh kehangatan. Aku juga jadi tahu jika Radja adalah laki-laki yang menggendongku kemarin. Dia benar, tanpa bantuannya, kemarin aku pasti sudah merepotkan Irish dan Demina lebih jauh  lagi.


Aku benar-benar bersyukur karena dia datang di saat yang tepat. Selalu seperti ini, rasa kesalku menguap begitu saja tanpa sisa, bagai uap air yang menunggu untuk kembali di jatuhkan oleh awan. Lomba debat memang membuat hatiku tidak karuan, cemas bahkan kesal. Berandai-andai jika Afly akan kembali pulang itu mustahil. Namun, tidak ada salahnya dengan mencoba sesuatu yang baru seperti sekarang.


“Radja, aku duluan. Sebelum lomba, aku harus terlihat rapi. Tenang saja, aku juga akan tetap membaca artikel-artikel itu. Maaf sudah membuat kamu begitu khawatir,” ujarku.


“Tidak masalah, Dira. Sudah tugasku untuk menjaga kamu.” Aku menaikkan salah satu alisku, bingung dengan apa yang baru saja laki-laki itu katakan. “Juga teman-teman kita.”


Aku kembali tersenyum. Nyaris saja salah paham. Meski begitu, jantungku ikut berpacu dengan cepat. Radja memang perhatian, tetapi tegas juga. Dia memang cocok menjadi pemimpin Twins selanjutnya. Aku berharap dia akan terus bersikap seperti ini. Meski usil di satu sisi.


Lalu aku pun melihat ke arah jam. Sekejap mataku terbuka lebar-lebar, dengan terburu-buru aku pun pergi dari ruangan tersebut.


 

__ADS_1


 


__ADS_2