
“Jika kalian membunuhnya maka kalian tidak akan bisa menghancurkan jurnal ini, karena burung ini adalah kuncinya,” ujar seseorang entah dari mana. Baik aku dan Radja sama-sama mencari keberadaan suara lembut itu. Tiba-tiba Naga Hitam bergerak sendiri, dia terbang dan menatap ke atas langit.
Naga hitam itu tiba-tiba berubah menjadi partikel-partikel kecil. Partikel itu pun berubah menjadi sosok gadis. Aku ingat terakhir kali ketika Radja bertarung dengan Naga Hitam, sosok yang dia gunakan adalah laki-laki dewasa. Rasanya aneh jika kini yang berdiri di hadapan kami adalah seorang gadis, berambut cokelat karamel tetapi bagian wajahnya tertupi oleh sebuah jubah. Dia menggunakan pakaian serba putih—minus tudungnya yang berwarna kelabu. Baik aku dan Radja, kami yakin tidak pernah melihat gadis ini.
Gadis itu mendekatiku, dia mengulurkan tangannya dan sebuah partikel lain muncul membentuk bola kristal. Aku tidak tahu untuk apa benda itu, tetapi rasanya kekuatan hope bereaksi dengan itu. Jadi aku pun segera menengok ke arahnya. Melihat bagaimana gadis itu mengarahkannya padaku.
“Kalau kalian membunuhnya, jurnal ini tidak akan hancur. Kalau kalian bisa melihat apa yang ada di atas tanganku, itu adalah duplikasi intisari dunia ini. Di mana dunia mimpi dan dunia Kai bergabung. Jika tidak, artinya kalian bukanlah orang terpilih untuk menghancurkan buku jurnal ini,” ucap gadis yang begitu lemah lembut. Aku kembali memutar ucapannya, aku bisa melihat apa yang ada di atas tangannya.
“Memangnya benda apa yang ada di atas tanganmu? Dan tunggu ... siapa kamu? Kenapa kamu bisa berada di dalam jurnal ini juga?” ucap Radja dengan nada yang dapat menusuk hati. Laki-laki itu pasti mencurigai jika yang ada di hadapannya adalah musuh terakhir.
“Siapa pun aku tidak penting. Bukankah kalian ingin menyelamatkan dunia? Segeralah gunakan kekuatan hope untuk menemukan benda yang aku perlihatkan,” balas gadis itu.
“Apa kami harus menurutimu? Dira, jangan lakukan! Bagaimana jika ini hanya jebakan miliknya saja?” terka Radja ketus. Aku hanya bisa tersenyum lalu mencubit lengannya.
“Aku bisa melihat benda yang ada di atasmu dan kekuatanku bereaksi terhadapnya. Aku tidak tahu dari mana kamu mengetahui kekuatan hope, hanya beberapa orang saja yang tahu. Namun, jika kamu benar itu adalah cara untuk menyelamatkan bumi, aku rasa tidak ada yang salah dengan mencobanya,” balasku yang lalu mendekati monster tersebut. Gadis itu tidak berkata apa-apa lagi sampai aku berdiri di hadapan monster tersebut.
Dia berkata, “Tempelkan tanganmu ke arahnya. Sebelum bolanya terserap kepadamu, cepatlah menariknya keluar. Selama ini aku mengawasimu dan kamu memakai kekuatan ini dengan sangat konyol. Memendamnya pada tubuhmu itu tidak baik. Bahkan aku rasa akan ada efek samping dari perlakuanmu itu.”
“Dira, jangan dengerin. Mending kita bunuh aja. Kita tidak tahu apakah dia ini orang baik-baik atau sebaliknya. Salah bertindak akan membuat rencana kita berantakan,” balas Radja yang pastinya kesal karena aku malah memercayai ucapan gadis tersebut.
“Begitukah yang kamu pandang tentangku? Tidak masalah. Sekarang cobalah untuk lebih memercayai Nadira. Gadis itu memiliki hope dan dia membutuhkan kamu untuk percaya. Bukankah Naga Hitam sudah memercayaimu juga? Dia rekanmu,” timpal si gadis.
Aku memang tidak mau membantah dan mengikuti instruksi gadis yang baru aku kenal dalam tiga menit. Entah kenapa aku merasa ucapannya memang benar. Jadilah aku menempelkan kedua telapak tanganku pada monster tersebut. Perlahan sinar muncul dan semakin lama semakin besar. Sepertinya Radja mulai menyerah dan memercayai apa yang gadis itu katakan bahwa kekuatanku membutuhkan pengharapan dan rasa percaya yang cukup besar.
__ADS_1
Ini berhasil. Mataku membulat sempurna. Sebelum aku terlena, gadis bertudung itu pun segera memanggilku, menyuruh agar aku menarik tangan. Segera aku pun melakukannya dan bola kristal yang cukup besar pun muncul. Aku tidak tahu ini apa. Serius, tetapi ketika aku memegangnya, aku bisa merasakan rasa sakit dan kepedihan yang begitu dalam. Sebenarnya ini apa? Beberapa kenangan pun terlintas di kepalaku.
Bagaimana Ratih dan Azumi berteman baik. Gadis itu sangat baik dan tidak pernah menyakitinya. Azumi tidak seburuk yang aku dan teman-teman pikirkan di awal. Bahkan gadis itu sendiri yang menyuruh Ratih dan keluarganya berlindung. Pindah dari kota besar agar tidak menjadi incarannya. Kilasan ingatan itu lalu berganti dengan perasaan berat dan penuh kebencian. Ratih mendapatkan kabar kematian temannya, Azumi. Meski dia juga tidak suka sikap Azumi yang membunuh dan begitu jahat pada orang-orang, bukan berarti dirinya senang dengan kabar ini.
Kebencian itu semakin mendalam ketika orang yang aku curigai Miss Ann pun mengajaknya untuk bergabung. Peri itu menyerahkan buku jurnal yang bahkan belum sempurna. Dia juga memperlihatkan bagaimana serpihan kekuatan jahat itu terkumpul dan siap disebarkan. Sebagai uji coba, peri itu menggunakannya pada seekor burung. Seketika burung itu berubah bentuk menjadi lebih bengis dan sangat tidak terkendali. Namun, hanya dengan satu tepukan Miss Ann memasukkan monster itu ke dalam jurnal. Tidak lama serpihan itu menyebar, utamanya pada orang-orang yang pernah Azumi culik.
Kilasan ingatan terakhir membawa keraguan di hatiku. Ratih bertemu denganku dan teman-teman. Dia sudah sangat yakin bahwa aku akan mati. Dia begitu yakin jika aku tidak akan mengusik kerja kerasnya lagi. Seperti ketika penyelamatan Bizar. Itu di luar skenario yang sudah Ratih tulis sedemikian rupa. Namun, keraguan itu muncul ketika aku menyelamatkan para penumpang bis. Dia melarikan diri dan tidak mau aku mengetahui identitasnya.
“Nadira, kamu baik-baik saja?”
Tiba-tiba suara itu menarik diriku ke atas permukaan. Dia menepuk pundak sehingga aku refleks menoleh ke arahnya. Pipiku sangat hangat dan saat aku sadari air mata berjatuhan. Bola kristal ini menyimpan ingatan Ratih dan aku bisa merasakan apa yang gadis itu rasakan selama ini. Lalu, aku pun melihat pada gadis bertudung di hadapanku.
“Sepertinya penderitaan yang kamu rasakan selama ini sudah membuat kamu lebih berkembang ya, Nadira. Tuhan memang sudah menggariskan takdir yang tepat pada ciptaan-Nya. Kurasa kamu tidak akan membutuhkanku lagi,” ujar gadis tersebut.
Gadis itu berbalik dan tersenyum ke arahku. “Aku Crystal dan kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat. Ngomong-ngomong jangan gunakan kekuatan hope secara berlebihan. Itu memang membuat kamu lebih kuat, tetapi kamu harus ingat ini. Kekuatan besar bisa membuat kamu lupa apa tujuanmu yang sebenarnya.”
Aku ingin membalas ucapannya, tetapi gadis itu langsung berubah menjadi serpihan cahaya. Partikel-partikel kecil itu lalu berhembus ke suatu tempat. Bersamaan dengan itu, tempat ini mulai runtuh dan kembali terang. Aku refleks menggenggam tangan Radja dengan erat. Sampai aku bisa mendengarkan kembali suara pertempuran. Segera aku pun membuka mata.
Di hadapanku Tiara dan Afly tengah kerepotan dengan lawannya. Felix terlihat lebih besar sementara itu di sisi lain aku melihat Ratih terbaring tidak sadarkan diri. Buru-buru aku menghampirinya. Mengecek napas dan nadinya. Gadis ini masih hidup, tetapi sangat lemah. Aku pun berpikir untuk menghubungi Bizar dan meminta Kak Ron datang dan mengobatinya. Di layar transparan itu Io sangat kerepotan dan dia mengirimkanku beberapa informasi.
Miss Ann sudah bertindak begitu jauh. Peri itu membangkitkan monster-monster lain, menyerbu dari segala penjuru dunia. Padahal bukunya sudah aku lenyapkan. Bukankah seharusnya semua ini sudah sepantasnya berakhir? Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa hingga tiba-tiba muncul sebuah portal.
Seorang laki-laki keluar dari sana dengan membawa jarum suntik yang memiliki cairan kuning di dalamnya. Bizar menggunakan baju tempurnya dan dia sudah siap dengan sebelah kaca mata birunya. “Maaf menunggu lama. Aku rasa kehadiranku di sini sangat dibutuhkan.”
__ADS_1
“Bizar!” sorak sorai teman-teman. Namun, itu tidak berlangsung lama karena mereka harus menahan kembali Felix yang mengamuk.
Aku lihat Bizar segera menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk mengetik sebuah program. Sesuatu terbentuk di belakang Felix, sehingga ketika laki-laki itu berjalan dirinya akan terjatuh. Afly segera menggunakan kekuatannya untuk menghentikan pergerakan dengan lingkaran cahaya. Itu cukup ampuh untuk menahan. Selain itu, Tiara juga tanpa ragu langsung menusuk bagian kaki Felix hingga laki-laki itu pun berteriak kesakitan. Aku menelan ludah terutama melihat belati milik Tiara masih menancap.
“Terima kasih, Teman. Ini akan membantuku menghancurkannya,” ujar Bizar. Laki-laki itu semakin mendekat dan segera menyuntikkan cairan kuning pada tabung. Aku tidak tahu kenapa Felix begitu kesakitan, tetapi obat yang Bizar ciptakan benar-benar ampuh.
Setelah semua pekerjaan terselesaikan, Afly berinisiatif untuk membawa Ratih ke Twins dan segera mendapatkan penanganan yang tepat dari Kak Ron. Sementara Bizar masih diam bersama kami. Entah apa yang dia tunggu. Aku tidak mau mengusiknya dan mulai mencari keberadaan Miss Ann. Namun, melihat Bizar asyik dengan layar transparan dan programnya itu benar-benar menyebalkan.
“Kamu enggak kembali ke laboratorium, Bizar? Io sepertinya sangat kelelahan,” ucapku pada Bizar.
Laki-laki itu lalu melihat ke arahku. “Sebenarnya aku punya tugas penting untuk kalian. Sabarlah sebentar. Ini memang enggak berkaitan sama keberadaan Miss Ann, tetapi kita harus menghentikan kekacauan di luar sana.”
Sesuai ucapan Bizar, kami pun menunggunya untuk menyelesaikan program. Tidak begitu lama sampai aku mendapatkan notifikasi di jam. Segera aku pun melihatnya dan tertera di sana pusat tempat kami menyimpan bom untuk menyebarkan vaksin. Aku harus menyebarkannya di Bandung. Baru saja mendapatkan info, kami langsung melihat tabung yang cukup besar muncul sebanyak jumlah kami sekarang. Radja dan Tiara segera mengangkatkan kadang mereka memutar tabung yang besar itu dan mencari tahu benda apakah itu. Aku ikut membawanya, tetapi tidak aku sangka benda ini lebih berat daripada yang terlihat.
“Aku mengirim titik kordinat tempat kalian menyimpan tabung ini. Tolong katakan jika kalian sudah siap sehingga Io dan aku bisa menerbangkan tabung menjadi roket dan bum! Vaksin ini akan tersebar seperti asap. Tidak akan ada satu orang pun yang akan terlewat,” jelas Bizar.
“Di sini kami harus menunggu selama sepuluh menit? Baiklah,” ujar Radja.
“Tidak, pergilah sekarang! Kita tidak punya waktu banyak!”
Aku tersentak karena portal muncul tiba-tiba dan menghisap tubuhku. Dengan erat aku memeluk benda berbentuk tabung itu. Jika pertempuran ini berakhir, ingatkan aku untuk menjitak ilmuwan satu itu.
__ADS_1