Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 08. Kangen Rumah


__ADS_3

Maaf.


Aku geleng-geleng mengingat bagaimana Radja dan Bizar tidak mengizinkan untuk berkunjung ke rumah atau ke manapun. Paksaan mereka tidak memberikanku pilihan. Percuma saja jika aku menjelaskan.


Aku bersyukur karena mereka masih harus mengikuti kegiatan sekolah lainnya. Satu keuntungan karena kau ambil homeschooling. Sekarang aku bisa pergi leluasa, tetapi harus segera kembali sebelum pukul lima petang.


Langit jadi tidak cerah ketika langkah semakin menjauhi sekolah. Sesekali aku menengadah, menyaksikan matahari yang perlahan tertutup oleh awan tebal. Disusul oleh awan hitam yang mendekati semakin cepat.


"Kayaknya emang gak ada cara lain, aku harus ke rumah," gumamku.


Hujan benar-benar turun setelah aku berkata begitu. Awalnya hanya rintik-rintik kecil yang bahkan hanya mengenai tubuhku beberapa kali. Namun, lama-kelamaan jarum air itu turun semakin banyak dan menyiksa.


Tidak lama lagi, setelah melewati minimarket aku tinggal belok lalu lurus. Mengikuti jalan dan sampai di rumah. Aku rasa air dari langit terlalu banyak, maka aku melepaskan tas. Kupakai benda tersebut untuk menutupi bagian atas kepalaku. Langkahku harus semakin cepat jangan sampai berlama-lama bermain hujan-hujanan.


"Ah, akhirnya," ucapku pada angin yang berlalu. Aku mengambil tas di atas kepala dan kujadikan tas jinjing.


Di depan halaman aku bisa bernostalgia sebentar. Lagi pula, aku tidak bisa masuk. Kunci rumah dibawa oleh Ron, kunci cadangan tidak kubawa. Sial sekali nasibku.


Namun, apa yang aku dapati sekarang? Pintu kayu itu agak terbuka. Pencurikah?


Aku berjaga-jaga dengan menggunakan kemampuan tanamanku. Perlahan aku mendorong pintu tersebut. Mataku menyipit seperti orang-orang di negara timur. Mencoba mencari si pencuri. Tolong jangan rampas apa pun.


Kenapa aku ngerasa ini familier? Bahkan seperti dè ja vu.


Aku berhenti waspada, tepat di mana aku berdiri saat keluargaku dibantai. Menemukan si pembunuh di hadapanku. Iya, perempuan berambut merah dengan matanya yang turut meras. Seperti sosok di hadapanku sekarang.


Tunggu apa?!


Aku refleks mengeluarkan kekuatan tanamanku. Membuah sebuah busur dan anak panah yang aku arahkan padanya. Ya, pada gadis dengan api yang entah bagaimana dia tidak merasakan panasnya.


Perempuan itu berjalan ke arahku. Semakin dekat, aku pun menarik tali busur hingga maksimal. Meski aku tahu dia tidak benar-benar jahat, tetapi ini masa lalu sulit bagiku untuk mengubahnya.


"Tenanglah," ucapnya.


Semakin dia mendekat api pun pelahan menyusut. Mulai dari pakaiannya yang ala-ala baju adat kota itu pun berubah menjadi seragam SMP.


"Aku cuma mau berterimakasih aja. Kamu udah nyelamatin aku waktu kebakaran di rumah Paman dan Bibiku."


Aku terlonjak. Mataku mengerjap berulang-ulang. Namun, dia hanya tersenyum. Lengkungan garis yang sangat mengerikan untuk dilihat olehku.


Aku ingat, saat turun ke bumi waktu itu. Beradu keras kepala dengan Bizar hanya karena aku mendengar seseorang meminta tolong. Tidak kulihat wajah gadis itu ada kemiripan dengan orang di depanku. Lalu, bagaimana bisa?


Langkahku mundur secara perlahan. Mataku tidak berhenti untuk mengawasi keberadaan gadis berambut merah itu. Entah mengapa dia terus maju, meski aku memberi penolakan dari gerakan badan.


"Aku tahu kamu masih takut," ucapnya mencarikan suasana.


Aku tidak bisa hilang kendali lagi. Ketakutanku memuncak. Gadis di hadapanku bisa saja komplotan Azumi. Tidak mudah bagi aku percaya setelah terakhir kali Naira menggunakan gadis ini sebagai boneka.


"Kalau kamu tahu aku masih takut, kenapa semakin lama kamu semakin mendekat?" Sindiranku rupanya berpengaruh padanya.


Awalnya kupikir begitu. Namun ketika dia menengadah, matanya menutup. Percikan api sesaat keluar dari tubuhnya.  Aku bisa melihat ketika dia kembali menatapku. Warna matanya berubah menjadi cokelat.


"Namaku Nadia. Aku harap kita bisa meluruskan semua kesalahpahaman di masa lalu," ucap gadis tersebut sambil mengulurkan tangan.


Antara dia memintaku untuk mendekat atau karena takut aku kembali menyindir lagi, Nadia tetap di tempatnya. Ada empat meter jarak pemisah. Sekarang aku bingung, haruskah aku menerima tawarannya?


"Kalau kamu hanya berterimakasih, kenapa harus ke rumahku?" ucapku penuh kecurigaan.


Nadia mengangkat bahu. "Aku tidak tahu harus tinggal di mana. Kamu tahu rasanya dibuang?"


"Dibuang?" Nadi mengangguk. Dia menjentikkan jarinya. Api-api oranye keluar begitu kecil dan menghasilkan percikan bunga api.


"Paman dan Bibi ingin membunuhku. Katanya kekuatan ini pembawa sial. Meski selamat dari maut, mereka tetap membuangku," jelas Nadia.  singkat


Mataku menyipit, siapa tahu menemukan suatu kebohongan dan gerakan tubuh dan matanya. Tidak ada. Entah aku yang bukan pendeteksi kebohongan atau memang Nadia pandai berbohong, aku jadi sulit mencari benang merahnya.


"Apa hubungannya dengan kamu di rumahku?" tanyaku lagi.


"Anggap aja aku numpang," balas Nadia disertai dengan tawa-tawanya. Namun, aku tidak menghidu niat jahat apa pun darinya.


"Dengan membobol rumah?! Kamu kayak maling." Lagi aku menyindirnya. Kali ini dia sudah kelewatan, bagaimana tidak aku hanya senyum-senyum saja dan bilang 'iya gak apa'.


"Baiklah, maafkan aku," ucap Nadia lirih.

__ADS_1


Aku mengembuskan napas, membiarkan hidungku menghirup udara segar. Sorot mata kuarahkan padanya. Aku rasa sekarang akan baik-baik saja.


Langkahku pun tegap mengarah padanya. Memasuki ruangan tamu tanpa penghuni. Begitu banyak debu di atas meja, meski aku baru meninggalkan rumah ini untuk sementara.


Memang benar, meninggalkan rumah tanpa penghuni membuat tempatnha ambruk. Tidak akan lama tempat ini hancur. Tanpa Nadia, rumah ini hanyalah bangunan kosong tempatku bernostalgia. Karena, entah sampai kapan aku harus di Twins. Bahkan jika Ron kembali, aku belum tentu diizinkan tinggal.


"Aku gak masalah kamu tinggal di sini, Nadia," ucapku. Wajah Nadia kembali sumringah. Dia dan kebahagiaan sesaat yang sangat tidak mau aku hancurkan begitu saja. Semua orang berhak untuk bahagia. Mungkin di Twins aku akan menghubungi Ron dan membicarakan tentang tempat tinggal Nadia.


Tiba-tiba terlintas dalam benakku. Mengingatkan tentang pedang-pedang yang bermunculan akhir-akhir ini dalam mimpi. Crocea Cronus, pedang yang diberikan khusus untuk Ameterasu, pendahulu Nadia. Jadi ada kemungkinan jika gadis itu terlibat dalam mimpiku.


"Nadia, ada yang ingin aku obrolin, tapi bisa gak ngobrolnya di luar aja?" tawarku.


Nadia tampak heran, tetapi dia mengangguk. Namun, tetap saja dia bertanya padaku, "Kenapa harus di luar?"


Jaga-jaga biar kamu gak nyerang aku. Sejujurnya itu yang ingin aku ucapkan, tetapi aku tahan.


"Kamu tinggal di rumah, tapi gak jaga kebersihannya. Kamu gak liat banyak debu di sana?" omelku sekalgis berkacak pinggang padanya.


"Maaf," balasnya pelan, "jadi kamu ngobrol apa?"


"Kamu reinkarnasi dari Ameterasu, 'kan?" Aku menunggu jawabannya, barulah ketika dia mengangguk aku melanjutkan pembicaraan, "belakangan aku bermimpi sesuatu menyangkut tentang pendahulumu."


Nadia tampak terkejut meski saat ini aku tahu dia berusaha untuk tidak memotong pembicaraanku. Percikan kembang api kembali keluar, kali ini melalui ujung-ujung rambutnya. Seakan menunjukkan betapa dia berusaha untuk menahan semua emosi yang sedang berkecamuk dalam pikiran dan hati.


"Suara-suara minta tolong dan pedang. Aku tidak tahu, benar atau tidak. Crocea Mors. Apakah itu pedangmu?" tanyaku.


Nadia menopang dagu. Matanya melirik ke mana-mana. Aku tidak tahu dia sedang berusaha mengingat atau melakukan apa. Namun, aku ingin mencoba memercayainya.


"Aku belum pernah denger pedang yang kamu bilang," balas Nadia.


"Sepertinya aku salah ...."


Nadia lalu memotong ucapanku, "Kamu gak salah. Aku emang gak pernah denger pedangnya, tetapi aku bisa tau bentuk dan pedang miliki Ame."


Aku menaikkan alis sebagai reaksi dari apa yang Nadia ucapkan. Ingin membahas lebih lama tetapi tiba-tiba suara notifikasi dari jam tanganku berbunyi. Ketika kulihat jam di sana menunjukkan waktu sore.


Tunggu! Bukan hanya itu yang membuatku kaget. Jam itu menunjukkan satu notifikasi, tepatnya panggilan. Ya ampun, kenapa jam kuno ini jadi modern? Oh ya aku lupa, Bizar yang menyebabkan ini terjadi.


Aku mengarahkan telunjuk pada bibirnya. Lalu aku tekan bagian tengah jam sehingga memunculkan panggilan dari Radja.


"Kamu di mana, Dira?"


Aku berdigik ngeri. Sepertinya Radja tahu aku belum pulang. Tepatnya Bizar dan Radja kembali dari pencarian mereka tentang empat pedang. Aku meneguk ludah sendiri. Untungnya Radja tidak memakai fitur Video Call, pertama karena aku tidak suka. Kedua, bisa gawat kalau dia melihat Nadia ada di sebelahku.


Aku menarik napas. Terpaksa kebohongan aku berikan. "Aku mau ziarah, tapi lupa jalan. Sekarang lagi ke rumah dulu."


"Rumah?"


"Iya, Ja. Kamu gak perlu khawatir, lima menit lagi aku pulang."


"Gak!" Radja menolak keputusan yang aku lontarkan. Bagaimana bisa? Ya ampun, ini tidak seperti firasatku, 'kan?


"Jaaa," balasku kesal.


"Aku jemput, tunggu di sana. Kamu gak boleh pakai teleportasi di jam kamu dulu."


Aku menelan ludah, sepertinya aku baru saja menggali kuburanku sendiri. Radja akan ke rumahku dan Nadia pun ada di sini. Ya ampun! Bagaimana pun, Nadia harus bersembunyi. 


Namun, entahlah bagaimana. Saat aku berusaha mendorong tubuh Nadia untuk masuk ke dalam, suara kepakan sayap di atas sana menyambut. Gadis di sebelahku ini sepertinya paham, tetapi entah kenapa dia masih diam di tempatnya. 


Aku melihat sayap naganya mulai menekuk perlahan-lahan hingga dia sampai ke dasar. Radja awalnya menatapku, tetapi matanya lebih membelalak ketika melihat orang yang  ada di sebelahku. Memangnya Radja harus bersikap baik? Menyapa seolah melupakan apa yang Nadia pernah lakukan demi membunuhku. Membunuh keluargaku. Dia bukan saksi mata sebenarnya, tetapi yang aku tahu Radja benar-benar marah mengetahui hal itu.


Dan aku tahu, marahnya Radja pasti beralasan logis bukan sekedar permainan hati belaka. 


"Sedang apa kamu di sini?" ucap Radja agak tinggi.


"Ja, aku bisa jelasin," balasku takut-takut dia malah berpirikan yang tidak-tidak.


Radja menarik tanganku. Dia coba jauhkan aku dengan Nadia. Dari rasa sakit di pergelangan tangan, aku bisa mengukur seberapa persen marahnya.


"Kenapa? Apa masa lalu mengekang kamu Kazu---"


Radja memotong ucapan Nadia dengan tatapannya. "Sayang sekali aku bukanlah Kazuhiro yang kamu maksud. Aku adalah Radja dan yang aku tahu ... kamu pembunuh."

__ADS_1


Nadia mengepalkan tangan. Ini tidak beres. Aku menarik lengan Radja.


"Hentikan, Ja! Kamu membuat emosinya semakin tidak stabil," teriakku.


"Justru aku lagi bikin mata kamu kebuka, Dira."


Radja menggunakan tangan yang dia gabungkan dengan naga hitam. Menjadikan tangan kirinya sepuluh kali lipat menyerupai tangan seekor naga.


Di sisi lain, Nadia seakan tidak mau kalah. Percikan api yang keluar dari tubuhnya semakin banyak, lalu membakar rambut, tangan dan kakinya. Seakan Nadia sedang dibakar hidup-hidup.


Tapi bisakah mereka tidak melakukan pertarungan di depan rumahku?


Aku bisa merasakan seluruh tanaman di sekitar rumah mulai layu karena panasnya suasana. Dengan kemampuan Hana, aku jadi begitu sesak. Lebih penting pula, rumahku dalam keadaan yang sangat berbahaya.


"Hentikan! Ropes!" ujarku mengikat keduanya dengan akar-akar yang makin lama makin membengkak.


Nadia dengan apinya tidak bisa membakar tanamanku. Radja juga tidak mungkin mencoba melepaskan diri. Karena aku tahu, aku tahu mereka.


"Apa-apaan ini, Dira?" tanya Radja padaku.


Aku berjalan di tengah mereka berdua. Melipat tangan sambil memejamkan mata. Tidak peduli sebagaimana ekspresi wajah mereka sekarang.


Saat mata terbuka, Radja terlihat lebih tenang. Tidak dengan Nadia. Gadis yang tinggal di rumahku untuk sementara ini masih mengebu-ngebu. Napasnya naik dan turun tidak terkendali.


"Aku gak tahu apa masalah kalian. Tapi jangan bertarung di sini. Di sini, di rumah ini," ucapku sambil berkacak pinggang.


"Kamu gak tahu? Ingatan Hana tidak ada padamu?!" amuk Nadia.


"Tidak. Lagi pula untuk apa aku mengetahuinya?"


"Tidak mungkin ... Nadira!" Aku tidak mengerti kenapa Nadia begitu marah. Dia memberontak dari akar yang mengikat. Bahkan dia gunakan pula gigi untuk memotong tanaman yang ada di sekitar wajahnya.


"Sebenernya ada apa sih, Ja?" tanyaku.


Firasatku tidak menentu. Kali ini mataku kembali melihat, bagaimana Nadia berhasil lolos dan menyerbuku dengan apinya. Sementara Radja telat melepaskan akar-akar.


Aku segera memejamkan mata. Benar saja ikatan dari akar itu mulai melemah. Tanganku bergerak memutar, melepaskan ikatan pada Radja.


Tepat di saat itu Radja menerjang ke depanku dan menggunakan tangan kiri untuk melindungi kami.


Dug!


Ledakan kecil terdengar, kulihat tangan Nadia yang tengah menonjok Radja terhenti. Gadis itu terengah-engah. Matanya tetap menyalang. Seakan tidak peduli, Radja hempaskan gadis itu hingga membentur tembok.


Aku berlari, sekaligus mengaktifkan tumbuhan untuk menyangga tubuh Nadia. Sayangnya terlambat, Radja menggunakan tangan kanannya untuk mengeluarkan tulisan astral yang tidak aku mengerti.


Perlahan-lahan Radja mendekati Nadia. Tangan kanannya dia usapkan pada kepala gadis tersebut.


"Aku hanya membuatnya tenang," ucap Radja seakan tahu apa yang membuatku khawatir.


Namun, kulihat darah mengalir. Ada di bawah kepalanya. Tidak, aku harus lebih memastikan. Tepat di tembok itu, bercak darah Nadia tertempel.


"Ja! Nadia berdarah, kita harus menolongnya," ucapku panik.


Aku gunakan kedua tangan untuk mendorong dan mendekatkan Radja berulang-ulang. Namun, yang kudengar balasan Radja hanyalah, "Dia akan baik-baik saja."


"Ja ...."


"Apa?" tanyanya dingin, "ayo pulang."


"Aku bakal balik ke Twins kalau Nadia dirawat di sana," balasku pada Radja.


Mata Radja membelalak. Dia menghempaskan tangannya dariku.


Aku tidak paham dengan sikapnya, tetapi dia akhirnya membopong Nadia dalam pangkuan.


"Terserahmu, Dira."


"Ja ...." Lagi-lagi suaranya dingin dan menusuk. Radja hanya diam tidak membalas. "Kenapa?'


"Aku tidak akan menyetujui mereka kembali. Tidak pula dengan Nadia. Mereka hanyalah sekumpulan orang jahat yang Hana beri kesempatan. Tidak Dira, kita harus menjauhi mereka."


Aku termenung. Tidak aku mengerti apa yang dia sebutkan. Namun, yang aku ketahui Radja benar-benar marah. Dia mungkin membenciku sekarang.

__ADS_1


__ADS_2