Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 16. Aku Melihat Laki-Laki Itu


__ADS_3

“Jadi Dira, kamu harus cari nilai x dulu. Udah gitu kamu substitusikan ke rumus awal. Enggak perlu tutup buku gitu, ini gak ribet,” ucap Radja di hadapanku.


Aku mendengus. Soal matematika itu sulit dipahami. Apalah itu X dan Y, kenapa mereka terus menggangguku. Tidak bisakah mereka berdua mengurus hubungan mereka berdua saja? Menyebalkan sekali. Aku pun terpaksa kembali membuka buku setelah mendapatkan tatapan maut dari Radja. Ya, laki-laki ini bisa melaporkan apa pun pada Kak Ron, akibatnya aku harus semakin giat belajar atau mengerjakan begitu banyak soal.


Mual sekali rasanya, tetapi ini benar-benar menyebalkan. Aku ingin membaca buku. Sayangnya Radja hanya memperbolehkanku mengerjakan soal bahasa setelah latihan matematikaku selesai. Aku bahhan baru mengerjakan seperempatnya, sepuluh soal, sejak tiga puluh menit lalu. Ini menyebabkan Radja terus mengomel, dia bilang aku tidak akan selesai ujian tepat waktu kalau seperti ini terus. Ayolah, Ujian Nasional masih beberapa bulan lagi!


“Ja, kita istirahat dulu yuk,” tawarku, berharap dia mengiyakan. Sayangnya Radja tetap fokus mengerjakan soal ke tiga puluh. Tangannya dengan teratur menggoreskan pena, tetapi tangan satunya pun tidak hanya diam. Laki-laki itu menggunakan tangan untuk menghitung.


“Kamu udah istirahat lima belas menit sekaligus aksi mogok ngerjain soal, Dira,” ujar Radja.


Aku mengembuskan napas. Dia benar-benar menyebalkan. Masa iya aksi mogok dihitung juga sebagai waktu istirahat? Aku bahkan belum minum atau makan cemilan. Oh, ya ampun. Lain waktu aku harus bilang pada Kak Ron agar menggantikan guru lesku.


Kalau aku bisa memilih, aku ingin diajarkan oleh Demina saja. Dia juga pintar, bahkan lebih pintar dibandingkan Radja. Hanya saja, Demina terlalu ambisius. Mungkin itu pertimbangan dari Kak Ron. Dia tidak ingin sahabatku fokus pada dirinya sendiri dan niat untuk mengajarkanku pun berubah. Meminta diajarkan Bizar tidak mungkin, laki-laki itu kan sangat sibuk.


Dengan terpaksa aku membantu X dan Y bertemu dengan hasil. Dengan cepat tanpa tahu benar atau salah, aku pun mengerjakan soalnya. Sampai tuntas. Segera aku menutup buku, lalu menggunakannya untuk menutupi wajah. Otakku panas, terlalu banyak ditekan. Jika bisa diilustrasikan, saat ini asap sudah bermunculan di atas kepalaku.


Radja memang lebih cepat selesai dalam mengerjakan tugas seperti ini. Dia bahkan sudah makan camilan di dalam kulkas dengan tenang. Kak Ron mengizinkan laki-laki itu untuk mengambil makanan di rumah. Aku kadang menegur ucapan kakak pada Radja, tetapi laki-laki itu memang bukan teman biasa. Dia itu sudah banyak membantuku.

__ADS_1


“Ja, kamu rencana masuk mana?” tanyaku. Sambil meraih keripik kentang yang sedang Radja makan.


Radja mengangkat tingg-tinggi keripik itu, tidak membiarkan aku menjangkaunya. Namun, aku tidak mau menyerah. Sampai akhirnya kantung berisi keripik kentang itu jatuh ke bawah dan segera aku ambil. Salahnya karena tidak mau berbagi dengan tuan rumah.


“Aku belum diskusi sama Miss Merry. Karena pilih sekolah terlalu bagus itu akan membuat aku tersorot kembali sebagai keluarga terpandang. Kamu tahu aku gak mau, mereka juga udah buang aku. Mana bisa aku muncul tiba-tiba kayak gitu,” jelas Radja yang lalu mengambil keripik kentang di tanganku.


“Ja, kamu ngerasa gak sih, Miss Merry kadang menyimpan sesuatu yang gak kita tahu. Beda sama Miss Ann yang blak-blakkan kalau kita tanya sesuatu tentang dunia mereka,” balasku.


“Mengungkapkan rahasia itu sulit, karena kita harus menentukan apakah kondisi dan situasinya sudah lebih tepat,” ucap Radja sambil melirik ke arah buku catatanku.


Dia membuka buku soal di mana itu baru saja aku isi dengan asal. Aku meneguk ludah sendiri, siap-siap saja karena apa yang aku kerjakan di buku tulis dan jawaban di buku soal akan berbeda. Maka, aku memutuskan untuk berdiri. Melarikan diri dari Radja adalah keputusan terbaik sekarang, sebelum laki-laki itu sadar dengan jawaban asal-asalanku.


Baru berjalan beberapa langkah dari rumah, aku mendengar suara teriakan. Segera aku menutup telinga, tetapi teriakan itu tidak mau hilang. Bukankah Radja masih memeriksa jawabannya? Tidak mungkin secepat ini. Aku pun mencoba untuk menyimak kembali teriakan yang berulang-ulang ini.


“TOLONG!” Teriakan itulah yang berulang kali terdengar di telingaku.


Aku membelalak, segera aku aktifkan fitur navigasi di jam tangan miikku. Mencari tahu apa yang terjadi dalam jarak dekat. Sayangnya, tidak terdeksi apa pun. Aku tidak punya waktu untuk kembali ke rumah. Segera saja aku berlari ke sumber suara sambil mengucapkan pesan suara untuk Radja dan Demina. Orang terdekat di sekitar sini hanya mereka.

__ADS_1


Di antara gang sempit aku melihat dua orang dewasa tergeletak di atas tanah dengan darah keluar lebih banyak. Ada satu anak kecil yang berlari ketakutan ke arahku. Dia segera bersembunyi di baling punggung. Anak itu meracay tidak jelas, sehingga aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di tempat ini.


“Tenanglah, Dik. Kakak akan melihat apa yang terjadi. Kamu pulanglah ke rumah,” ucapku setenang mungkin agar dia merasa aman.


“Jangan, Kakak. Ada monster di sana ... seram, lebih baik kakak juga pulang. Ayo!” ucapnya kali ini sangat jelas dan bukan racauan.


Aku memegang tangan anak itu. Memberinya ketenangan, sehingga dia tidak gemetaran lagi. Pelan aku berbisik padanya, “Kakak akan baik-baik saja. Pergilah yang jauh dari sini.”


Anak kecil itu mengangguk. Melepaskan peganganku secara perlahan, lalu dia pun berlari secepat mungkin. Memastikan keadaan aman, aku segera mengubah wujudku. Siap untuk bertempur dan menahan monster sampai bantuan datang.


Ucapan anak kecil itu memang benar. Ada seekor monster, masih sama seperti yang pernah aku lawan. Dia berjalan ke arahku dan menyerang dengan agresif. Sekuat tenaga aku berusaha menghindar dan membekukan monster tersebut.


“Ya ampun, ini tidak akan sempat,” ucapku seraya menelan ludah.


Tiba-tiba hantaman keras datang dari atas. Entah siapa. Aku pun langsung menengadah. Seorang laki-laki berambut jabrik dengan sayap yang membentang. Dia membantuku menghentikan monster ini.


Aku berteriak kecnang, “Siapa kamu?!”

__ADS_1


Laki-laki itu menoleh, tetapi karena posisi kami yang berjauhan, aku tidak bisa melihat jelas wajahnya. Dia hanya tersenyum, lalu mengepakkan kembali sayapnya tanpa menjawab pertanyaanku. Aku ingin menyusulnya, tetapi aku tidak bisa terbang.


“Nadira!” Panggilan itu membuatku menoleh. Radja berlari ke arahku dan dia menatap tidak percaya dengan keadaan gang ini. Aku mengepalkan tangan, mereka harus dihentikan.


__ADS_2