Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 21. Cerita Para Pedang


__ADS_3

Ruangan ini tidak memiliki cahaya yang cukup, kecuali dari permata di tiap pedang yang tengah melayang. Ketiga pedang itu melesat ke arahku. Tanpa aba-aba, aku hanya bisa berlari tanpa arah.


Aku segera memunculkan tanaman dan mengikat ketiga pedang tersebut. Tidak berlangsung lama para pedang berhasil memberontak. Mataku memelototi ketiga benda mati itu.


Sejak kapan pedang punya pemikiran mereka sendiri?


Refleks aku menutupi muka dengan kedua lengan. Padahal itu tidak akan memengaruhi apa pun. Cukup lama, aku tidak merasakan apa-apa. Sampai debaran jantungku mulai berdetak sewajarnya, aku merenggangkan jari. Dari celah-celah tersebut bisa aku lihat para pedang hanya melayang di depanku.


"Ya ampun," ucapku lalu mengembuskan napas, "nyaris saja."


Aku berkacak pinggang pada tiga pedang di hadapanku yang melayang-layang. Jumlah yang tepat. Masing-masing mewakili Nadia, Afly dan Bara. Hatiku cukup menghangat berhasil menemukan pedang. Dengan ini mereka bisa menjadi normal. Satu di antara pedang itu mendekati, tanpa menyia-nyiakan aku mengambilnya.


"Tidak semudah itu kamu mengambilnya," ucap seseorang di hadapanku.


Bunyi perpaduan antara alas kaki dan ubin bisa aku dengarkan. Tidak lama wajah yang tidak asing dengan ingatanku pun muncul. Bulu kudukku meremang, terlalu sulit menelan ludah sendiri. Semakin aku mendengar langkah kaki itu, aku merasa tempat ini berubah menjadi lebih bercahaya.


Wajah angkuh gadis itu mulai tampak oleh mataku. Bibirku begitu kelu menyebutkan namanya. Hana?


Hana berjalan melaluiku. Sorotan matanya hanya menatap lurus ke depan. "Hana aku mengambilnya karena ...."


"Ame, tubuh dan pikiranmu belum mampu menguasai dainslef. Aku tidak mau kamu jadi jahat karenanya," ucap Hana. "berikan padaku, sekarang."


Aku segera berbalik melihat Hana yang tengah menghampiri gadis lain. Mirip seperti Nadia. Gadis itu tengah memegang pedangnya. Aku refleks melihat pada apa yang sedang aku pegang. Pedang yang sama dan utuh. Segera aku membuang pedang itu ke sembarang arah.


Hutan yang kulihat mulai kembali menjadi ruang hitam. Dengan dua pedang yang masih melayang dan pedang yang baru saja aku lempar.


"Apa itu tadi?" gumamku pada diri sendiri.


Apa mataku berulah lagi? Memang bukan pertama kali, tetapi kenapa sentuhanku langsung berinteraksi dengan masa lalu pedang itu? Aku kembali melihat pedang tersebut memelesat ke arahku. Segera aku memegang gagang dainslef.


Kembali ruangan gelap ini berubah menjadi hutan di mana Hana dan Ame tengah berselisih. Api berkobar membakar tiap tanaman hingga tidak bersisa. Hana mengeluarkan kemampuan air untuk mencegahnya.


Hana menyimpan kekuatan air milik Mizuki. Bibit kekuatan Hana yang berkembang di dalam tubuhku pun turut menyimpannya. Aku kembali memejamkan mata, menelusuri lebih jauh lagi pada masa lalu pedang ini.


"Aku tidak akan menurutimu! Mau kamu seorang ratu atau apalah itu!" bentak Ameterasu pada Hana. Dia tidak menghentikan api membakar hutan. Justru gadis itu lebih menggila dengan menodongkan dainslef pada Hana.


Hana dengan gaun megah seorang ratu sepertinya kesulitan menghindar. Dainslef milik Ame berubah menjadi pecut. Tidak segan ketika seutas tali itu dilayangkan, Hana harus menerima lengan gaun mewahnya harus terkoyak. Aku tidak mengerti mengapa Hana tidak menghindar, tetapi dia semakin mendekati Ameterasu yang semakin larut dalam kegelapan.


"Kembalikan padaku, Ame. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan lagi," ucap Hana.


Ameterasu dengan kebruntalannya. Api digiringnya melawan Hana. Ratu Alam menggerakkan air dari kedua telapak tangan. Menyelimuti api panas itu lalu melawan balik dengan melontarkan es. Ameterasu berhasil dia lumpuhkan. Dengan perlahan dia mengambil dainslef, lalu membekukannya kembali.


Semua ingatan itu berhasil membuat cahaya pada pedang yang kupegang berwarna kemerahan. Melepaskan dirinya sendiri dan melayang di hadapanku lagi. Aku coba untuk mengambilnya lagi, tetapi pedang itu menghindar.


Melirik ke dua pedang lainnya, mereka masih bersinar terang. Aku belum menyentuh keduanya. Ah! Aku baru ingat untuk menyalakan radar pada jam tangan. Tidak sempat menyentuh, salah satu pedang mencoba untuk menyerangku. Segera aku melompat ke sisi lain.


Aku menggunakan tanaman untuk menahannya. Semakin kuat mencengkeram agar dia tidak memberontak. "Pedang, tenanglah. Apa yang terjadi padamu?"


Mungkin aku gila karena mencoba bicara pada pedang. Namun, tanpa ada jawaban aku tidak sedikit pun menghentikan niat untuk memegangnya. Sedikit jariku menyentuh gagang, entah kenapa ada goresan luka yang membuat setetes darahku jatuh ke bawah.


"LEPASKAN AKU! RAJA MENYEBALKAN LEPASKAN AKU!"


Aku dikejutkan dengan suara menggema di balik jeruji. Laki-laki itu memberontak dari tali yang mengikatnya. Dia mencoba untuk melepas tapi tidak bisa. Hanya membenturkan badan ke jeruji sajalah yang dia lakukan.


Aku bisa melihatnya, berulang kali laki-laki mendobrak jeruji. Hingga akhirnya bengkok. Namun, tidak cukup membuatnya kabur dari sana. Tidak lama dua sosok itu datang dengan terburu-buru.


"Mamoru tenanglah!" ujar Hana pada laki-laki itu.


"KAU SAMA MENYEBALKANNYA. AKU MEMBENCIMU!"


Lagi laki-laki itu berteriak kasar hanya karena Hana mencoba menyentuh pipinya. Mamoru kembali memaki, mendobrak bahkan membenturkan kepalanya. Di sana aku bisa melihat air mata Hana berlinang. Tidak kuasa baginya menyentuh Mamoru.


"Sudahlah, Hana. Dia tidak bisa kamu selamatkan," ucap Kazuhiro padanya.


Hana menggeleng. Dia semakin erat memegang jeruji. Gigi-gigi Mamoru bergemeletuk. Rahangnya mengeras, jika saja ikatannya terlepas, aku yakin Hana dalam bahaya.


Aku membuka mataku, menyadari air mata telah jatuh membasahi pipi. Perasaan Hana sampai padaku. Bagaimana Mamoru memakinya. Sama seperti Afly yang selalu bersikap kasar padaku. Takdir ini ... lebih condong pada kebetulan yang tidak terduga.


Kembali menutup mata. Aku melihat Mamoru yang tidak menyakiti dirinya sendiri. Orang yang mirip Afly itu diam di kamarnya. Entah mengapa sering sekali memegangi kepala dan berteriak.

__ADS_1


Kak Ron di sana, memberi pengobatan dan penetral. Namun, Mamoru berhasil menangkis. Dia justru mencekik leher kakakku. Saat itulah Hana datang dengan matanya yang membulat.


"Mamoru, apa yang kamu lakukan?!" bentak Hana, dengan jetikan jari akar-akar yang merambat berhasil melepaskan keduanya.


"Aku ... Aku tidak tahu. Ratu, maafkan ... maaf," balas Mamoru begitu lirih.


Hana mengembuskan napas. Dia kembali berjalan, tetapi dalam jarak yang semakin mendekat, Mamoru langsung bertingkah di luar kendali. Sebelum hal buruk terjadi, dia segera mengambil syal. Hana memasangkan syal biru pada Mamoru.


"Syal ini akan melindungimu, sebagaimana kamu melindungiku, Mamoru. Beristirahatlah dengan tenang," bisik Hana padanya.


Aku mengerjapkan mata karena tiba-tiba ditarik ke tempat seharusnya. Pedang yang aku pegang mengeluarkan warna kuning cerah. Dia juga melepaskan diri dan menghampiri pedang milik Nadia.


Satu pedang lagi. Aku mencoba untuk tetap menguatkan diriku sendiri. Perasaanku cukup kacau balau. Kadang bercampur aduk karena memikirkan bagaimana pendahulu Nadia dan Afly begitu terluka.


Pedang itu mendekatiku dengan kehendaknya. Aku membuang napas sebelum benar-benar memegangnya. Tidak ada kejadian apa pun. Hanya gelap.


Gelap. Sunyi. Aku tidak mengerti di mana ini. Mungkinkah aku belum berpindah tempat? Ataukah pedang ini yang tidak memiliki ingatan tentang pendahulu Bara.


Aku mendengar suara langkah kaki yang menggema. Berhenti setelah bunyinya yang kesepuluh. Berganti dengan jam yang berdentang.


"Michio," panggil Hana, aku bisa memastikannya. Karena sejak awal hanya dia yang sering muncul pada cerita.


Tidak lama sosok laki-laki muncul setelah disoroti oleh cahaya rembulan. Purnama. Dibandingkan dengan kedua orang sebelumnya, pendahulu Bara berada dalam situasi yang sangat aneh.


"Ratu, rupanya Anda sudah menyimpan pedang kami," ucapnya.


Langkah kaki itu semakin mendekat. "Pedang kalian aman. Terima kasih sudah mengantarku ke kerajaan lama ini, Michio."


"Tapi ... apa ini akan baik-baik saja? Aku bereinkarnasi lebih dahulu."


Aku menunggu Hana berucap. Sayangnya yang aku lihat ratu itu mencubit lawan bicaranya. "Di antara semuanya kamu memiliki ingatan kuat tentangku."


"Azumi bisa memanfaatkan aku, Ratu. Tidakkah Anda khawatir?"


Aku terpaksa membuka mata ketika tubuhku diguncang. Buram. Sangat buram ketika ada anak laki-laki yang mengguncang tubuhku dan cahaya kebiru-biruan menyelimuti mataku.


Aku menoleh padanya. Tidak lama tercium bau amis entah dari mana. Mataku kembali berair. Perasaan yang kacau ini kembali lagi


"Kenapa bisa kamu nangis dengan berdarah seperti ini?!"


Sedikit memiringkan kepala, akibat pusing dan juga tidak mengerti. Sampai aku bisa melihat dengan jelas, laki-laki di hadapanku begitu khawatir. Keringat sudah berjatuhan dari pelipisnya.


Di belakangnya, kakakku tengah mengobati. Dia sibuk dengan fokusnya sendiri. Perlahan aku mencoba meraba pipi dan melihat ada darah di tangan kananku.


Aku benar-benar berdarah seperti yang keduanya katakan. Semakin sampai sinar itu mengobati. Aku bisa melihat bangunan sederhana ini. Tiga pedang berada di sampingku. Aman. Terkendali.


"Pedangnya memberontak?" tanya Radja padaku. Tentu gelengan kuat sebagai balasan pernyataannya.


"Radja, kita membicarakannya nanti saja. Sekarang kita harus pulang," tegur Kak Ron. Laki-laki yang bisanya menyebalkan itu sepakat. Dia membawa tiga pedang berbeda. Bahkan bagiku saja itu terlihat sangat berat.


-------------


Aku meringkuk di atas kasur. Setidaknya itu yang aku ketahui setelah perjalanan mencari ketiga pedang. Entahlah di mana tiga benda itu sekarang.


Aku memilih menutupi seluruh tubuh dengan selimut ketimbang menyaksikan matahari yang menari-nari di atas sana. Tiga orang itu memiliki kesedihan masing-masing dan aku tidak mampu menyentuhnya sedikit pun. Apakah benar pedang yang kucari bisa mengembalikan mereka?


Tidak lama pintu kamarku dibuka. Seseorang menghampiriku, ada hawa panas yang mendekat. Namun, tidak membuat aku beranjak dari kasur sedikit pun.


"Nadira, makan ya? Lihat kakak lho yang masak," ucap Kak Ron di sana.


Aku terdiam sambil memeluk lutut. Lagi, aku mengingat apa yang terjadi pada Mamoru. Menyakiti dirinya sendiri. Mengingat apa yang terjadi pada Ame hingga Hana terpaksa mengambil pedangnya. Terakhir mengingat ucapan Michio.


Mungkinkah Bara memang mengingat Hana? Semua ingatan itu berkecamuk menyatu dengan apa yang pernah aku alami. Ini menyebalkan, tidak bisa air mata berhenti mengalir.


"Dira!" Tiba-tiba sinar memaksa masuk dan hawa dingin menusuk-nusuk permukaan kulitku.


Kak Ron yang berani menyibak selimutku. Dia membantu memapah tubuhku. Kepalaku sakit, ingatan lain mendominasi.


Aku bertanya-tanya apakah ini bayaran yang harus kuterima?

__ADS_1


Kak Ron tidak lama memeluk tubuhku yang ringkih. Dia menyeka air mata yang jatuh. Mengusap kepalaku lembut hingga dia menuntun kepalaku untuk bersandar pada dadanya.


"Kamu kuat, Dira. Kakak tahu kamu kuat." Itulah yang Kak Ron bisikkan padaku berulang-ulang.


Aku hanya bisa menangis. Tidak mau bicara apa-apa. Tubuhku kebas. Sakit jika digerakkan, lelah jika didiamkan.


"Ingatlah, ada kakak dan Vivian di sini. Kamu bisa melawan perasaan itu, Dira," ucap Kak Ron padaku. .


Kuat-kuat berusaha mengangguk. Membuka mulut meski suara bergetar. Aku hanya bisa membalas pelukannya. Mungkin Kak Ron paham dengan ucapan yang kusampaikan melalui pelukan. Mungkin ....


"Dira, mungkin Hana sengaja membuatmu tahu masa lalu para pemilik pedang," celetuk Kak Ron.


Aku mendongak melihat rahang Kak Ron yang tengah mengeras. Apa dia marah?


"Aku ingat, jelas, sangat, pokoknya itu. Hana tidak bisa mendapatkan hati ketiganya. Beda denganku dan Vivian, tiga orang itu sengaja leluhur Radja pilih langsung untuk Hana.


"Dulu, mereka tidak tahu jika ketiga kesatria itu sangat kejam dan ingin membunuh Hana. Hanya aku, dia dan Vivian yang tahu. Tidak butuh waktu lama bagi Kazuhiro mengetahuinya.


"Ketiganya dihukum mati, tetapi Hana menolak. Memberikan mereka kesempatan kedua. Di saat itulah dia memberikan masing-masing sebuah pedang. Dua orang terikat tetapi Ame tidak," tutur Kak Ron padaku.


"Maka dari itu Kakak bilang belum tentu mereka menerima kekuatan para pedang?" balasku dengan tersedu-sedu.


Ron mengangguk. "Mereka bisa menolak. Bisa menerima atau bahkan merencanakan hal jahat."


"Jadi, apa yang aku lakukan ini salah, Kak Ron?"


Kak Ron hanya tersenyum. Dia mencubit hidungku sebentar. "Tergantung tindakanmu ke depannya. Kamu menganggap mereka apa?"


Aku mematung, bahkan hingga Kak Ron beranjak dari kasur. Memberikan. Aku privasi yang lebih.


Aku menganggap mereka apa?


Setelah semua yang aku lalui, apa yang aku inginkan. Mereka adalah pengawal Hana. Semua tahu aku bukanlah ratu itu. Nadira tetap Nadira, bukan seorang gadis yang membutuhkan pengawal.


Segera aku pun ikut beranjak dari kasur. Tidak peduli seberapa semrawutnya selimut yang terjatuh di atas lantai. Aku segera keluar dari kamar. Sepi, tidak ada tanda kehidupan di kamar sebereangku.


Aku berjalan ke ruang makan. Di mana kudengar suara mereka. Miss Merry berada di sana sambil menuangkan makan malam untuk semuanya. Segera aku berlari. Entah efek lapar atau rasa yang mengekang.


"Nadira, akhirnya kamu keluar kamar juga," ucap Miss Ann padaku.


Aku hanya balas tersenyum padanya. Sayang, tujuanku kali ini hanya pada Miss Merry dan Nadia. Gadis itu tengah memperhatikanku dengan bingung. Namun, aku mendekatinya. Langkahku pasti tanpa ada napas yang berat sedikit pun.


"Nadia, jadilah temanku sekaligus rekanku! Aku bukanlah Hana kamu adalah kamu bukan Ame!" ucapku tegas hingga semua orang yang awalnya berbicara pun berhenti melihat padaku.


Nadia semakin melihatku aneh. "Kamu kenapa Dira?"


"Kita buat sejarah baru! Kita ... sama-sama akan melindungi bumi. Aku, kamu, Radja, Bizar dan semuanya," ucapku semakin meyakinkan, "bisakah, Nad?"


"Dira," panggil Radja padaku.


Aku hanya balas dengan senyuman. "Aku berjanji padamu. Bara dan Afly, keduanya juga akan berada di sini. Sebagai teman."


"Dira ...." Nadia mengembuskan napasnya, "aku enggak paham kamu kenapa. Yang kutahu sekarang, aku mau jadi teman kamu."


Aku tersenyum memeluknya. Ini pilihanku. Hanya perlu meyakinkan mereka, begitu juga dengan pedangnya. Biarkan mereka menjadi teman, hingga saatnya tiba kami mendeklarasikan diri sebagai rekan.


"Nadira." Pelukan itu harus segera aku akhiri ketika Miss Merry memanggilku. Sepertinya aku kembali mengacau.


Dengan senyum masam aku melihat pada peri yang tengah melipatkan tangan di depan dadanya. "Aku paham dan aku mendukungmu."


Aku tidak tahu apa yang lebih bahagia lagi sekarang. "Miss ...."


"Kakakmu, Bizar dan Radja sudah bilang padaku. Kami berdua, aku dan Miss Ann, sangat butuh bantuanmu," lanjut Miss Merry padaku.


"Bantuanku?"


Radja mengangguk dia mendelik padaku. "Nadira, keinginanmu terwujud."


Kak Ron tersenyum padaku. Sedangkan Bizar hanya sibuk membaca bukunya dan Radja hanya menatapku dengan datar. Aku benar-benar tidak tahu, apa yang lebih bahagia lebih dari ini.

__ADS_1


__ADS_2