
Atmosfer perpustakaan semakin mencekam. Di tambah layar transparanku semakin memudar. Entah bagaimana aku tidak bisa mengaktifkannya lagi. Tidak akan sempat untuk meminta pertolongan.
"Bara!" teriak Afly di sana.
Bara Auliana Karim. Laki-laki itu mengepalkan tangannya begitu kuat. Rahangnya sudah mengeras dan gigi-gigi bergemeletuk. Semakin dia mempersempit jarak, aku bisa lihat bagaimana urat-uratnya timbul.
"Bagaimana bisa kalian memilikinya?" ucap Bara dengan suaranya yang semakin berat.
Afly beranjak. Dia langsung berhadapan dengan Bara. Aku tidak bisa membiarkannya! Terutama ketika kedua tangan Afly begitu gesit menarik kerah baju Bara. "Kenapa? Kamu mau ngelawan aku? Gak bosen kalah ya, Michio?"
"Siapa kamu sebenarnya," desis Bara, "bagaimana kamu tahu nama itu?"
"Cukup kalian berdua! Kita di perpus. Bisa bicara di tempat lain?" ucapku sambil memisahkan mereka sebelum guru penjaga perpustakaan melihat kami.
Aku menarik kerah leher belakang Afly hingga dia menjauh. Melihat Bara yang masih memerah marah. Keduanya setuju untuk bicara di luar. Namun, aku masih merasa belum tenang sama sekali.
Cukup jauh kami meninggalkan sekolah. Untungnya lapangan perumahan sedang sepi, kami bisa membiarakannya dengan baik. Ralat. Aku tidak yakin dari tatapan keduanya yang sama-sama memandang tajam. Sama-sama siap, seperti kucing yang sudah menunjukkan cakarnya.
Bara enggan menatapku, dia hanya melihat pada laki-laki yang selalu menjadi musuhnya. Entah bagaimana itu berhasil membuat hati tersentil. Aku ingin menyentuh Bara, tetapi terlalu beresiko pada sakitku. Aku ingin menenangkan Afly, tetapi dengan keras dia menepisnya.
Aku hanya bisa mengembuskan napas kasar dan duduk berhadapan dengan mereka. Sama-sama tangan mengepal kuat. Jangan sampai ada baku hantam. Sebisa mungkin.
"Kita ke Twins sekarang. Lebih leluasa ketimbang di bumi," ucap Bara.
Aku nyaris tidak ingin memercayai ucapannya. Namun, ketika Bara melebarkan sayap kelelawar dari balik punggung, aku sibuk memperhatikan sekitar. Aura kegelapan menguar dari tubuhnya, memunculkan sebuah portal mirip seperti milik Bizar. Sayangnya milik Bara lebih kecil dan mencekam. Afly mengerling padaku lalu masuk lebih dahulu.
Aku menyentuh portal itu, tetapi hanya sedikit saja aku mulai tersedot ke dalam. Aku tidak bisa menutup mata ketika portal itu menelan kami. Langsung melontarkan kami ke Lux of Valley. Sebelum benar-benar terjatuh dari atas sana, aku kembali memunculkan layar transparan, bersyukur muncul tepat waktu. Aku segera menekan tombol darurat di sana dan kembali melihat tubuh yang semakin cepat turun.
Enggak bakal sempat kalau aku pakai kekuatan air dan tanaman,pikirku.
Aku menyiapkan diri jika harus membentur tanah. Namun, nyatanya Bara memelesat menangkapku. Hingga kami turun, Afly berdiri sambil menyilangkan tangan. "Ini udah lebih dari aman. Bahkan kita bisa melanjutkan perkelahian kita sebelumnya."
"Apa? Enggak!" tolakku pada mereka.
"Nadira ini bukan urusanmu, duduklah. Ini urusan kami," balas Bara. Dia melepaskanku dan berjalan pada laki-laki tersebut.
Langkahnya begitu pasti. Dengan kegelapannya yang terus menguar kelaur dari tangan. Afly begitu tenang, dia malah menengadahkan tangan hingga cahaya muncul di sana. Aku menelan ludah, tidak mungkin kubiarkan mereka berkelahi meski beresiko aku ketahuan.
"ROPES!"
Aku berteriak selagi mengarahkan tangan pada keduanya. Hingga tanah mulai bergetar dan aku bisa merasakan tanaman tumbuh dengan cepat dari bawah sana. Keduanya sama-sama terkejut dan akan menghindar. Namun, aku lebih dahulu menyatukan tangan dan menggenggamnya. Hal itu memengaruhi tanaman yang muncul untuk mengikat mereka.
"Kamu!" ucap Bara meninggi.
Aku mendekati keduanya. "Aku enggak mau kalian berantem di sini. Setidaknya kita masih bisa bicara baik-baik."
"Tidak ada yang bisa kita bicarakan baik-baik setelah aku tahu kalian musuhku," balas Bara.
"Aku justru gak paham kenapa kamu biarin aku dan dia terikat," ujar Afly, "dia orang yang hampir membunuhmu, Nadira!"
"Karena kalian berdua itu temanku," ucapku singkat.
Entah bagaimana ekspresiku saat ini. Namun, aku hanya melihat mereka berdua bergantian, selagi menunggu bala bantuan datang ke mari. Aku tidak mungkin macam-macam, bertindak sedikit saja bisa salah. Mengacaukan semua rencana dan kehilangan kepercayaan mereka.
"Aku mohon kalian berdua tenanglah dulu," lanjutku pelan.
Bara tetap memberontak, berbeda dengan Afly yang mulai diam. Keduanya menjadi sifat yang berkebalikan. Entah apa yang memicu, tetapi itu tidak mengurungkan niat awalku.
"Afly, Bara, aku bukan Hana yang merupakan ratu kalian. Orang yang berjanji untuk menemui kalian. Namaku Nadira, aku terhubung dengan ratu kalian karena kemunculan Azumi," jelasku, "jika kalian mencari Hana, tentu itu bukan aku."
"Aku mencarimu untuk Azumi," desis Bara.
__ADS_1
Bersamaan dengan perkataan. Aura kegelapan semakin menyelimuti Bara. Mengubah baju laki-laki itu menjadi pakaian tempur yang sering aku lihat. Tanaman yang aku gunakan tiba-tiba menjadi kekuningan. Mengerut hingga akhirnya melepaskan Bara.
Mataku membelalak ketika sayap kelelawarnya terbentang. Memelesat dia mengarah padaku. Sebelum semua bertambah buruk. Aku mengibaskan tangan hingga tanaman lain mencegahnya. Mengikat kuat pada kaki, tetapi tidak lama Bara berhasil meloloskan diri.
Aku melirik pada air danau di sana. Bukan hal baru bagi laki-laki yang tengah berhadapan denganku ini. Maka segera aku mengarahkan telapat tangan ke danau dan menuntunnya pada Bara. Tidak lupa aku melonggarkan ikatan pada Afly.
"Kali ini aku benar-benar akan membawamu. Anggaplah semua yang aku ucapkan dulu hanya omong kosong. Kita bukan teman," tegas Bara di atas sana.
Aku benar-benar tidak bisa menyerangnya dalam jarak yang terlalu jauh. Mana bisa pula melayangkan anak panah ke atas. Karena apa pun yang dilempar ke atas ujungnya akan jatuh juga. Parah jika mengenaiku.
Bara mulai melemparkan bola-bola berwarna hitam dari tangannya. Apa pun yang terlihat meletup-letup dari bola itu sangat mengerikan.
Segera aku melompat ke belakang. Menunduk ketika bola terlalu cepat di atasku. Menghindar ke kanan dan ke samping. Meski berhasil menghindar, nyatanya itu membuang tenaga cukup banyak.
"Nadira, jangan lengah!" seru Afly padaku. Dia segera berlari padaku.
"Jangan menghalangiku!" bentak Bara pada Afly.
Lagi bola-bola itu dia lontarkan. Segera Afly menahannya dengan cahaya yang keluar dari permukaan telapak tangan. Hingga bola-bola pun menghilang sempurna. Dia lalu beralih padaku.
"Tanpa syal, aku enggak bisa keluarin kekuatan aku dengan maksimal," ujar Afly.
Aku mengangguk paham. "Kalau gitu pakailah. Aku akan menghadapi Bara."
"Kamu gila? Aku harus ke bumi lagi, tasnya aku tinggal di perpustakaan," balas Afly.
Aku menghela napas. "Kalau gitu bantu aku sebisamu."
Aku segera berlari mendekatinya. Seraya mengumpulkan tenaga untuk memunculkan pedang dari sana. Tidak ada yang keluar. Namun, aku mendengar sesuatu memberontak dari air danau sana.
Ketika menoleh, pedang yang sama seperti di mimpi melayang padaku. Segera aku tangkap. Mata Bara membesar melihat apa yang ada di tanganku. Namun, tidak berangsur lama dia memelesat terbang ke arahku.
Dia memakai pedangnya sendiri yang muncul tepat dia menepis seranganku. Ketika Bara kembali menyerang, aku berusaha menangkis. Menahan serangannya yang begitu kuat. Bahkan tenaga Radja ketika berlatih saja tidak sampai begini.
"Aku hanya ingin berteman denganmu, Bara! Tidak lebih," ucapku padanya.
Bara menggeliat dalam cahaya yang mengekangnya. "Hanya Hana yang boleh mendekatiku! Dan kamu pembunuh, gadis yang menjadi wadah reinkarnasinya."
"Bara bisakah kamu melangkah dari masa lalu? Kita punya masa depan yang lebih baik ketimbang menunggu hal yang sudah kita tahu. Hana tiada.
"Aku tahu kamu bukan orang yang seperti ini, Bara. Kamu orang baik," ucapku padanya.
Bara memutar matanya bosan. Namun, aku masih berusaha untuk membicarakannya. Di sampingku Afly hanya diam. Entah malas bicara atau tidak mau menanggapi lebih lanjut.
"Afly, Bara, aku ingin kita membuat sejarah baru. Dengan pedang yang leluhur kalian miliki," balasku pada mereka.
"Pedang?" gumam Afly.
Aku mengangguk padanya. Menjelaskan singkat tentang mimpi yang selama ini kualami. Namun, ketika ingin menjelaskan tentang keberhasilan yang aku dapatkan ketika mencari pedang itu layar transparan kembali muncul. Aku memilih pamit dan menjauh.
Nama Radja muncul di sana. Aku menekan singkat hingga suara laki-laki tersebut terdengar olehku. Tidak aku lupakan suara-suara angin dan pohon yang bertemu jadi satu.
Nada suaranya begitu tinggi, entah mungkin karena dirinya kalut. "Kamu baik-baik saja? Aku ke sana!"
"Ja ... Ja, tenang dulu," balasku padanya.
"Gimana bisa aku tenang! Aku telpon Demina, kamu enggak ke tempat kerja kelompok. Terus aku lihat notifikasi bahaya darimu. Itu yang namanya aku harus tenang?"
"Afly tadi bantuin aku untuk menghadapi Bara. Jadi kamu bisa bernapas lega sekarang," jelasku. Tidak ada sahutan. Justru sifat menyebalkannya kembali. Radja tanpa aba-aba menutup sambungan tersebut.
Aku baru mau mengembuskan napas melihat kelakuan Radja yang seperti ini. Namun, ledakan terjadi di belakang sana. Segera aku memutar badan dan melihat Bara yang terlepas. Kegelapan benar-benar memenuhinya.
__ADS_1
Memikirkan tanaman yang menjadi panahan sesegera mungkin. Karena kali ini dia bisa bertindak lebih parah lagi. Aku membidik pada Bara, mengeluarkan anak panah bambu bisa tetapi kulumuri dengan kekuatan akar belukar. Jika bidikanku berhasil, bambu akan berubah dan mengikat Bara kuat. Sayangnya anak panah memelesat di arah yang berbeda.
Aku meneguk ludah karena Afly di depan sana kewalahan. Hingga suaraku berteriak memanggilnya, "Afly!"
Afly begitu sibuk melakukan pertahanan, melawan sebisanya. Mencegal Bara ketika dia memiliki kesempatan yang tepat. Sayangnya itu tidak sepenuhnya berhasil. Bara justru membalikkan keadaan dengan angin-angin kuat membawa tubuh Afly ke atas. tanpa segan dia menjatuhkan bersamaan dengan kedua tangan menuruni ke bawah.
"Tidak Afly!!! Bara hentikan!" teriakku sangat kencang.
Bara tertawa begitu keras. Dikuasi oleh kegelapan yang semakin mengelilingi tubuhnya. Aku tidak mau mendengar ketika dia berucap, "Mamoru ayo kita akhiri ini dengan nyawa sebagai bayarannya."
Langkahku berat, karena Bara mengaktifkan kembali angin untuk mencegahku untuk mendekat. Sebelah tangannya lagi membuat bola kegelapan yang sangat besar dan di arahkan langsung pada Afly.
Saat ini aku membutuhkan bantuan. Kutarik kata-kata tentang Radja tadi. Saat ini juga, bisakah dia datang tepat waktu? Dalam hati aku terus menyerukan nama Radja dan Bizar. Berharap mereka datang menolongku.
Mungkin harapanku sia-sia saja. Bara sudah mengeluarkan bola kegelapan tersebut pada Afly. Aku benar-benar tidak percaya. Mataku panas, sakit, hancur dan berharap ini hanyalah ilusi semata. Sampai air mataku lolos, bola itu semakin mendekati Afly.
"Shower of Fire!" Aku refleks melihat ke atas. Di mana sayap naga membentang lebar.
Radja menyemburkan api dari mulutnya sendiri. Langsung mengenai Bara. Tanpa sempat menangkis, laki-laki itu jatuh tepat di sebelah Afly. Aku merasakan tekanan angin semakin menjadi lebih normal.
"Radja!" panggilku pada laki-laki di atas sana.
Radja turun ke bawah dan langsung mendekati lawannya, begitupun denganku. Dia lalu melihatku. "Maaf aku terlambat."
"Gak apa. Eh, Ja. Bisa kita bawa mereka untuk diobati?" tanyaku dibalas tatapan tajam olehnya. Aku menelan ludah sendiri sambil tersenyum padanya.
"Nad," panggilnya dengan nada yang begitu rendah, "kamu pikir dua orang ini bisa dikatakan baik?"
Aku mengembungkan pipi. Seharusnya aku enggak nanya ke dia, rutukku dalam hati. Namun, kondisi keduanya tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Mereka sama-sama terkena serangan fatal. Bahkan Bara memiliki luka bakar di bagian punggungnya. Sedangkan Afly mengeluarkan darah segar dari pelipisnya. Oh ya ampun! Itu kondisi yang sangat buruk.
Tidak peduli Radja mulai melebarkan sayap. Aku tidak bisa meninggalkan mereka, setidaknya dengan pengobatan terlebih dahulu. Memangnya orang rumah tidak akan khawatir melihat anak dan cucunya babak belur seperti ini?
"Ja, percaya sama aku," ucapku meyakinkan.
Radja terlihat menimang-nimang. Melihat Afly dan Bara berulang kali. Dengan luka seperti itu kuyakin dia seharusnya luluh. Tidak berlarut dalam pemikiran, embusan napasnya pun keluar sebagai jawaban.
"Sungguh?" Radja mengangguk sebagai jawaban lainnya. Lalu dia mengaktifkan layar transparan dan meminta Bizar membuatkan portal.
------------
"Keadaan mereka cukup parah. Tidak mungkin dibawa ke bumi dalam waktu dekat," tutur Miss Merry padaku dan Radja.
Miss Ann tengah mengobati Afly. Menghentikan pendarahan yang ada di pelipis. Tidak lupa dia menarik semua aura kegelapan pada anak laki-laki tersebut. Sementara Bara masih Miss Merry tangani. Dengan posisi di mana laki-laki menunjukkan punggung dan peri tegas yang satu itu tidak luput menghentikan kekuatan penyembuhnya.
"Tapi kami tidak bisa membiarkan mereka tinggal di Twins, Miss. Mereka harus pulang," ucapku.
Miss Merry menggeleng. "Penyembuhan mereka lebih lama! Kecuali pedang yang Kazuhiro berikan ada di dekat mereka."
Aku melirik pada Radja. Dia tahu, laki-laki yang menyebalkan ini sangat memahami kondisi. Tidak mungkin bagi kami untuk diam saja. Termasuk Azumi, dia mungkin mencari Bara saat ini juga. Ayolah Ja! Kamu tahu apa yang harus kita lakukan, rengekku dalam hati.
"Bara tidak tinggal dengan siapa-siapa. Biarkan dia pulih meski agak lama. Aku akan minta Bizar menipiskan keberadaanya agar Azumi tidak mengganggu kita," ucap Radja membuat aku membatu.
"Jadi untuk Afly kamu berikan pedangnya?" tanya Miss Ann antusias.
"Dengan berat hati aku katakan ya, Miss Ann. Nenek Afly bisa khawatir. Kalau dia sudah sadar, aku akan mengantarnya pulang," jelas Radja lagi.
Miss Merry menatapku bergantian dengan Miss Ann. Dia lalu memejamkan mana. Menengadahkan tangannya sambil merapalkan mantra. Entah mantra apalah itu, karena aku mendengarnya seperti bisikan saja.
Kunang-kunang hinggap dari berbagai celah, memutar dari tangan Miss Merry. Dia lalu mengubah kunang-kunang itu menjadi pedang. Benda tajam yang aku temui sebelumnya. Miss Merry lalu beranjak dari Bara.
Permata pada pedang itu terus menyala. Rasa di dalam diri ini berdebar-debar ketika aku melihat curtana melayang ke arah Afly. Entahlah karena cahaya yang begitu terang ataukah sesuatu mencoba memanggilnya. Mata laki-laki itu terbuka perlahan-lahan.
__ADS_1
Hal yang kuingat dia menyerukan nama, "Hana ... kenapa kamu meninggalkanku?"