Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 90. Cerminan Diri (1)


__ADS_3

Namun, Tiara kembali berjongkok, dia menyentuh dasar tanah dan ekspresinya langsung berubah. Tatapan gadis itu yang sudah tajam makin terlihat menyeramkan. Tiara kembali berdiri dan membuat laporan. Miss Ann berada di gedung ini. Hal itu sukses membuat kami meneguk ludah. Namun dalam sekejap Radja sadar dan dia mengingatkan prioritas kami.


Sambil beranjak, aku segera melaporkan hal tersebut pada Bizar. Tentu dengan fitur baru yang ditingkatkan, laki-laki itu tidak perlu mengirimkan pesan dan lokasi tambahan. Dengan mudah Bizar mengirimkan lokasi pada kelompok lain. Sementara kami fokus pada tujuan utama. Menemukan Ratih dan menghancurkan jurnal tersebut.


Kami berdiri di depan hotel, kembali beberapa orang dengan muka yang sama seperti orang sebelumnya pun bermunculan. Kali ini lebih banyak dan lebih menyeramkan. Aku segera melompat ke sisi lainnya. Sambil menarik sulur dan memunculkan anak panah, aku segera menembakkannya ke arah para musuh. Kaki mereka mulai membeku dan mereka balas menyerangku dengan kekuatan lainnya.


Radja tidak tinggal diam, laki-laki itu segera menyemburkan napas api. Dia tidak peduli jika yang menduplikasi kami ini adalah manusia. Saat ini menggunakan kekuatannya saja sudah cukup untuk membuat mereka pingsan. Sementara itu, Tiara membuat mereka pingsan dan Afly membantu gadis itu dengan memberi perlindungan. Aku tidak terlalu dalam ancaman, terlebih aku berdiri di belakang mereka. Tidak akan ada duplikasi yang mendekatiku sebelum mereka berurusan dengan Radja, Afly dan Tiara.


“Jangan buang-buang tenaga. Masih ada musuh yang harus kita lawan di dalam. Jika sekarang tamengnya sudah tidak ada, aku jadi penasaran siapa yang akan menggantikan posisi Tiara dan Faizal,” celetuk Radja sambil mengangkat beberapa orang lalu melempar mereka ke tempat lain.


“Andai aku bisa memberitahumu, Ja. Sayangnya, aku tidak tahu siapa mereka,” balas Tiara. Gadis itu mengembuskan napas lalu kembali memukul lawannya. Aku segera menari anak panah dan menyerang ke musuh terakhir. “Ayo pergi.”


Aku segera menyusul teman-teman yang sudah masuk ke dalam hotel. Padahal belum ada seminggu aku meninggalkan hotel, tetapi keadaannya sudah sangat mengenaskan. Tidak ada lampu yang menyala dan kegelapan mengelilingi kami. Untungnya Afly menggunakan kekuatannya sehingga lampu pun menyala meski tidak ada sumber listrik di sekitar kami. Sayangnya itu tidak berlangsung lama karena Radja langsung memukul kepala laki-laki tersebut. Bahaya, katanya. Jadilah satu-satunya penerangan kami hanya sebatas kunang-kunang dalam jumlah sedikit.

__ADS_1


Radja berdiri di depan bersama Tiara. Dua sejoli itu memang sudah terbiasa dengan kegelapan. Radja bisa menggunakan penglihatannya untuk melihat dalam kegelapan, sementara Tiara sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Bahkan, menurtku ini tempat yang sangat bagus untuk aksinya. Seraya berjalan, aku memegang kerah baju Tiara, takut jika aku tersesat dan malah masuk sarang musuh. Meski kenyataannya ini adalah sarang musuh.


Air mataku tiba-tiba keluar tanpa sebab dan dapat kuhidu aroma yang familier. Namun, ini di dalam kegelapan. Apa yang membuat hidungku menghidu aroma ini? Lagi pula, tidak mungkin ada yang memasak makanan kesukaanku di hotel. Ini pasti hanya ilusi saja. Dugaanku ternyata benar dan Tiara memperingati kami tentang hal tersebut.


“Jika jurnal itu pergabungan kekuatanku dan Faizal, maka ini hanya ilusi. Tolong kalian ingat baik-baik tujuan kita. Aku tidak akan terkena kekuatanku sendiri, tetapi ini gabungan dengan Faizal, jadi aku rasa ini pun akan memiliki efek padaku,” jelas Tiara seraya mengendap-ngendap ke ruangan lainnya. “Ratih dan seseorang ada di sini. Dia berada di dua lantai setelah kita.”


Kami segera menaiki tangga dan mengabaikan apa pun yang terlihat. Bergerak dengan hati-hati ternyata lebih sulit. Kami tidak boleh membuat lawan curiga. Terlebih, ada seseorang yang melindungi Ratih dan kami tidak tahu siapa dia. Ketika sampai di depan ruangan, aku melihat wajah teman-teman terlebih dahulu. Ingin rasanya aku memberikan kabar pada Bizar, tetapi meski menyalakan fitur, ilmuwan satu itu tidak akan mendapatkan jawaban. Perlindungan ini terlalu kuat.


Radja segera menendang pintu tersebut hingga hancur. Aku bisa mendengar suara teriakan dari dalam dan dalam sekejap berubah menjadi suara benturan. Mataku membelalak karena Radja langsung terdorong ke tembok di samping pintu. Pelipisnya terluka dan mengeluarkan darah. Aku tidak kuat melihat hal tersebut. Ratih dan Afly pun bersiap-siap dengan posisi mereka. Segera aku pun menyusul Radja dan membantunya untuk berdiri.


Keputusan Radja untuk membawa kami bertiga memang tepat. Tidak mudah percaya dan menganggap semua musuh itu kuat. Jika sebelumnya orang-orang yang kami lawan hanya bayangan dan kini kami pun menganggapnya bayangan pasti akan buruk. Aku bisa merasakan aura laki-laki ini berbeda. Jauh berbeda dibandingkan para duplikasi di bawah sana. Meski begitu, aku tetap tidak tahu apakah kemampuan aslinya.


“Ratih, hentikan ini! Apa kamu mau menghancurkan dunia?!” teriakku tanpa memedulikan laki-laki tersebut.

__ADS_1


Ratih semakin berjalan mundur, hingga akhirnya dia membentur tembok dengan kaca tertutupi pagar besi di sana. Tidak ada jalan untuk melarikan diri. “Jangan mendekat, Nadira. Aku mohon pergilah dari sini dan biarkan aku mewujudkan cita-citaku!”


Aku memutar kepala bosan. Dia memang terlihat gemetar, tetapi ini bukan saatnya untuk mengasihani Ratih. Aku tidak tahu apa yang sudah Miss Ann pengaruhi pada Ratih hingga gadis itu tidak bisa membedakan kesalahan yang benar dan salah. Sungguh, jika dia mau bekerja sama dan memberikanku buku tersebut, semuanya akan lebih baik. Aku serius.


“Ratih, kamu mengacaukan seisi bumi. Apa cita-citamu sampai kamu harus membuat semua orang menderita dan kehilangan segalanya? Ratih ....” Ucapanku terhenti karena laki-laki yang kuat dan sedang berhadapan dengan Afly dan Tiara itu pun memotongnya.


“Jangan dengarkan dia. Gadis itu mengatakan omong kosong!!! Semua yang kita lakukan ini sudah benar, Ratih,” ucap laki-laki tersebut, lalu dia melempar tubuh Ratih ke tepi tembok lain. Namun, Afly segera menggunakan kekuatannya. Lalu laki-laki itu pun mendekatiku, tetapi Radja segera berdiri di hadapanku.


“Lawanmu itu aku,” ucap Radja dan segera menggantikan tangannya dengan cakar naga. Tanpa belas kasihan laki-laki itu melakukan tendangan memutar dan mengoyak tubuh laki-laki tersebut. Namun tidak sesuai harapan, laki-laki itu pulih dengan cepat, seperti Kak Ron.


“Sejujurnya aku tidak punya urusan denganmu. Nadira harus aku serahkan pada Miss Ann. Kekuatannya akan melengkapi tujuan Azumi untuk memperbudak dunia,” ujar laki-laki tersebut. Tanganku mengepal bersamaan dengan tumbuhan jalar yang muncul di sekitar kami.


Aku lalu memanggil pedangku. Tidak ada gunanya berdiri di garis belakang jika aku melihat teman-temanku kesulitan. Di saat Radja terus beradu dengan manusia duplikat, aku mencoba untuk mengimbanginya. Namun, laki-laki itu justru membelah diri menjadi empat bagian. Masing-masing dari kami memegang satu bayangan.

__ADS_1


Bayangan itu berevolusi menjadi wujud kami. Namun bukannya melawan diri sendiri, kamu melawan teman sendiri. Aku berhadapan dengan duplikasi Tiara. Afly duplikasi Radja dan Tiara duplikasi Afly. Terakhir Radja yang melawan duplikasiku. Awalnya aku berpikir ini tidak akan mudah, terlebih mereka terlihat seperti asli. Bahkan benar-benar mirip dengan kami.


“Ini gila,” gumamku.


__ADS_2