
Pelajaran Bahasa Indonesia membuat aku berbunga-bunga. Begitu guru mengatarkan tugas-tugas menuju otak kami. Mengangkat sedikit inspirasi yang lalu membiarkan kami mendayung ke mana-mana.
Tugas kali ini bertemakan puisi. Hal yang terlihat mudah untuk ditulis, tetapi nyatanya tidak. Tiap tulisan mengandung makna terpendam. Bisa perasaan penulis atau orang lain. Bisa pula bercerita tentang alam atau apa pun.
Di sinilah aku, menatap hampa pada kertas bergaris itu. Bingung kata apa yang harus tertulis. Biasanya Demina selalu menyindir jika pada pelajaran ini sepuluh menit belum ke depan untuk menyerahkan tugas.
"Dira, kamu udah beres?" tanya Demina tiba-tiba.
Aku refleks menggerakkan tangan asal dan menulis judul apa pun yang aku pikirkan saat itu juga. Lupa. Aku lupa jika gadis di dekatku ini bahkan tidak mungkin ingat kebiasaanku.
"Aku baru tulis judul. Bingung mau ambil tema apa," balasku setengah berbohong.
Demina hanya mengangguk. "Aku justru udah ambil tema. Cuma ... enggak tahu kenapa aku pengen nangis. Kayak emang ada yang aku lupain selama ini."
Ujung-ujung bibirku berkedut. Aku memegang tangannya. Dengan agak berbohong aku pun berucap, "Cie menjiwai nih."
Pipi Demina merah. Dia menggelengkan kepala dan kembali menulis. Aku ingin menertawakannya, tetapi sadar jika tugas ini menunggu.
Setelah bel berbunyi, pertanda semua selesai. Puisi kami serahkan pada guru. Selanjutnya pelajaran sejarah, Pak Hisam yang akan mengajar. Entah kenapa aku jadi semangat karena dua minggu ke belakang guru sejarah itu berhalangan hadir.
Aku menyiapkan barang-barang di atas meja. Buku paket, buku tulis, tempat pensil dan buku kecil. Sebelum akhirnya beranjak dari kelas menyusul Demina yang ada di depan pintu.
"Ke kantin? Aku ikut ya," ucapku padanya.
Dia menggeleng. "Aku gak bisa. Harus ke ruang guru, urus nilai yang salah."
Aku mengembuskan napas sebal. Nyatanya Demina masihlah murid yang peduli pada nilai meski hanya berkurang satu poin saja. Dia memperlihatkan kertas ulangan, di mana hanya ada satu coretan tinta merah dengan jawaban yang seharusnya benar. Nilai sempurna.
"Kamu mau ke kantin? Mau bareng?" ajak anak laki-laki di belakangku. Jelas bukan Radja! Karena si menyebalkan itu tengah berlomba dengan sekolahnya Bizar.
Kami berbalik menghadap orang yang bicara. Sebelum aku menolak, Demina lebih dulu menjawab, "Iya nih. Nadira sendirian. Kamu temenin dia ya, Afly."
"Serius?" balasku mempertanyakan ajakan Afly.
Afly mengangguk. "Kamu mau atau enggak?"
"Udah, Dira, bareng aja," goda Demina. Dia menepuk-nepuk pelan bahuku barulah melanjutkan ucapannya, "duluan ya?"
Aku menelan ludah karena Demina baru saja beranjak. Melirik dapat Afly, laki-laki berambut berantakan itu masih menatapku. Ujung baju keluar dengan dua kancing atas yang terbuka. Entah kenapa dia jadi laki-laki tipe bad.
"Seriusan? Fangirl kamu gimana?" tanyaku lebih memastikan jawabannya.
"Gak bakal ganggu. Ayo ke kantin," ajak Afly lagi.
Afly melangkah lebih dulu, tangan kanannya bersembunyi di balik saku celana. Sementara tangan kiri memegang ponsel. Aku menggeleng. Dia bisa saja tersandung jika melakukan hal seperti itu. Tidak lama, aku pun turut melangkah di sampingnya.
Kami saling mendiami. Tidak ada basa-basi. Hanya telinga yang mendengar murid-murid berbicara. Mataku terus bertemu dengan para gadis lain yang menatap kami horor. Aku tidak suka.
Afly sibuk dengan ponselnya. Aku sibuk memalingkan muka sampai tidak menemukan tatapan singa-singa buas itu. Sampai entah bagaimana ceritanya ponsel itu terjatuh.
"Ya ampun!"
Terburu-buru Afly mengambil ponsel itu. Kulihat ada retakan memanjang dari atas melengkung ke bawah. Laki-laki tersenyum masam.
"Kok bisa jatuh?" tanyaku iseng.
"Udah hancur. Eh, kamu sibuk gak? Pulang sekolah temenin aku beli hp baru yuk."
"Kok aku?"
Afly memutar matanya. "Ketimbang aku ngajak yang lain. Lagian aku mau ngomong soal itulah."
Aku mengangguk paham. Belum izin pula sama Miss Merry. Namun, ini kesempatan bagus untuk mendekatinya. Aku tanpa berpikir lebih lama lagi pun mengangguk.
"By the way, kamu Deket sama Bara? Setelah tahu dia yang ...." Afly tiba-tiba menghentikan ucapannya.
Sadar apa yang sedang dia bahas, aku membalasnya, "Entahlah. Aku memang ingin berteman sama kalian. Lepas dari masa lalu atau pekerjaan."
"Kamu mau temenan sama aku? Orang yang udah tindas kamu? Aneh," ucapnya padaku.
"Iya." Aku tertawa renyah, mengikuti sulit yang tengah berembus. "Kalau kamu inget Brittany bilang aku gadis aneh, Afly."
"Iya, kamu aneh. Musuh kok jadi temen," sindirnya lagi.
__ADS_1
"Kalian bukan musuhku. Kalau iya, untuk apa kamu selamatkan aku dulu? Untuk apa juga dia bantu aku."
Penjelasannya membuatnya bungkam. Namun, itu hanya salah satu dari alasannya. Karena kini kami sampai di kantin tempat yang ramai oleh murid-murid.
Afly tiba-tiba menghilang. Celingak-celinguk aku mencarinya. Tahu-tahu dia sudah duduk dan bercengkrama dengan anak laki-laki lainnya.
Setidaknya kami mulai berbicara.
---------
Setelah mengirim pesan pada Miss Merry, aku mengenakan tas dan berjalan ke luar kelas. Ponsel aku simpan di saku rok biru panjang. Jika tidak di kelas dan ramai orang, mengirim pesan dengan jam tangan lebih cepat sampai.
Afly sesekali tengadah, menyapa langit biru di atas sana. Pakaian acak-acakan, sepertinya laki-laki itu memang tidak ada keinginan untuk membenahi ataupun terlihat rapi. Kembali dia tengadah, lebih lama memandangi langit.
"Langitnya cantik ya?" tegurku padanya.
Dia sontak menoleh padaku. "Ya, tapi aku membencinya."
"Lalu kenapa kamu melihatnya terus?" tanyaku tanpa berharap dia akan membalasnya.
"Ingatan Mamoru. Dia seolah memanggilku," tuturnya.
Aku mengangguk paham. Melihat kearah jam tangan. "Mau pergi sekarang?"
Tanpa menjawab Afly berjalan lebih dulu ke pintu gerbang. Mall tidak terlalu jauh dari sekolah. Namun, jika berjalan kaki bisa menghabiskan waktu setengah jam.
Afly bukan tipe yang ingin menghabiskan waktu berlama-lama. Mungkin juga malas berjalan kaki. Oleh karenanya dia menghentikan satu angkutan umum dan memintaku masuk lebih dahulu.
Kami turun di persimpangan jalan, tepat di mana bangunan megah itu berdiri kokoh. Dulu aku sering ke sana hanya untuk melihat-lihat di toko buku. SD kelas enam, pulang sekolah bersama Demina saat orangtua tidak lagi khawatir pada kami. Aku mungkin bisa membuatnya ingat dengan ini.
"Kita ke Kafe dulu yuk. Haus, laper," ajak Afly padaku.
"Bukannya mau beli ponsel? Kok jadi ke Kafe," gerutuku padanya.
"Laper, Diraaa. Kalau kamu enggak nurut aku bisa bikin kamu makin gak nyaman di sekolah," ancam laki-laki itu.
Aku hanya mengembuskan napas menyanggupi permintaannya ke kafe di lantai dua. Sengaja, biar setelahnya laki-laki satu ini bisa langsung memilih ponsel. Kafe siswa yang biasanya didatangi oleh anak-anak SMP dan SMA. Alasannya hanya satu, WiFi gratis dengan kecepatan yang lebih diidamkan oleh anak-anal untuk internetan dan kerja kelompok. Terlalu idaman hingga padat pengunjung.
"Lihat, mejanya penuh, Afly! Bisakah kita beli ponsel dulu?" Afly tampak menimang-nimang usulanku.
"Iya deh, iya. Mbak, aku sama temenku dateng nanti lagi ya," balas Afly.
Pelayan kasir itu mengangguk. Dia memberikan kami semacam nomor antrian pada Afly. Aku mengikuti ke mana Afly akan membawaku. Sebenarnya tidak terlalu jauh antara konter ponsel dengan kafe itu, tetapi dia justru pergi ke toko pernak-pernik anak perempuan. Mau ke mana lagi dia?
"Sebenernya aku gak mau ke sana. Di rumah banyak ponsel dari kolega Papa. Cuma mau ajak kamu ngobrol," jelas Afly padaku.
"Hah?" Aku terdiam, "jadi kamu sengaja gitu?"
Afly mengangguk. "Karena kalau aku enggak bilang ke Brittany kamu jatuhin ponselku, dia gak bakal kasih longgar buat aku bicara."
Aku memutar mata bosan. Lebih baik melihat pernak-pernik di toko ini. Meski, sepertinya aku tidak akan pernah membutuhkan barang-barang lucu ini.
Afly juga berpisah denganku. Dia ke rak lainnya. Berarti bukan tanpa tujuan dia membawaku ke mari. Apa pun urusannya, aku ingin memanjakan mata sejenak.
Berkeliling di beberapa rak, aku tidak menemukan Afly. Padahal tidak terlalu lama bagiku melihat-lihat, jadi tidak mungkin dia tega meninggalkan aku. Di pojok sana, aku tengah melihat sebuah syal biru langit yang begitu indah. Membuatku ingat tentang masa lalu pedang.
Aku menghampirinya, memegang syal itu. Rajutan yang sangat hangat. Entah, mengapa aku jadi ingat saat Afly menolongku dulu dan dia menggunakan syal.
"Eh Dira, kata kamu Brittany bakal suka jepit atau kalung?" tanya Afly tiba-tiba di belakangku.
Dia menyodorkan dua jenis benda yang jauh berbeda. Jepit bermata biru dengan ukiran yang terbuat dari emas. Aku mencoba berhalusinasi. Meski terlihat elegan, tidak cocok bagi orang seperti Brittany. Gelengan kepalakulah yang dilihat olehnya.
Beralih pada kalung seperti tetesan air. Aku menyentuhnya. Sangat simpel dan bagi Brittany pasti murahan.
"Kalau kamu cari sesuatu buat dia. Harusnya kamu tanya dia maunya apa, Afly," omelku pada dia.
Afly memijat tengkuknya sendiri setelah menyimpan asal dua jenis benda tersebut. Tidak sadar aku memegang syal biru ini lagi. Agak penasaran aku mengambilnya.
"Buat apa pegang syal?" tanya Afly bingung.
Aku menghadap ke arahnya. Tidak lama memakaikan syal tersebut pada Afly. Sangat cocok. Meski bukan di negara Dengan salju tebal, syal ini sangat cocok Afly kenakan.
Laki-laki itu diam. Hanya ada satu kata yang keluar dari mulutnya, "Hana."
__ADS_1
Saat kusadari dia mengeluarkan air mata, aku segera menyekanya. "Masa cowok nangis?"
"Aku enggak nangis!" Perkataannya seakan membuyarkan apa yang dia ingat. Aku hanya tertawa lalu melepaskan kembali syal yang dipakainya.
"Aku bukan dia, Afly. Kamu kayaknya rindu banget ya?" godaku. Dia mengembangkan pipinya dan merampas syal tersebut. "Hei!"
"Aku mau kasih ini buat Brittany."
Aku kembali berkacak pinggang. "Terserah kamu deh."
Beep! Beep!
Aku menoleh pada sumber suara. Afly turut membuka ponselnya. Penasaran, aku sendiri melihat pada jam tangan di tangan kiriku.
Sudah tiga puluh menit berlalu. Afly segera menggiringku ke kasih, menyerahkan barang belanjaannya. Entah kenapa juga dia mengambil acak perhiasan perempuan yang terdekat. Bahkan tanpa melihat harga.
"Kita ke Kafe Flora sekarang. Banyak hal yang harus kita obrolin, Nadira," ucapnya sambil menunggu pesanan dibungkus jadi satu.
----------------
Afly begitu sibuk memakan makanannya sendiri. Burger dan kentang goreng. Sementara makanan yang dia pesan untukku belum juga tersentuh. Alasannya satu, ponselku bergetar.
Radja mengirimkan pesan padaku. Bertanya apakah mau aku dijemput olehnya. Aku langsung mengetikkan ya di pesan sana. Lagi pula, beres lomba dia bisa langsung ke mall.
"Makanan dibeli bukan buat pajangan lho, Nadira," tegur Afly. Kulihat dia kembali melahap burgernya.
Aku meraih kentang goreng terlebih dahulu. Meletakkan ponsel di atas meja dan makan dengan tenang.
Afly baru saja beres memakan burgernya. Kini sibuk mencicipi minuman bersoda yang dia pesan. Matanya tidak luput mengawasiku. Padahal pemandangan kafe ini cukup indah dipandangi.
"Beneran gak ada miripnya," celetuk Afly.
Aku mengernyitkan dahi. "Gak mirip siapa?"
"Hana. Aku masih penasaran seberapa pentingnya kamu bagi dia," balas Afly.
Percakapan ini lebih berat dari yang aku bayangkan. Aku mengunyah habis satu potong kentang goreng sambil menunda membalas ucapan laki-laki itu.
"Entahlah. Dia menitipkan kekuatannya padaku. Meminta aku juga mengambil sebagian kekuatan yang ada pada reinkarnasinya," jelasku.
"Siapa? Aku bahkan baru tau kalau Hana punya reinkarnasi."
"Sahabatku, Naira. Sayangnya dia terpengaruh Azumi. Orang yang pernah kamu lawan dengan kami," jelasku kembali, "semenjak aku mengambil kekuatannya ... Naira hilang, tidak ada satu pun yang mengenal mereka."
Afly mengangguk-angguk paham. Dia kembali menopang dagu mencari pertanyaan, mungkin, aku tidak begitu peduli. Sementara aku menunggu sambil mengaduk jus alpukat.
"Kamu tahu dua teman pembuat obat itu sempat mendekatiku. Entah apa maksudnya. Aku pikir kedatanganku ke sekolah untuk itu juga," tuduh Afly padaku.
"Aku mau mendekati kamu sebagai teman dan rekan. Tahukah kamu Azumi mulai menggunakan manusia untuk mengacaukan bumi?" tuturku pada Afly.
"Jadi kamu juga mau ngedeketin aku? Aku pernah bilang. Kamu gila karena musuh kamu jadikan teman."
"Iya. Salahnya apa? Kalian bertindak seperti ini karena ada bagian yang hilang. Aku tahu ... karena masa lalu Hana yang aku lihat.
"Kenapa kamu memandangiku aneh begitu? Aku punya penglihatan atau bisa dibilang kebetulan sering melihat masa lalu dan masa depan. Itu salah satu hal yang Tuhan beri di antara kekuranganku," jelasku panjang lebar.
"Tapi kamu bukan reinkarnasinya," sanggah Afly, "gimana bisa kamu tahu masa lalu dia?"
"Sulit menjelaskannya." Aku mengembuskan napas lalu menyeruput jus alpukat di hadapanku. "Afly, kamu boleh tanya apa pun. Cuma, aku bisa minta tolong?"
Afly menoleh padaku. "Apa?"
Aku lekat menatapnya. Mencari kesungguhan jika dia tidak akan menyangkal. Ponselku bergetar lagi, pertanda Radja sudah di mall.
"Jangan buat aku susah di sekolah. Kamu tahu apa maksudku," ucapku singkat padanya.
Aku segera berdiri mengangkat telpon. Agak menjauh, tanpa mendengar Afly mau bicara apa. Suara berat dan penuh tekanan lebih menyeramkan sekarang.
"Kamu di mana?"
Aku meneguk ludah ketika berada di luar ruangan, mendapati laki-laki berkemeja putih dengan celana biru berdiri tidak jauh. Matanya menyorot padaku.
"Kamu udah liat aku di mana."
__ADS_1