
“Ja, banyak hal yang ingin aku ceritakan sama kamu. Ini tentang orang-orang yang sudah membantu kita, aku tahu siapa mereka. Jadi tolong biarkan aku pergi untuk menemui mereka semua,” ujarku pada laki-laki tersebut.
Dia menarik napasnya dalam, lalu segera menoleh ke arahku. “Baiklah. Cepat kembali, kamu tahu kalau orang-orang di sini tidak seaman yang kita kira, Dira.”
“Apa kamu menuduh aku berbohong, Ja? Mereka itu beneran orang baik dan udah bantuin aku!” ucapku tegas.
Aku segera membuang muka, lalu mencari-cari keberadaan Alwi. Namun, laki-laki itu sudah menghilang. Dia pasti kembali ke kamarnya. Segera aku pun menatap Radja agak tajam dengan bibir bawah yang dikatupkan ke atas. Jika saja dia tidak menahan, aku bisa mengucapkan terima kasih sekaligus memperkenalkan dia pada teman-temanku. Termasuk Rico, jika laki-laki itu ada di sini. Sayangnya, mereka berdua pergi. Aku pun tidak tahu kamar hotel sekolah Alwi di mana. Bahkan aku lupa di mana laki-laki itu bersekolah.
Lagi pula, Radja terlalu parno, untuk apa terlalu banyak berpikir tentang pasukan Azumi di sekitar kami? Oke, aku akui jika ini memang mengganggu kami semua. Terlebih mereka berencana menghambat kami. Namun, jika aku tahu jika Alwi dan Rico memiliki tujuan yang sama, bukankah kami seharusnya mengajak mereka untuk menghadapi masalah ini bersama-sama?
Aku segera mengambil artikel-artikel yang belum dibaca, juga beberapa yang belum dipahami. Entah kenapa laki-laki satu ini jadi sangat menyebalkan. Lebih menyebalkan daripada biasanya. Aku lebih baik belajar sendiri, dibandingkan mendengarkan Radja yang sedang sensi seperti anak perempuan tengah datang bulan. Ya, sebaiknya aku pergi sekarang.
Di kamar hanya ada Ratih. Gadis itu tidak sedang melakukan sesuatu yang aneh. Hanya membaca sebuah buku bersampul cokelat. Aku tidak mau mengusiknya, takut-takut jika gadis itu menyadari jika sebelumnya aku mengikuti dia. Tidak. Seharusnya Ratih sadar karena aku tahu, aku terlalu mencolok di dalam bus. Terutama saat membantu pak supir mencari jalan.
Namun tidak aku sangka, Ratih terlihat sangat tenang dan tidak acuh. Cukup membuatku berdebar-debar. Takut jika sebenarnya dia tahu, tetapi mencari cara lain untuk mengungkapkannya padaku. Ya ampun, aku harus tenang. Mungkin di memang tidak tahu.
Harapanku pupus begitu dia berucap, “Nadira, kamu terlalu nekat untuk mengikutiku loh.”
__ADS_1
Aku menelan ludah. Ternyata ini benar-benar mengerikan. Padahal aku baru berharap jika dia tidak mengetahui kebenarannya. Segera aku pun membalas ucapan gadis tersebut, “Aku kira kamu enggak sadar. Lagian, aku juga jenuh ada di sekolah. Lalu ... kalau aku boleh tahu, kamu pergi ke luar untuk apa ya? Dan aku juga tidak melihat kapan kamu turun.”
“Pertanyaan kamu konyol. Aku keluar untuk beli buku novel baru. Katanya ada toko buku yang sangat lengkap. Kamu enggak sadar aku turun? Kayaknya kamu terlalu sibuk membantu orang-orang,” ucapnya pelan tetapi juga sangat tenang. Satu yang aku tangkap, dia tengah berhati-hati dalam berucap.
Aku segera menarik napas lalu melihat gadis itu dengan seksama. Dia pun tengah berbohong, tetapi entah di mana. Saat membeli buku atau turun dari bus. Memang benar aku terlalu sibuk membantu pak supir dan mengeluarkan orang-orang, jadi aku tidak sempat melihat siapa yang sudah turun dan belum. Selama bus itu kosong dan aman, itu artinya baik-baik saja.
“Lalu kenapa kamu bilang aku sangat nekat, Ratih?” tanyaku menyidik.
Gadis itu menyeringai, lalu menutup bukunya dengan cukup keras. Dia lalu melihat ke arahku. “Karena aku tahu kamu sedang sibuk dengan sesuatu, Dira. Sebagai penulis, aku selalu melakukan riset pada orang-orang dan tahu siapa yang sedang berbohong. Kamu tidak lebih seperti tokoh di dalam ceritaku.”
“Apa maksudmu?” balasku, “tokoh dalam ceritamu?”
Aku menggeleng. Sepertinya ini hari sialku, terlalu banyak orang yang membuatku pusing hari ini. Segera aku duduk di tepi ranjang sambil membaca artikel. Tidak lama suara pintu terbuka membuat aku menoleh. Irish dan Demina ada di sana. Mereka menghampiriku dengan wajah yang muram. Kenapa lagi mereka? Apa jangan-jangan mereka beradu ucap dalam latihan lagi?
“Teman-teman, apa kalian baik-baik saja?” tanyaku. Irish mengangguk, sementara Demina tidak.
Aku dekat dengan Demina, tahu jika dia tidak akan berbohong, tetapi Irish juga sama. Walau tidak sedekat gadis maniak soal, aku yakin betul jika orang terpintar di sekolah tidak akan berbohong, kecuali terpaksa oleh keadaan. Dugaanku kali ini pasti tepat, ada sesuatu yang terjadi di antara mereka.
__ADS_1
Seperti yang Ratih katakan, mereka mengajakku makan di luar hotel. Sudah minta izin Miss Merry katanya. Jadi aku tidak perlu khawatir. Aku pun menyetujui ucapan mereka, lagi pula aku ingin memberitahukan soal Rico dan Alwi. Kedua orang yang sepertinya akan menjadi teman baik kami.
Demina dan Irish tidak mengajak anak laki-laki. Untunglah, aku juga sedang malas bertemu dengan Radja. Bahkan aku berencana menceritakan soal laki-laki yang melarangku untuk berteman dengan Alwi. Dia terlalu takut, padahal sebelumnya juga tidak pernah seperti ini. Bahkan dia akan langsung menjelaskan sebabnya. Oke, memang dia menyebutkan, tetapi menggunakan alasan pasukan kegelapan itu tidak bisa aku benarkan.
Pasukan Kegelapan tidak akan bertindak selama kami tidak banyak mencurigai. Bahkan itu pun jika mereka tahu apa yang akan kami lakukan nanti. Sekarang Tiara atau Faizal juga tidak berada di sekitar kami. Jadi aku rasa ini semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada monster lagi yang muncul. Lagi pula, aku cukup lelah setelah melawan dua monster dengan nekat dan nyaris dipertemukan dengan kamera para wartawan.
“Nadira, kamu daritadi cemberut aja. Ada apa sih?” tanya Irish padaku.
Aku menatap gadis itu balik. Melihatnya dari atas sampai bawah, dia tidak lagi bermuka masam. “Aku kira kalian lagi gak kompak lagi. Aku jadi agak kesel. Harus kalian tahu, Bizar bakal muncul di babak final nanti. Dia berniat untuk menguji seberapa kompaknya kalian.”
“NAH! Itu masalahnya, Dira. Tau gak, aku tuh kesel sama Candra. Kita mau belajar, bagi-bagi soal. Cuma dia bilang, kita harus kompak. Enggak bersaing secara masing-masing. Gimana gak sebel?” omel Demina seraya menyilangkan tangan di depan dada.
Aku tertawa sejenak. Pemikiran Candra tidak salah. Justru itulah yang Bizar peringatkan padaku. Jika mereka terus membagi soal, mungkin akan gawat. Tidak selamanya semua soal bisa dikuasai, ada kalanya harus bekerja sama.
“Candra gak salah. Cuma aku udah coba berdua dan gak berhasil. Bakal susah melatih kekompakan apalagi besok kami harus berhadapan dengan sekolah lainnya,” jelas Irish, “kalau kamu? Aku yakin kamu cemberut bukan hanya karena kami saja.”
“Ini ... aku punya banyak cerita tapi sebelumnya. Apa kalian menceritakan pada Ratih jika kalian berdua akan mengajakku pergi makan di luar?”
__ADS_1