
“Sepertinya mereka sudah mulai menyerang ya? Mari kita berubah sekarang,” ucap Radja.
Aku mengangguk dan segera menyalakan fitur pada jam tangan. Tidak semua ikut ke bawah. Hanya aku, Radja, Afly dan Irish. Sementara yang lain tetap di dalam bus agar tidak terlalu dicurigai. Kami berempat segera turun melalui pintu belakang bus dan berlari ke tempat tujuan. Memang benar, monster itu sudah bereaksi. Tidak tahu apa pemicunya.
Kedua monster itu mengangkat beberapa murid dan melemparnya. Ini membuat Miss Merry pun terkejut. Namun, ketimbang itu, aku melihat dua pengemudi yang berhenti di depan busku itu berubah. Sial. Mereka memang ingin menghadang. Kembali aku melihat para murid yang sedang dilempar. Aku pun menyuruh Afly menangkap mereka dengan menggunakan syal miliknya. Sementara Radja menangkan kedua pengemudi itu dan menempatkannya ke tempat di mana kami bisa lebih leluasa untuk bertarung.
“Sepertinya mereka sudah merencanakan ini. Ayo kita selesaikan dengan cepat,” ujar Afly setelah mengamankan para murid murid menggunakan syalnya. Aku segera mengunci pergerakan para monster dengan akar-akar tumbuhan.
“Kita bagi dua. Aku akan segera menyusul Radja dan menghentikan mereka. Nadira, kamu dan Afly mengurus bagian sini,” ujar Irish.
Aku segera mengangguk dan mendapati Irish mengalungkan kembali busurnya. Segera dia melompat dari jalan tol ini dan mengejar Radja di bawah sana. Sementara aku pribadi mulai mengambil pedang dari tanaman yang muncul. Kami sudah siap menyerang.
Kedua monster itu memberontak, kembali membuat orang-orang takut. Terlebih sekarang mukai banyak mobil yang berhenti berjalan. Aku pun melambaikan salah satu satanganku. Segera aku melemparkan air kepada salah satu monster, lalu membekukannya. Sementara Afly sibuk membuat perlindungan agar tidak ada korban jiwa.
“Ropes!” ujarku lantang hingga akar tanaman muncul kembali untuk mengunci pergerakan mereka semua. Jantungku berdebar-debar, nyaris saja terlambat.
Salah satu monster akan menyerang pelindung yang dibuat Afly. Aku tidak mau membiarkan mereka melakukannya. Semakin aku mengepalkan tangan agar akar itu terus mengikat mereka meski lagi-lagi ada pemberontakan. Namun, aku tidak mau menyerah begitu saja.
Dengan kekuatan yang tersisa aku pun menggunakan pedang untuk menangkis serangan mereka padaku. Melompat ke belakang dan mulai menendang mereka. Akar tanamanku memang terlepas. Meski begitu aku sudah siap menghadapi kedua monster tersebut. Dengan mengganti senjata menjadi busur, aku pun segera menembak lutut mereka.
“Tolong jangan sakiti mereka! Bagaimana pun mereka tetap murid-muridku,” ujar seorang guru di luar dinding pembatas.
__ADS_1
“Tenang saja, kami tidak akan membunuhnya. Kami akan menyelamatkan murid ibu,” ucap Afly yang lalu menghampiriku. Dia membuat pelindung cahaya lagi, sehingga para monster terpental hingga ke dinding pembatas.
Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera saja Aku melompat dan menemukan kristal di atas kepala mereka. Aku pun menarik tali busur dan memunculkan satu anak panah. Bersamaan dengan itu, Afly juga mengeluarkan tombak cahaya yang siap dilemparkan ke arah musuh. Tanpa hitungan maupun saling melirik, kami saling melemparkan senjata. Dapat aku dengarkan jika orang-orang di balik kami berteriak kaget. Takut-takut jika ternyata kami yang membunuh teman-teman mereka.
Sinar kegelapan perlahan lenyap. Pertanda serangan kami berhasil menghancurkan kristalnya. Aku pun kembali menapak tanah dan melakukan tos dengan Afly. Misi kami selesai. Segera laki-laki itu pun menarik kedua pasukan Azumi yang melawan kami tadi kembali ke rombongan para murid. Sekarang mereka aman tanpa ada terancam oleh siapa pun.
Kembali guru sebelumnya berkata, “Apa kalian yakin jika kedua muridku tidak akan membuat ulah lagi?”
“Tenang saja, Pak. Mereka sudah terbebas dari pengaruh kegelapan. Mungkin di sekolah Bapak masih ada, tetapi kami tidak bisa terus membantu. Ini tugas Bapak sebagai seorang guru untuk membantu mereka terlepas dari pikiran negatif,” ujarku pada guru tersebut.
“Tapi bagaimana caranya? Aku saja tidak tahu jika kedua muridku ini monster,” balas guru tersebut putus asa.
Aku mengembuskan napas lalu kembali tersenyum pada guru tersebut. “Tidak hanya mereka yang memiliki masalah dan terpengaruh oleh pikiran negatif. Bapak bisa membantu kami dengan memecahkan masalah semua murid.”
Nyatanya cukup tinggi untuk melompat dari jalan tol. Bagaimana mungkin Irish seberani itu dalam melompat? Alih-alih aku bersiap melompat, Afly memegang tangan dan segera menarikku ke bawah. Refleks aku berteriak karena kaget. Jika saja dia mengatakannya lebih dahulu, aku tidak akan begitu berdebar-debar seperti ini.
“Radja, apa kristal kegelapannya belum muncul juga?” tanyaku.
Radja menggeleng. “Kita harus menyerap kekuatan gelap itu menggunakan tabung penyucian. Kamu memilikinya Dira? Bagus. Berikan padaku dan kalian semua tahan mereka.”
Perintah Radja segera kami laksanakan. Aku melempar tabung penyucian itu ke atas, tepat di mana laki-laki itu terbang. Segera saja laki-laki itu menerimanya dan memelesat ke arah para monster. Kami segera mengerahkan kekuatan kami untuk menghentikan para monster menyerang Radja.
__ADS_1
Aku menggunakan kekuatan es untuk membekukan kaki mereka. Sementara Afly menahan tangan-tangan para monster. Irish kembali menarik anak panah miliknya. Sembari mencari-cari di mana letak kristal kegelapan itu. Memang benar, aku pun tidak melihatnya.
Radja Segera mengarahkan tabung penyucian itu sehingga salah satu monster berteriak kesakitan dan berontak. Kami berdua tetap menahan. Semakin erat dalam memegang. Peluh keringat mulai berjatuhan. Tanah yang seharusnya nyaman dipijak, kini sudah menjadi dingin karena es pun keluar dari kaki milikku.
Aku menarik napas, lalu mengeluarkannya dari mulut. Ini mulai melelahkan. Namun, kegelapan itu belum juga sepenuhnya terserap ke dalam tabung penyucian. Aku tidak boleh berhenti di sini. Radja juga pasti sedang berusaha keras di depan sana. Namun, apa yang aku pikirkan saat ini ternyata berbanding terbalik dengan kenyataanya. Tenagaku habis.
Es yang menahan kedua monster itu perlahan retak dan sebentar lagi hancur. Meski aku memaksakan diri untuk mengeluarkan es ataupun tanaman, tidak akan ada yang keluar satu pun. Aku mengepalkan tangan dan rasanya ingin menangis. Kenapa hal seperti ini harus terjadi?
“Nadira! Jangan pikirkan. Tangkap!” ujar Radja padaku seraya melemparkan tabung penyucian. Nyatanya satu monster sudah tumbang dan mulai kembali ke wujudnya.
Aku paham maksud Radja. Kali ini kami bertukar posisi. Hanya perlu beberapa detik bagi Radja memanggil naga yang lalu melilit di kaki monster itu hingga sang monster pun terjatuh. Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Maka aku pun mendekatinya dan mengarahkan tabung penyucian.
“Tunggu, Dira. Aku menemukan kristal kegelapannya. Mundurlah!” teriak Irish.
Sebuah panah melesat di sampingku. Dia mengarah pada punggung monster tersebut. Tepat sasaran. Kristal itu hancur begitu saja. Kekuatan gelap menyebar tetapi berhasil diserap oleh tabung penyucian. Aku segera jatuh terduduk, pertarungan selesai. Kami bisa kembali ke bus.
Radja mendekatiku, dia mengulurkan tangannya. “Lihat bagaimana mereka mempermainkan kita. Tapi kita tetap menjadi pemenangnya.”
Aku mengangguk lalu berkata, “Kamu benar. Kita bisa memenangkan permainan ini. Aku harap dengan perginya kita ke Jakarta, kita bisa menemukan sesuatu tentang dalang di balik ini semua.”
“Ya. Dalangnya pasti akan keluar dengan sendirinya. Setelah dia bosan menikmati kekalahan,” ujar Radja. Kami berdua pun tertawa.
__ADS_1