
“Kemampuan medisku tidak sebaik Merry, jadi untuk pemulihan sampai dia sadar dari koma ... aku tidak yakin.” Kami tidak bisa menuntut lebih dari ini. Miss Ann berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatka Miss Merry.
Ini di luar perkiraan kami dan yang paling menyebalkan adalah kenyataan jika kami seharusnya menyelamatkan dengan cepat. Aku tidak ingin mendengar lebih jauh tentang itu dan memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Lagi pula, aku, Radja dan Bizar sudah berjanji untuk bertemu di sana. Datang lebih awal tidak ada buruknya.
Perpustakaan diisi oleh buku dan aku baru membaca beberapa buku saja di sini. Ketebalan buku-buku di kerajaan ini sangat tebal dan sulit untuk dibaca. Terlebih sudah ada Bizar yang memiliki informasi akurat. Ya ampun, lagi-lagi aku mengandalkan dia lagi.
Aku menyusuri rak terdekat dengan jendela. Mulai dari rak ramuan, kekuatan elemental dan aku pun berakhir di rak berisi buku tentang sihir terlarang. Entah kenapa aku agak tertarik dengan judulnya. Salah satu buku tiba-tiba menghampiriku. Buku yang cukup tebal dengan sampul hitam dengan motif ukiran.
“Kamu tertarik untuk membacanya?” tanya seseorang di belakangku.
Segera aku mendekap buku itu untuk menopang berat dari bukunya. Saat berbalik, aku menemukan Miss Sharron tengah terbang ke arahku. Meski aku berkata tidak menyadari hawa keberadaanya, ingatan soal dia memanglah sudah mati pun berkeliaran. Otomatis peri di hadapanku ini adalah hantu. Tentu tidak memiliki hawa pnas dari tubuhnya.
Aku semakin mendekap erat buku tersebut tanpa sempat membaca judulnya. Senyum Miss Sharron sangat lebar dan itu menakutkan. “Miss Sharron ... kenapa masih ada di sini?”
“Suatu pertanyaan pasti ada jawabannya. Sebelum aku menjawab pertanyaan milikmu, bagaimana jika kamu duluan yang menjawab pertanyaanku?” ujar Miss Sharron.
“Aku hanya penasaran. Sekaligus mencari tahu soal kekuatan para manusia yang mengubah mereka menjadi monster. Azumi adalah pengguna kekuatan gelap, kupikir dia akan menggunakan sihir terlarang,” ucapku pelan.
“Sihir terlarang hanya dimiliki oleh satu orang saja di masa lalu, bahkan di zaman modern ini ... aku tidak pernah melihatnya. Saranku, kamu jangan sekali-kali menyentuh sihir terlarang bahkan jika kamu memiliki bakat untuk itu,” jelas Miss Sharron.
__ADS_1
Aku memiringkan kepala. Untuk apa aku mengambil sihir terlarang? Kekuatan tanaman dan airku saja masih lemah. Namun, larangan ini membuatku semakin penasaran. “Kenapa Miss Sharron? Oh, jangan melihatku seperti itu, Miss. Ini murni hanya penasaran semata.”
“Sihir terlarang dulu dimiliki oleh adiknya Hana, Yozora. Gadis itu terlahir dengan kemampuan fisik dan penggunaan pedang yang lebih hebat dari kakaknya. Sayangnya di balik itu, dia memiliki sihir terlarang.
“Yozora tidak pernah menggunakan sihir terlarangnya karena dia sendiri tidak bisa mengatur emosinya. Benar, Dira. Pengguna sihir terlarang harus memiliki keyakinan hati dan emosi stabil. Apa pun yang dilakukan mereka bukan karena terpaksa. Aku akan melanjutkan cerita.
“Pertama kalinya Yozora menggunakan sihir terlarang adalah saat dia menghancurkan istananya sendiri. Efek samping dari kekuatannya waktu itu adalah pengurangan nyawa. Semenjak itu Yozora jarang sekali bertindak gegabah dan selalu mengikuti Hana,” tutur Miss Sharron.
Aku menggangguk mendengar ceritanya, lalu menunggu peri itu menjawab pertanyaanku yang awal. Sayangnya, sayup-sayup aku mendengar langkah kaki. Segera aku berpamitan pada Miss Sharron dan melupakan cerita tentang Yozora. Tidak lupa aku menyimpan kembali buku tentang sihir terlarang. Berhubung Miss Sharron sudah menjelaskannya secara rinci, jadi aku mengurungkan niat untuk membacanya.
Bizar membuka pintu, dia menuruni anak tangga lalu duduk di atas bangku. Laki-laki itu kehilangan semangat semenjak pulang dari menyelamatkan Miss Merry. Sepertinya dia masih memikirkan lawan-lawan kami sebelumnya. Terlebih aku ragu, data milik Bizar dapat menemukan mereka. Pasalnya, mereka juga memiliki IT dan sangat mirip dengan sang ilmuwan yang satu ini.
“Jika kamu capek, mending istirahat aja dulu,” usulku.
“Aku masih ingin tahu siapa mereka,” timpa Bizar dengan mata yang masih tertutup.
Perlahan tangan laki-laki tersebut meraba wajah dan berakhir dengan menarik kacamatanya sendiri. Jelas-jelas Bizar sangat kelelahan, tetapi laki-laki itu dengan santainya bilang ingin mencari tahu. Kadang aku kasihan pada otaknya. Tidak ada waktu untuk istirahat.
“Aku rasa mulai sekarang kita tidak bisa mengandalkan teknologi terus, Bizar. Bukan maksudku untuk menyinggung perasaanmu. Tapi, setelah kejadian ini ... kita banyak belajar walau hanya melawan mereka sebentar saja,” jelasku.
__ADS_1
“Boleh aja. Asalkan kalian melakukannya sampai aku mengetahui cara untuk menembus pertahanan musuh,” balas Bizar.
“Kamu lihat sendiri bagaimana musuh, Bizar. Apa kamu yakin ... kita bisa menembus pertahanannya?” Bizar mengusap matanya. Dia lalu melihat ke arahku dengan malas-malasan.
“Sebuah karya yang diduplikat enggak bakal sebagus milik pencipta. Jadi sebera mirip serangan mereka, kita yang asli tidak akan kalah dengan barang palsu,” ucap Bizar yang lalu menguap.
Aku mengangguk. Setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bizar. Dilihat dari manapun, kekuatan mereka mirip dengan kami. Ini bukan sebuat karya, tetapi sebagai bentuk asli dari duplikat mereka, kami bisa lebih berinovasi.
“Ngomong-ngomong, apa pendapatmu soal musuh dalam selimut?” tanya Bizar tiba-tiba. “Aku yakin, sejak dulu ada orang yang berkhianat dalam tim ini. Hanya saja aku tidak tahu siapa.”
Orang yang berkhianat? Itu bisa saja terjadi, karena mereka memiliki kekuatan yang mirip-mirip dengan kami. Namun, ucapan itu bukan pertama kalinya Bizar katakan. Ilmuwan satu ini sangat berhati-hati tetapi bergerak dengan pelan. Selain aku dan Radja, Bizar tidak pernah bicara secara terang-terangan. Bagi dia, sulit untuk percaya pada orang lain.
Meski Bara sudah lama bergabung, Bizar masih belum menerima laki-laki itu. Kadang dia tidak ingin memberikan misi, tetapi dia kembali urungkan niatnya. Kami semua sudah berada di penghujung kelas dan sebentar lagi menempuh Ujian Nasional. Perlu belajar ekstra, patroli dan misi dibagi menjadi beberapa kelompok. Kirim sesuai divisinya. Kira-kira itulah yang tengah laki-laki itu pikirkan.
“Bizar, kenapa kamu yakin kalau ada pengkhianat? Aku enggak terima soal alasan monster kemarin,” balasku.
“Aku sudah menyelidikinya sejak lama. Kenapa Azumi selalu tahu pergerakkan kita? Semua pertanyaan memiliki jawaban. Aku sangat yakin,” jelas Bizar yang lalu menatap ke arahku.
Dia segera menyapu bagian depannya hingga muncul sebuah layar transparan yang bisa aku lihat jelas isinya. Bizar menekan beberapa layar tersebut entah sedang mencari apa. Namun, laki-laki itu terlihat malas-malasan dalam melakukannya. Ini pertama kalinya aku melihat dia sangat enggan menyentuh kekuatannya sendiri.
__ADS_1
Tidak lama pintu kembali di buka. Radja dan Bara masuk dengan wajah sangar masing-masing. Apalagi yang terjadi pada mereka? Oh, bisakah hari ini ini tenang tanpa melihat pertengkaran siapa pun hari ini?