Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 51. Ini Bukan Rencananya


__ADS_3

“YA! SMP BUMI NUSANTARA MENDAPAT 50 POIN!”


Aku menggigit bibir bawah saat melihat Bizar duduk di sana dan menjawab soal dengan mudahnya. Tidak seperti kelompok lawan yang harus menghitung terlebih dahulu, ilmuwan yang satu itu sudah selesai. Ini hanya lima detik dari soal diberikan. Meski Bizar dia akan mengalah pada kami, itu justru membuat Demina, Irish dan Candra makin sedih.


Mereka menang dengan mudah, tetapi ini menghilangkan ketegangan dari lomba itu sendiri. Masih ada beberapa babak penyisihan sebelum sekolahku yang maju. Sementara tim debat masih menunggu giliran. Katanya mereka tidak diberitahu kapan dan siapa yang akan mereka lawan. Aku takut jika lawannya adalah Tiara dan Faizal. Mereka juga pasti hebat dan bisa menandingi tim sekolahku. Meski aku tahu, Radja tidak akan mau mengalah.


Rasanya menonton di dalam ruangan membuat aku haus juga. Jadi aku keluar dari aula sekolah. SMA Nusa Bakti akan menjadi lokasi lomba dan pelatihan selama seminggu. Dekat dengan hotel dan bisa pergi dengan jalan kaki. Namun, kami tidak bisa sembarang pulang-pergi. Harus ada izin-izin tertentu. Maka aku tidak bisa ke hotel dan harus mencari kantin di sekolah ini. Lagi pula lomba keduanya belum dimulai. Atau mungkin aku akan pergi ke ruang kelas tempat debat dilaksanakan.


Tiba-tiba ada seorang laki yang tengah berlari ke arahku. Dia membawa begitu banyak dokumen, entah apa. Aku tidak memiliki urusan dengannya, jadi sebaiknya aku menyingkir dari jalan laki-laki tersebut. Saat laki-laki itu melewatiku, entah kenapa ada perasaan yang familier. Refleks aku pun menoleh ke belakang. Namun tidak ada yang aneh darinya.


Daripada penasaran, aku pun mengikuti laki-laki itu sambil mengingat-ingat masa lalu. Aku yakin pernah bertemu, tetapi dia tidak mirip dengan orang yang menyelamatkanku dari kobaran api. Seingatku laki-laki itu lebih tinggi, kali ini yang berada di depanku agak pendek. Rambutnya juga sangat rapi.


“Tunggu!” seruku dan laki-laki itu pun berhenti berlari.


“Ya? Ada apa?” tanyanya.


Aku kembali melihatnya dengan seksama. Wajah mereka tidak mirip. Sebelum menjawab, aku melihat isi dokumen yang tengah dia pegang. Artikel, apa dia peserta debat juga? Terbesit di benakku cara mencari alasan. Ketimbang membuat dia curiga atau lebih parahnya dia marah.

__ADS_1


“Aku mau liat lomba debat, tapi aku enggak tahu kelasnya di mana. Liat kamu bawa kertas ... kayaknya kamu peserta lomba debat juga ya?” ucapku.


“Iya, aku peserta debat dan katanya sebentar lagi giliran sekolahku. Jadi ... gak apa ya kalau kita lari?” balasnya. Aku menelan ludah. Padahal niatku adalah beli minum karena haus. Namun kini aku akan berlari bersama laki-laki yang bahkan tidak aku kenal.


Aku mengangguk sebagai balasan ucapannya. Dia pun mulai berlari di depan dan aku mengikutinya. Kami pergi ke sebuah kelas dan sayup-sayup bisa aku dengan suara tegas, dari balik sana. Mereka pasti sudah mulai melakukan debatnya. Meski pertemuan kami tadi tidak begitu baik, aku harus tetap berterima kasih.


“Makasih ya, err ....” Aku tiba-tiba terdiam. Mencari papan nama milik laki-laki tersebut. Namun tidak ada atau tepatnya tertutup oleh dokumen-dokumen lain.


“Aku Alwinner Shifters, kamu bisa panggil aku Alwi kok. Sampai ketemu lagi ya, Nadira,” ucap laki-laki itu lalu melambaikan tangan padaku.


Alwi pergi menjauh. Dia bertemu dengan dua orang temannya dan mereka sudah siap untuk mengikuti lomba debat. Mataku pun mulai mencari di mana tiga laki-laki yang terkadang sulit diatur. Namun yang aku lihat justru Tiara dan Faizal. Mereka sedang berbisik, lalu tertawa. Entahlah apa yang mereka bicarakan. Bizar sudah memberi peringatan, aku harus hati-hati.


Aku segera melihat ke arah Tiara. Gadis itu juga memiliki sinar merah tetapi semakin lama semakin pudar. Seolah memang tidak mengizinkan aku untuk mendapatkan informasi tersebut. Baru aku mau menyapa mereka, nama sekolah mereka pun dipanggil. Aku terlambat. Keduanya berajak dari tempat dan pergi ke meja yang sudah disiapkan. Syukurlah lawan mereka kali ini bukan Radja dan kawan-kawan. Aku tidak ingin semua ini berakhir sia-sia.


“Nadira, enggak nonton lagi lomba cerdas cermat?” tanya seseorang di belakangku. Ternyata Afly. Laki-laki itu memegang beberapa kertas yang kusut.


“Bosen, Afly. Temen-temen sih lolos, tapi liat Bizar ngerjain soal secepat itu bikin aku ngeri. Ternyata kalau urusan pelajaran hitung-hitungan dan pelajaran umum, Bizar bisa keliatan kayak monster,” jelasku padanya.

__ADS_1


Tiba-tiba Afly menitipkan kertas tersebut padaku. Dia merogoh sesuatu di dalam celana, lalu segera mengangkat telepon. Selama kami di sini, kami mengusahakan untuk menggunkan telepon untuk berkomunikasi satu sama lain. Jangan menggunakan jam karena takut ada yang mencurigai kami. Meski begitu, keberadaan Bizar di sini juga menguntungkan. Karena laki-laki itu bisa mengirimkan telepati pada kami.


Wajah laki-laki itu tiba-tiba berubah. Lebih pucat. Aku bisa menebak jika ini ada hubungannya dengan keluarganya, nenek yang telah merawat dirinya selema ini. Aku pun membuka suara. “Ada apa Afly? Kamu keliatan pucat banget.”


“Nenek sakit dan masuk rumah sakit. Aku harus pulang sekarang juga!” jelas Afly membuat heboh banyak orang.


“Tenanglah dulu, Afly,” ujarku. Segera saja aku membawa laki-laki itu keluar dari ruangan. Dari kejauhan aku pun melihat Bara dan Radja kaget dan segera menghampiri kami. Sementara MC kembali memperbaiki alur perlombaan.


Di luar kelas lomba, Afly benar-benar terlihat rapuh. Dia yang biasanya menggoda anak perempuan kini tidak bisa mengucapkan apa-apa. Tangan pun mengepal erat, dia pasti ingin segera kembali ke Bandung dan menemani satu-satunya keluarga yang memedulikan dirinya. Aku paham, tetapi aku pun tidak dapat berbuat banyak. Perlahan Radja pun memegang pundaknya. Aku yakin ucapan laki-laki ini pasti terdengar oleh rekan-rekannya.


“Bertahanlah selama dua hari, Afly. Aku bakal minta Miss Merry memeriksa keadaan nenekmu. Setelah dua hari dan kita lolos di babak-babak awal, Nadira bakal jadi pengganti kamu,” ucap Radja.


Aku mengangguk, setuju dengannya. Besok pertandingan menulis karya sastra. Hanya sehari tetapi aku butuh waktu untuk mendengarkan pengumumannya. Lusa, aku akan jadi peserta debat dan mengusahakan kemenangan tim sekolah.


“Kamu tenanglah dulu, Afly. Jika perlu, kamu beristirahat dulu di sekitar sini, nanti kita telepon kalau kelompok kita udah dipanggil,” ujar Bara. Afly mengembungkan pipinya tetapi dia tetap menyetujui usul itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2