Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 16. Mimpi yang Aneh


__ADS_3

Bab 16


Mimpi Ini Lagi


Tolong kami.


Aku mengerjapkan mata. Lagi-lagi pemandangan dimensi lain yang saat ini kulihat. Terbangun dari pasir-pasir kasar, serta kaki yang dipertemukan dengan ombak pasang. Entah untuk keberapakalinya aroma pasang laut ini dihidu ketika aku berada dalam mimpi. Masih tidak aku mengerti kenapa mimpi ini berulang-ulang mengusik mimpi indahku.


Tolong kami.


Suara itu kembali memanggil. Semakin jelas meski sosoknya belum bisa aku lihat. Aku berdiri dari tempatku terbangun. Hanya berbekal diri sebagai manusia biasa tanpa kekuatan. Aku berjalan ke arah pondok yang begitu sepi. Sama halnya seperti yang aku lihat di Lux of Valley.


Tolong kami.


Mereka semakin memanggilku ketika aku berdiri di depan pondok. Namun, ketika gagang pintunya disentuh, aku terlempar ke belakang. Kali ini punggung dan belakang kepalaku berciuman dengan pasir sedikit pula mengenai air laut. Kulihat sinar biru memantul dari gagang pintu membentuk lingkaran yang lalu memunculkan sinar di sepanjang pondok.


"Apa itu?" gumamku. Tidak ada kapoknya, aku menghampiri pondok lagi. Berusaha tidak menyentuh gagang pintu. Mencari celah-celah untuk mengetahui apa isinya.


Tolong kami ... di sini.


Seakan ada yang menohok hatiku ketika kata di akhir begitu ditekankan saat mencari celah-celah. Ada lubang kecil di antara pintu tersebut. Tanpa memaksa membuka pintu, aku coba mengintip. Samar-samar aku melihat sosok laki-laki yang sepertinya diikat ke belakang. Ada kain yang menyumpal mulut dan matanya. Tidak bisa aku lihat jelas siapa laki-laki itu.


"Siapa sosok itu?" Aku menjauhkan diri dari pondok. Haruskah aku bertemu dengan para pedang agar aku bisa kembali ke bumi?


Aku melirik sekilas pada lautan luas di luar sana. Ini bukanlah Lux of Valley, tetapi mirip. Lux of Valley bukanlah laut, tetapi danau. Seolah para pasir ingin mengatakan sesuatu. Namun, akulah yang harus menebaknya. Aku mendongak pada langit yang tengah memerah dengan kilatan yang mulai bermunculan.


"Akan aku jelaskan asal kamu memenuhi misiku, Dira." Rasanya aku pernah mendengar nada bicara yang begitu dingin seperti itu. Namun, tidak dapat aku temui seorang pun di sekitar sini.


Tunggu, aku belum bertemu dengan pedang mana pun! Tidak mungkin jika gadis itu muncul di saat seperti ini. Aku merasakan ini sudah jauh dari mimpi-mimpiku biasanya. Otak mengirimkan perintah agar aku berlari dari pondok. Ya, aku melakukannya.


Tiba-tiba para ombak yang beradu itu terbelah. Tidak. Tidak. Bagaimana caranya aku harus bangun dari mimpi ini. Gadis itu terlihat gelap, tanpa wajah, lengkap dengan pakaian serba hitam hitam.


"Jika kamu melangkahkan kaki lebih dari itu, bisa aku pastikan kamu terbangun setelah 10 hari, Nadira," tegas gadis di ujung sana.


Antara takut dan tidak memercayai, aku hanya terdiam di dekat pohon kelapa. Tanganku menjelajah, mencoba menggenggam batang pohon tersebut. Gadis itu semakin mendekat. Seolah-olah percikan ombak menghapus hitam di seluruh tubuhnya. Aku dapat melihat wajah gadis itu.


"Apa kamu lupa denganku?"


Aku tidak mau mengeluarkan sepatah kata apa pun, tetapi mulut tidak sinkron dengan pikiran. Karena hatiku memintanya untuk berkata jujur. "Jangankan lupa, aku bahkan gak tau kamu siapa dan apa yang kamu lakukan di mimpi ini."


"Ya, aku menghancurkan mimpimu ini, tidakkah kamu berpikir ini hanya kebetulan belaka?" balas gadis itu dan aku mengangguk. "Tidak ada kebetulan di dunia ini. Hana memberikan kekuatannya dan kamu harus terlibat dalam semua masalahnya."


"Aku hanya perlu mengalahkan Azumi!" kilahku. Dia semakin mendekat, dengan lautan yang saling bertemu. Gadis itu dibantu oleh air untuk mengangkat tubuhnya mendekat ke arahku.


Mizuki tidak menyerah begitu saja. Di hadapanku dia membagi lautan biru itu untuk melilit tubuh. Basah yang aku rasakan ketika air itu mengikat badan semakin erat. Kedua gigi ini bergemeletuk akibat dingin yang menyambar cepat seperti listrik. Perlahanmataku jadi jauh memandang. Mengagumi luasnya lautan di dunia mimpi ini.


Kembali aku melihat Mizuki, gadis itu dengan senyumannya yang semakin menakutkan. "Bisakah kamu berhenti naif, Nadira? Kamu bicara seolah membunuh nyawa itu seperti membalikkan telapak tangan."


"Aku gak peduli apa pendapatmu. Tolong, biarkan aku bangun dari mimpi ini," balasku tanpa ragu.


"Kamu tidak bisa. Tidak sampai kamu menemui panggilan para pedang," tutur Mizuki.


Aku menautkan alis, tidak peduli dengan hawa dingin yang menusuk pada tubuh. Pedang-pedang yang memanggilku, Radja dan Bizar berjanji akan menceritakan semua yang aku tanyakan. Tidak seharusnya aku menuruti ucapan Mizuki, tetapi ini kesempatan yang lebih baik.


"Katakan ... katakan semua yang kamu ketahui, Mizuki!" tegasku.


Kembali senyum menyungging terpahat di wajahnya. Mata itu berubah drastis menjadi kelam menusuk ketika menatap. Tubuhku menegang, hanya ada getaran pada tangan tetapi bibirku terkunci rapat setelah bertatapan dengannya.


Air yang mengikat semakin mengendur. Aku tidak berpijak pada tanah, ini bisa gawat. Tubuhku yang tidak bisa digerakkan mulai terjauh ke bawah. Tidak ....


"Jangan takut, air adalah temanmu selanjutnya, Dira." Bisik-bisik Mizuki yang seharusnya tidak dapat aku dengarkan karena jarak kami begitu jauh. "Carilah pedangku di dasar laut."

__ADS_1


Kedua bola mataku membulat, bagian punggung lebih dahulu menyentuh air. Tidak! Semakin kurasakan tubuh ini ditarik ke bawah begitu lambat. Aku tidak bisa bernapas. Tidak seperti saat Mizuki yang mencium keningku.


Aku mengembungkan pipi dengan mengumpulkan sisa oksigen yang dimiliki. Bagaimana caranya menembus dasar jika tekanan air saja mengangkat tubuhku ke atas. Di mana aku bisa menemukan pedang di dalam gelapnya lautan malam?


Kedua mataku bersembunyi. Perih karena laut yang telah bersentuhan. Tidak dapat aku menghidu, bahkan menghirup air sedikit saja aku bisa meninggalkan dunia di saat itu juga.


"Hana membuang pedangku ke dasar Lux of Valley."


Suara yang entah berada di mana dan membuatku terlonjak karenanya. Tiba-tiba kedua tanganku mengeluarkan sinar hijau yang memanjang seperti benang ke bawah sana. Aku tidak tahu, apa ini hanya ilusi semata ataukah benang. Namun, dengan oksigen yang semakin menipis aku mencoba menarik benang itu untuk turun ke bawah.


Aku membuka mulut sedikit, membuang sisa oksigen yang tidak sanggup untuk ditahan olehku. Benang hijau bercahaya itu semakin membawaku ke dasar laut. Ini hanyalah mimpi, aku bisa mengendalikannya melalui pikiranku. Ini hanya malapetaka yang akan segera berakhir.


Mataku mengerjap melihat pedang yang bercahaya di bawah sana, itulah yang Mizuki pinta. Semakin tanganku mencapai ujung pedang, sebuah arus semakin terjang menarik ke belakang. Mencoba melepaskan benang yang terikat pada permukaan batu yang mengapit pedang.


Tidak sedikit pun menggoyahkan niatanku. Bahkan ketika akar-akar belukar yang bercahaya mengelilingi pedang. Seperti aku benar-benar tidak diizinkan untuk menyentuhnya. Namun, tidak ada waktu lagi, dadaku semakin sesak tanpa oksigen. Aku harus terbangun dari mimpi ini.


Kakiku bergerak ke atas ke bawah lebih cepat, mengabaikan arus yang berbeda arah. Aku tidak menghiraukan tali itu terputus. Biar sajalah selama aku bisa menyentuh pedangnya. Sedikit memaksakan tangan ke dasar, sekiranya dapat menyentuh gagang pedangnya. Sedikit ... sedikit lagi aku bisa mencapainya.


"Blurb!" Aku kehilangan oksigen kala mulutku terbuka terlalu lebar.


Aku menutup sebelah mata. Mulai terasa air mendominasi bagian dalam mulutku. Tidak, aku tidak boleh mati dalam mimpiku sendiri. Tidak lucu. Cahaya hijau kebiruan tiba-tiba menghambur di penglihatanku.


oOo


Sesuatu yang basah baru saja menyelimuti tubuhku. Itu semakin mengerat dan memaksa membuka mata dengan cepat. Dipaksa hanya akan membuat aku melihat dengan jelas, justru pengar datang tanpa diundang. Hinggap di dalam kepaka dan membiarkan aku merasa ikut terbawa oleh bumi yang tengah berputar cepat.


"Nadira!" ucap suara imut yang kudengar begitu mersik di gendang telingaku.


Ada tangan mungil yang menempel pada bagian pipi, tidak dingin, tidak juga hangat. Aku jadi meragukan pendengaranku. Bisa saja itu adalah satu dari sekian banyaknya abnormal dalam mimpi ini.


Aku mengerjapkan mataku beberapa kali bersamaan tangan mungil itu memukul pelan pipiku dengan cepat. Semakin lama apa yang kulihat mulai jelas, lautan, pondok, dan pohon-pohon. Semua jadi lebih jelas. Termasuk pemilik tangan mungil dan apa yang menyelimuti tubuhku.


"Nadira! Syukurlah," ucapnya.


"Pedangnya?" gumamku agak panik. Di tangan yang terselimuti udara aku bisa melihat sebuah pedang berhasil aku ambil.


Vivian menoleh mendapati apa yang aku khawatirkan. Matanya menyipit lalu wajahnya tidak lama memucat. Aku tidak paham, tetapi Vivian seakan mencoba menghilangkan air yang menyelimuti tubuhku.


"Kamu gak seharusnya ambil ini!" ucapnya marah, "Hana sengaja membuangnya!"


"Ini hanya mimpi ... enggak nyata, Vivian," kilahku.


"Bahkan anak manusia ini tahu itu hanya ilusi, Vivian. Tenang saja aku hanya mengujinya," ucap suara yang aku ketahui milik Mizuki. Namun, tidak aku temukan keberadaan Mizuki di manapun.


Tidak lama air yang menyelimuti membawaku ke depan pondok. Memangku tubuh seperti seorang ibu yang menggendong bayi, lalu dia membuat aku duduk di pondok tersebut. Vivian tidak dapat mengimbangi kecepatan ombak, tetapi dia berusaha keras untuk tetap berada di sampingku.


Sebelum sempat Vivian sampai di pondok, bagian air lainnya pun berubah bentuk menyerupai manusia. Perlahan memunculkan wajah hingga telapak kaki. Mizuki di sana dan dia mengambil pedang dari tanganku dibantu oleh air yang merupakan kekuatannya.


"Kamu siapa?!" ucap Vivian murka. Peri kecil itu menghampiri lawannya dengan berani, tidak peduli fisiknya berbanding terbalik dengan lawan.


"Tidak penting bagimu siapa aku, Peri Kecil," ujar Mizuki. Matanya menerawang pada sayap Vivian. Lalu dia gunakan air untuk membasahi Vivian. Peri itu tidak akan bisa terbang! Tidak sampai di sana Vivian diubahnya menjadi es.


"Kamu jangan panik," lanjut Mizuki. Aku membelalak. Apa katanya?


"Bagaimana bisa kamu bilang kayak gitu! Cepat lepaskan Vivian!" ancamku pada Mizuki, walau aku tahu itu hanya sia-sia.


"Aku tidak bisa membiarkan orang lain mengganggu rencanaku, Nadira," ucap Mizuki yang menatap ke bawah, tepat di mana Vivian mematung.


"Aku setuju buat ambil pedang dan kamu mengatakan misimu lalu aku kembali. Vivian bukan bagian dari skenariomu, aku mohon lepaskan kekuatanmu," balasku.


Mizuki bergeming dengan pedang yang dipegangnya. Aku sibuk mengambil bongkahan es yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Tidak bisa dibiarkan begitu saja.

__ADS_1


"Kamu cukup diam," jelas Mizuki semakin mendekat padaku, "begitu iba dirimu pada peri itu? Mirip Hana sekali, kalian sama-sama lemah."


Aku menautkan alis. Mizuki yang mengangkat pedangnya dan air-air yang menarik salah satu tanganku untuk tengadah. Aku bisa melihat simbol bunga yang dulu pernah muncul ketika perjanjianku dengan Hana.


Permata yang ada pada pedang itu menyala, lalu mengeluarkan setetes cahaya yang perlahan jatuh. Dugaan dan perkiraan jatuh ada pada tangan yang tengadah. Aku tidak tahu apa yang Mizuki lakukan saat ini.


Aku merasa tusukan jarum bertubi-tubi, melebihi rasa sakitnya Radja marah-marah atau Bizar yang mendiamkanku seharian. Rasa sakit ini tidak hanya mengusik indera peraba, tetapi hati kecil pun ikut tersentil olehnya. Ingin rasanya aku berteriak, tetapi bibirku terlalu kelu. Mataku sibuk melihat Mizuki yang tersenyum dan pendengaranku siap mendengarkan.


Ini sakit, tidak mungkin tanganku putus, 'kan?


"Aku tidak peduli simpatimu itu. Jika kamu ingin menyelamatkan Vivian, gunakan kekuatanku," ujar Mizuki. Dia menengadah, menatap langit yang perlahan cerah. "Pedang ini masih menunggu pemiliknya. Berdolah kita tidak akan bertemu lagi. Aku menitipkan salam pada reinkarnasi Kazuhiro."


Aku tidak ingin menghiraukan Mizuki yang perlahan menyatu dengan air. Namun, seluruh tubuku kaku. Tidak ada yang bisa aku gerakkan, bahkan mulut tidak dapat bersuara sedikit pun. Semua itu terus terjadi sampai Mizuki benar-benar menghilang dari pandangan. Terganti dengan pasir dan pohon kelapa seberang sana.


"Menggunakan kekuatannya?" gumamku.


Segera aku melirik pada Vivian, peri yang membeku itu. Jika Vivian nyata seperti Radja, aku tidak mungkin sepanik ini. Peri itu hanya ada dalam benakku, tinggal dan menahan sakitku yang sering menjadi di tiap tanggal lahir terutama ketika aku berulangtahun.


"Vivian bertahanlah!"


Jika apa yang Mizuki katakan benar, aku akan menggunakan kekuatannya untuk mencairkan es itu. Mencoba mengingat bagaimana Mizuki bertindak, tetapi tidak ada teknik khusus apa pun.


Aku harus tenang, air itu menenangkan. Air itu teman.


Aku menarik napas seraya memejamkan mata. Terlintas dibenakku apa yang orang-orang pernah rasakan. Takut jika air menelan mereka ketika jatuh ke kolam renang. Tidak bisa mengatur pernapasan dan akhirnya tenggelam. Air itu teman. Tiga kata ajaib yang pernah ayahku ajarkan. Bagaimana ketika kedua kaki ini menyatu dengan air dan membantu tubuh untuk mengambang dengan benar. Semua ingatan masa lalu menenangkan pikiranku.


Menunjukkan telapak tangan pada es. Memikirkan bagaimana sebuah es dapat mencair ketika panas matahari begitu menyengat. Tetap memfokuskan pikiran hanya pada es. Hingga aku bisa meraskan tanganku sangat dingin.


"Ini ...?" Aku bungkam melihat cahaya biru yang keluar dari tanganku. Perlahan es pada tubuh Vivian semakin mencair.


Aku berhasil?


"Uhuk!" Vivian terbatuk, dia memijat tengkuk hidung dan akhirnya menggelengkan kepala. "Di mana dia?!"


"Vivian ...." Aku mengangkat tubuh Vivian pelan-pelan dan meletakkannya ke telapak tangan. "bolehkah aku bertanya padamu? Sebelum mimpi ini berakhir?"


"Nadira ... aku tidak bisa menolak kamu, 'kan?" balasnya singkat tetapi bisa aku rasakan jika Vivian masih kesal dengan perlakuan Mizuki.


"Kenapa Hana membuang pedang Mizuki ke Lux of Valley?"


"Eh?!" Vivian melompat. Matanya membesar dan dia seolah ingin mencakarku sekarang juga. "Nadira ... aku ...."


Aku memandang lesu pada Vivian. Peri ini masih menyimpan banyak pertanyaan. Aku melirik pada pondok. Misteri lain yang sepertinya menggugah hati untuk menyelesaikannya.


"Mizuki adalah saudara kembar Hana. Dia menjadi gila karena kekuatan kuat pedang itu dan saat Hana memegangnya, dia merasakan hal serupa," jelas Vivian tiba-tiba.


"Saudara kembar?!"


Vivian mengangguk. Dia mengembuskan napasnya sambil berjalan-jalan di atas telapak tanganku. Sesekali kuku-kuku pada jemarinya dia gigit hingga memangkas bagian yang panjangnya saja.


"Kalau kamu berniat mengambil pedang itu, maka bersiaplah untuk kemungkinan terburuknya, Nadira," nasehat Vivian.


Aku mencoba untuk melihat kedua bola mata Vivian. Wajah pucatnya dan bibir mungil yang digigit oleh gigi secara bergantian. Sikap itu membuatku sadar, betapa berbahayanya pedang yang Mizuki miliki.


Aku gak bakal ambil pedangnya.


"Akh!"


Pergelangan tanganku mulai sakit, terlihat sinar ungu yang membentuk simbol. Vivian menyadari itu, dia segera menggunakan kekuatannya. Namun, tidak sesempat itu aku melihatnya mengobati. Warna putih menyelimuti segalanya, menghapus ombak-ombak yang beradu. Semakin lama menjarah ke pondok hingga Vivian pun menghilang. Aku tidak kuat menahan kantuk.


Mungkinkah aku kembali pada kenyataan?

__ADS_1


Ataukah Tuhan memintaku untuk beristirahat dalam bunga tidur lainnya?


Entahlah, aku benar-benar mengantuk sekarang. 


__ADS_2