
Wajah Azumi yang biasanya pucat kini lebih terlihat merah. Dia menatapku dengan tajam dan tangannya melipat di depan dada. Aku sudah tahu apa yang akan dia amukkan. Namun, saat ini perasaan dan ekspresiku tidak bisa diajak kompromi.
"Ron masih hidup! Itu kesalahan terbesar kalian! Jadi boleh aku meragukan kesetiaan kalian padaku," ucap Azumi.
Aura kegelapan menguar dari tubuh gadis tersebut. Sangat banyak dan tebal. Aku bisa berasumsi jika banyak yang menghirup justru akan menyebabkan orang-orang semakin patuh padanya. Bara hanya bisa menunduk, tidak tahu harus berkata apa.
"Kami sudah melakukan semuanya sesuai perinta, Ratu," balasku singkat.
Azumi sontak menatapku. "Mataku tidak hanya dua, Dira. Perlu berabad-abad untuk mengelabuiku!"
Aku mundur selangkah, secepat itu pula menumbuhkan busur dan anak panah. Azumi menebas angin dengan tangannya, memunculkan lengkungan sinar hitam ke arahku. Bara segera berdiri di depanku.
Bara tanpa ragu melindungiku dengan sayap kelelawarnya. Sehingga serangan Azumi memantul dan berbalik arah. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Segera tali busurnya aku tarik dan membidik pada lampu-lampu gantung di atas kerajaan.
Tepat sasaran. Lampu gantung besar itu pun jatuh. Membatasi jarak antara kami berdua.
"Nadira! Kamu sama seperti kakakmu. Pengkhianat!" teriak Azumi di seberang sana.
Aku tidak bergeming mendengarnya. Langsung saja menarik tangan Bara dan pergi menjauh. "Kita harus pergi dari sini!"
"Tapi ke mana?" gumam Bara.
Bunyi dentuman semakin keras. Di seberang kaca bening, aku bisa melihat Azumi yang berdiri tegak menahan amarahnya. Ini gawat. Pintu tiba-tiba tertutup, kami harus cari cara lain.
Aku mendorong Bara untuk menggunakan teleportasinya. Ke manapun aku tidak peduli! Saat ini yang harus dipikirkan adalah cara menghindar dan kabur.
Sayangnya, Bara tidak sempat membuat portal. Tidak ada jalan untuk keluar. Namun, aku menolak untuk menjual nyawa dengan mudahnya. Segera aku menarik tubuh Bara ke ujung pintu.
__ADS_1
"Bantu aku menghancurkannya! Aku akan menahan gerakan Azumi!" ucapku bersamaan ledakan kecil yang Azumi berikan.
Di saat tangannya tengah menengadah, aku segera menyiapkan diri. Azumi memunculkan tongkatnya. Ketika ujung panjangnya menyentuh lantai, sebuah retakan mengarah padaku.
Aku kembali menggunakan panah dan anak panah dari bambu. Kali ini aku harus membuat gerakannya lambat. Naas, saat anak panah melayang pada Azumi, perempuan itu berhasil menghindarinya.
Para tengkorak mulai bermunculan dengan aura kegelapan yang begitu kuat. Segera aku berteriak pada Bara, "Cepatlah!"
Para tengkorak melepaskan bagian tulang mereka dan melemparkannya pada kami. Ini mengerikan. Segera aku berbalik membantu Bara untuk membuka pintu.
Anak laki-laki dengan sayap kelelawar itu mencoba menghancurkan pintu dengan kekuatannya. Aku mencoba membantu dengan kemampuan air level dua. Peningkatan menjadi es.
Air aku beri di semua tempat air yang sangat banyak. Aku pikirkan medium, berat dan seberapa dekatnya molekul yang ada. Tepat, kekuatan itu berhasil membekukan para tengkorak. Kecuali Azumi.
"Apa kita bisa selamat?" tanya Bara padaku.
"Bara, gunakan kekuatan pedangmu!" ucapku padanya. Dia agak ragu. Namun, aku terus memelototi hingga dia melakukannya.
Bara menaikkan pedang ke langit. Membiarkan pedang itu menyerap jiwa-jiwa kegelapan dari sisa para tengkorak. Aku memegang tangan satunya yang bebas. Percaya jika Bara tidak akan berubah dengan kekuatan jahat ini.
Azumi tampak membelalak. Dia pun melangitkan sihir hingga menembus ruang tahta. Baik aku dan Bara, tidak ada yang mau peduli. Kulihat dia mengembuskan napas dan mengeratkan pegangan. Diam-diam detak jantungnya kurasakan selaras dengan detak jantung yang aku miliki.
"Malius!" teriak Bara kencang.
Pedang itu menutupi berbagai sisi kami. Warna hitam pekat menutupi segalanya. Namun, warna mata Bara berubah menjadi kuning, entah apa fungsinya.
Aku mendengar suara ledakan yang cukup besar. Hingga tidak tersisa suara Azumi yang menyerukan nama kami. Menyumpah serapah kami sekenanya.
__ADS_1
Bara segera menarikku dan terbang. Semua yang terlihat bukan lagi ruang tahta Azumi. Langit biru malam denga bintang bertaburanlah yang bisa aku lihat dan kagumi.
Aroma aneh tercium hingga hidungku. Saat melihat ke bawah, lingkaran hitam mengelilingi. Tidak itu bukan awan. Namun, saat ini aku begitu bersyukur.
"Kita berhasil," ucap Bara lirih. Aku balas dengan anggukan.
Kami terdiam memandangi lautan kegelapan di bawah sana. Entah Azumi mati atau tidak.
Bagiku, perjuangan di kegelapan ini berakhir. Cukup. Sudah terlalu banyak orang yang tersakiti.
Tiba-tiba mataku menangkap pedang Bara. Ada perasaan hangat yang sampai ke dalam hatiku. Teringat bagaimana mimpi berulang datang menghampiri.
"Sekarang ... kita harus ke mana?" tanya Bara.
Aku cukup lama tidak memberikannya jawaban. Kami bisa saja diburu oleh para kesatria Twins.
"Pertama kita kembali ke bumi dan istirahat. Bara, kamu punya tempat tinggal?" tanyaku pelan.
"Aku punya," balas Bara, "tapi sudah cukup lama aku meninggalkan orangtuaku. Entah mereka masih mengingat aku sebagai anak mereka atau tidak."
"Kalau mereka tidak mengingatmu, sudah pasti kamu tidak disekolahkan, Bara," ucapku berusaha menghibur anak laki-laki bersayap kelelawar ini.
Bara lalu mengangguk. Melalui pedang, dia membuka portal hitam. Portal yang mampu membuat kami teleportasi dari Twins ke Bumi.
"Kamu harus pulang. Mereka pasti kangen kamu juga, Bara," ucapku lagi.
Bara melihatku sebelum menarik tubuh kami masuk ke dalam portal. "Kamu juga."
__ADS_1