
Kami saling beradu pedang. Aku melakukan gerakan menyilang dan dia menahannya, lalu aku melakukan serangan menebas ke samping kanan dan kiri. Faizal memang berhasil menangkisnya. Namun, aku melihat celah di antara kuda-kudanya. Jadi segera aku tendang saja salah satu kakinya. Sehingga laki-laki itu pun mengaduh sakit dan menjatuhkan pedangnya. Aku ingin mengakhiri permainan ini. Segera saja aku todongkan pedang ke arahnya. Tentu dia menatapku dengan tatapan tajam.
Aku turut berjongkok dan mengulurkan tangan ke arah laki-laki tersebut. “Tolong kembalilah, Faizal. Kami sangat membutuhkanmu dan kami menerima kedatanganmu.”
“Tidak bisa, aku tidak bisa,” balas Faizal. “tanda ini benar-benar mengutukku. Jika kamu ingin Faizal yang sebelumnya kembali, maka cobalah untuk menghancurkan tanda di belakang leherku. Jika itu hancur, aku akan kembali jadi semula.”
Aku segera berjalan ke belakang tubuhnya. Benar, ada sebuah tanda berbentuk mawar dan menyala dengan terang. Entah bagaimana cara menghancurkannya. Namun, entah kenapa saat aku menyentuhnya, sinar itu semakin menyala. Faizal pun merintih kesakitan, tetapi tandanya mulai memudar. Aku melihat tangan yang memiliki simbol Hana, apakah ini penyebabnya? Apa ini salah satu kekuatanku yang Hana maksud?
“Faizal, bisakah kamu percaya padaku? Aku akan menghilangkan tanda ini dan kamu akan menjadi normal lagi,” ucapku, “sepertinya aku bisa menghilangkan tanda ini.”
“Lakukan saja sesukamu. Aku tidak peduli, lagi pula pemenang berhak menentukan hukumannya. Jadi, aku akan menerima ini sebagai hukuman darimu,” ucap Faizal ketus.
Aku kembali memegang tanda itu. Sinar yang begitu menyilaukan pun kembali muncul. Ada sesuatu dari tubuhku yang ikut terserap. Aku tidak tahu apakah itu, tetapi sukses membuatku lelah sekaligus mimisan. Pandanganku pun memudar, sementara Faizal pingsan. Tidak. Kami tidak boleh terjebak di dalam dunia mimpi.
Siapa pun tolong kami.
----------------------------
Ini seperti de ja vu, tidak ... tidak. Ini seperti mengulang ke waktu sebelum aku baik-baik saja. Tubuhku sangat kaku untuk digerakkan dan mata sulit untuk terbuka. Ini sama seperti takdir yang lalu-lalu. Di mana aku terlihat sangat lemah; nyaris seperti orang mati. Perasaanku tidak enak, apakah hal-hal yang pernah aku alami hanyalah mimpi sejenak? Lalu saat esok pagi aku membuka mata, hal pertama yang aku lihat adalah kedua orang tuaku.
__ADS_1
Namun, pendengaranku masih aktif. Aku bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan, suara langkah kaki yang mendekat dan roda berputar. Entahlah di mana aku sekarang. Aku tidak ingin peduli, tetapi entah kenapa rasa penasaranku begitu besar. Sampai apa yang mereka ucapkan pun akhirnya bisa masuk ke dalam otak.
“Tanda itu membuat adikku dalam bahaya. Terlalu sulit untuk mengeluarkannya juga. Padahal sedikit lagi vaksinnya akan bekerja,” ujar seseorang yang suaranya begitu berat. Bersamaan dengan itu, aku juga merasakan sebuah tangan mengusap pelan puncak rambutku.
Aku tidak paham apa maksudnya tanda. Jika mengingat ke masa sebelumnya, aku memang melakukan sesuatu terhadap Faizal. Demi menyelamatkan laki-laki itu, aku memilih untuk mengorbankan nyawa dan berharap jika semuanya akan baik-baik saja. Dia kembali menjadi normal dan kami terselamatkan dalam dunia mimpi. Selebihnya tidak ada yang aku ingat.
Jika tanda itu yang mereka maksud berbahaya, aku tidak tahu harus berkata apa. Hana bilang itu mungkin kekuatanku sendiri. Sebuah harapan. Dengan kepercayaan orang terhadapku, maka semakin besar harapan tumbuh. Namun, jika aku pikir ulang, tidak ada satu pun kekuatan luar biasa dapat dikeluarkan tanpa pengorbanan. Jadi, inikah pengorbanan yang harus aku lakukan demi memunculkan harapan baru?
“Tenanglah, Kak Ron. Nadira hanya kelelahan. Sebentar lagi vaksinnya akan beraksi, jika gagal ... aku tahu dia tidak akan berhasil diselamatkan,” ujar suara yang lebih datar dan agak serak. Aku mencoba mengingat suara siapa yang ada di sekitarku.
“Andai aku datang lebih awal, Nadira mungkin tidak akan dalam bahaya seperti sekarang. Maaf Kak Ron, sekali lagi aku gagal melindunginya,” ucap suara laki-laki lainnya.
Tiba-tiba jantungku terasa sedang diremas-remas. Sakit sekali. Aku tidak bisa berteriak untuk mengadu. Tidak bisa menitikkan air mata untuk mengurasi rasa sakit. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali tertidur dengan tubuh yang kaku dan bibir kelu. Sungguh ini sangat menyakitkan. Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku? Bagaimana sebuah tanda kecil membuat rasa sakit yang begitu dalam.
“Vaksinnya bereaksi. Kak Ron, tolong awasi perkembangannya ... sial sepertinya ada gangguan lagi di bumi. Radja, bisa gantikan aku untuk membantu Kak Ron? Aku harus segera menangani tiap post. Mereka sangat perlu bantuanku,” ucap Bizar yang sepertinya sangat terburu-buru. Ada kegaduhan di bumi, apa artinya peperangan belum berakhir?
“Pergi saja, Bizar. Kamu juga Radja. Aku bisa menangani adikku sendirian ... lagi pula jika dia sadar, Nadira tidak akan senang jika apa yang kamu prioritaskan sekarang adalah dirinya. Kamu mengenal dirinya dengan sangat baik,” ucap Kak Ron dan itu fakta. Jika aku sadar dan setidaknya bisa mengucapkan sepatah kata. Aku sudah pasti mengusir Radja.
“Kakak benar. Aku titip Nadira pada Kakak. Semoga saja Miss Merry masih bisa menahan Miss Ann. Aku pergi sekarang, sekaligus mencari tahu di mana si pengendali berada. Sebelumnya Nadira sudah mencurigai seseorang,” lanjut Radja.
__ADS_1
“Aku paham. Meski banyak diam di antara aroma obat dan bangsal, Bizar selalu mengirimkan informasi terbaru. Jadi kamu tidak perlu memberi info sebegitu rinci. Saat ini yang kita perlukan adalah kerja sama dan saling percaya. Pergilah,” timpal Kak Ron. Tidak lama aku mendengar suara sayap yang mengepak. Anginnya berhembus kuat hingga lancang menyentuh permukaan kulitku yang terbuka.
Aku benar-benar tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Ingin rasanya membantu. Berulang kali berdoa agar kesembuhan menyertaiku, sehingga aku bisa pergi membantu mereka. Bagaimana kabar Rico dan Alwi? Kedua laki-laki itu sudah berbesar hati untuk membantu pekerjaan kami. Aku jadi penasaran dengan keadaan keduanya sekarang. Terlebih, mereka adalah teman-teman baru seperjuangan, sepenanggungan.
Bukannya sembuh, yang aku rasakan justru rasa sakit yang bertubi-tubi. Akankah kali ini Tuhan benar-benar ingin membawaku kembali ke sisi-Nya? Meski tidak bisa menolak, aku ingin berjuang lebih lama. Aku tidak ingin doa lamaku—tentang kematian—terkabul. Saat ini, aku sudah menemukan kebahagiaan kecilku sendiri. Meski banyak hal yang perlu dikorbankan, tetapi aku tidak pernah menyesal.
Tiba-tiba kilasan ingatan saat aku belum bertemu Hana pun bermunculan. Tidak seperti sekarang, Kak Ron dulu masih berkuliah dan jarang pulang. Dia tidak bisa bersamaku setiap saat. Keluargaku pun sama saja, mereka banting tulang demi mengumpulkan uang dan menyelamatkan anaknya dari sebuah penyakit yang bahkan belum diketahui alasannya apa.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan Hana dengan tidak sengaja. Niat hanya membantu Miss Ann saja. Namun, jika aku pikir, dari sinikah peri itu sudah merencanakan semuanya? Bukan rahasia lagi jika aku dicap sebagai gadis paling aneh. Selalu absen di tanggal delapan dan berpenyakitan serius—katanya. Tidak hanya murid, tetapi guru-guru pun mengetahuinya.
Aku tidak mengerti kenapa Miss Ann harus memilihku sebagai penerus Hana? Tidak. Dibandingkan itu, kenapa dia tahu jika tubuhku ini dapat menampung Hana? Padahal jelas-jelas, dibandingkan gadis lainnya ... aku sangat lemah saat itu. Bahkan untuk ikut lari jarak jauh saja dilarang oleh guru.
Lalu, kenapa semua orang bisa terhubung denganku? Seperti Kak Ron yang ternyata selalu berinkarnasi—bahkan sudah hidup lebih dari 500 tahun. Kakakku dulunya dipilih sebagai pengawal bagi Hana. Begitu juga teman-teman yang lain. Apa dulu aku orang yang sangat penting? Apakah aku reinkarnasi dari seseorang? Sungguh ... ini membingungkan.
Saat ingatan itu berputar, seluruh tubuhku tetap kaku. Namun, hati, jantung dan kepalku sangat sakit. Beberapa kali ada sensasi dingin, tetapi tidak berlangsung lama sampai panas dan pedih menyerang. Bagai ada yang berperang di dalam tubuhku. Entahlah apa.
Tuhan, izinkan aku untuk hidup lebih lama. Ada janji yang harus aku tepati.
__ADS_1