
Rasanya, aku baru saja berhenti bernapas. Pesan itu seperti salam perpisahan dan aku mulai membayangkan yang tidak-tidak dalam pikiran. Aku menutupi mataku sendiri, berharap air mata yang keluar tidak memaksa untuk jatuh dan menelusuri pipi. Namun kenyataannya, aku tidak bisa. Bizar benar-benar membuatku gila dengan semua pesan yang dia tinggalkan.
Aku baru membaca satu pesan, belum semuanya. Ini pukul 19:50, terpaksa aku harus menghentikannya. Segera saja aku mengetik kembali dengan dibantu oleh Io. Aku aktifkan mikrofon dan setelah menyala aku akan mulai memberitahukan tentang intisari pada mereka. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Bizar pun dapat kembali tanpa harus dilukai parah oleh mereka semua.
Pasukan Azumi memang keterlaluan. Mereka yang tidak memiliki lagi sosok pemimpin kini membuat repot. Aku juga belum tahu siapa orang yang mengendalikan mereka selama ini. Sihir terlarang. Jika pun ada, hanya dimiliki oleh satu atau dua orang. Miss Sharron sangat mengetahui itu, mungkinkah Miss Merry ingin memberitahukan kami perihal sihir terlarang?
Mungkin saja Miss Merry sudah mengetahui siapa pelakunya atau memang benar dia sudah menemukan petunjuk yang cukup akurat. Namun, serangan lalu membuat dia tidak sadar dan banyak kehilangan tenaga dan darah. Bisa jadi itu membuatnya lupa. Kalau begitu aku harus segera menemui Miss Sharron sebelum Miss Ann berhasil mengembalikannya.
Aku kembali melihat pada Io. Asisten itu masih mengarahkanku untuk menekan tombol enter. Hampir saja! Untunglah Io ada untuk membantuku, jika tidak aku akan terus melamun sampai lupa apa yang sebenarnya sedang aku lakukan saat ini. Di kedua sisi monitor, aku melihat video di mana kedua kelompok sedang mengupayakan keberhasilan misi. Syukurlah jika robot-robot pengintai milik Bizar belum dilenyapkan seperti sebelum-sebelumnya.
“Teman-teman, kalian mendengarku? Syukurlah kalau kalian bisa mendengarkan suaraku. Saat ini aku baru saja selesai membaca data yang Bizar simpan ke komputernya. Ini berkaitan dengan pasukan Azumi yang sedang taupun akan kalian lawan nantinya.
“Bizar bilang, cara terbaik untuk menghentikan mereka adalah dengan menghancurkan intisari mereka. Saat mereka berwujud setengah monster, kita akan mulai kesulitan untuk menyerangnya. Tentu saja jika mereka sudah berevolusi sampai tingkat akhir, pasti akan semakin sulit untuk mengetahuinya. Tenang saja, aku yakin kita semua bisa mengatasi ini. Aku punya rencana,” jelasku panjang lebar.
Namun, sebelumnya aku menjelaskan lebih lanjut tentang intisari, bersamaan dengan membaca data yang Bizar kirimkan. Ini memperkuat fakta jika intisari dari kekuatan gelap itu bisa ditemukan dan dihancurkan. Salah satu cara agar kami semua bisa tenang ketika berhadapan dengan monster. Ini juga membantu untuk mencegah kemunculan mereka.
__ADS_1
“.... Jadi kalian yang berada di tempat seminar, segeralah cek semua tempat terdekat. Cari intisari mereka. Aku tidak tahu warna atau bentuk, Bizar tidak mengirimkan foto. Semoga saja terlihat oleh mata telanjang. Tiara, kamu bisa menyelidiki lebih lanjut soal mereka yang berada di dalam sana. Kamu pandai bicara dalam hal seperti ini,” titahku.
Semua menurut dan tidak ada bantahan sedikit pun. Rasnya aku ingin pergi, tetapi nanti siapa yang membuka dan menutup portal? Kami semua harus siap dengan kemungkinan terburuk. Mataku menatap pada Io. Bizar tidak pernah ingin mengandalkan asistennya. Hari ini berbeda. Aku juga harus ikut turun tangan. Mana mungkin aku membiarkan mereka bersusah payah begitu saja.
“Mau ke mana, Dira?”
Aku segera berbalik dan mendapati Radja yang sedang menuruni anak tangga. Kembali aku melihat ke monitor, mencari-cari keberadaan laki-laki itu di sana. Seharusnya dia sudah pergi sejak tadi. Namun nyatanya, laki-laki itu tidak ada di dalam video. Radja belum berangkat.
“Aku mau menyusul mereka semua, Ja. Kita gak bisa di sini terus. Bizar dalam bahaya dan kita tidak tahu berapa banyak monster yang akan ada di sana. Sekarang jawab pertanyaanku, kenapa kamu masih ada di sini? Kan udah aku buka portal buat ke sana,” ucapku sambil melipat tangan di depan dada.
“Nunggu kamu. Mereka aja udah cukup untuk pergi dan menahan sementara. Cukup juga buat kamu ngejelasin semuanya sama aku,” balas Radja yang semakin mendekat ke arahku.
Radja mengembuskan napasnya, tetapi akhirnya dia setuju untuk pergi. Segera aku meminta Io untuk membuka portal dan mengunci semua data selama aku pergi. Mana tahu akan ada musuh yang memaksa membobol. Bizar bilang satu-satunya sambungan yang aman hanya ada pada komputernya. Di sini ada Miss Merry dan Miss Ann, aku bisa cukup santai.
Kami berdua masuk ke dalam portal, entah ke mana Io membawa kami. Aku melihat sekeliling. Ini seperti gudang, sangat rapi dan bersih. Mungkin ini berada di gedung tempat Bizar melakukan seminar. Aku mengaktifkan peta, mencoba mencari tahu denah ruangan di tempat ini.
__ADS_1
Tiba-tiba, suara benda jatuh membuat aku menatap pada Radja. Kami tidak tahu benda apa yang jatuh. Suara yang ditimbulkan sangat keras, aku rasa itu sangat dekat dengan letak kami. Memang bisa saja tikusatau hewan lain yang melakukannya. Namun, kami tetap harus memeriksa keadaan. Pelan-pelan aku dan Raja melangkah, berusaha untuk tidak menimbulkan suara apa pun. Dari balik rak, kami mencoba mencari celah.
Mataku membelalak ketika ada orang yang tengah diikat. Entah oleh siapa. Aku tidak tahu harus menyelamatkannya atau tidak, tetapi Radja tidak bimbang sepertiku. Dia segera pergi ke tempat orang itu di sandera. Mau tidak mau aku pun harus ikut pergi.
“Bizar?!” Aku berteriak kencang, tetapi sebelum aku mengucapkan apa pun, Radja segera membekap mulutku.
“Jangan berisik, Dira! Kalau Radja ditangkap kayak gini, berarti ada sesuatu. Lebih baik kita selamatkan dia dulu. Ngobrolnya nanti aja,” ucap Radja yang lalu melepaskan bekapan pada mulutku. Dia pun segera mendekat ke arah Bizar.
Bizar duduk di atas kursi dengan mulut ditutup oleh lakban dan badan terikat oleh tali tambang di mana-mana. Sementara Radja membuka ikatan di tangan, aku pun segera berjongkok untuk membuka simpul pada kaki. Kadang aku menengok padanya. Bizar tidak memakai kacamatanya. Keringat pun turun dari pelipisnya, sepertinya kelelahan.
Kami pun berhasil membuka simpul yang mengikat pada Bizar. Lalu dia pun membuka lakban yang menutup mulutnya. Bizar meraup udara sebanyak-banyaknya, seperti laki-laki itu kekurangan pasokan udara setelah menyelam lama di laut. Aku bersyukur karena Io mengirimkan portal terdekat pada orang yang kami cari. Namun, sebenarnya ada apa?
“Bizar, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu sampai diikat seperti itu?” tanya Radja.
Si ilmuwan yang satu itu menyeka keringat yang jatuh di pelipisnya baru menjawab, “Aku bilang kamu gak perlu khawatir sama aku, Dira.”
__ADS_1