Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 26. Ingatlah


__ADS_3

Brak! Brak! Brak!


Tidak bosan-bosannya guru di hadapanku menggebrak meja ketika deretan soal tidak dapat dijawab. Orang yang mengerjakan dipilih acak. Benar-benar acak. Bisa lewat absen, tunjuk tangan, tempat duduk, undian atau tanggal di hari itu.


Tidak ada enaknya dapat absen di akhir. Semester akhir sekolah hanya menambahkan namaku di paling.  akhir. Selalu jadi incaran.


"Nadira," panggil Demina di sebelahku, "kamu kenapa? Gugup ya?"


"Aku enggak mungkin bisa tenang, Demina. Liat temen-temen aja kesusahan ngerjain soal dari Pak Veer, aku makin merinding," curhatku.


Aku kembali terpaku pada deretan soal dari buku paket. Baru aku salin dua soal dan menghabiskan satu halaman penuh. Bercampur pula dengan hitungan-hitungan acak.


Dua soal saja aku perlu waktu hingga lima orang sudah maju ke depan. Kembali meneguk ludah. Padahal bisa saja aku mencontek pada Demina.


"Nadira!" panggil guru tersebut menggelegar.


Aku mengangkat tangan, karena percuma saja menolak. Pak Veer menuliskan deretan angka. Jauh berbeda dengan dua soal yang aku kerjakan. Namun, tahu bagaimana cara mengerjakannya.


Baru setengah perjalanan aku melihat jam tanganku berkedip redup. Aku mengernyitkan dahi tetapi beralih kembali pada soal matematika. Sayangnya itu malah membuat aku semakin tidak fokus.


"Pak," interupsi Radja. Aku menoleh padanya yang tengah mengedipkan mata, "saya izin ke air."


"Silakan," balas Pak Veer. Tidak lama pandangan guru tersebut beralih padaku.


Brak!


Aku tersentak. Segera kembali berkutat pada soal di papan tulis. Menuliskan angka dengan cepat, meski aku rasa itu malah membuat hitungan tidak tepat.


Selesai. Aku harus menyusul Radja.


Segera aku meletakkan spidol dan penghapus pada tempatnya. "Pak Veer, saya izin cuci tangan."


"Ya, ya, ya." Aku mengangguk dan melangkahkan kaki keluar ruangan.


Radja entah di mana. Namun, keadaan yang sepi sangat menguntungkan aku. Sambil berjalan ke kamar mandi, kubuka pesan.


Terlintas di sana angka empat dan Bizar. Laki-laki itu menghubungiku. Entah untuk apa. Aku lalu menekan tombol yang memunculkan keberadaan Radja. Rupanya laki-laki itu juga berada di kamar mandi khusus laki-laki.


Setelah sampai aku segera menghubungi balik Bizar. Namun, ditolak. Ini anak kenapa sih? Aku memutar bola mata hingga akhirnya layar transparan itu menghubungkan aku dengan Bizar dan Radja.


"Kamu dari mana, Dira? Kita udah nunggu lho," ucap Bizar di sekolahnya. 


Aku melihat pada Radja yang tersenyum kecut. Jangan bilang jika laki-laki ini tidak memberitahu Bizar apa-apa. Embusan napas tidak mungkin terdengar, tetapi mereka dapat mengartikan dari ekspresi ku sendiri.


"Maaf aku harus mengabari kalian sekarang. Ini penting," ucap Bizar.


Radja turut menjawab, "Ada apa? Kamu hanya menghubungi kami jika itu hal yang sangat berbahaya."


"Ya, ini berbahaya. Aku sudah mencari informasi, Azumi merekrut 12 manusia yang dia ubah jadi monster. Entah siapa saja. Aku harap kalian lebih berhati-hati ketika berinteraksi dengan yang lain," jelas Bizar pada kami.


"Apa ini juga memengaruhi mereka yang sedang pemulihan?" Pertanyaanku dibalas dengan anggukkan oleh Bizar.


"Kamu tahu, Azumi bisa saja lebih memaksakan mereka mengingat sampai berakhir ingatan tentang kita hilang permanen.


"Aku menghubungi kalian untuk ini. Sebisa mungkin jaga teman-teman kita. Karena penyerangan mereka bisa dilakukan acak, tanpa aba-aba. Aku pamit ya," tutur Bizar yang lalu memutuskan hubungan.


Tiba-tiba layar transparan itu menutup dengan sendirinya. Firasatku tidak enak.


----------


Aku tersenyum masam karena pulang sekolah harus berpisah dengan Radja. Laki-laki itu pergi menemani pemulihan partnernya. Tidak mungkin mencegah, aku putuskan untuk mengajak Demina.


Voila! Demina mau. Dengan iming-iming mencari buku pelajaran persiapan ulangan semester dua. Gadis itu lekas bersemangat.


Sebenarnya, alasan Demina mau bukan hanya itu. Aku menelan ludah sendiri ketika gadis itu melipat tangannya di depan dada. Tepat ketika kami Shasha berada di toko buku.


"Aku heran dari seminggu yang lalu, Bara dan Afly belum sekolah. Kenapa sih?" gerutu gadis tersebut.


Aku mengalihkan pandangan dengan mengambil buku acak. Tidak peduli apa judulnya, genrenya atau jenisnya. Pura-pura membaca sinopsis belakang buku. Padahal niatku hanya menghindar.


"Nadira, kamu jangan diemin aku. Jawab jujur. Minggu lalu waktu kerja kelompok ... kalian ke mana?" Aku bungkam. Tidak ada alasan di dalam kepala yang berkeliaran.

__ADS_1


Sampai aku menemukan satu. "Aku enggak tahu, Demina."


"Terus kenapa dari tadi diem?"


Aku memutarkan pandanganku. Lalu mengangkat tinggi novel fantasi yang kuambil sebelumnya. Setidaknya tanganku ini benar memilih buku, karena jika salah ambil ... bisa-bisa Demina semakin curiga.


"Dasar maniak buku. Kamu tuh kebanyakan baca fiksi sampai nilai matematika hancur lho, Dira," omel Demina yang membuat aku cukup terkejut.


"Kamu inget?" gumamku pelan.


Sontak mata kami saling bertemu satu sama lain. Wajahku yang penasaran dan dia yang terlihat kebingungan pun dipertemukan. Aku lalu kembali melihat novel.


"Sebenernya aku bingung apa yang kamu maksud," lanjut Demina pelan setelah dia mengembuskan napas.


Demina berjalan ke rak buku pelajaran, dia mengambil buku-buku berisikan kumpulan soal. Bukan seleraku. Hanya saja, melihat Demina murung seperti itu membuat hatiku mencelos.


Aku melirik pada jam tangan. Tidak ada tanda-tanda bahaya di sekitar sini. Setelah membeli buku, aku masih sempat mengajaknya ke kafe. Tempat lama yang aku yakini membangkitkan ingatan terpendam.


Demina masih sibuk berkutat dengan buku-buku bank soal. Namun, aku mendongak. Hawa tempat ini sangat mencengangkan. Aku bisa melihat pada lampu-lampu yang menggantung di langit-langit bergoyang lambat. Namun tidak kunjung berhenti sampai banyak langkah kaki di luar sana menggema.


"Kenapa rusuh gitu sih di luar?" ucap Demina padaku.


Tidak lama pelayan toko menghampiri kami. "Adek-adek kita harus keluar. Jangan panik."


"Eh? Ada apa, Pak?" tanyaku ragu.


Belum sempat aku mendengar jawaban. Buku-buku mulai berjatuhan dari rak. Gempa? Tidak berpikir panjang aku pun menarik tangan Demina dan langsung memeleset ke luar menyusul dengan orang-orang lainnya.


Ini aneh, pikirku. Bukan hanya karena gempa yang datang tanpa diundang. Ini bukan bencana alam, entahlah aku bisa merasakan hawa itu lagi. 


Ketika mendongak dan melihat seseorang berjubah hitam di atas gedung mall. Gempa pun berhenti saat orang berjubah itu menjauh dari pandanganku. Demina semakin menggenggam tanganku erat.


"Demina? Udah tenang. Kita bakal baik-baik aja," ucapku padanya.


Demina melihat padaku lalu mengangguk. "Kita harus waspada, siapa tahu ada gempa susulan."


"Iya," ucapku yang lalu melepaskan tangan darinya. Melihat pada jam. "Aku harus segera pulang."


"Benar itu," ucap seseorang di antara keramaian.


Dia menghampiri kami. Semakin dekat tubuhnya berubah menyerupai sosok Azumi. Mataku membelalak. Di antara keramaian dia datang dan semakin membuat keributan.


Kulihat orang-orang bergetar, saling memeluk. Adapun yang menyilang kan tangan ke pundak. Tidak luput pula dari pandanganku ketika mereka berteriak.


Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan. Namun, apa pun itu niatnya tidak baik. Aku menarik diri lebih dulu di depan Demina. Memilih langsung menghadapi Azumi dibandingkan hal buruk terjadi kembali.


Dalam satu petikan tangan. Sebuah asap mengitari di sekeliling kami. Mengambil kesadaran orang-orang di sana. Pengecualian untukku


"Azumi," desisku pelan.


"Aku tidak ada urusan denganmu," balas Azumi padaku, "tapi sahabatmu."


"Aku tidak bisa membiarkanmu bicara dengan Demina dan aku tidak akan membiarkannya sendiri!" ucapku pada Azumi.


"Tunggu, aku tidak mengerti apa yang terjadi dan kalian ngomong apa! Dira ... siapa dia?" tanya Demina padaku.


Aku belum menjawab karena masih fokus melihat Azumi yang tengah memainkan jari-jemarinya. Bahaya bisa ditunjukkan di manapun. Sementara keadaan Demina terlalu rentan untuk dikabari tentang kekuatannya.


"Hai, Demina. Kamu melupakan orang yang pernah membuatmu sekarat? Dan orang yang membuatmu nyaris meninggal?" Aku membelalak ketika Azumi mengucapkannya. Demina lalu berdiri berdampingan denganku. Tidak takut jika musuh menyerang bahkan membunuhnya.


Kedua alisnya menajam. Wajah yang agak pucat, aku tidak ingin membiarkannya. Segera aku memegang pundak Demina. Namun, sahabatku itu melepaskan dan menggenggam tanganku erat.


"Aku tidak tahu omong kosong apa yang kamu maksudkan. Aku tidak pernah sekarat dan aku baru mengenal Nadira," ucap Demina dengan kepercayaan diri yang dia miliki.


Aku menggeleng. "Demina ...."


"Hahaha!" Azumi menutupi mata, memegangi perut dengan suara tawa yang semakin menggelegar. "Kamu dibohongi Anak Manis. Lihat Nadira bahkan tidak mengucapkan apa-apa."


"Dira," panggil Demina berusaha agar dia tidak kehilangan kepercayaan dirinya sendiri.


Aku menarik napas dan melihat bola matanya. "Itu ... benar, Demina. Setelah pertempuran waktu lalu, kamu dan yang lain memiliki trauma. Kalian tidak bisa mengeluarkan kekuatan untuk sementara waktu."

__ADS_1


Lewat penjelasanku Demina hanya menggeleng. Entah mungkin itu membuat kakinya lemas dan dia memilih bersimpuh di atas aspal. Aku melihat ke sekeliling di mana para manusia lainnya tertidur pulas dan awan-awan gelap berada di atas mereka.


Sementara Demina dengan tatapan kosong itu menyentih hati nuraniku. Segera aku menatap tajam pada Azumi. Menggunakan jam aku mengubah penampilanku, lengkap dengan caladbolg. Pedang Mizuki yang juga meningkatkan kekuatan, memunculkan air bening yang melengkung di belakang tubuhku.


"Wah. Sepertinya Demina sangat terkejut ya," desis Azumi dengan seringai yang tercetak jelas di sana.


"Aku tidak mengerti kenapa kamu berbuat seperti ini. Hanya saja, apa pun itu, aku akan membuatmu menyesal karena melakukan ini, Azumi!" bentakku.


Azumi menaikkan dagu dan alisnya. "Kalau begitu lawanlah aku, jika kamu bisa."


Aku tanpa segan menggerakkan air ke arah Azumi. Menebas tanpa ampun. Sayangnya ketika dia mengeluarkan pasir, aku terlonjak karena airku tidak bisa menahannya. 


Azumi melakukan penyerangan dengan pasir-pasir dan tanah yang bergerak. Aku hampir saja terserap oleh pasir hitam yang dia buat jika aku tidak sempat melopat. Mengembuskan napas, aku memilih berlari dan menyerangnya dengan jarak dekat.


Tiap serangan atas, bawah, menyilang atau memutar berhasil Azumi tangkis dengan tongkat panjang yang muncul ketika aku berlari. Ketika tongkat itu mengetuk pada tanah, aku merasa kehilangan gravitasi.


"Bara mungkin menghilang dan gagal mendapatkan kamu. Tapi tanpanya aku bisa menangkapmu," ujar Azumi di hadapanku.


Aku memberontak dengan pdang yang terus menebasnya. Setidaknya dia tidak bisa mendekat. Sayangnya itu tidak akan terus berhasil. Azumi berhasil menerjang dan dengan pasir dia menyelimutiku.


Kepalaku pusing. Sepertinya aku tidak mungkin sempat bertemu dengan Bizar dan Radja. Bisa saja Azumi berhasil melancarkan niatnya. Harapan satu-satunya hanya ada pada Demina dan Afly.


Aku tidak boleh menyerah sampai di sini.


Aku kembali berontak. Tidak peduli pasir yang kuat itu semakin menyelimuti. Aku memaksa kekuatan air melunturkan pasir milik Azumi. Memaksa tanaman membawaku melambung tinggi agar terhindar darinya.


"Kamu tahu aku tidak selemah sebelumnya, Nadira," bisik Azumi membuatku berdigik. Aku menelan ludah, memang perubahan kekuatannya terlihat. Demi Demina aku harus bisa bertahan.


"Water Slash!" Sebuah tembakan air muncul dari tanganku dan langsung menyerang Azumi.


Kali ini dia menggunakan pasir sebagai perlindungan, tetapi tidak berhasil.  Air menembus dan membuat Azumi terbawa ke belakang. Aku tersenyum karenanya. Namun, aku rasa ini belum berakhir. 


"Nadira!" seru laki-laki yang terbang dengan sayapnya. Di susul dengan Bizar yang menggunakan papan layar terbangnya bersama Nadia.


Aku mengembuskan napas lega. Menunggu mereka menghampiri. "Syukurlah kalian sampai."


"Tentu kami datang, Dira. Pergilah, temui Demina," lanjut Bizar padaku.


"Biar Azumi jadi urusan kami!" celetuk Nadia. Aku mengangguk-angguk paham dan membiarkan mereka melaluiku.


Langit gelap dan kilat muncul berulang kali. Tidak lama petir menyambar, menyusul keduanya. Aku segera memendekkan tanaman dan langsung menghambur pada Demina. Gadis itu berantakan. Entah apa yang terjadi ketika aku dan Azumi berhadapan.


Rambutnya tidak karuan, sepertinya dia sendiri yang mengacak-acak ketika aku terlalu fokus pada Azumi. Di sisi-sisi pipi aku melihat bekas air mata. Segera aku memeluknya. Erat, tidak ingin kehilangannya sedikit pun.


"Demina, tenanglah! Aku di sini!" ucapku terus berulang memanggilnya.


Demina menggeleng dia memberontak dari pelukanku. Terkadang berteriak dan memukul. Aku tidak bisa membiarkannya seperti ini terus. "Demina!!!"


"Aku siapa, Dira? Kenapa? Kepalaku sakit," ucap Demina lantang.


Aku memeluknya tidak peduli jika air mata Demina membasahi bahuku. Untuk apa hal sepele seperti itu mengambil perhatianku? Pelan-pelan isak tangisnya berhenti.


"Demina, kamu bisa mengatasi ini. kamu sahabatku yang kuat. Hal seperti ini bisa kamu atasi!" ucapku pada Demina.


"Aku takut."


Semakin aku mendengar suaranya yang melemah aku hanya bisa melantunkan doa. Takut jika kehilangannya. Takut masa-masa indah itu hanya akan menjadi kupu-kupu, terbang menjauh setelah aku mendekatinya. Demina balas memelukku sebentar lalu dia beranjak dari tempatnya.


"Aku ingat ... tapi aku takut," ucap Demina, "tolong aku, Dira."


Aku mengangguk. Membantu tangannya menengadah. Aku mengarahkan tangannya pada langit di mana listrik mulai memenuhi tangannya. "Ini kekuatanmu."


Demina melihat pada petir-petir itu lalu menghilang. Dia kembali memegangi kepalanya berteriak memanggil namaku. Sebelum akhirnya berakhir jatuh pingsan. Dengan cepat aku menopang tubuh dengan tanaman-tanaman.


"Demina! Demina!" panggilku berulang-ulang.


Dengan hujan yang turun membasahi bumi, petir dari kilat turut mengurung diri. Aku terburu-buru menghubungi Miss Merry, berharap peri tersebut bisa datang mengobati sahabatku. Tidak akan aku biarkan ini sia-sia saja.


"Nadira, menghindarlah!" Aku berbalik dan melihat lingkaran kuning mengarah padaku. Tidak sempat dan tidak mungkin. Aku tidak ingin Demina menjadi korban lagi.


Segera aku menggunakan air dan menjadikannya es. Namun, lingkaran itu berhasil menghancurkannya dan membuat ledakan kecil di dekatku.

__ADS_1


__ADS_2