
“Kamu benar-benar rencanaku yang paling sempurna sebelum akhirnya memberontak. Ya, kamu yang sekarang mulai membuatku repot, Nadira. Bagaimana mungkin orang lemah seperti kamu bisa mendapatkan keberuntungan terus-menerus? Sekarang hanya ada kamu dan aku. Tidak ada yang akan mengganggu kita,” ucap Miss Ann.
Aku menggeleng dan air mataku mulai. “Kenapa ... Miss Ann? Kenapa ... semua ini harus dilakukan. Apa yang salah? Aku tidak mengerti kenapa harus Miss Ann yang menciptakan kekacauan ini?”
Miss Ann tiba-tiba membanting tubuhku hingga tembok. Bagian pundakku terbakar oleh bola api. Panas sekali. Aku masih tidak mengerti alasannya. Namun, jika melihat pada mata peri itu, aku yakin ... dia melihatku penuh dengan tatapan benci. Rasa sakit di dadaku ini masih ada dan bersarang dengan hebat.
“Kamu tahu kenapa? Hana telah mengambil segalanya dariku. Sekarang aku yang akan mengambil segalanya.”
Andai aku bisa memilih takdir sebelum penyesalan itu datang, bukan tidak bisa, tetapi sejujurnya pilihan apa pun akan membuat luka. Aku memang pernah menyesal karena Hana bisa masuk ke dalam tubuhku. Sempat juga menyesal karena aku lemah dan mudah menyerah, tetapi jika aku pun terus berjuang, aku tahu akan ada yang terluka. Seperti sekarang, sebuah kenyataan pahit yang harus aku telan bulat-bulat.
Seingatku, Miss Ann dan Miss Merry sedang berduel. Namun, kehadiran peri di hadapanku ini membuatku berpikir dua kali. Di mana Miss Merry jika Miss Ann ada di sini? Ketakutan akan kondisi peri tersebut. Dalam mode ini, aku yakin jika Miss Ann tidak mengenal lawan ataupun kawan.
Aku berusaha untuk bangun dan menghindari bola api yang masih melayang. Ini bisa saja digunakan untuk menyerangku, kapan pun Miss Ann menginginkannya. Namun, dia masih terlihat ingin menghabisiku. Apa ini definisi dari merampas semua milik Hana? Aku tidak suka konteksnya. Aku tetaplah Nadira Putri Haniah dan Hana tetaplah Hana. Tidak seharusnya kami disamakan. Jika yang dia ingin kekuatan Hana, seharusnya dia langsung mengambilnya saja. Bukan menyiksaku.
Dibandingkan itu, aku kembali memikirkan keadaan Miss Merry. Mataku mencoba menyapu bersih ruangan ini. Begitu gelap dan beberapa barang bertumpukan. Tidak ada siapa pun di sini. Kenapa aku begitu bodoh dengan mengharapkan Miss Merry ada di sini? Dia mungkin ada di Twins. Aku lalu menarik napas. Hatiku belum tenang juga.
__ADS_1
“Di mana Miss Merry?” ucapku spontan. Tidak aku pedulikan rasa ngilu yang ada di sekitar punggung dan pundak yang terbakar. Rasa sakit di hatiku lebih kuat dari segalanya.
Miss Ann tertawa begitu nyaring, bahkan suaranya memantul di ruangan tertutup ini. Tangannya dia gunakan untuk menyapu poni, lalu dia melihat ke arahku dengan senyum sinis. “Tidakkah seharusnya kamu memikirkan kondisimu dulu, Nadira? Lupakan Merry, dia bisa aku habisi setelah kekuatanmu aku dapatkan.”
“Tidak akan! Aku yakin Hana juga tidak menyetujui hal itu!” teriakku tanpa berpikir panjang.
Miss Ann menatapku nyalang, nyaris membuat nyaliku ciut. Namun, ada dorongan kuat untuk tetap berdiri tegak di hadapannya. Aku pun menggunakan tanaman rambat yang mula-mula muncul dari bawah. Namun, seakan Miss Ann menyadari hal tersebut. Peri itu segera terbang dengan tinggi. Tanpa berlama-lama dia pun memelesat ke arahku tanpa aba-aba.
Aku mencoba untuk menghindar, tetapi dengan penglihatan terbatas ini, aku justru terpental ke arah lain. Sakit dan sial di saat bersamaan. Miss Ann terbang menyusuriku. Tangannya mengeluarkan sebuah aura merah. Beberapa bola api yang melayang pun mulai menghampiri. Tanpa banyak pikir, aku segera menggerakkan tanganku dan membuat pelindung dari air. Dia menyerangku dengan bola api satu per satu mati dan membuat pertahananku semakin menipis. Entah sampai kapan aku bisa bertahan. Namun, aku tidak mau menyerah.
Aku tidak tahu dari mana munculnya, tetapi bisa aku lihat jika tembok di belakang punggung Miss Ann sangat aneh. Beberapa pantulan terlihat di sana seperti genangan air. Sontak Miss Ann pun menoleh dan itu membuka celah yang lebar untukku. Segera aku layangkan pukulan hingga peri tersebut terdorong agak jauh. Aku pun berlari ke arah tembok yang aneh tersebut.
“Sebegitu inginnya kamu mati bersama Miss Merry kesayanganmu itu, Dira? Baiklah ... akan aku kabulkan,” ujar Miss Ann. Dia lalu menggerakkan tangannya memutar. Sebuah sihir muncul dan memelesat ke arah tembok tersebut. Dari situlah aku melihat bagaimana Miss Merry ditarik dari dalam tembok.
Meski dalam kegelapan, entah kenapa aku bisa merasakan begitu banyak luka memar di tubuhnya. Bisa jadi berasal dari sihir yang digunakan oleh Miss Ann. Refleks aku menutup mulut dan air mata mulai berlinang di pelupuk mata. Segera saja aku mendekat dan menyetarakan tubuhku dengan Miss Merry. Mulutku berbisik pelan, menyebutkan namanya.
__ADS_1
Miss Merry segera memelukku. Aku bisa merasakan kehangatan dari sana. Berkali-kali peri itu menyebutkan bahwa dirinya bersyukur bisa melihatku masih dalam keadaan baik-baik saja. Sepertinya dia mendapatkan kabar dari Bizar dan Radja, bahwa aku jatuh pingsan di alam mimpi Farhan. Rasanya aku ingin menangis, tetapi ini bukan waktu yang tepat. Aku dan Miss Merry tahu itu. Kami tidak ingin Miss Ann memanfaatkan reuni ini dengan otak licik.
“Ann, tidak seharusnya kamu berbuat hal seperti ini kepada Nadira. Dia tidak ada hubungannya dengan Hana, tepatnya dia bukan reinkarnasi Hana. Kamu tahu dan jelas-jelas kamu peri yang menyadari itu lebih awal,” ucap Miss Merry.
“Memang! Memang dia bukanlah reinkarnasi Hana! Namun, aku sangat muak dengan dia, bagaimana mungkin beberapa sifat Hana ada padanya!” ujar Miss Ann dengan suara yang meninggi. “Semua yang berhubungan dengan Hana akan aku lenyapkan.”
“Masa lalu dan dendammu pada Hana tidak ada hubungannya dengan Nadira. Cukup. Aku mohon, tenangkan dirimu, Ann.”
Miss Ann tidak mau mendengarkan. Entah dari mana peri itu memiliki bola-bola hitam. Aku tidak yakin itu sesuatu yang baik. Bahkan tatapan Miss Merry pun sama denganku. Sebagai orang yang mengenal lama dan bekerja sama kurang lebih lima ratus tahun, Miss Merry pasti tahu kelemahan dan kekuatan apa saja yang dimiliki oleh partnernya.
Aku segera menyiapkan panah untuk berhadapan dengan Miss Ann. Aku tidak bisa terbang, jadi yang bisa aku andalkan hanyalah anak panah. Meski tidak memiliki akurasi yang lebih hebat ketimbang Irish, aku harus bisa menahan Miss Ann. Sedangkan Miss Merry bisa melawannya dengan berhadapan langsung di udara. Pertarungan yang lebih adil, harusnya.
“Kalian selalu membahas masa lalu, tetapi aku tidak paham apa pun di sini. Tidak adakah yang mau memberitahuku lebih dulu,” ucapku menggerutu pada kedua peri tersebut. Seolah itu mengundang tanda tanya pada Miss Ann, tetapi tidak lama dia pun menghampiriku.
Miss Merry tidak menghentikannya, tepatnya di tahu Miss Ann tidak akan berbuat jahat. Benar saja, peri yang sering dikuncir ekor kuda ini tidak menyerang. Namun, dia hanya memegang daguku—agak mengangkatnya ke atas. Lama-lama aku mencoba melihat ke atas, bertatapan dengan mata peri tersebut. Tidak aku mengerti kenapa tatapan Miss Ann begitu terlihat seperti orang yang membenci sampai ke akar-akarnya.
__ADS_1
“Kamu tidak tahu? Tentu saja! Kamu bukan Hana, jadi kamu tidak akan memiliki ingatannya. Biar aku perjelas. Hana mengambil segalanya dariku. Keluarga, teman dan bahkan cintaku. Aku benar-benar membencinya. Sekarang aku yang akan merampas segala miliknya ... melalui kamu, Dira. Melalui kamu!” ucapnya seraya berteriak. Aku tetap berusaha untuk tenang. Meski aku bisa memahami rasa sakitnya.