Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 40. Kerjasama


__ADS_3

Tiba-tiba aku mendengar suara ledakan. Tunggu, ini bahkan masih jam sekolah. Siapa yang akan datang jika seperti ini? Aku segera berlari ke depan jendela dan membukanya. Asap mengepul dari sana. Rasanya ini tidak benar, aku harus mengevakuasi warga di sekitar sana. Akan tetapi, bagaimana caranya agar aku bisa pergi tanpa dikenali orang-orang?


Tidak ada waktu untuk meminta izin. Aku segera mengirim pesan pada Kak Ron. Setidaknya jika teman-teman tidak bisa dihubungi karena sekolah, aku bisa meminta bantuan Kak Ron. Kakak pasti akan mengirimi pesan pada Bizar lalu pesan itu akan berlanjut pada Miss Merry dan Miss Ann.


Aku segera mengambil jaket dan masker untuk menutupi identitas. Mengecek keadaan dan mengevakuasi warga bisa aku lakukan lebih dulu. Jika menunggu mereka, bisa lama. Tidak lupa aku mengetes kekuatan air dan tanaman terlebih dahulu. Setelah siap aku kenakan semuanya dan pergi ke tempat tujuan. Tidak lupa aku aktifkan peta di ponsel untuk mengetahui jalan di sekitar.


Ledakan itu memang besar, tetapi bisa saja jauh. Aku memilih untuk naik ke atap rumah. Panas matahari mulai menyengat dan bajuku terlalu tebal. Lupakan itu, mataku menyipit melihat asap yang semakin tebal. Apa benar ini kerjaan para monster? Kenapa mereka tidak mencari lahan yang kosong saja sih?


Aku pun mendengus lalu melompati tiap-tiap bangunan agar segera sampai. Walau aku cukup tegang karena tanpa penyamaran dan koneksi pada teman-teman, aku jadi lebih susah bergerak. Terlebih jangan terlalu mencolok, jangan gunakan kekuatan. Menyebalkan. Dibanding mengambil libur, rasanya ini lebih pantas dibilang sebagai hukuman.


Aku sudah mendekat dengan lokasi kejadian. Maka aku pun mengeluarkan kekuatan air dan turun ke bawah selagi gangnya sangat kosong. Mungkin penghuninya sudah lebih dulu mengungsi. Namun, untuk mengetahui lebih lanjut, aku harus segera mencarinya hingga ke lokasi kejadian. Jadi aku pun berlari menelusuri gang ini, selagi masih ada jalan seperti yang dikatakan pada peta.


Tiba-tiba seorang wanita dewasa menabrakku. Kami berdua jatuh, tetapi aku tidak merasakan sakit. Namun, sepertinya wanita dewasa itu sangat sakit.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya wanita tersebut. “Harusnya kamu pergi dari sini, jangan ke mari!”


Aku tidak sempat menjawab karena dia kembali berlari. Samar-samar aku melihat kerlap-kerlip dari balik punggungnya. Ah, mungkin itu hanya ilusiku saja, saat ini aku segera pergi ke tempat kejadian. Perasaanku tidak enak, entah kenapa. Degup jantung yang menyakitkan ini, tidak tahu dari mana asalnya. Tanganku semakin dingin dan rasanya sesuatu yang buruk sedang terjadi.


Amis dan bau asaplah yang dapat aku dengar. Sebuah rumah terbakar dan para pemadam pun tengah menyiram air ke tempat kejadian. Sayangnya api tidak kunjung padam, justru semakin meningkat. Gawat, ini sangat gawat. Aku lalu melihat ke sekitar dan menemukan sosok manusia yang berdiri di tengah lautan api. Apa-apaan yang dilakukannya saat ini?

__ADS_1


“Dia pasti sudah gila, kita tidak bisa menerobos masuk! Apinya terlalu besar,” ujar salah satu pemadam kebakaran.


Tidak, mereka harus menyelamatkan orang itu. Aku pun mundur beberapa langkah dan segera menarik air-air dari selang pun naik ke atas. Jika ini kekuatan elemental maka kekuatanku bisa mencegahnya. Benar dugaanku. Ini kekuatan elemental api. Para pemadam tiba-tiba berhenti dan celingak-celinguk. Aku tidak bisa berlama-lama di sini.


Segera saja aku berlari ke salah satu gang. Ini benar-benar menyebalkan. Kenapa pula ada pengguna elemental api di sini. Sayup-sayup aku mendengar suara baku hantam di balik tembok. Entah siapa tetapi aku tetap mencari tahu. Aku pun membuat tanaman muncul dan membawa tubuhku naik ke atas.


Di sana ada seorang laki-laki, berhadapan dengan seorang monster. Aku segera menuruni daun yang membawaku ke atas dan menggantikannya dengan senjata panah. Tanpa aba-aba aku pun menembakkan panah es terhadap monster tersebut. Namun, tidak disangka-sangka es yang mengurungnya pun justru mencair. Aku tidak ingin percaya.


“Jangan menembak panah es padanya. Dia memiliki suhu tubuh yang lebih tinggi dibandingkan orang biasanya,” ucap laki-laki tersebut.


Monster itu sangat agresif dan menyerang anak laki-laki tersebut. Namun, dia berhasil menahan dan membalikkan keadaan. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Segera saja aku gunakan kekuatan tanaman untuk mengikatnya sementara.


“Jika dia menggunakan api, maka dia harus dilawan dengan menggunakan kekuatan air. Apa kamu bisa mengalihkan perhatiannya? Aku tahu cara menghentikan dia ... tetapi aku perlu bantuanmu,” jelasku. Laki-laki itu mengangguk.


Aku tarik tali busur selagi laki-laki tersebut sedang menahan pergerakan monster. Ada tiga anak panah air yang siap menyerang, entah akan berhasil atau tidak. Namun jika salah satunya bisa menyentuh kristal itu, aku bisa menggantinya dengan bambu atau panah es untuk menghancurkannya.


Memang benar aku sudah melanggar, tetapi ini sudah terlalu terlambat untuk mundur. Aku melontarkan ketiga anak panah tersebut hingga sang monster pun berteriak dengan lantang. Aku menarik napas. Jantungku berdegup dengan kencang. Derita monster itu sudah berakhir.


Api di sekitar pun perlahan menghilang. Aku tidak menyangka jika monster seperti ini pun ada. Dari atas sana aku melihat siluet Radja dan Bara. Sepertinya mereka yang mengambil izin. Gawat. Aku pasti akan dimarahi jika mereka tahu aku turun tangan untuk bertarung.

__ADS_1


“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” ucap laki-laki tersebut padaku.


“Ah! Tidak, tanpamu aku tidak akan bisa mengalahkannya. Kita yang mengalahkan mereka bersama-sama,” balasku sambil tersenyum. “Kamu ini siapa?”


“Aku ingin memberitahumu, tapi sepertinya teman-temanku sudah menunggu. Aku harus pergi. Maafkan aku, semoga kita bertemu lagi,” balasnya.


Aku tidak bisa menahan laki-laki tersebut. Dia sudah pergi lebih dulu. Aku mengembuskan napas. Sebaiknya aku pun segera kembali ke rumah sebelum Kak Ron menyadari aku turun tangan. Lagi pula, baju ini benar-benar gerah.


Di benakku, terbayang tentang laki-laki yang aku temui. Dia mungkin lebih tua setahun daripada diriku. Namun, lagi-lagi aku menemukan pahlawan super. Apakah dia juga satu kelompok dengan orang yang memiliki sayap?


Semakin banyak yang bermunculan di TV, aku jadi tidak tahu mana benar dan mana berita Hoax. Setidaknya, sekarang aku tahu ada banyak super hero di bumi ini. Namun, kami tidak pernah menemukannya karena masalah waktu.


Tunggu sebentar!


Seingatku, saat itu kedua kelompok butuh bantuan. Apa jangan-jangan laki-laki tadi yang membantu mereka?  Jika benar, mungkin takdir akan mempertemukan kami lagi.


“NADIRA PUTRI HANIAH!”


Teriakan nyaring di belakang tubuhku sangat menyakitkan telinga. Oh tidak, Kak Ron pasti sangat marah sekarang.

__ADS_1


 


 


__ADS_2