Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 02. Monster Aneh Semester Baru (2)


__ADS_3

“Nadira aku punya permintaan, kamu sedang memegang pedangmu, kan?” tanya Radja yang masih fokus dengan kekuatannya sendiri.


“Apa, Ja?” balasku sambil melihat pedang yang masih diikat oleh tanaman.


“Aku butuh beberapa menit lagi untuk memastikan keadaaan gadis ini, jadi tolong tahan monster di belakangmu,” jelas Radja.


Aku mengerjapkan mata beberapa kali. “Ya?”


Bersamaan dengan itu aku merasa ada tusukan yang dilayangkan di balik punggungku. Segera aku melompat ke samping sekaligus menarik pedang. Cahaya rembulan semakin menerangi bagian belakang tubuhku, seekor ... ah tidak, dia juga manusia. Seorang laki-laki sebaya denganku memiliki tangan yang dipenuhi oleh cakar.


Bola matanya tidak seperti manusia pada umumnya, hanya putih terang seperti bulan di atas sana. Aku makin menggenggam erat pedangku. Mataku melebar karena laki-laki dengan cakar panjangnya mulai mengincar tubuhku. Padahal aku masih melompat di udara.


Aku menggunakan pedang untuk menghadangnya. Cakar itu tidak mudah dihancurkan. Aku pun menyalurkan kekuatan es sehingga cakar itu membeku perlahan-lahan. Setelahnya aku kembali menapaki tanah dan melalukan rol belakang untuk memperjauh jarak kami.


Cakar itu memberontak dan menghancurkan es yang aku punya dengan cepat. Dalam hati aku merutuki karena Radja tidak memberitahuku lebih awal tentang keberadaan musuh. Bahkan aku tidak punya banyak waktu untuk menghubungi teman-teman yang lainnya.


Sebenarnya dari mana kekuatan laki-laki itu? Cakarnya tidak mirip seperti Radja yang memang memiliki cakar naga.  Cakarnya lebih terlihat seperti besi dengan ujung lancip, mirip dengan ujung pensil. Aku harus lebih berhati-hati karena kedua tangannya memiliki lima cakar. Mengerikan.


“Ja, kamu udah selesai belum?” tanyaku yang masih fokus bertahan dari serangan musuh.


“Belum, Dira. Ayo semangat aku tau kamu bisa!” balas Radja membuatku tertohok.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan sikap yang satu ini. Dengan kekuatan penuh aku menangkis kelima cakar dari lawan. Pedangku tidak terlalu kuat untuk menahannya. Jika terlambat sedikit saja, pedang ini yang akan hancur lebih dulu.

__ADS_1


Kembali aku melompat karena lawan mulai merangku dengan cakarnya lagi. Aku segera melompat ke atas dan mengotak-atik jam dengan cepat. Memanggil bantuan saat ini adalah jalan yang terbaik. Radja tidak bisa diandalkan untuk sekarang.


“Ropes!” ujarku lantang seraya menumbuhkan akar-akar tumbuhan dari bawah tanah. Aku sedikit meningkatkan pertahanan dengan menggunakan akar dari pohon yang masih hidup.


Dengan kuat akar itu menahan seluruh gerakan monsternya. Namun, aku takut jika cakarnya lebih kuat dan dapat merobek seeluruh akar pohon. Ini benar-benar buruk dan aku ingin segera mengakhirinya.


“Kamu beneran nahan dia gak sih?” ujar laki-laki yang terbang ke arahku.


Aku tidak tahu apa yang membuat Radja begitu santai dalam menangani monster manusia di hadapannya. Mana mungkin membunuh manusia, terlebih dia harusnya bisa kami lumpuhkan dan diteliti lebih lanjut. Orang-orang berkekuatan super tidak begitu banyak. Walau tidak menutup kemungkinan jika yanng di hadapan kami adalah orang berkekuatan super.


Seperti  yang diduga, dia memanfaatkan cakarnya untuk merobek pertahanan. Bahkan tidak peduli jika cakar tajamnya merusak bajunya sendiri. Aku tiba-tiba menutup mulut karena sebagian besar tubuh laki-laki itu sudah tergantikan oleh besi. Ini membuat aku berpikir jika dia adalah kelinci percobaan yang ditanamkan implan dan hasilnya gagal.


“Daripada kamu ngeluh soal seranganku, mending kamu pikirin gimana caranya menghentikan dia, Ja,” tegurku.


Aku kembali mengangkat pedang dengan tangan yang semakin erat menggenggam gagang. Perlahan es tersalurkan sehingga pedang tersebut berubah perlahan-lahan menjada caladbolg. Satu jenis dengan pedang panjang pada umumnya. Bagian gagangnya memiling dua permata; satu di bagian ujung gagangnya dengan kristal biru terang, satu lagi di tengah pembatas antara gagang dengangan mata pedang.


Pedang caladbolg lebih kuat daripada pedang besi yang sering aku munculkan dalam tanaman. Tidak mudah untuk hancur sedikit pun, tetapi sulit untuk diarahkan. Aku tidak tahu apakah kali ini caladbolg bisa membantu kami dalam menghadapi monster yang entah apa itu. Namun, tidak ada salahnya untuk mencoba.


“Dia punya sepuluh cakar yang kuat seperti besi. Sekilas dia terlihat seperti tikus tanah dan dapat bergerak cukup cepat. Kita tidak boleh membunuhnya. Pada dasarnya dia hanya seorang manusia biasa. Sebaiknya kita lumpuhkan dia dan serahkan pada ahlinya saja, yaitu Kak Ron dan Bizar,” ucapku menjelaskan semua analisa dari hasil menahan monster tersebut.


“Besi, ya? Kalau gitu ... ini lebih cocok lawan untuk Candra,” balas Radja.


“Makanya jangan gegabah. Dia punya sisi tubuh yang kuat, karena tubuhnya dilapisi besi yang sama,” ucapku mengingatkannya.

__ADS_1


Radja hanya mengangguk. Dia lalu mengepakkan sayap naganya dan segera terbang. Meski sudah diingatkan, Radja tetap menerjang musuhnya tanpa peduli bagaimana lawan membalas. Saat serangan laki-laki itu terlalu terbuka, aku segera berlari dan menghentikannya dengan tanaman rambat. Tidak sampai di sana aku menusuk bagian tubuh monster tersebut yang tidak dilapisi oleh besi.


Begitu aku menarik kembali pedang dari tubuh tersebut, Radja segera mengeluarkan napas dingin yang membuat musuh menjadi beku. Aku turun membantu dengan memembekukan kaki-kaki musuh.


Tepat kami selesai membereskan monster, bala bantuan datang. Bara, Candra dan Sakura segera menghampiri kami dan melihat apa balok es. Ya, balok berisikan monster.


“Kenapa gak panggil kami lebih cepat?” tanya Bara.


“Lawan enggak ngasih aku buat napas. Ini juga salah Radja,” balasku sambil menyilangkan tangan. Aku tatap orang di atas sana dengan tajam. “Dia hampir membunuhku.”


“Aku sedang sibuk menganalisa seorang anak kecil, Dira,” kilah Radja dengan santainya.


Aku mengembuskan napas. Marah pada Radja tidak ada gunanya, justru hati semakin dibuat kesal. “Terus apa hasilnya?”


Radja kembali mendekati gadis tersebut, dia kembali  mengangkatnya dengan tangan normalnya. Ya, secepat itu perubahan tangan milik Radja.


“Akan aku beritahu nanti. Kita bawa mereka berdua. Salah satu dari kalian, segera hubungi Bizar. Aku akan pergi duluan,” balas Radja singkat padat dan jelas.


Kami semua saling menatap. Tidak lama aku segera menghubungi Bizar untuk membukakan portal. Selagi menunggu, aku pun dibuat bingung dengan monster dalam keadaan beku. Tubuhnya memang tidak besar, tetapi es yang menyelimuti cukup tebal. Jika diangkat lama-lama pasti sangat menusuk.


“Jadi bagaimana kita harus mengangkat ini?”


Dan itu adalah pertanyaan yang sangat ingin aku hindari dari teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2